Evelyn Noire terbangun di dalam novel thriller psikologis yang pernah ia baca. Bukan sebagai tokoh utama.
Bukan juga pemeran penting. Melainkan anggota keluarga yang ditakdirkan dibantai dengan sadis oleh seorang psikopat tak tersentuh.
Altair Varellion.
Mahasiswa sempurna di mata dunia. Tampan, cerdas, tenang.
Namun di balik senyumnya, tersembunyi monster yang mengendalikan pembunuhan berantai, perdagangan manusia, dan dendam berdarah yang diwariskan turun-temurun.
Dalam novel asli, Evelyn mati mengenaskan. Dan lebih buruknya lagi, Altair tidak pernah gagal memburu targetnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luxw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
...
Malam semakin larut.
Keheningan memenuhi
kamar tamu yang untuk
sementara ditempati Evelyn.
Lampu di sudut ruangan memancarkan cahaya hangat, sementara suara jam dinding terdengar samar di tengah sunyinya malam.
Setelah Kael keluar beberapa menit lalu, Evelyn akhirnya benar-benar sendirian.
Awalnya ia ingin pulang. Sangat ingin.
Namun begitu mencoba bangun dari ranjang, kepalanya langsung berdenyut hebat. Belum lagi Kael yang dengan tenang berkata,
"Besok saja." "
"Kondisimu belum cukup baik untuk berjalan."
Dan entah kenapa nada datar pria itu terdengar lebih seperti perintah daripada saran. Akhirnya Evelyn menyerah.
"Yaudah lah..." Ia kembali merebahkan tubuhnya. "Lagian kalau gue pingsan lagi di jalan, malu juga."
Dengan malas ia meraih ponsel yang tergeletak di meja samping ranjang. Lalu membeku.
"..."
"..."
"Anjir."
Puluhan notifikasi
memenuhi layar. Panggilan tak terjawab. Pesan masuk.
Notifikasi aplikasi. Dan sebagian besar berasal dari dua orang.
Celine. Dan Devan.
"Matilah gue." Belum sempat Evelyn membuka salah satunya
BRRRT.
Ponselnya bergetar. Nama
Celine muncul di layar. Evelyn langsung menghela napas panjang.
"Siap-siap." Lalu mengangkat telepon. "Halo—"
EVELYYYYYYYYYYYYYYYYN!! !"
Evelyn refleks menjauhkan ponselnya dari telinga.
"ASTAGA!"
Suara Celine begitu keras sampai rasanya bisa memecahkan kaca. Bahkan setelah ponsel dijauhkan setengah meter, suara itu masih terdengar jelas.
"LO MASIH HIDUP KAN?!"
"Iya!"
"BENERAN HIDUP?!"
"IYA!"
"GAK BOHONG?!"
"CELINE, GUE YANG NGANGKAT TELEPON!"
"Oh iya juga."
Evelyn memijat pelipisnya.
Kepalanya sudah sakit sejak kecelakaan. Sekarang tambah sakit karena teriakan sahabatnya. Di ujung sana, Celine terdengar benar-benar panik.
"Gue lihat berita!"
"Hah?"
itu!" "Mobil lo yang ditabrak truk
Evelyn terdiam. "Terus?"
"YA ITU MOBIL LO KAN?!"
"..."
"..."
"Ya emang."
Celine hampir berteriak lagi. "YA EMANG KATANYA?!. Gue kira lo mati!"
Evelyn mendadak merasa bersalah. Sedikit. Mungkin sedikit.
"Aku masih hidup kok."
"Masih hidup katanya."
"Masih."
"Masih." Celine menghela napas panjang.
Suara lega terdengar jelas. Namun hanya bertahan sekitar dua detik. Karena setelah itu ia bertanya, "Lo sekarang di mana?"
Evelyn menjawab polos. "Di rumah Kael."
Hening. Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Kemudian—
"DI MANA?!"
Evelyn langsung meringis. "Rumah Kael."
"KAEL REΝΕΤΗ?!"
"Iya."
"KAEL YANG ITU?!"
"Iya."
"KAEL YANG SATU APARTEMEN ITU?!"
"Iya."
"KAEL YANG GANTENG ITU?!"
"..."
"Fokus lo salah."
Celine sudah hampir histeris. Sedangkan Evelyn buru-buru menjelaskan sebelum sahabatnya berimajinasi terlalu jauh.
"Tadi dia kebetulan lewat pas kecelakaan."
"Oh."
"Terus dia bilang kenal gue."
"Oh."
"Terus gue dibawa ke sini buat diobatin."
"Oh."
"Katanya sekalian balas budi karena dulu gue nolong dia."
"Oh."
Hening. Lalu...
"Ohhhhh."
Nada suara Celine berubah.
Sangat berubah. Berbahaya. Evelyn langsung waspada.
"Tolong jangan mikir aneh-aneh."
apa." "Gue belum ngomong apa-
"Tapi gue tau lo."
"Hehehe."
"Nah kan."
Celine tertawa kecil di ujung telepon. Kemudian mulai menggoda.
"Jadi sekarang kalian serumah?"
"Tidak."
"Berduaan?"
"Tidak."
"Dia perhatian banget ya."
"Celine."
"Romantis juga."
"Celine."
"Takdir nih kayaknya."
"Elo mau gue blokir?"
"Jangan."
Akhirnya Evelyn menghela napas pasrah. Persis seperti yang ia duga. Karena kalau obrolan ini berlanjut lima menit lagi, Celine mungkin sudah membayangkan pesta
pernikahan mereka. Maka sebelum keadaan semakin parah "Udah ya."
"Hah?"
"Gue capek."
"Ev bentar-"
"Gue mau istirahat."
"Tapi gue masih-"
"Selamat malam."
"EVELY-"
Tut.
Telepon langsung terputus.
Keheningan kembali memenuhi kamar. Evelyn menatap layar ponselnya. Lalu menghela napas panjang.
"Capek." Benar-benar capek.
Baru saja mengalami kecelakaan. Hampir mati. Bangun di rumah orang. Dan sekarang harus menghadapi Celine. Namun tanpa sadar, sudut bibirnya sedikit terangkat.
Karena meskipun berisik.
Meskipun suka membuat masalah. Meskipun gosipnya kadang lebih cepat dari internet. Tetap saja... Rasanya menyenangkan mengetahui ada seseorang yang begitu panik karena mengkhawatirkannya.
Di sisi lain kota.
Celine menatap layar ponselnya yang sudah mati sambungan. Kemudian perlahan menoleh ke arah tembok.
"..."
"..."
"Dia sekarang tidur di rumah Kael."
Lalu menjerit ke bantalnya sendiri selama lima menit penuh.
________
*
*
*
Pagi akhirnya tiba.
Sinar matahari yang menembus celah tirai perlahan menerangi kamar yang semalam terasa asing bagi Evelyn. Gadis itu mengerang pelan. Kepalanya masih sedikit berat akibat benturan kemarin. Namun setidaknya rasa pusing yang semalam menghantuinya sudah jauh berkurang.
"Hmm..." Evelyn menggeliat panjang di atas kasur empuk itu.
Namun sesaat kemudian dahinya berkerut. Ada sesuatu yang terasa berat di atas perutnya. Awalnya ia mengira itu hanya selimut. Tapi benda itu hangat. Terlalu hangat.
Perlahan Evelyn menunduk.
Lalu...
"..."
"..."
Otaknya loading sekitar tiga detik. Di atas perutnya tergeletak sebuah lengan.
Lengan seseorang. Tatapannya bergerak ke samping. Dan di sanalah Kael Reneth tertidur dengan tenang, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Evelyn. Hening. Dan...
"DUGH!"
Tanpa basa-basi Evelyn
langsung menendang perut Kael sekuat tenaga.
"Akhh!!"
Bruk!
Kael yang masih setengah tertidur hampir terjatuh dari ranjang. Pria itu langsung membuka mata. Wajahnya tetap datar. Seolah baru saja tidak ditendang oleh seseorang.
Sedangkan Evelyn sudah duduk di atas ranjang sambil menunjuknya dengan gemetar.
"KENAPA LO ADA DI SINI?!"
Kael mengusap perutnya pelan.
"Tanya yang lebih masuk akal."
"Maksud lo apa lebih masuk akal?!" Evelyn hampir meledak.
"Ini kamar tamu rumah lo kan?!"
"Iya."
"Kasur gue!"
"Iya."
"Terus kenapa lo tidur di sini?!"
"Iya."
"EHH JANGAN IYA-IYA DOANG!"
Kael akhirnya menghela napas. Lalu tanpa banyak bicara ia mengambil ponselnya dari meja samping tempat tidur.
Klik.
Sebuah video diputar.
Evelyn mengerutkan kening.
"Apaan tuh?"
"CCTV."
"Hah?"
Kael menyerahkan ponselnya. Evelyn menatap layar. Video memperlihatkan dirinya sendiri yang sedang tidur di kamar semalam.
Awalnya normal. Lalu beberapa jam kemudian tubuhnya mulai gelisah. Berkali-kali membolak-balik badan. Sesekali bergumam tidak jelas. Wajahnya bahkan terlihat pucat.
"Jangan..." "
"Pergi..."
"Jangan tinggalin..."
Evelyn membeku.
"Itu gue?"
Kael mengangguk. Video berlanjut. Terlihat Kael masuk ke kamar. Mungkin karena mendengar suara gaduh dari dalam.bPria itu mengecek kondisi Evelyn. Setelah memastikan tidak ada apa-ара, ia berbalik hendak keluar.
Namun tepat saat itu...
Tangan Evelyn tiba-tiba menangkap pergelangan tangan Kael.
"..."
"..."
Ruangan mendadak sunyi.
Evelyn menatap layar tanpa berkedip. Di video terlihat dirinya yang masih tertidur menarik tangan Kael erat-erat.
Bahkan ketika Kael mencoba melepaskan diri, genggaman itu malah semakin kuat.
Kemudian suara dirinya terdengar. Pelan. Sangat pelan.
"Jangan pergi..."
Kael di video terlihat diam cukup lama. Lalu akhirnya duduk di sisi ranjang. Namun belum selesai.
Karena beberapa detik kemudian Evelyn malah bergerak mendekat sendiri dan memeluk lengan pria itu seperti guling.
Video berhenti. Ruangan hening. Evelyn perlahan menarik selimut. Lalu... Menutupi seluruh wajahnya.
Kael menatap gundukan selimut itu. "Sudah selesai?"
Suara Evelyn terdengar dari balik selimut. "Mau mati aja rasanya."
Kael nyaris tertawa. Nyaris.
Sudut bibirnya bahkan sempat terangkat sedikit.
"Memalukan."
"DIEM LO!" Evelyn langsung melempar bantal.
Kael menangkapnya dengan satu tangan.
"Tadi malam gue trauma, tahu!"
"Katanya."
"Katanya apaan?!"
"Katanya mau pulang."
Evelyn langsung bangkit.
"IYA. SEKARANG GUE MAU PULANG."
Kael berdiri santai. "Baik."
Evelyn mengangguk puas. "Nah gitu dong."
"Aku antar."
"Santai aja. Gue bisa sendiri."
"Aku antar."
"Nggak usah."
"Aku antar."
"Ehh..."
"Aku antar."
Evelyn melotot. "Lo rusak ya?"
Kael mengambil kunci mobilnya. Wajahnya tetap datar.
"Aku gak lagi bertanya."
Evelyn menggigit bibir.
Kesal. Sangat kesal.bTapi di sisi lain... Dia memang belum benar-benar pulih. Kepalanya masih agak sakit.bDan entah kenapa membantah Kael rasanya seperti berdebat dengan tembok beton. Percuma. Pada akhirnya Evelyn menyerah.
"Yaudah."
"Bagus."
"Tapi jangan cerita ke siapa-siapa soal video tadi."
Kael memasukkan ponselnya ke saku.
"Tergantung."
"Tergantung apaan lagi?!"
"Kalau aku butuh bahan bercanda."
"KAEL!"
Untuk pertama kalinya pagi itu, Kael benar-benar tersenyum. Tipis. Sangat tipis.
Tapi jelas terlihat. Dan melihat itu, Evelyn justru semakin malu.
Karena senyum kecil itu seolah berkata satu hal yang sangat menyebalkan. Dia sedang menikmati penderitaan Evelyn.
curang tauuu😒😒