Indonesia
NovelToon NovelToon
Dibayar 2M Menjadi Istri Duda Anak 1

Dibayar 2M Menjadi Istri Duda Anak 1

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: sopiakim

Baru lulus SMA di usia 19 tahun, masa depan Aira hancur berantakan. Ayahnya berselingkuh hingga memiliki anak lain, dan mirisnya, Aira serta ibunya terpaksa tinggal seatap dengan keluarga baru sang ayah demi bertahan hidup. Tekanan batin yang luar biasa membuat sang ibu terserang stroke parah.

​Tanpa biaya pengobatan, Aira mengambil keputusan nekat: menerima penawaran 2 Miliar rupiah untuk menikah dengan Arka Danuartha, seorang duda kaya raya berumur 39 tahun yang dingin dan memiliki putra kecil bernama Elano.

​Kehidupan pernikahan beda 20 tahun ini penuh kejutan. Kepedihan masa lalu Aira dan sifat kaku Arka memicu berbagai momen canggung yang kocak sekaligus menggemaskan, terutama saat Aira belajar menjadi ibu sambung bagi Elano. Namun di balik sikap dinginnya, Arka perlahan menjadi pelindung yang menyembuhkan luka hati Aira. Dari pernikahan kontrak yang berawal dari kepedihan, mampukah cinta sejati tumbuh di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14. Kedatangan tak diundang

Sinar matahari pagi menyelinap halus di balik celah tirai kamar Aira, membawa kesejukan sisa hujan semalam. Namun, getaran di dada Aira belum juga mereda. Setiap kali ia memejamkan mata, ingatan tentang sentuhan hangat jemari Arka di pipinya serta hembusan napas serak pria itu di bahunya kembali terbayang dengan sangat jelas.

Aira menyentuh pipinya sendiri di depan cermin, menghembuskan napas panjang. Ingat posisimu, Aira... Mas Arka cuma lagi lelah semalam, bisik nuraninya melarang hati muda itu berharap terlalu jauh.

Setelah merapikan diri, Aira melangkah keluar menuju ruang makan. Pagi ini suasana rumah terasa agak berbeda. Arka sudah duduk di meja makan, tampak rapi dengan kemeja biru gelap dan celana bahan tailored. Pria 39 tahun itu terlihat jauh lebih bugar dibanding semalam, meski raut wajahnya tetap tenang dan sulit ditebak.

"Pagi, Mas Arka," sapa Aira sopan, menundukkan pandangannya sedikit karena rasa canggung yang masih tersisa.

"Pagi," balas Arka pendek. Matanya memperhatikan gerak-gerik Aira saat gadis itu duduk di seberangnya dan mulai menuangkan teh hangat.

"Bagaimana tidurmu?"

Aira agak tertegun, tak menyangka Arka akan menanyakan hal itu.

"N-nyenyak, Mas. Mas Arka sendiri... bagaimana pusingnya? Sudah mendingan?"

Arka menatap Aira lurus-lurus, ada kilat kehangatan tipis yang tersembunyi di balik manik mata hitamnya.

"Sudah jauh lebih baik. Terima kasih untuk semalam."

Wajah Aira seketika merona merah. Ia buru-buru menunduk, pura-pura sibuk merapikan posisi piring sereal Elano yang baru saja duduk di sampingnya. Elano yang tidak menyadari kecangguhan di antara kedua orang tuanya hanya asyik bernyanyi kecil sambil mengayun-ayunkan kakinya.

Namun, kedamaian sarapan pagi itu tidak bertahan lama.

Suara derap langkah sepatu hak tinggi yang nyaring dan tegas tiba-tiba bergemuruh dari arah lorong depan, memecah keheningan rumah megah tersebut. Tak lama kemudian, seorang wanita melangkah masuk ke ruang makan tanpa permisi.

Wanita itu tampak berusia awal tiga puluhan, berparas cantik dengan gaya rambut bob tajam yang diwarnai cokelat mahoni. Ia mengenakan gaun blazer merah menyala buatan perancang busana terkenal, melengkapi penampilannya yang memancarkan keanggunan berkelas bercampur keangkuhan yang sangat dominan.

Di belakangnya, Bi Inah tampak berjalan setengah berlari dengan wajah panik.

"Maaf, Den Arka... Nyonya Dania nekat masuk, Bibi sudah tahan di depan tapi—"

"Tidak apa-apa, Bi. Kamu boleh kembali ke dapur," potong Arka tenang, suaranya mendadak berubah dingin bagaikan es.

Aira terpaku di tempat duduknya. Nyonya Dania? batin Aira bersiap. Jadi wanita di hadapannya ini adalah adik dari almarhumah istri pertama Arka yang diceritakan Bi Inah kemarin.

Dania berdiri tegap di ujung meja makan, melipat kedua tangannya di dada. Matanya yang tajam dan dilapisi riasan tebal memindai ruangan, sebelum akhirnya tertuju lurus pada Aira yang duduk bersimpuh di kursi. Tatapan Dania penuh dengan penilaian yang merendahkan dan rasa tidak suka yang terang-terangan.

"Jadi... ini alasan kenapa kamu menolak rapat penyesuaian saham kemarin pagi, Arka?" suara Dania melengking dingin, sarat akan sarkasme yang tajam.

"Kamu sibuk sarapan dengan seorang gadis kecil yang bahkan belum pantas disebut wanita?"

Aira meremas serbet di pangkuannya. Nada bicara Dania begitu pedas dan meremehkan, membuat suasana di ruang makan seketika membeku.

"Dania," panggil Arka dengan nada suara yang sangat rendah namun sarat akan ancaman mutlak. Pria itu meletakkan garpunya dengan tenang, berdiri dari kursi, lalu menatap Dania tanpa kedipan.

"Ini rumah pribadi saya. Kamu tidak memiliki hak untuk datang tanpa diundang, apalagi berbicara dengan nada seperti itu di depan keluarga saya."

Dania tertawa sinis, melangkah satu tindak mendekati meja. "Keluarga? Kamu menyebut gadis mentah ini sebagai keluargamu, Arka?! Jangan bercanda! Kakakku, Siska, baru meninggal empat tahun lalu, dan kamu malah membawa gadis jalanan yang tidak jelas asal-usulnya ini ke rumah tempat Siska dulu tinggal?!"

"Tante Dania jahat! Jangan bentak-bentak Mama Aira!"

Suara nyaring Elano tiba-tiba memotong. Bocah empat tahun itu berdiri di atas kursinya, memasang wajah cemberut dan menunjuk Dania dengan sendok plastik di tangannya.

Dania melirik Elano dengan tatapan dingin yang dipaksakan melunak. "Elano, kamu itu masih kecil. Kamu tidak tahu apa-apa. Perempuan ini cuma mengincar harta Papamu, bukan tulus menyayangimu seperti almarhumah Mamamu!"

"Dania, CUKUP!"

Bentakan Arka menggelegar di ruang makan. Suaranya yang menggelegar bagaikan petir membuat Dania tersentak kaget dan mundur setengah langkah.

Aira refleks merangkul tubuh Elano yang kaget, membawa bocah itu ke dalam pelukannya untuk melindunginya dari ketegangan orang dewasa.

Arka melangkah maju, mengikis jarak antara dirinya dan Dania. Aura kegelapan dan intimidasi yang dipancarkan pria berusia 39 tahun itu begitu pekat hingga membuat Dania menelan ludah dengan susah payah.

"Jangan pernah bertindak tidak sopan di rumah saya lagi," ujar Arka dengan nada yang sangat dingin dan menusuk.

"Dan jangan pernah berani menunjuk atau mengintimidasi Aira di depan saya."

Dania memetakan raut wajah Arka dengan rasa tak percaya bercampur cemburu yang membakar dadanya. Selama bertahun-tahun, Arka selalu bersikap dingin dan tidak tersentuh pada siapa pun—termasuk pada dirinya yang sudah berusaha mendekati pria itu dengan segala cara. Namun pagi ini, Arka berdiri pasang badan secara terbuka demi melindungi gadis muda yang tidak memiliki latar belakang keluarga terpandang.

Dania mengalihkan pandangannya pada Aira yang sedang memeluk Elano. Mata Dania menyipit penuh rasa benci.

"Kamu pikir kamu sudah menang, gadis kecil?" cibir Dania pada Aira dengan nada berbisik yang beracun.

"Kamu cuma pengganti sementara yang dimanfaatkan Arka untuk mengurus anaknya. Jangan mimpi bisa bertahan lama di keluarga Danuartha."

Aira menatap mata Dania. Rasa takut sempat menyergapnya, namun melihat Arka yang berdiri kokoh di depannya serta Elano yang memeluk lehernya erat, Aira memaksakan dirinya untuk tetap tegar. Ia tidak membalas makian Dania dengan amarah, melainkan dengan tatapan tenang yang bermartabat.

"Saya berada di sini karena Mas Arka dan Elano membutuhkan saya, Nyonya Dania," balas Aira pelan namun jelas, tanpa ada getaran takut di suaranya.

"Dan selama saya berada di rumah ini, saya akan menjaga Elano dengan segenap hati saya."

Jawaban Aira yang tenang justru membuat Dania makin meradang. Wajah wanita itu merah padam menahan malu dan amarah.

"Dania, keluar dari rumah saya sekarang," perintah Arka tegas, menunjuk ke arah pintu keluar.

"Sebelum saya meminta keamanan menyeretmu keluar secara paksa dan membatalkan seluruh kerja sama investasi keluarga besarmu di Danuartha Group."

Ancaman Arka mengenai investasi keluarga besarnya sukses mengunci mulut Dania. Wanita itu tahu betul Arka bukan tipe pria yang main-main dengan ucapannya. Jika Arka memutus kerja sama investasi tersebut, posisi Dania di dewan komisaris keluarga akan hancur seketika.

Dania meremas tas mewahnya dengan erat, memberikan lirikan penuh kebencian terakhir pada Aira.

"Urusan kita belum selesai, Arka. Kita lihat saja berapa lama gadis ini bisa bertahan di sisimu!"

Dengan hentakan kaki yang kasar, Dania berbalik dan melangkah lebar meninggalkan ruang makan. Suara langkah hak tingginya perlahan memudar seiring pintu depan yang ditutup rapat oleh petugas keamanan.

Suasana di ruang makan kembali hening. Udara tegang perlahan-lahan menguap, meninggalkan sisa rasa sesak yang menggantung di dada.

Aira mengusap punggung Elano yang masih agak tegang.

"Mas Elano tidak apa-apa? Naganya sudah pergi..." bisik Aira lembut di dekat telinga bocah itu.

Elano mendongak, matanya yang bulat menatap Aira. "Tante Dania jahat banget, Ma. Elano nggak suka."

"Sudah, tidak usah dipikirkan ya," ujar Aira manis, mencium dahi anak itu.

"Ayo selesaikan sarapannya, nanti keterlambatan sekolah."

Sementara itu, Arka masih berdiri mematung di dekat meja. Pria itu menghembuskan napas panjang, lalu membalikkan badan menghadapi Aira. Raut wajah Arka dipenuhi kekesalan yang mendalam atas kekurangajarannya Dania, namun ada juga sedikit rasa bersalah pada Aira.

"Aira," panggil Arka pelan.

Aira mendongak, menatap Arka dengan senyuman tipis yang menenangkan.

"Iya, Mas Arka?"

"Maafkan atas kejadian tadi," kata Arka tulus, suaranya melunak.

"Saya tidak menyangka Dania akan nekat datang ke rumah ini dan berkata kasar padamu."

Aira menggeleng pelan, berdiri dari kursinya setelah memastikan Elano kembali tenang menyantap serealnya.

"Tidak apa-apa, Mas Arka. Saya tahu posisi saya. Nyonya Dania cuma emosi."

Arka melangkah mendekati Aira, menatap mata cokelat gadis itu yang jernih. "Kata-kata Dania tadi... tidak usah kamu masukkan ke dalam hati. Kamu bukan pengganti siapa pun di rumah ini, dan kamu bukan sekadar orang asing yang dimanfaatkan. Kamu adalah istri saya, dan perlindungan saya atas dirimu adalah mutlak."

Dada Aira berdesir hebat mendengar penegasan dari bibir Arka. Kata-kata pria itu sederhana, tetapi diucapkan dengan ketulusan dan ketegasan yang sanggup menghempaskan seluruh keraguan di hati Aira.

"Terima kasih, Mas Arka," bisik Aira tulus, matanya berkaca-kaca.

Arka menatap Aira selama beberapa detik, lalu tangannya terangkat secara refleks, mengusap pelan puncak kepala Aira dengan sentuhan yang sangat hangat dan protektif—sebuah gestur kelembutan yang jujur tanpa ada kepura-puraan bisnis di dalamnya.

"Saya akan pergi ke kantor untuk menyelesaikan masalah Dania di dewan komisaris," ujar Arka pelan.

"Jika wanita itu atau siapa pun dari keluarganya mencoba menghubungimu lagi, langsung beritahu saya atau Raymond. Paham?"

"Iya, Mas. Aira paham," jawab Aira nurut.

Arka menarik tangannya dari kepala Aira, menatap putranya sejenak, lalu berbalik melangkah keluar rumah dengan langkah tegas.

Aira menyentuh rambutnya yang baru saja diusap Arka. Rasa hangat itu merambat turun ke dalam dadanya, menciptakan aliran kebahagiaan kecil yang sulit ia bendung.

Konfrontasi dengan Dania pagi ini memang membawa ancaman konflik baru di masa depan, tetapi reaksi protektif Arka telah membuktikan satu hal penting: Arka tidak lagi memandangnya hanya sebagai rekan ikatan kontrak semata.

Ada benteng perlindungan dan getaran kasih sayang yang perlahan namun pasti mulai terbangun kokoh di antara mereka.

_Bersambung

1
Penulis kentang🍠
apaan dahhhh busett
gurucantik
😍😍😍😍😍
sago
🤣🤣🤣🤣🤣
sago
nak😍😍
sago
uhuyyy
sago
sini aku bantu make kartunya🤣
sago
😍😍😍😍
sago
💪💪💪💪💪🙏
sago
🤣🤣🤣
sago
lucu banget elano
sago
😂tulahh
sago
iyaa ihhh
Saintz Gold
gasabarrrr
Saintz Gold
cemburuuuu
Saintz Gold
🤭🤭🤭
Saintz Gold
😍😍😍😍
Pendi Gudung
lanjuttt
Pendi Gudung
asik naga ajaaa
Rif Qi
up Thor jangan lama lama
Rif Qi
lnjutttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!