Indonesia
NovelToon NovelToon
Rumah Yang Menggantikan Aku

Rumah Yang Menggantikan Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Pengganti / Kehidupan di Kantor / Keluarga & Kasih Sayang / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:356
Nilai: 5
Nama Author: A. A. Pusung

Tiga tahun lalu, Kaluna Adiswara dinyatakan meninggal setelah mobilnya ditemukan hancur di dasar sungai. Tubuhnya tidak pernah ditemukan. Selama bertahun-tahun ia dianggap telah meninggalkan suami dan putrinya, bahkan dituduh menggelapkan uang perusahaan. Ketika ingatannya pulih dan Kaluna kembali, ia justru menemukan suaminya telah menikahi Veyra, adik angkat yang dulu ia anggap sebagai keluarga. Lebih menyakitkan lagi, putrinya, Elara, kini memanggil Veyra Mama. Kaluna tidak datang untuk merebut suaminya. Ia datang untuk mendapatkan kembali namanya, hak sebagai ibu, aset yang dirampas, dan mencari tahu siapa yang mencoba membunuhnya. Di balik keluarganya yang terlihat sempurna, ternyata tersimpan rahasia tentang pemalsuan dokumen, pengkhianatan, dan sebuah kejahatan yang telah disembunyikan selama bertahun-tahun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A. A. Pusung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10 PEREMPUAN YANG DITUDUH MELARIKAN DIRI

Kaluna menatap putrinya. Pertanyaan itu terasa jauh lebih berat daripada seluruh dokumen yang baru saja diperlihatkan Arsen. Tiket penerbangan bisa diperiksa. Foto di hotel bisa dicari asalnya. Tatapan Elara tidak meminta bukti hukum. Anak itu hanya ingin tahu apakah ibunya pernah memilih pergi.

“Aku tidak pernah mau ninggalin kamu,” jawab Kaluna.

“Tapi fotonya ada.”

“Aku memang ada di hotel itu.” Kaluna terdiam sesaat. “Hanya saja aku belum ingat untuk apa.”

Elara mengerutkan kening. “Berarti kamu lupa lagi?”

“Sebagian ingatanku belum kembali.”

“Kalau nanti ingat, terus ternyata kamu benar mau pergi?”

Kaluna tidak menemukan jawaban yang terasa aman. Ia bisa saja langsung menyangkal. Ia bisa mengatakan bahwa semua bukti itu palsu dan orang lain sedang menjebaknya. Ia tidak ingin memberi janji tentang sesuatu yang belum bisa dibuktikannya.

“Aku yakin aku nggak akan pergi tanpa kamu. Tapi kenapa aku ada di hotel itu, aku juga harus cari tahu.”

Elara memandang boneka di pelukannya.

Veyra mengusap punggung anak itu. “Kita berhenti dulu, ya. Elara sudah mendengar terlalu banyak.”

Kali ini Kaluna tidak membantah. Ia tidak ingin memaksa Elara memahami masalah orang dewasa hanya agar anak itu percaya kepadanya.

“Elara,” panggil Kaluna sebelum anak itu dibawa pergi.

Elara menoleh.

“Kamu nggak harus percaya sekarang. Aku cuma...” Kaluna berhenti sebentar. “Aku nggak balik buat nyakitin kamu.”

Elara tidak menjawab. Ia mengikuti Veyra menuju tangga sambil membawa boneka Momo. Kaluna memperhatikan mereka sampai keduanya menghilang di lantai atas.

Arsen mengambil tiket dan salinan berita dari atas meja.

“Sekarang kamu tahu kenapa waktu itu aku nggak bisa langsung bilang semua itu salah.”

Kaluna berdiri. “Kamu menganggapnya benar tanpa pernah bertanya kepadaku.”

“Kamu tidak ada.”

“Tubuhku tidak ditemukan.”

“Kita sudah membahas itu.”

“Tidak. Kamu selalu pakai alasan yang sama buat semua keputusanmu.”

Arsen memasukkan dokumen ke dalam map dengan gerakan yang sedikit lebih keras.

“Terus aku harus apa? Nunggu terus sambil nganggep kamu masih hidup?”

“Setidaknya kamu bisa benar-benar periksa bukti yang bilang aku melarikan diri.”

“Aku memeriksanya.”

“Dengan siapa?”

Arsen diam.

Salindri yang sejak tadi berdiri di dekat sofa mendekati meja. “Saya perlu salinan tiket, laporan transaksi, dan foto hotel ini.”

Arsen menoleh kepadanya. “Untuk apa?”

“Mau memastikan dokumennya asli atau tidak. Sama kapan dibuat.”

“Tim perusahaan sudah memeriksanya.”

“Tim yang sama yang tidak melihat kejanggalan tanggal pengalihan saham?”

Arsen mengalihkan pandangan.

Kaluna mengambil salinan tiket dari map. “Nomor pemesanan ini bisa dilacak?”

Salindri mengangguk. “Bisa, selama datanya belum dihapus.”

“Sudah tiga tahun.”

“Maskapai dan penyedia pembayaran biasanya menyimpan catatan lebih lama untuk kebutuhan administrasi.”

Arsen menyandarkan satu tangan ke meja. “Kalau tiket itu terbukti dibeli menggunakan kartu Kaluna?”

“Belum membuktikan dia yang melakukan pemesanan,” jawab Salindri. “Kita harus melihat perangkat, lokasi transaksi, alamat surel, dan nomor yang dipakai.”

Kaluna membaca kembali nama yang tertera pada tiket. Tidak ada kesalahan ejaan. Nomor identitasnya juga sesuai. Siapa pun yang memesan tiket tersebut memiliki data pribadi Kaluna dengan lengkap.

“Bagaimana dengan foto ini?” tanyanya.

Arsen membuka halaman berita di telepon. “Foto dikirim oleh sumber yang tidak disebutkan.”

“Media memuatnya tanpa memastikan siapa yang mengirim?”

“Waktu itu kabar tentang dana perusahaan sudah menyebar.”

Kaluna memperbesar foto. Ia mengenakan kemeja putih dan celana hitam. Sebuah tas kerja tergantung di bahunya. Wajahnya terlihat dari samping ketika memasuki lobi hotel.

“Ini pakaian yang biasa kupakai ke kantor.”

Arsen ikut melihat. “Kamu datang ke sana pada hari kerja.”

“Jam berapa?”

“Keterangan foto tidak menyebutkan.”

Salindri meminta telepon Arsen, kemudian memperhatikan gambar tersebut lebih teliti.

“Berita ini terbit setelah kecelakaan?”

“Dua hari setelah mobilnya ditemukan,” jawab Arsen.

“Berarti mereka menulis seenaknya karena mengira orang di foto itu tidak akan membantah.”

Kaluna menoleh kepada Salindri. “Kita cari foto aslinya.”

Mereka meninggalkan rumah Mahardika menjelang siang. Naren masih menunggu di mobil yang diparkir tidak jauh dari gerbang. Begitu Kaluna masuk, ia langsung menyerahkan salinan tiket kepadanya.

“Apa ini?” tanya Naren.

“Bukti bahwa aku disebut mau melarikan diri.”

Naren membaca dokumen tersebut. “Penerbangan ke Singapura.”

“Satu hari setelah kecelakaan.”

“Sekali jalan.”

“Dan dibayar memakai kartu perusahaan atas namaku.”

Naren memeriksa nomor pemesanan. “Aku akan mencari jejak transaksinya.”

Salindri masuk ke kursi belakang bersama Kaluna. “Kita juga membutuhkan foto asli dari media.”

Naren menyalakan mesin. “Kantornya masih ada?”

“Masih,” jawab Salindri. “Tapi sebelum ke sana, kita datangi hotelnya.”

Hotel yang terlihat dalam foto berada dekat bandara. Perjalanan membutuhkan hampir satu jam karena lalu lintas siang mulai padat. Sepanjang jalan, Kaluna berusaha memaksa ingatannya kembali. Kemeja putih. Tas kerja hitam. Pintu kaca hotel. Ia melihat potongan-potongan kecil, tetapi semuanya terlalu kabur. Ada meja panjang di lobi. Seorang lelaki berdiri membelakanginya. Kemudian suara telepon bergetar. Setiap kali berusaha mengingat lebih jauh, kepalanya mulai sakit.

“Kau tidak perlu memaksakan ingatan,” kata Naren dari depan.

“Aku pernah berada di sana.”

“Ya, dari fotonya kamu memang pernah ke sana.”

“Aku ingin tahu kenapa.”

“Lebih baik kita cari bukti daripada membuatmu sakit karena memaksa mengingat.”

Kaluna menyandarkan kepala dan memejamkan mata. “Enak buatmu bilang begitu.”

“Benar. Karena ingatan yang muncul saat tertekan belum tentu lengkap.”

Salindri melirik Kaluna. “Sudah. Kita pakai yang bisa dibuktikan.”

Setibanya di hotel, Kaluna berhenti beberapa saat di depan pintu masuk. Bangunan itu tidak banyak berubah dari foto. Pilar berwarna abu-abu masih berada di sisi lobi. Logo hotel tergantung di atas meja resepsionis. Sebuah rasa tidak nyaman muncul di perutnya.

“Aku pernah masuk lewat pintu itu,” katanya.

Naren mengangguk. “Kita mulai dari resepsionis.”

Manajer hotel menemui mereka setelah Salindri menunjukkan surat permintaan informasi. Awalnya lelaki itu menolak memberikan data tamu karena alasan kerahasiaan.

“Klien saya adalah orang dalam foto yang disebarkan dari hotel ini,” kata Salindri. “Kami hanya meminta konfirmasi apakah dia menginap atau bertemu seseorang.”

Manajer tersebut membaca salinan berita.

“Saya perlu memeriksa arsip.”

“Termasuk rekaman kamera?”

“Rekaman tiga tahun lalu sudah tidak ada.”

Kaluna memang sudah menduganya.

“Bagaimana dengan catatan kunjungan?” tanya Naren.

“Kalau beliau memesan kamar, datanya mungkin masih tersimpan. Kalau hanya datang ke restoran atau ruang pertemuan, lebih sulit.”

Mereka menunggu hampir tiga puluh menit. Manajer kembali membawa salinan data dari sistem lama.

“Tidak ada pemesanan kamar atas nama Kaluna Adiswara pada tanggal yang disebutkan.”

Arsen pernah mengatakan koper Kaluna diantar ke hotel dekat bandara. Data hotel tidak mencatat Kaluna sebagai tamu.

“Apakah ada pemesanan ruang pertemuan?” tanya Salindri.

Manajer membuka lembar kedua. “Ada satu ruang pertemuan kecil yang dipesan oleh Mahardika Medika.”

Kaluna mendekat. “Siapa yang memakai?”

“Daftar tamunya tidak lengkap. Hanya ada nama perusahaan dan kontak pemesan.”

Naren menunjuk bagian bawah. “Nomor teleponnya.”

Manajer menutup sebagian dokumen. “Kami tidak bisa memberikan data pribadi tanpa izin.”

“Itu nomor perusahaan,” kata Kaluna setelah melihat empat angka terakhir. “Dulu digunakan bagian administrasi direksi.”

Manajer memeriksa kembali. “Ruang dipesan selama dua jam, dari pukul dua sampai empat sore.”

“Tanggalnya?”

“Dua hari sebelum kecelakaan.”

Tanggalnya sama dengan hari ketika foto Kaluna di hotel itu diambil. Ia tidak datang untuk menginap. Ia datang karena ada pertemuan yang dipesan atas nama Mahardika Medika.

“Apakah ada catatan konsumsi atau tagihan tambahan?” tanya Naren.

Manajer membuka sistem di tabletnya. “Ada pembayaran minuman untuk empat orang.”

“Empat?”

“Iya.”

Kaluna memejamkan mata sesaat. Bayangan lelaki yang berdiri membelakanginya kembali muncul. Kali ini ada dua gelas di atas meja dan sebuah map berwarna merah tua. Ia membuka mata sebelum sakit kepalanya bertambah.

“Aku bertemu seseorang di sini.”

“Mungkin lebih dari satu orang,” kata Naren.

Salindri meminta salinan tagihan dan data pemesanan melalui prosedur resmi. Manajer berjanji mengirimkannya setelah mendapat persetujuan bagian hukum.

Mereka kemudian mendatangi kantor media yang menerbitkan berita lama tersebut. Redaktur yang menangani artikel itu sudah tidak bekerja di sana. Arsip digital masih menyimpan foto asli beserta waktu diterima.

Foto itu dikirim lewat surel anonim pada malam setelah mobil Kaluna ditemukan. Foto tersebut diambil dua hari sebelum kecelakaan.

Seseorang sudah menyimpan foto itu. Setelah Kaluna menghilang, foto itu dikirim untuk mendukung cerita bahwa ia hendak melarikan diri.

Naren memeriksa metadata gambar di komputer redaksi.

“Foto ini dipotong,” katanya.

Kaluna mendekat. “Bagian mana?”

“Gambar yang dimuat hanya menunjukkanmu memasuki lobi.”

Ia meminta staf membuka berkas asli. Foto yang belum dipotong perlahan muncul di layar. Kaluna memang terlihat berjalan menuju hotel. Beberapa meter di belakangnya ada seorang pegawai hotel yang sedang membawa papan nama untuk pertemuan bisnis. Tulisan pada papan itu masih terbaca.

Pertemuan Internal Mahardika Medika.

Salindri memotret layar. “Setidaknya ini menunjukkan kamu datang ke sana buat urusan perusahaan.”

“Belum membuktikan isi pertemuannya,” kata Naren. “Tapi cukup untuk menunjukkan kalau berita lama itu sengaja menghilangkan konteks.”

Kaluna melihat wajahnya sendiri di dalam foto. Tiga tahun lalu, ia datang ke hotel itu untuk menghadiri pertemuan perusahaan. Setelah Kaluna menghilang, foto tersebut dipotong dan digunakan untuk membuatnya terlihat seperti perempuan yang sedang bersiap melarikan diri.

“Cari siapa pengirim surelnya,” kata Kaluna.

Staf media membuka data pesan lama. Alamat pengirim terdiri dari rangkaian huruf dan angka yang tidak menunjukkan identitas. Lampiran surel menyimpan satu nama berkas asli yang belum diubah.

Naren membacanya pelan.

KA_Pertemuan_Rahasia_02.

Kaluna menatap layar. Di bawah nama berkas terdapat waktu pembuatan foto dan informasi perangkat yang digunakan. Perangkat itu terdaftar sebagai telepon milik perusahaan, bukan milik Kaluna.

Salindri menunjuk kode inventaris pada metadata. “Kalau daftar perangkat tiga tahun lalu masih ada, kita bisa mengetahui siapa pemegang telepon ini.”

Naren mencatat kode tersebut.

Kaluna belum sempat berkata apa-apa ketika teleponnya bergetar.

Sebuah pesan dari nomor tidak dikenal masuk.

Di dalamnya terdapat foto Elara sedang berdiri di halaman sekolah.

Gambar itu diambil dari kejauhan pada pagi yang sama.

Pesan berikutnya hanya berisi satu kalimat.

Berhenti membongkar masa lalu, atau kali ini yang hilang bukan dirimu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!