Andriana Arnova harus menyaksikan pengkhianatan suaminya dengan kakak iparnya sendiri.
Namun bukan marah, minta cerai yang ia lakukan, melainkan membalasnya dengan kegilaan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Rasa sakit, kecewa dan dendam di dadanya telah merubah dunianya.
Demi membalas dendam atas pengkhianatan suaminya, ia rela mengorbankan karir yang selama ini ia bangun dengan susah payah.
Baginya setiap kerugian harus ada bayarannya dan setiap rasa sakit harus ada pembalasan yang akan lebih menyakitkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vea Vivie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1
Pagi itu seperti biasanya, dokter Andriana memasuki ruang kerjanya.
Baju rapi bersih memakai sepatu hak tinggi dengan rambut panjang diikat ekor kuda menambah kesan feminim.
'Sayang, hari ini aku akan pulang cepat untuk memberimu kejutan, dan nanti malam adalah milik kita berdua yang sudah kita nanti nantikan selama satu bulan ini. Maafkan aku sayang setelah menikah seharusnya kita bulan madu tapi pekerjaan kita belum mengijinkannya, dan nanti malam akan aku tebus segalanya aku janji'
Andriana menatap foto pernikahannya, tersenyum tipis lalu menciumnya sebentar sebelum ada pasien yang harus segera di tangani.
(Tokoh versi author, ya😅)
dr.Andriana Arnova .
Ia adalah dokter muda yang satu tahun ini sudah mendapatkan ijin praktek dan pengakuan dari Ikatan Dokter Indonesia.
Karena untuk membangun klinik memakan biaya yang cukup besar, jadi ia memilih untuk tetap bekerja di rumah sakit.
Arnold Wijaya, ia adalah suami dari dr.Andriana Arnova yang berprofesi sebagai pengusaha.
Saskia Aditama Wijaya, yaitu Kakak ipar Arnold Wijaya, istri dari Aditama Wijaya yang berprofesi sebagai guru seni di salah satu kampus ternama. Kehidupan rumah tangganya pun sangat harmonis dan bahagia.
Nah, siapakah dia?
Namanya Devan Ardana Collin, dia adalah presdir muda yang berbakat.
Selain sebagai presdir di perusahaan Collin grup, dia juga merupakan seorang Dokter muda yang tidak diragukan lagi kemampuannya, dan sekaligus pemilik beberapa rumah sakit ternama dan tersebar di beberapa kota besar termasuk rumah sakit tempat Andriana bekerja saat ini.
Back to Andriana di rumah sakit.
Andriana masih bergelut dengan data dari laptopnya di sela sela menangani pasiennya yang hari ini memang cukup banyak.
Tiba tiba datang seorang wanita yang juga berprofesi sebagai dokter masuk ke ruang kerjanya tanpa mengetuk pintu.
"Alin! Kebiasaan kamu masuk ruangan orang tidak ketuk pintu dulu "Ucap Andriana tanpa menoleh dan tetap fokus pada layar monitor yang ada di depannya.
"Aduh duh pengantin baru nih" Goda Alin sambil berjalan ke arah Andriana dengan senyum merekah di sudut bibirnya.
Andriana menyunggingkan senyum tipis "Apaan sih kamu lin".
"Biasanya nih pengantin baru tuh pengen cepet cepet pulang, terus itu tuh".
"Ngapain? "
"Masa gak tahu sih ya itu tu"
"Diam Alin, aku tuh" Andriana menghentikan ucapannya lalu mendengus kasar dan kembali fokus pada laptopnya.
"Kamu kenapa? Hah jangan jangan kalian belum pernah melakukan malam pertama"Tebak Alin yang membuat Andriana terdiam dan menatap dengan malas wajah sahabatnya itu.
Alin meraih tangan sahabatnya yang duduk di depannya " Andriana, apa yang terjadi dengan rumah tangga kalian? Apa dia tidak bisa itu?".
Andriana mendengus kesal "Apaan sih Alin?Sudah jangan banyak bicara sekarang kamu gantikan aku di sini dan aku akan pulang cepat".
Alin pun menyipitkan matanya lalu tersenyum lebar" Baiklah untuk sahabatku apapun bisa aku urus, sana pergi jangan lupa pemanasan dulu biar lebih tahan lama" Goda Alin yang membuat Andriana semakin tersipu malu.
Andriana menanggalkan jaz kebesarannya melipat di lengannya kemudian meraih tas kecilnya dan berjalan keluar dari ruangan itu.
Andriana sangat merasa bersalah pada Arnold (suaminya) karena tidak ada waktu untuk berduaan satu bulan terakhir ini mengingat padatnya jadwal pekerjaannya.
Sejak menikah intensitas bertemu pun terbilang kurang, baik dirinya maupun suami sama sama sibuk.Dan hari ini Andriana akan menebusnya dengan kejutan, ia pulang cepat tanpa memberikan kabar.
Andriana menghentikan laju mobilnya di depan rumah kecil, sederhana, bahkan halamannya hanya cukup untuk parkir satu mobil.
Ia keluar dari mobil yang ia parkir di tepi jalan karena halaman rumahnya masih ada mobil suaminya.
Awalnya ia merasa terkejut karena suaminya juga pulang cepat tanpa memberitahunya.
''Mungkin dia juga hendak memberikan kejutan padaku, baguslah'' Batinnya dalam hati kemudian berjalan membuka pintu gerbang dan melangkah menuju daun pintu rumahnya.
Andriana menyipitkan matanya begitu melihat sepasang sepatu perempuan hak tinggi di depan pintu, namun ia mencoba berpikir positif dan menepis semua kemungkinan buruk.
Andriana melanjutkan langkahnya dan membuka pintu utama yang tidak dikunci.
Deg
Dadanya mulai bergetar ketika kedua matanya melihat sepotong baju perempuan, tas, dan rok yang tergeletak begitu saja di ruang tamu.
Andriana terus melangkah perlahan menuju kamarnya yang juga tidak tertutup sempurna.
Ia membuka kamarnya dan kakinya menjadi lemas seketika begitu ia mendapatkan sebuah bra dan celana dalam perempuan berada tergeletak di atas kasur miliknya dan jelas barang barang itu bukanlah miliknya.
Andriana mencoba untuk tidak bersuara meskipun air mata tiba tiba mengalir deras di kedua netranya.
Yang lebih menyakitkan lagi adalah suara desahan, erangan dan jeritan jeritan kecil dari dalam kamar mandi yang bercampur dengan suara gemercik air yang jatuh dari shower.
Andriana membekap mulutnya sendiri dengan kedua telapak tangannya, ia dekatkan telinganya di pintu kamar mandi agar bisa mendengar dengan jelas apa yang sedang mereka lakukan di dalam sana.
Hatinya semakin hancur bagai dihantam puluhan ribu ton es balok hingga tak tersisa ketika suara itu semakin terdengar olehnya.
Andriana melangkah keluar dari dalam kamarnya yang berantakan dengan langkah sempoyongan dan Isak tangis.
Ia berjalan menuju pintu keluar dan tanpa sengaja sepatunya menginjak sebuah name tag yang tergeletak di lantai. Andriana mengusap wajahnya dan melihat foto yang tertera di sana.
Matanya pun membelalak sempurna begitu tahu siapa pemilik name tag tersebut.
Dan untuk memastikan pemilik name tag itu Andriana membuka tas kecilnya dan mengeluarkan ponsel dari dalam sana untuk menghubungi nomor kampus tempat kakak iparnya bekerja, benar saja jawaban yang tidak diharapkan akhirnya ia dengar, yaitu bahwa kakak iparnya itu sedang dinas di luar.
Begitu juga saat ia menghubungi kantor suaminya yang mendapatkan jawaban sama yaitu suaminya sedang berada di luar perusahaan untuk urusan bisnis.
Andriana mengusap matanya dan menatap ke arah kamarnya, ia harus memastikan siapa yang sedang bercinta di dalam kamar mandi pribadinya.
Dan tak lama kemudian terdengar suara pintu kamar mandi yang dibuka dari dalam, sontak membuatnya terperanjat untuk mencari sumber suara.
Benar dugaannya, suaminya telah berselingkuh dengan kakak iparnya sendiri. Bahkan menggunakan kamar pribadinya untuk memadu kasih.
Andriana membeku, lidahnya kelu dan kakinya seperti tidak bisa digerakkan ketika ia melihat sendiri kedua insan sedang beradu mekanik mencari kenikmatan, yang tadinya berada di kamar mandi sekarang berlanjut di atas ranjang miliknya.
Keduanya tampak begitu menikmati hingga tidak menyadari kehadirannya.
Andriana tidak tahan lagi menyaksikan hal menjijikan itu dan memilih pergi dari sana tanpa suara dan tanpa teriakan meskipun hatinya ingin menjerit sekeras-kerasnya.