Valerie menyukai kakak sahabatnya Tiara sejak awal semester 1 semasa kuliah. membutuhkan 1 tahun usaha akhirnya meluluhkan hati Dean yang selalu bersikap kaku dan dingin. Akhirnya setahun sudah mereka berpacaran namun tidak ada dari sikap Dean yang berubah tetap dingin, kaku, tidak romantis, tidak inisiatif namun tidak pernah menolak perlakuan dan permintaan Valerie. masalah mulai muncul setelah setahun hubungan mereka. Dania adik sahabat Dean timoty hadir di tengah hubungan mereka. Bagaimana akhir kisah mereka? Apakah badai sanggup meruntuhkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eureka Irene, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari-Hari Setelah Badai
Gedung apartemen mahasiswa di dekat kawasan kampus sore itu tampak tenang, berkebalikan dengan badai batin yang sedang berkecamuk di dalam salah satu unit di lantai lima belas. Kamar apartemen studio milik Valerie gelap gulita. Gorden abu-abu tebal sengaja ditutup rapat, menahan setiap berkas sinar matahari yang mencoba masuk. Keheningan di dalam ruangan itu begitu pekat, hanya dipecah oleh suara dengung pendingin ruangan dan isak tangis tertahan yang kian hari kian parau.
Tiga hari telah berlalu sejak badai di ruang kerja Dean. Tiga hari pula Valerie mengunci diri dari dunia luar. Ponselnya dimatikan total, tergeletak tak berdaya di atas meja rias. Dia menolak pergi ke kampus, mengabaikan ketukan pintu dari Tiara yang berulang kali datang membawakan makanan, dan memilih untuk menenggelamkan dirinya di bawah selimut tebal.
Valerie merasa seolah-olah seluruh energinya telah menguap habis. Luka akibat fitnah kejam Dania memang menyakitkan, namun vonis dingin dari Dean adalah racun yang benar-benar mematikan sisa-sisa jiwanya. Di dalam kegelapan kamarnya, ingatan-ingatan masa lalu berputar seperti pita kaset rusak. Dia teringat bagaimana ibunya selalu memandangnya rendah dibanding Victoria. Dan sekarang, Dean—pria yang dia perjuangkan dengan mengorbankan seluruh harga dirinya—melakukan hal yang sama. Logika Dean telah menstempel dirinya sebagai penjahat emosional yang picik.
"Kenapa... kenapa tidak ada satu pun orang yang bisa memercayai ketulusanku?" bisik Valerie pada kegelapan, air matanya kembali mengalir membasahi bantal yang sudah lembap.
Rasa lelah yang luar biasa itu membuat tubuhnya lemas. Dia tidak lapar, tidak haus, hanya ingin tidur dan berharap saat terbangun nanti, seluruh ingatan tentang dua tahun melelahkan bersama Dean bisa terhapus sepenuhnya dari otaknya. Namun, kenyataan tidak pernah berbaik hati pada sekeping hati yang patah.
Sementara itu, di koridor gedung fakultas biologi, suasana tampak riuh oleh mahasiswa yang baru saja keluar dari kelas anatomi. Tiara berjalan dengan langkah terburu-buru, wajahnya ditekuk masam penuh kecemasan. Sudah tiga hari dia tidak bisa menghubungi Valerie lewat telepon, dan sahabatnya itu menolak membuka pintu apartemen setiap kali dia datang berkunjung.
"Tiara," sebuah suara rendah yang maskulin dan hangat memanggil namanya dari arah belakang.
Tiara menghentikan langkahnya, menoleh, dan melihat Carlo sedang berjalan mendekat dengan tas ransel tersampir di satu bahunya. Senior tingkat akhir itu tampak sesempurna biasanya, namun sorot matanya menyiratkan rasa ingin tahu yang dalam.
"Kak Carlo," sapa Tiara, mencoba menyunggingkan senyum formal meskipun gagal.
"Valerie... dia tidak masuk kelas lagi hari ini?" tanya Carlo langsung pada intinya, matanya melirik ke arah kelas Valerie yang sudah kosong. Sebagai pria yang sudah lama memperhatikan Valerie dari kejauhan, ketidakhadiran gadis ekspresif itu selama tiga hari berturut-turut langsung memicu alarm cemas di dadanya.
Tiara menghela napas panjang, bahunya merosot lesu. Di kampus, dia tidak punya tempat untuk berbagi cerita tentang masalah internal kakaknya. Namun melihat binar kepedulian yang tulus di mata Carlo, Tiara mendadak merasa sudut pertahanannya goyah. "Valerie sedang tidak sehat, Kak. Dia... dia sedang ada masalah besar dan mengunci diri di apartemennya."
Dahi Carlo berkerut. Instingnya yang pekat mengatakan bahwa masalah ini pasti berhubungan dengan kekasih CEO kaku milik Valerie. "Masalah dengan pacar? Atau masalah keluarga?"
"Dua-duanya, Kak. Tapi kali ini... ini benar-benar menghancurkan hatinya hancur-hancuran," bisik Tiara, matanya mulai berkaca-kaca karena ikut merasakan penderitaan sahabatnya. "Dia difitnah di kantor Kakakku, dan Kakakku yang bodoh itu malah percaya pada bukti palsu lalu memutus hubungannya dengan Valerie secara kejam. Sekarang Valerie menolak makan dan menolak bertemu dengan siapa pun."
Mendengar kata 'putus' terucap dari mulut Tiara, jantung Carlo berdegup satu kali lebih kencang. Ada sekelebat rasa egois yang sempat melintas di benaknya—sebuah kesempatan yang selama ini dia tunggu dalam diam. Namun, rasa egois itu segera tenggelam oleh rasa perih yang teramat sangat saat membayangkan gadis seceria Valerie harus menangis sendirian di dalam kamar apartemen yang sepi. Carlo tahu betul bagaimana rasanya diabaikan dan tidak didengar; dia tidak bisa membiarkan Valerie menghadapi kegelapan itu sendirian.
"Di mana alamat apartemennya, Tiara?" tanya Carlo, suaranya terdengar sangat tegas dan penuh keputusan mutlak.
Tiara tertegun sejenak. "Kak Carlo mau ke sana? Tapi Valerie menolak membuka pintu untuk siapa pun, bahkan untukku."
"Biar aku yang mencobanya," ujar Carlo lembut, namun matanya memancarkan tekad yang tidak bisa dibantah. "Seorang gadis yang sedang patah hati dan merasa tidak dicintai oleh dunia tidak butuh dinasihati menggunakan logika. Dia hanya butuh seseorang yang bersedia berdiri di depannya, mendengarkan ceritanya, dan memastikan kalau dia berharga. Berikan aku alamatnya, Tiara."
Melihat keseriusan dan ketulusan yang begitu pekat dari senior tingkat akhirnya itu, Tiara akhirnya mengangguk. Dia merogoh ponselnya dan mengirimkan nomor unit serta alamat gedung apartemen Valerie ke nomor Carlo. Dalam hati, Tiara berharap kehangatan Carlo bisa menjadi penawar bagi racun dingin yang telah ditinggalkan oleh Dean di hati sahabatnya.
Satu jam kemudian, Carlo sudah berdiri di depan pintu unit apartemen nomor 1502. Koridor apartemen lantai lima belas itu terasa sangat sunyi. Carlo menatap pintu kayu berwarna putih di hadapannya sejenak, menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan debar jantungnya sendiri, lalu mengetuk pintu tersebut dengan ketukan yang pelan dan ritmis.
Tok. Tok. Tok.
Tidak ada jawaban dari dalam.
Carlo tidak menyerah. Dia tidak menggedor kasar seperti yang biasa dilakukan orang yang panik. Dia kembali mengetuk dengan kelembutan yang sama. "Valerie... ini Kak Carlo. Senior tingkat akhir yang membantumu memungut kertas di lobi kampus kemarin."
Di dalam kamar yang gelap, Valerie yang sedang berbaring di atas tempat tidur sedikit menggerakkan tubuhnya saat mendengar suara asing dari balik pintu. Dia mengernyitkan kening, mencoba mengingat siapa pemilik suara bariton yang hangat tersebut. Kak Carlo? Untuk apa dia ke sini?
"Valerie, aku tahu kamu ada di dalam dan aku tahu kamu sedang tidak ingin bertemu dengan siapa pun," suara Carlo kembali terdengar melintasi celah pintu, terdengar sangat tenang dan tidak memaksa. "Aku ke sini bukan untuk memintamu bicara atau menjelaskan apa pun. Aku hanya membawakan sup ayam hangat dan es kopi susu kesukaanmu dari kafe dekat kampus. Aku akan menaruh kantong makanannya di gagang pintu luar."
Valerie tetap diam, namun matanya menatap ke arah pintu dalam kegelapan.
"Tapi sebelum aku pergi, aku hanya ingin kamu tahu satu hal," lanjut Carlo, suaranya merosot ke nada yang lebih rendah namun sarat akan validasi yang teramat tulus. "Kamu bukan orang yang salah, Valerie. Dan kamu tidak pernah menjadi produk gagal seperti yang mungkin dipikirkan oleh orang lain. Dunia ini mungkin sedang sangat dingin padamu hari ini, tapi jangan pernah mematikan cahayamu hanya karena orang lain tidak punya mata yang cukup baik untuk melihat betapa berharganya dirimu. Makanlah supnya selagi hangat. Aku permisi pulang."
Langkah kaki Carlo terdengar menjauh secara perlahan di koridor luar.
Suasana kembali sunyi. Valerie terpaku di atas tempat tidurnya. Kalimat Carlo barusan—jangan pernah mematikan cahaimu hanya karena orang lain tidak punya mata yang cukup baik untuk melihat betapa berharganya dirimu—terasa seperti aliran listrik hangat yang mendadak menyengat hatinya yang beku. Itu adalah kalimat pembelaan dan penghargaan pertama yang dia terima setelah berhari-hari tenggelam dalam penghakiman logika Dean.
Dengan tubuh yang masih lemas, Valerie perlahan menurunkan kakinya dari tempat tidur. Dia berjalan perlahan menerobos kegerangan kamarnya menuju pintu depan. Saat dia membuka pintu apartemennya sedikit, koridor sudah kosong. Namun di gagang pintu luar, sebuah kantong plastik putih berisi wadah sup hangat dan segelas kopi susu benar-benar tergantung di sana, memancarkan uap hangat yang seolah mengusir udara sedingin es yang selama ini mengurung kehidupan Valerie.
Valerie membawa makanan itu masuk, duduk di lantai ruang tengahnya, dan untuk pertama kalinya setelah tiga hari patah hati, dia menyuapkan makanan ke mulutnya sambil menangis—bukan karena sedih akibat Dean, melainkan karena merasa tersentuh oleh kehangatan seorang senior yang baru dikenalnya dari kejauhan. Benih penyembuhan telah mulai ditanam oleh Carlo, tepat di saat Dean masih sibuk mengubur dirinya dalam penyesalan yang belum dia sadari di duniakah seberang sana.