Indonesia
NovelToon NovelToon
Damian: Jerat Sang Iblis

Damian: Jerat Sang Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Iblis / Romansa Fantasi / Hantu
Popularitas:180
Nilai: 5
Nama Author: cinnamon girl

Jatuh cinta pada Hantu adalah sebuah kutukan. Kutukan takdir yang akan terus berputar pada keluarganya.

Ketika logika manusianya tertutupi oleh manipulasi gaib yang Damian lakukan. Membuat Cindy yang awalnya murni jatuh hati pada sikap dan ketampanan pria itu menjadi buta pada segala hal keanehan yang terjadi pada tubuhnya serta pada Damian. Namun setelah melahirkan anak pria itu perlahan ia sadar bahwa ia terlanjur jatuh pada jeratnya. Demi cinta ia mau jiwanya terjerat mati bersamanya selamanya....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cinnamon girl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 19

Sinar matahari pagi menembus ventilasi dapur, membawa kehangatan yang kontras dengan hawa sejuk yang kini mulai menguar di sekitar tubuh Damian sejak batu giok itu hadir. Cindy, dengan daster rumahan katun tipisnya yang baru di ganti karena daster semalam sudah robek tak berbentuk, kini ia sedang berdiri di depan kompor. Tangannya memegang spatula, mencoba fokus menggoreng telur mata sapi untuk sarapan. Rasa pegal di pinggang dan paha dalamnya masih terasa berdenyut, sisa dari penyatuan tanpa ampun sepanjang malam suntuk.

Srek... srek...

Suara spatula beradu dengan wajan tiba-tiba terhenti saat sebuah pelukan sedingin es mendekapnya erat dari belakang. Aroma mint tajam yang kini terus muncul usai Cindy merasakan ciuman Damian waktu itu berpadu wangi kenanga mati langsung menyerbu indra penciuman Cindy. Kulit pucat Damian yang bertelanjang dada menempel sempurna pada punggung hangatnya.

"Damian... ahhh, jangan sekarang. Aku lagi masak," bisik Cindy, suaranya parau dan serak, sisa dari desahan mesum semalaman.

Damian tidak menjawab. Seringai penuh kemenangan terukir di wajah tampan klasiknya. Jari-jari panjangnya yang sekeras porselen dengan cepat menyingkap daster katun Cindy ke atas pinggang. Tanpa aba-aba, Damian menurunkan sedikit celana panjangnya dan menekan tubuh besarnya maju. Ke-jantanan pucatnya yang sudah menegang keras sejak subuh tadi langsung menerobos masuk, mengisi wilayah paling intim milik Cindy dari arah belakang dalam satu sentakan dalam.

"Ahhhhh! D-Damian... nggghhh!" Cindy memekik tertahan, tangannya refleks mencengkeram pinggiran meja kompor dengan erat hingga urat-urat halusnya menyembul. Kepalanya mendongak pasrah, membiarkan telur di atas wajan terabaikan begitu saja. "T-terlalu mendadak... emmmhh! Ahhh... dingin banget... nggghhh!"

"Kamu begitu hangat pagi ini, Cindy... mijn liefde," geram Damian rendah, suara seraknya yang berat bergetar langsung di ceruk leher Cindy. Ia mulai menggerakkan pinggulnya, melakukan hantaman-hantaman ritmis dari belakang dengan sudut yang teramat dalam dan presisi. "Saya tidak bisa menahan diri melihat tubuh indahmu ini bergerak di depan kompor."

"Ahhh! Ahhh! D-Damian... nggghhh... emmmhh!" desah Cindy beruntun-turun. Tubuh mungilnya maju mundur mengikuti ketukan liar yang diberikan sang Iblis Belanda. Dapur sederhana itu seketika dipenuhi hawa mistis yang memabukkan. Setiap jengkal kulit hangat Cindy yang bersentuhan dengan dada dingin Damian menciptakan sengatan gairah yang membakar ulu hatinya.

"Katakan... ahhh... katakan kamu menyukainya, Cindy," bisik Damian dengan nada mesum yang teramat intens, sambil menggigit kecil daun telinga Cindy hingga gadis itu meremang hebat.

"I-Iya... ahhh! Enak... nggghhh! Damian... l-lebih cepat... emmmhh... ahhh!" rintih Cindy pasrah, matanya terpejam sayu dengan kabut gairah yang kembali menjajah otaknya sepenuhnya. Pinggulnya secara instingtif bergerak mundur, menyambut setiap jengkal ke-jantanan dingin Damian yang terasa menghantam titik paling sensitif di dalam rahim manusianya.

Damian mempercepat temponya. Gerakannya kini berubah menjadi sangat agresif dan dominan. Tangan besarnya mencengkeram pinggang Cindy dengan kuat, mengunci posisi gadis itu agar menerima seluruh gempuran staminanya yang seolah tak memiliki batas akhir.

"Ahhhh! Ahhhh! D-Damian... nggghhh! Aku mau... aku mau sampai... emmmhh! T-terlalu dalam, sayang... ahhh! Nggghhh!" jerit Cindy dengan suara yang semakin meninggi. Seluruh tubuhnya menegang kaku, jemari kakinya menekuk erat di atas ubin tegel dapur. Sengatan kenikmatan yang teramat ekstrem membuat rahimnya berkedut hebat hingga akhirnya Cindy mencapai orgasme pertamanya di pagi hari itu, melepaskan seluruh cairan hangat manusianya di dalam cangkang gaib yang mengungkungnya.

"Emmmhh... ahhh... ahhh..." Cindy terkulai lemas, kepalanya bersandar pasrah pada dada bidang Damian, napasnya tersengal-sengal dengan dada yang naik turun dengan cepat.

Damian menjeda gerakannya. Ia menatap ke bawah, melihat bagaimana tubuh mungil kekasihnya bergetar hebat dengan lutut yang tampak lemas menahan bobot tubuh. Stamina manusia Cindy jelas tidak akan mampu menandingi gairah abadi seorang Iblis Belanda. Dengan helaan napas berat yang sarat akan rasa sayang yang posesif, Damian perlahan menarik dirinya keluar.

"Kamu sudah sangat kelelahan, mijn liefde," bisik Damian lembut, kecupan-kecupan dingin ia daratkan di bahu Cindy yang memerah. Ia membantu menurunkan kembali daster Cindy dan merapikan pakaiannya sendiri. "Saya akan menahan diri untuk sisa hari ini. Istirahatlah."

Cindy hanya bisa mengangguk lemah, mematikan kompor dengan tangan yang masih gemetar, lalu berjalan perlahan menuju meja makan untuk duduk dan memulihkan tenaganya.

»»»

Satu jam berlalu, suasana rumah kolonial itu kembali tenang. Cindy sudah berganti pakaian yang lebih sopan dan sedang meminum teh hangat untuk mengembalikan staminanya, sementara Damian duduk di seberangnya dengan kemeja biru dongker yang sudah terancing rapi.

Tok... Tok... Tok...

Suara ketukan pintu depan yang berat dan ritmis memecah keheningan rumah. Cindy mengernyitkan alisnya. Jarang sekali ada tamu yang datang ke rumahnya sejak Mahen pergi.

"Biar saya yang periksa," ucap Damian datar. Matanya seketika menggelap pekat. Aura es di sekitar tubuhnya kembali menegang. Ia tahu persis siapa yang berani mengetuk pintu rumah miliknya pagi-pagi begini.

Cindy yang penasaran ikut bangkit dan berjalan pelan di belakang Damian menuju ruang tamu. Saat Damian membuka pintu kayu jati yang besar itu, sosok seorang pria tua berpakaian adat Jawa lengkap dengan surjan motif lurik dan blangkon di kepalanya sudah berdiri tegak di sana. Pria tua itu memegang sebuah tongkat kayu berkepala perak, dan sepasang matanya yang tajam langsung menatap lurus ke arah Damian, lalu beralih menatap Cindy dengan pandangan yang teramat dalam.

Ini adalah pertama kalinya Cindy melihat pria tua ini secara langsung.

"Kulanuwun..." sapa pria tua itu dengan suara berat, dalam, dan penuh wibawa mistis yang kental.

"Ki Renggo," desis Damian rendah, suaranya terdengar sangat mengintimidasi hingga membuat hawa di teras depan langsung drop beberapa derajat. "Untuk apa kamu berani menginjakkan kaki di tanah ini?"

Ki Renggo tidak gentar sedikit pun dengan tatapan membunuh dari sang Iblis Belanda. Ia tersenyum tipis, lalu menatap Cindy yang berdiri agak bersembunyi di balik punggung tegap Damian. "Jangan khawatir, Tuan Muda. Saya datang ke sini bukan untuk mencari keributan dengan Anda. Saya datang karena ada urusan bisnis yang harus kita selesaikan terkait dengan... pembatasan wilayah rawa di belakang."

Cindy mengernyitkan alisnya, menatap bergantian antara Damian dan Ki Renggo dengan rasa heran yang membuncah. "Urusan bisnis? Damian... Kamek tua ini siapa? Dan bisnis apa yang kalian maksud?"

Ki Renggo terkekeh pelan, mengeluarkan suara parau khas orang tua. "Panggil saya Ki Renggo, Cah Ayu. Saya adalah penjaga tanah sebelah. Dan bisnis kami... adalah memastikan agar kebahagiaan yang Anda miliki di dalam rumah ini tidak terganggu oleh mahluk-mahluk kelaparan di luar sana."

Damian mencengkeram kusen pintu hingga kayu tua itu berderit nyaring. "Masuklah, Dukun tua. Jangan lancang bicara di depan milik saya," geram Damian rendah, terpaksa memberikan jalan bagi Ki Renggo untuk masuk ke dalam ruang tamu, memulai babak baru dari rahasia besar yang selama ini coba ia sembunyikan dari kewarasan Cindy.

»»»»

Entah kapan Cindy akan sadar bahwa apa yang di alaminya selama ini sangat tidak wajar. Semua perkataan Damian yang aneh justru terasa biasa saja bagi Cindy. Seolah-olah logikanya di tuntut untuk mengerti dan tidak terkejut.

Cindy sendiri jujur saja kadang masih merasa aneh dengan apa yang terjadi. Tapi rasa cintanya pada Damian membuat logikanya entah kenapa tidak berfungsi. Meskipun dia masih bisa bekerja mencari uang untuk kebutuhannya.

Saat ini Cindy sedang duduk di depan laptop sedangkan Damian berada di depan masih bersama Ki Renggo, kakek tua yang entah kenapa terasa aneh bagi Cindy.

“Anda baru saja melakukan perjalanan untuk membuat jiwa Cindy tidak mati?“ tanya Ki Renggo dengan cepat. Langsung tahu mengapa Damian terlihat berbeda.

“Kau tak perlu tau Renggo! Ini urusanku!“ ketus Damian sedikit menaikkan nada bicaranya dengan tegas.

“Baiklah-baiklah, yah semoga dengan anda mendapatkan batu itu, nona Cindy baik-baik saja.“

“Jadi…ada urusan apa kau ke sini?“ tanya Damian to the point. Merasa percakapan Ki Renggo terdengar bertele-tele.

Ki Renggo tersenyum kecil seolah senang karena sesuatu. “Sepertinya akan hadir makhluk baru di antara kalian. Makhluk kecil yang cantik berbentuk peri namun dia setengah manusia.“

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!