Indonesia
NovelToon NovelToon
Suamiku Pak Dosen Killer

Suamiku Pak Dosen Killer

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: chocomint09

Di kampus, Reyhan Arkananta Wijaya adalah dosen muda yang dikenal killer karena sikap tegas dan tanpa pandang bulu yang dimilikinya. Satu kesalahan kecil saja cukup untuk membuat nilai mahasiswa melayang. Di mata Nadhira, mahasiswi semester enam yang ceroboh dan ahli panik, Pak Reyhan adalah ancaman terbesar bagi kelangsungan hidup akademisnya.

Namun, hidup Nadhira mendadak jungkir balik ketika perjodohan rahasia antar keluarga memaksanya menikah dengan sang dosen killer.

Kini, Nadhira harus menjalani dua kehidupan yang saling bertolak belakang, berpura-pura tidak saling kenal dan saling membenci di area kampus, lalu pulang ke rumah yang sama sebagai sepasang suami istri. Di tengah kejaran tenggat tugas, ancaman nilai E, gosip kampus yang memanas, dan rasa cemburu diam-diam sang dosen galak, mampukah rahasia besar mereka bertahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Skakmat

Ruang Laboratorium Media Cetak di lantai dua Gedung FSD terasa bersuhu jauh lebih dingin dari biasanya pada pukul tiga lewat empat puluh lima menit sore. Meski pendingin udara menyala seperti biasa, atmosfer di dalam ruangan itu begitu menegang.

Seluruh mahasiswa angkatan dua puluh tiga duduk rapi di deretan bangku kayu. Di barisan paling depan, sebuah meja panjang sudah disiapkan.

Di atas meja tersebut, berdiri sebuah struktur maket display pameran yang tampak begitu memukau di bawah pendar lampu ruangan.

Maket buatan Nadhira.

Struktur akrilik bening berukuran presisi itu berdiri kokoh tanpa goresan maupun noda lem sedikit pun. Pola potongan balsa kayu bertingkat menyangga miniatur media cetak berkertas photo-matte yang tercetak sangat tajam.

Tidak ada lagi serpihan retak atau noda tinta hitam yang kemarin pagi menghancurkan karya tersebut. Dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, Nadhira berhasil melahirkan kembali karyanya dengan tingkat kesempurnaan yang bahkan melampaui bentuk aslinya.

Nadhira berdiri di samping meja itu dengan kemeja putih rapi dan rok kain hitam. Meski lingkaran hitam tipis samar-samar terlihat di bawah matanya akibat hanya tidur tiga jam di kosan Kania, binar matanya memancarkan rasa percaya diri yang tenang. Kania yang duduk di barisan kedua memberikan acungan dua jempol secara sembunyi-sembunyi.

Sementara itu, di barisan ketiga, Siska duduk dengan menyilangkan kaki. Jemarinya memainkan ujung pena dengan ritme cemas.

Matanya berkali-kali melirik ke arah maket Nadhira dengan raut tidak percaya sekaligus kesal yang berusaha ia sembunyikan rapat-rapat.

"Gimana bisa cewek itu menyelesaikan maket sedetail ini dalam semalam?" batin Siska sengit.

Tepat pukul empat sore, pintu laboratorium terdorong terbuka.

Langkah kaki yang mantap dan teratur bergema di seluruh ruangan. Reyhan melangkah masuk bersama Pak Bagas. Reyhan mengenakan kemeja hitam formal yang tergulung rapi hingga pergelangan tangan, dipadu dengan celana kain gelap.

Kacamata berbingkai tipis bertengger sempurna di wajahnya yang dingin tanpa ekspresi. Di tangan kirinya, Reyhan membawa sebuah map dokumen tebal berwarna gelap, sementara sebuah flashdrive hitam terselip kaku di antara jemari tangan kanannya.

Aura intimidatif nan elegan yang terpancar dari sosok sang dosen muda seketika membungkam seluruh bisik-bisik mahasiswa di ruangan itu.

"Selamat sore," sapa Pak Bagas membuka sesi.

"Sesuai dengan kesepakatan dan tenggat khusus yang diberikan kemarin, sore ini kita akan mendengarkan presentasi singkat sekaligus penilaian akhir untuk tugas besar Saudari Nadhira Kirana."

Reyhan tidak langsung duduk di kursi dosen. Pria tegap itu melangkah mendekati meja maket Nadhira. Selama hampir dua menit penuh, Reyhan berdiri mematung di depan karya istrinya.

Matanya yang tajam mengamati setiap sudut sambungan akrilik, tingkat kerapian sudut sembilan puluh derajat, serta skala presisi miniatur cetak.

Nadhira menahan napasnya, menatap Reyhan dengan dada berdebar kencang.

Reyhan kemudian menegakkan tubuhnya, membetulkan letak kacamatanya dengan jari tengah, lalu menatap Nadhira lurus-lurus.

"Presisi pemotongan akrilik yang sangat rapi. Toleransi kesalahan sudut kurang dari nol koma lima milimeter, dan tidak ada sisa penguapan lem asam yang mengotori permukaan transparan," ujar Reyhan dengan intonasi datar, memberi evaluasi teknis pertamanya.

"Secara keseluruhan, eksekusi fisik karya ini memenuhi standar nilai kelayakan tinggi untuk mata kuliah ini."

Nadhira mengembuskan napas lega yang sangat panjang, tersenyum tipis. "Terima kasih, Pak Reyhan."

Namun, sebelum ada mahasiswa yang sempat bertepuk tangan, Reyhan berbalik perlahan menghadap ke arah deretan bangku mahasiswa.

Pria itu menyandarkan sebelah tangannya di tepi meja, menatap seluruh isi kelas dengan pandangan mata yang mendadak berubah sangat dingin dan pekat.

"Namun," potong Reyhan, suaranya tenang namun mengandung gaung yang menekan dada.

"Sebelum saya memasukkan nilai akhir mata kuliah ini ke dalam sistem dekanat, ada aspek penilaian integritas yang harus kita selesaikan sore ini."

Suasana kelas seketika senyap total. Siska di barisan ketiga mendadak menghentikan ketukan penanya.

Pak Bagas yang sudah menerima kode dari Reyhan segera berjalan menuju proyektor di samping papan tulis dan menyalakan layar putih besar. Reyhan melangkah tenang ke arah laptop dosen, memasukkan kandar kilat hitam yang dibawanya, lalu menekan beberapa tombol.

Bzzz...

Layar proyektor menyala, menampilkan sebuah tangkapan layar foto beresolusi tinggi.

Foto pertama menampilkan rincian bagian pergelangan tangan kanan seseorang yang sedang menekan tombol kunci laboratorium, sebuah jam tangan ber-strap kulit cokelat muda yang dipadu dengan gelang rantai perak bermotif bintang kecil.

Foto kedua menampilkan profil samping wajah seorang mahasiswi ber-hoodie hitam yang tertangkap kamera CCTV koridor pada pukul lima lewat empat puluh lima menit sore hari kemarin, saat laboratorium sudah resmi ditutup.

Seluruh mahasiswa di dalam kelas langsung tersentak. Kasak-kusuk hebat seketika pecah.

"Eh, itu bukannya jam tangannya..."

"Bentar, gelang bintang itu kan..."

Seketika, puluhan pasang mata di dalam ruangan itu berputar serentak, tertuju lurus ke arah satu titik, Siska.

Wajah Siska yang tadinya terlihat sombong mendadak pucat pasi bagai mayat. Tangan kirinya secara refleks buru-buru menyembunyikan pergelangan tangan kanannya ke bawah meja, namun sudah terlambat.

Semua orang termasuk Kania yang duduk tak jauh darinya melihat dengan jelas jam tangan cokelat dan gelang perak bermotif bintang yang melingkar sempurna di tangan Siska hari ini. Sama persis dengan yang ada di layar proyektor.

"P-Pak Reyhan! Apa-apaan ini?!" seru Siska dengan suara melengking panik, berdiri terburu-buru dari kursinya hingga bangkunya berdecit keras. "Maksud Bapak menampilkan foto-foto itu apa?!"

Reyhan berdiri tegap di depan kelas. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan gejolak emosi atau kemarahan yang meledak-ledak.

Pria itu justru menatap Siska dengan pandangan paling tenang, sebuah ketenangan tajam yang jauh lebih menakutkan daripada bentakan keras.

"Duduk, Saudari Siska," ujar Reyhan pendek, intonasi suaranya rendah dan penuh otoritas.

Siska gemetar hebat, namun tekanan aura Reyhan memaksanya terduduk kembali dengan bibir bergetar.

Reyhan membetulkan letak kacamatanya, lalu berjalan perlahan menyusuri lorong antar-bangku kelas, mendekati meja Siska dengan langkah teratur.

"Dalam dunia desain dan arsitektur," pencerahan Reyhan mulai terdengar, suaranya mengalun jernih di dalam ruangan yang sunyi.

"Keindahan visual tanpa ditopang oleh struktur yang kuat adalah sebuah kegagalan. Begitu pula dengan seorang desainer. Bakat dan ambisi tinggi yang tidak ditopang oleh etika serta integritas moral hanyalah sebuah sampah akademis."

Setiap kata yang meluncur dari mulut Reyhan bagaikan sembilu kaku yang menusuk ulu hati Siska di depan seluruh teman angkatannya.

"Kemarin pagi," lanjut Reyhan sambil berhenti tepat di samping meja Siska, menatap mahasiswi itu.

"Kamu berdiri di ruangan ini, menyuarakan tentang keadilan, batas waktu pengumpulan, dan melarang adanya pengecualian nilai bagi karya yang rusak. Kamu bersikap seolah-olah kamu adalah penegak disiplin paling murni di fakultas ini."

Siska menunduk dalam-dalam, mukanya memerah padam oleh rasa malu yang luar biasa hebat. Air mata panik mulai menggenang di pelupuk matanya. "P-Pak... saya..."

"Namun rekaman digital kontrol laboratorium memverifikasi tindakan sabotage yang kamu lakukan secara sadar," potong Reyhan tanpa memberi celah sedikit pun.

"Kamu menyusup masuk, menggunakan tekanan fisik vertikal untuk merusak akrilik milik rekan kamu, dan sengaja menumpahkan tinta stempel."

"Saya tidak bermaksud-"

"Tindakan kamu bukan hanya sebuah kejahatan etika berat," sambung Reyhan dengan tajam.

"Tetapi secara teknis, tindakan kamu menunjukkan rasa ketakutan dan ketidakpercayaan diri yang mendalam atas kualitas karya kamu sendiri. Kamu merasa perlu merusak karya orang lain hanya agar karya kamu terlihat lebih menonjol."

Skakmat.

Kalimat evaluasi teknis dan psikologis dari Reyhan itu menghantam harga diri Siska hingga hancur berkeping-keping di hadapan puluhan rekan seangkatannya.

Beberapa mahasiswa berbisik mencemooh, sementara Kania menatap Siska dengan pandangan puas yang tak tertahan.

Nadhira yang berdiri di depan meja maket menatap suaminya dengan mata berbinar takjub. Cara Reyhan menyelesaikan masalah ini sungguh luar biasa.

Tanpa perlu berteriak, tanpa perlu mencaci maki dengan kata-kata kasar, Reyhan berhasil menelanjangi kesalahan pelaku secara ilmiah, terstruktur, dan sangat bermartabat.

Reyhan merogoh map tebal di tangannya, mengeluarkan selembar formulir penilaian resmi berstempel dekanat, lalu meletakkannya dengan ketukan pelan di atas meja Siska.

"Berdasarkan Peraturan Tata Tertib Akademik Pasal 14 Ayat 2 mengenai Perusakan Karya dan Kejahatan Akademik," ucap Reyhan tegas, suaranya terdengar di seluruh penjuru laboratorium.

"Nilai akhir kamu untuk mata kuliah Studio Desain Media Cetak dan Maket Display semester ini secara resmi dinyatakan Gugur (E)."

Siska terperanjat, mendongak dengan mata bersimbah air mata. "Pak Reyhan! Tolong, Pak! Jangan E. Nanti saya tidak bisa lulus tepat waktu. Saya minta maaf, Pak!"

"Keputusan ini bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat melalui penugasan susulan," balasan Reyhan dingin tanpa goyah sedikit pun.

"Selain itu, berkas bukti rekaman CCTV beserta laporan pelanggaran kode etik telah saya teruskan ke Komisi Disiplin Dekanat untuk memproses sanksi skorsing kamu di semester depan."

Reyhan berbalik arah, melangkah meninggalkan meja Siska yang kini menangis tersedu-sedu menutupi wajahnya dengan kedua tangan.

Tidak ada satu pun mahasiswa di kelas itu yang merasa kasihan padanya, semua tahu bahwa Siska memetik apa yang ia tanam sendiri.

Reyhan kembali berdiri di samping meja maket Nadhira. Pria itu melirik Nadhira sekilas dari balik lensa kacamatanya, sebuah lirikan singkat yang menyalurkan rasa bangga, lega, dan perlindungan yang telah tuntas ia jalankan.

"Pak Bagas," panggil Reyhan pada rekan dosennya. "Tolong catat nilai akhir A untuk Saudari Nadhira Kirana atas ketahanan struktur maket dan keunggulan presentasi sore ini."

"Baik, Pak Reyhan!" jawab Pak Bagas mantap sambil mencatatnya dengan semangat.

"Sesi evaluasi sore ini selesai. Seluruh mahasiswa dibubarkan," pungkas Reyhan singkat.

Pria itu kemudian merapikan berkas-berkasnya dan melangkah keluar dari laboratorium dengan postur tubuh tegap nan berwibawa.

Nadhira menatap punggung suaminya yang menghilang di balik pintu laboratorium. Dadanya bergemuruh oleh rasa haru yang tak terkira.

Pria kaku yang menjadi suaminya itu baru saja membentenginya dari ketidakadilan dunia kampus, berdiri paling depan membela haknya.

...Bersambung... ...

1
Hajjah Mahniati
cerita nya bagus ,saya suka keren,lnjutka
Hajjah Mahniati
cerita nya bagus ,dilnjut ya
Suhirno Cilok
lanjut
Rian Moontero
mampiiirr
Hajjah Mahniati
lanjut siip
Ivana Putri
lanjut lagi dong ka seru banget
Hajjah Mahniati: ceritanya bagus keren ,lanjukan
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!