When the Extra Writes the Rules/ Ketika karakter tambahan menulis aturan.
Kisah seorang pekerja kantoran modern Kirana yang masuk ke tubuh Evelyn Rosenberg, karakter figuran kaya raya namun berpenyakit kronis dalam novel fantasi favoritnya.
Karena tahu takdir karakter pendukung dan dunia novel tersebut akan berujung bad ending, Evelyn bertekad mengubah alur dengan memanfaatkan pengetahuan ceritanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 : Rencana Aliansi
Derap roda kereta kuda telah memasuki pelataran dalam kediaman Obsidian Keep di pinggiran ibu kota.
Di ruang kerja sang Duke, tergelar peta besar Kekaisaran Arkania lengkap dengan miniatur-miniatur logam berbentuk lambang keluarga bangsawan.
"Mata-mata kita di Istana Barat baru saja mengonfirmasi," kata Cassian. "Nathaniel sudah menyiapkan tiga puluh pejabat dewan dari fraksi bangsawan senior. Rencananya, lusa pagi saat Sidang Agung dibuka, mereka akan langsung memicu tuduhan monopolistik atas Perusahaan Asteria."
Evelyn tersenyum miring. "Cuma tuduhan monopolistik? Begitu saja?"
"Bukan cuma itu," potong Cassian seraya menatap mata Evelyn. "Nathaniel berniat menggunakan dokumen kepemilikan tanah perbatasan yang dipalsukan. Dia mau mengklaim kalau tambang Luminite milik Rosenberg sebenarnya adalah aset kerajaan yang disembunyikan. Jika tuduhan itu lolos di dewan, dia punya alasan hukum untuk membekukan seluruh aset keluarga Rosenberg dan membatalkan izin dagang Asteria dalam satu hari."
"Rencana yang sangat konyol," gumam Evelyn. "Pangeran itu pasti dapat ide ini dari Rosalia. Gadis itu tahu betul kalau kekuatan ekonomi Asteria adalah pondasi terkuatku. Kalau Asteria dibekukan, dia pikir aku bakal kehilangan pengaruh."
"Tapi sepertinya mereka lupa satu hal, Cassian," tutur Evelyn. "Rencana mereka disusun berdasarkan rumor aliansi kita."
"Jadi..." ujar Cassian pelan, "...bagaimana kamu mau kita mengeksekusi aliansi ini, Evelyn?"
Evelyn menatap Cassian.
"Kita sebenarnya tidak butuh kertas perjanjian atau meterai stempel dari dewan," terang Evelyn. "Aliansi kita adalah aliansi dengan kepercayaan antara kita aja."
"Di panggung Sidang Agung lusa nanti," lanjut Evelyn, "aku akan membongkar skandal yang dilakukan istana. Aku bakal membeberkan bukti pemalsuan dokumen tambang, transaksi gelap fraksi Putra Mahkota dengan pasar gelap perbatasan, hingga bukti percobaan pembunuhan yang dilakukan Rosalia."
Cassian mendengarkan tiap kata yang keluar dari mulut Evelyn. "Dan apa bagianku?"
"Bagianmu..." bisik Evelyn seraya menyunggingkan senyuman paling indah, "... bagianmu ada di akhir Cassian."
Evelyn menunjuk miniatur Pasukan Zirah Hitam di atas peta.
"Begitu Nathaniel mencoba menggunakan otoritasnya sebagai Putra Mahkota untuk menekan para hakim dewan..." tutur Evelyn, "...kamu bawa masuk bukti kekuatan militer Utara. Kepung seluruh gedung dewan dengan ksatria Zirah Hitam. Biarkan para dewan bangsawan yang korup itu sadar... kalau hukum yang dicoba dimanipulasi oleh Pangeran mereka nggak ada artinya di depanmu."
Cassian menatap Evelyn selama beberapa detik yang amat panjang. Sebuah tawa rendah yang sangat langka dan dalam keluar dari tenggorokan pria itu. Cassian menggelengkan kepalanya pelan, terpesona oleh keberanian wanita di depannya.
"Membuat Pasukan Zirah Hitam mengepung gedung dewan kerajaan..." gumam Cassian seraya tersenyum tipis. "...itu sama saja mengumumkan pengambilalihan kekuasaan secara implisit, Evelyn. Para lord tua itu bisa pingsan di tempat karena ketakutan."
"Bukankah itu tujuan kita?" goda Evelyn halus seraya memiringkan kepalanya. "Memaksa mereka memilih: berdiri di pihak Pangeran yang cuma bisa bikin skandal... atau berdiri di pihak aliansi Asteria dan Obsidian Keep yang memegang masa depan ekonomi dan keamanan kekaisaran ini."
Cassian melangkah mendekati Evelyn, meremas tangan Evelyn.
"Perjanjian yang sangat sempurna, My Lady," bisik Cassian. "Aku akan menjadi pedangmu di dewan besok lusa. Siapa pun yang berani menyelamu... tidak akan keluar dari gedung dewan dengan kepala tegak."
Evelyn kembali merasakan desiran hangat yang membakar dadanya saat jemari tegap Cassian meremas tangannya.
"Lalu... bagaimana dengan Rosalia yang sekarang dikurung di tahanan militer?" tanya Evelyn melirik ke arah jendela luar.
"Gadis itu akan kita seret ke tengah gedung dewan sebagai saksi kunci dan tersangka utama. Biarkan dia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Putra Mahkota yang selalu dia bangga-banggakan itu membuangnya seperti sampah demi menyelamatkan dirinya sendiri."
"Rencana yang sangat kejam, Cassian," puji Evelyn seraya terkekeh merdu. "Dan aku sangat menyukainya."
Evelyn mengambil cangkirnya, mengangkatnya ke udara. Cassian mengikutinya, lalu mendentingkannya pada cangkir Evelyn.
TING!
Suara benturan keramik itu bergema halus di dalam ruang kerja yang hening,
"Untuk runtuhnya takhta Putra Mahkota..." bisik Evelyn dengan senyum kemenangan.
"...dan untuk kemenangan kita di Sidang Agung besok lusa," sambung Cassian
kesel banget sama dia/Panic/