Galih, seorang remaja SMA 17 tahun yang lugu dan penyendiri karena dianggap aneh memiliki kemampuan indigo, mendadak tersedot ke dalam lubang hitam misterius di tengah kelas bersama teman-temannya. Ia terbangun seorang diri di Hutan Wanasari, sebuah dunia fantasi berlatar era keemasan Majapahit yang dipenuhi ancaman sarang monster dimensi lain (Loka Gaib). Diselamatkan oleh Ki Wira, seorang pendekar sepuh, dan dibawa ke rumah panggungnya, Galih bertemu dengan Sekar, cucu angkat Ki Wira yang cantik, tegas, dan lincah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PLEMIK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misi Sederhana di Pinggir Hutan
Lembaran misi kertas usang berpindah tangan dari petugas Balai Desa ke genggaman Sekar, tepinya sudah menguning dimakan usia meski tulisan di atasnya masih cukup jelas terbaca. Petugas itu tersenyum canggung, seolah masih belum sepenuhnya pulih dari kehebohan yang terjadi kemarin saat pendaftaran Laskar Cakra.
"Ini misi paling aman yang ada hari ini," katanya, menyerahkan lembaran itu dengan hati-hati. "Mencari daun sambiloto liar di pinggir Hutan Wanasari. Warga butuh untuk mengobati demam yang sedang mewabah di beberapa rumah. Cukup mudah untuk kelompok yang baru terbentuk."
Sekar menerima lembaran itu tanpa banyak komentar, melipatnya rapi sebelum menyelipkannya ke dalam saku baju kerjanya. "Terima kasih. Kami berangkat sekarang juga."
Galih mengikuti Sekar keluar dari Balai Desa, keranjang rotan kecil tersampir di punggungnya, terasa ringan namun entah kenapa membawa beban tersendiri di benaknya. Ini misi resmi pertama mereka sebagai Laskar Cakra, sesuatu yang sudah ia bayangkan berkali-kali sepanjang malam tadi, meski bayangannya sama sekali tidak seperti kenyataan yang kini ia jalani, sekadar mencari daun obat di pinggir hutan. Ia sempat membayangkan pertarungan seru melawan monster kecil, atau setidaknya sesuatu yang terasa layak diceritakan, bukan sekadar memetik dedaunan seperti anak sekolah dasar mengikuti pelajaran alam.
Mereka berjalan berdampingan menyusuri jalan setapak menuju batas luar Hutan Wanasari, matahari pagi masih bersembunyi malu-malu di balik kabut tipis yang menyelimuti desa. Embun masih menempel di ujung-ujung rumput liar di pinggir jalan, membasahi ujung sandal Galih setiap kali ia melangkah terlalu dekat ke tepi. Galih sesekali melirik keranjang di punggung Sekar, membandingkannya dengan keranjangnya sendiri, mencoba mencari kenyamanan dalam kesetaraan sederhana itu.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Sekar tiba-tiba, memperhatikan Galih yang sedari tadi diam saja sambil menatap ujung sepatunya sendiri.
"Cuma... berpikir," jawab Galih jujur. "Ini misi pertama kita. Kupikir akan lebih... dramatis."
Sekar mendengus pelan, hampir seperti tawa kecil. "Semua orang berpikir begitu di awal. Nanti kau juga akan bersyukur kalau misi seringan ini."
Belum sempat Galih menanggapi, langkah mereka terhenti oleh sekelompok sosok berseragam mewah bersulam benang emas yang muncul dari persimpangan jalan setapak menuju hutan, jelas sengaja menunggu di sana sejak pagi buta.
Raka berdiri paling depan, tangannya bersedekap dengan seringai lebar terpampang di wajahnya, dikelilingi beberapa anak buah yang sudah menahan tawa sejak awal.
"Wah, wah, lihat siapa ini," ujar Raka, suaranya penuh sindiran. "Laskar Cakra mau berangkat misi pertama? Mau berburu apa hari ini, Kalabayu?"
Salah satu anak buahnya tertawa keras mendengar sindiran itu, disusul yang lain ikut terkekeh, menciptakan suasana yang jelas dirancang untuk mempermalukan.
Galih merasakan wajahnya memanas, tangannya mengepal erat di sisi tubuh. Ia tidak menjawab, hanya menunduk sedikit, berharap konfrontasi ini akan segera berlalu tanpa harus berlarut-larut.
"Bukan," sahut Raka sendiri, pura-pura terkejut sambil melirik lembaran misi di tangan Sekar yang sedikit terlihat dari sela lipatannya. "Daun sambiloto? Serius? Kelompok baru kalian langsung ambil misi cari rumput?"
Tawa yang lebih keras kembali pecah dari kerumunan anak buah Raka. Salah satu dari mereka bahkan berpura-pura membungkuk hormat ke arah keranjang rotan Galih, seolah memberi penghormatan pada sebuah keranjang berisi daun obat.
"Hati-hati, jangan sampai daunnya melawan," ejek yang lain, disambut gelak tawa lebih riuh.
Galih menggertakkan gigi, dadanya bergemuruh menahan amarah yang ingin sekali meledak. Ia teringat kata-kata Raka yang berkali-kali menyebutnya cupu, beban, tidak layak. Setiap ejekan baru terasa seperti menambah lapisan luka lama yang belum sepenuhnya sembuh. Jari-jarinya di dalam kepalan tangan terasa gatal ingin bergerak, namun ia menahan diri, mengingat semua latihan menahan emosi yang selama ini ditanamkan Ki Wira.
Namun Sekar sama sekali tidak menunjukkan reaksi berarti. Ia berjalan terus melewati kerumunan itu dengan langkah tenang, tatapannya lurus ke depan seolah tidak ada seorang pun yang berbicara padanya sama sekali.
"Kau tuli, Sekar?" tanya Raka lagi, kali ini melangkah menghalangi jalan, memaksa Sekar berhenti sejenak. "Aku bicara padamu."
"Aku dengar," jawab Sekar datar, matanya menatap Raka lurus tanpa secuil pun emosi. "Aku cuma tidak tertarik meladeni orang yang butuh menghina orang lain supaya merasa lebih hebat."
Raka tersentak sejenak mendengar balasan itu, wajahnya sedikit memerah, namun ia buru-buru menutupinya dengan senyum sinis. "Lihat saja sendiri berapa lama kelompok konyol kalian ini bertahan."
Sekar tidak menjawab lagi. Ia hanya melangkah maju, memaksa jalan melewati celah sempit di antara kerumunan Naga Selatan tanpa sedikit pun menoleh, dan Galih buru-buru mengikutinya dari belakang.
Setelah beberapa langkah menjauh, suara ejekan dan tawa masih terdengar samar di belakang mereka, namun perlahan meredup seiring jarak yang semakin jauh, tertelan oleh gemerisik dedaunan dan kicau burung pagi yang mulai ramai.
"Kenapa kau diam saja?" tanya Galih akhirnya, tidak bisa menahan rasa penasarannya. "Mereka menghina kita habis-habisan."
Sekar menghela napas pelan, matanya masih terarah ke depan menyusuri jalan menuju hutan. "Kalau aku meladeni setiap orang yang mencoba merendahkan, aku sudah kehabisan waktu untuk hal-hal yang benar-benar penting. Gengsi misi bukan ukuran seorang pemburu sejati, Galih. Yang penting kau bertahan hidup, dan kau menyelesaikan apa yang kau mulai."
Galih terdiam, mencerna kata-kata itu dalam-dalam. Rasa malu yang tadi menyengat di dadanya perlahan mereda, digantikan oleh sesuatu yang lebih mirip kekaguman pada ketenangan yang ditunjukkan Sekar. Ia mencoba meniru sikap itu, menegakkan bahunya, mengubur dalam-dalam ejekan yang tadi masih terngiang di telinganya. Setidaknya sekarang ia punya sesuatu yang bisa dijadikan pegangan setiap kali kata-kata tajam itu kembali menghantuinya nanti.
"Lagipula," tambah Sekar, sedikit melirik ke arah Galih, "misi kecil seperti ini yang membentuk fondasi. Orang yang meremehkan langkah pertama biasanya juga yang paling cepat jatuh saat langkah besar datang."
Mereka terus berjalan, meninggalkan jalan setapak berbatu menuju rimbunnya pepohonan yang menandai batas luar Hutan Wanasari. Semakin dekat mereka dengan gerbang hijau alami itu, semakin samar pula suara riuh dari arah desa, digantikan kicau burung dan desau angin yang menyapu dedaunan.
Rimbunnya pepohonan pinggir hutan perlahan menelan kehadiran mereka berdua, menjauhkan diri dari kebisingan para pemuda sombong yang tertinggal jauh di belakang. Untuk pertama kalinya sejak keluar dari Balai Desa, Galih merasakan sesuatu yang mirip ketenangan, seolah hutan ini, meski penuh bahaya tersembunyi, menawarkan kedamaian yang tidak bisa ia temukan di tengah keramaian manusia yang penuh cemoohan. Ia menyesuaikan tali keranjang di punggungnya, menarik napas dalam-dalam, dan untuk sesaat membiarkan dirinya sepenuhnya larut dalam kesunyian hijau yang membentang di hadapan mereka.