Amira tidak pernah menyangka hari pertamanya di SMA Dirgantara akan mempertemukannya dengan Alfian—sang kapten basket arogan yang wajah dan suaranya sangat mirip dengan "Sky", teman masa kecil yang memberinya kalung bintang sebelum pergi meninggalkannya bertahun-tahun lalu.
Sayangnya, Alfian bersikap seolah tidak pernah mengenal Amira dan menganggapnya sebagai cewek aneh yang sengaja mencari perhatian, membuat hari-hari sekolah Amira penuh dengan perdebatan sengit dan emosi yang naik turun.
Di balik dingin dan marahnya sang kapten, tersimpan rahasia besar serta memori masa lalu yang terkunci rapat, memaksa Amira terjebak dalam dilema antara rasa rindu pada masa lalu atau membenci kenyataan pahit di hadapannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Madelyn_Sa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Tangga Goyah dan Dalih Sang Koordinator
Keesokan harinya, Amira merasa seperti zombi yang kekurangan jam tidur.
Bukan karena tugas Sejarah Bu Ratna yang menumpuk, melainkan karena otaknya menolak diajak kompromi.
Semalaman penuh, bayangan wajah Alfian yang berlumuran cat kuning terus berputar di kepalanya bagai kaset rusak.
Lebih parahnya lagi, tatapan intens cowok itu saat jarak mereka terkikis habis sukses membuat Amira terjaga sampai jam dua pagi.
"Lingkaran mata lo kenapa item gitu, Mir? Habis ronda keliling kompleks?" tegur Rara saat jam istirahat pertama.
Amira langsung menelungkupkan wajahnya di atas meja dengan posisi merana.
"Gue kurang tidur, Ra. Pikiran gue lagi kacau balau," erang Amira memelas.
Maya yang baru datang membawa tiga bungkus roti cokelat langsung menarik kursi dan duduk di depan meja Amira.
"Kacau kenapa? Gara-gara mikirin kapten basket yang kemarin sore berduaan sama lo di ruang seni?" goda Maya tajam.
Amira langsung mengangkat kepalanya dengan mata melotot.
"Sst! Mulut lo ya, May! Nanti kalau ada anak kelas lain yang denger bisa jadi gosip jilid dua!" panik Amira sambil membekap mulut Maya.
Maya melepaskan tangan Amira sambil terkekeh jahil.
"Lagian, lo tuh kelihatan banget saltingnya, Mir," lanjut Maya santai.
"Udah deh, ngaku aja. Lo pelan-pelan udah mulai kecantol kan sama pesona si kulkas dua pintu?" tembak Rara ikut-ikutan menyudutkan.
"Nggak! Siapa juga yang kecantol cowok nyebelin kayak dia!" bantah Amira cepat, meski pipinya mendadak terasa hangat.
"Aku tuh cuma... aneh aja ngelihat dia tiba-tiba bisa ketawa lepas," cicit Amira pelan, nyaris tak terdengar.
Rara dan Maya saling berpandangan, lalu tersenyum penuh arti.
"Hati-hati, Mir. Benci sama cinta itu bedanya setipis tisu dibagi dua," petuah Rara bijak yang langsung dibalas dengusan sebal oleh Amira.
Jam sekolah berakhir lebih cepat karena para guru harus mengadakan rapat koordinasi.
Namun bagi panitia Pensi, ini adalah tanda dimulainya kerja rodi.
Amira berdiri di tengah-tengah aula utama sekolah yang luar biasa luas dan mulai terasa pengap.
Gedung ini sedang dihias besar-besaran untuk acara puncak Pensi minggu depan.
"Amira! Tolong gantungin banner selamat datang ini di atas pintu masuk aula, ya!" seru Kak Dinda, ketua divisi dekorasi.
"Hah? Aku sendirian, Kak?" tanya Amira kaget, menatap gulungan banner kain yang lumayan berat di tangannya.
"Iya, anak cowok lagi pada ngangkat sound system di panggung belakang. Tolong ya, Mir!" Kak Dinda menepuk bahu Amira dan langsung berlari pergi.
Amira menghela napas panjang, meratapi nasibnya yang selalu apes.
Ia menyeret sebuah tangga aluminium lipat berukuran sedang menuju pintu masuk utama aula.
"Oke, Amira. Kamu cuma perlu naik, ikat ujungnya, dan turun. Gampang," gumam Amira menyemangati dirinya sendiri.
Ia meletakkan tangga itu, lalu mulai memanjat anak tangga pertama sambil memeluk banner kain dengan satu tangan.
Satu anak tangga. Dua anak tangga. Tiga anak tangga.
Saat Amira mencapai pijakan keempat, tangga aluminium itu tiba-tiba bergoyang pelan.
Engsel penguncinya rupanya agak longgar karena sudah tua.
"Duh, kok goyang sih," rutuk Amira mulai panik.
Ia mencoba menjaga keseimbangan, menjulurkan tangannya untuk mengikat ujung banner ke paku paku yang menancap di kusen pintu atas.
Di saat yang bersamaan, pintu utama aula terbuka dari luar.
Alfian melangkah masuk dengan santai, diikuti Rio di belakangnya.
Sang koordinator OSIS itu sedang melakukan inspeksi rutin ke lokasi acara.
Begitu pandangan Alfian menyapu area pintu masuk, matanya langsung melebar.
Di sana, Amira sedang berjinjit di atas tangga aluminium yang terlihat sangat tidak stabil, berusaha mengikat tali banner dengan posisi miring.
Kriet!
Tangga itu bergeser sedikit ke kanan akibat tumpuan berat yang tidak seimbang.
"Kyaa....!" Amira memekik tertahan, tubuhnya oleng ke samping kehilangan keseimbangan.
Ia refleks menutup mata, bersiap merasakan kerasnya lantai keramik aula menghantam tubuhnya.
Namun, rasa sakit itu tak kunjung datang.
Kedua sisi tangga aluminium itu dicengkeram erat oleh sepasang tangan kekar yang menahannya dengan kekuatan penuh.
Goyangan tangga langsung berhenti seketika.
Amira membuka sebelah matanya dengan jantung yang berdegup gila-gilaan.
Di bawah sana, Alfian berdiri tegak menahan tangga dengan rahang yang mengeras tegang.
"Turun," perintah Alfian dengan suara bariton yang teramat dingin dan mengintimidasi.
Amira menelan ludah, buru-buru menuruni anak tangga satu per satu dengan kaki yang gemetar.
Begitu ujung sepatunya menyentuh lantai, napas Amira langsung terhembus lega.
"Lo itu nggak punya otak atau gimana?!" bentak Alfian pelan, namun nadanya sarat akan amarah yang meledak-ledak.
Amira terlonjak kaget.
"Kok jadi marah-marah?! Aku kan disuruh Kak Dinda masang ini!" bela Amira tak terima dimaki tiba-tiba.
"Kalau disuruh mati, lo mau aja?!" sembur Alfian tak kalah sengit.
Mata hitam legam cowok itu menatap Amira dengan kilatan amarah yang mengerikan.
"Tangga ini kunciannya rusak, bodoh. Kalau lo jatuh dari atas sana, leher lo bisa patah!" desis Alfian tajam, menunjuk engsel tangga yang memang terlihat bengkok.
Amira terdiam kaku.
Rasa kesalnya langsung menguap, digantikan oleh rasa bersalah dan kaget yang campur aduk.
Ia tidak tahu kalau tangga itu rusak.
"A-aku nggak tahu..." cicit Amira pelan, menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Melihat Amira yang biasanya galak kini menunduk menciut, emosi Alfian mendadak reda seperti disiram air es.
Cowok itu membuang napas panjang, memijat pangkal hidungnya sendiri dengan sebelah tangan.
"Minggir," ucap Alfian singkat.
"Eh?" Amira mendongak bingung.
Tanpa banyak bicara, Alfian merebut gulungan banner dari tangan Amira.
Cowok itu menahan tangga dengan satu kaki, lalu memanjat naik dengan gerakan cepat dan luar biasa stabil.
Tinggi badan Alfian yang menjulang membuatnya tak perlu naik sampai ke pijakan teratas.
Hanya dengan berada di anak tangga ketiga, tangannya sudah dengan mudah mengikat ujung banner ke paku di kusen pintu.
Amira berdiri mematung di bawah, mendongak menatap punggung lebar cowok itu yang sedang bekerja untuknya.
Otot lengan Alfian terlihat menonjol dari balik kemeja seragamnya saat ia menarik tali simpul banner dengan kuat.
Kenapa dia selalu datang di saat aku lagi butuh bantuan sih? batin Amira frustrasi.
"Udah," ucap Alfian sambil melompat turun dari tangga dengan sangat ringan.
Ia menepuk-nepuk tangannya yang sedikit kotor karena debu dinding.
"M-makasih," gumam Amira salah tingkah, meremas ujung roknya.
Alfian tidak langsung membalas.
Ia menatap wajah Amira lekat-lekat, menilai apakah cewek ceroboh ini baik-baik saja atau masih dalam mode shock.
"Gue bantu lo bukan karena gue peduli," ucap Alfian tiba-tiba, mode kulkasnya kembali menyala.
"Gue cuma nggak mau repot bikin laporan kecelakaan kerja ke Kepala Sekolah kalau sampai ada panitia yang geger otak di aula."
Amira memutar bola matanya malas.
"Iya, iya, paham. Pak Koordinator OSIS yang terhormat emang paling anti sama keributan," cibir Amira sengaja menyindir.
Alfian mendengus pelan, meski sudut bibirnya tanpa sadar sedikit berkedut menahan senyum.
"Bagus kalau lo sadar diri. Kerjain tugas lo yang di bawah-bawah aja, nggak usah sok akrobat."
"Iya, Bawel!" sungut Amira kesal, berniat melangkah pergi meninggalkan cowok itu.
Namun, langkah Amira tertahan saat melihat ada noda debu putih yang lumayan tebal menempel di lengan kemeja seragam Alfian bagian belakang.
Itu pasti debu dari kusen pintu atas tadi.
"Eh, bentar," panggil Amira refleks menahan lengan Alfian.
Alfian menghentikan langkahnya, menoleh menatap tangan Amira yang bertengger di lengannya.
"Kenapa lagi?" tanya Alfian datar.
"Itu... di punggung baju kamu ada debunya tebal banget," tunjuk Amira canggung.
Tanpa menunggu persetujuan Alfian, Amira berjinjit sedikit dan menepuk-nepuk pelan punggung bidang cowok itu untuk membersihkan noda debu.
Puk Puk Puk
Alfian membeku di tempat.
Sentuhan tangan Amira di punggungnya terasa sangat ringan, tapi entah mengapa sengatannya menjalar sampai ke tengkuk.
Jantung sang kapten basket yang biasanya selalu tenang di bawah tekanan, kini mendadak berdetak dengan ritme yang memalukan.
"Dah, bersih!" ucap Amira ceria, menurunkan tangannya sambil tersenyum puas.
Alfian mematung, menatap senyum manis yang terlukis di wajah Amira.
Senyum itu bukan senyum sinis atau galak seperti biasanya, melainkan senyum tulus yang membuat perut Alfian serasa dipenuhi kupu-kupu.
Sial, cewek ini bener-bener bahaya, maki Alfian dalam hatinya yang sedang kacau.
Tepat saat Alfian hendak membuka mulut untuk membalas, sebuah suara tepuk tangan pelan terdengar dari arah belakang.
Prok Prok Prok
Rio berjalan santai mendekati mereka dengan senyum jahil yang sangat lebar.
"Wah, wah. Dunia milik berdua, yang lain ngontrak ya bos?" goda Rio sengaja memancing perkara.
Wajah Amira dan Alfian kompak memerah dalam hitungan detik.
Amira buru-buru melangkah mundur, menjaga jarak sejauh mungkin dari Alfian seolah cowok itu menularkan virus berbahaya.
"A-apaan sih, Rio! Aku cuma bantuin bersihin debu doang!" sanggah Amira terbata-bata, merutuki suaranya yang terdengar panik.
"Oh, bersihin debu. Kirain lagi syuting adegan romantis ala drama Korea," kekeh Rio tanpa dosa.
Alfian melotot tajam ke arah sahabatnya itu.
"Kalau lo nggak ada kerjaan mending lo bantu angkat sound system sana, daripada mulut lo gue sumpal pakai kaleng cat," ancam Alfian dengan suara berat yang mengintimidasi.
Bukannya takut, Rio justru makin terbahak-bahak.
"Gengsi aja terus, Yan. Nanti keburu ditikung orang baru tahu rasa lo," ledek Rio sambil berlari kecil menjauh sebelum Alfian benar-benar mengamuk.
Amira yang masih berdiri di sana merasa canggungnya naik sampai ke level maksimal.
Ia tidak berani menatap wajah Alfian, memilih pura-pura sibuk membetulkan letak tali sepatunya.
"A-aku mau lanjut ngerjain properti di ruang seni dulu. Permisi," pamit Amira cepat, langsung membalikkan badan bersiap melarikan diri.
"Amira."
Panggilan dengan nama aslinya itu membuat langkah Amira seketika terhenti.
Ini pertama kalinya Alfian memanggilnya dengan nama 'Amira', bukan 'Lily' apalagi 'Cewek Halu'.
Amira menoleh perlahan, menatap Alfian dengan jantung yang kembali berdisko ria.
"Ya?" cicit Amira pelan.
Alfian memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, membuang muka ke arah panggung aula untuk menyembunyikan wajahnya yang sedikit salah tingkah.
"Nanti pulangnya tunggu di gerbang depan," ucap Alfian tanpa menatap Amira.
"Eh? Kenapa?" tanya Amira bingung.
"Nggak usah banyak tanya. Kalau gue bilang tunggu, ya tunggu," titah Alfian datar, kembali pada mode otoriternya.
Tanpa menunggu persetujuan Amira, Alfian langsung berjalan menjauh menuju arah ruang kontrol audio, meninggalkan Amira yang berdiri melongo dengan perut yang terasa tergelitik hebat.
Tunggu di gerbang? Maksudnya... dia mau nganterin aku pulang lagi?! jerit batin Amira histeris, antara panik dan senang yang tak bisa ia bedakan lagi.