Sudah dua tahun Senja menikah dengan Adam. Pernikahan mereka memang berawal dari ketidaksengajaan. Saat itu, Adam di tinggalkan oleh calon istrinya bernama Arum satu minggu sebelum pernikahan. Selama pernikhan dua tahun itu kecanggungan sangat terasa di antara mereka. Memang tak ada tuntutan apapun dari keduanya dalam pernikahan itu. Mereka menikah hanya demi menyelamatkan harga diri keluarga Adam.
Pernikahan dingin dan hanya selayaknya seperti orang yang sedang ngkost, karena memang mereka berdua adalah teman kampus. Walau Senja tak pernah mengenal Arum. Namun enam bulan terakhir kedekatan mereka mulai terlihat walau Adam masih memberikan jarak untuk Senja.
Tiga bulan terakhir Adam mulai berubah dan sering pulang larut bahkan sering ada tugas ke luar kota. Hingga akhirnya Senja tahu kalau Adam kembali menjalin hubungan dengan Arum. Dan ternyata Arum juga sudah menikah,"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senja 4
Genggaman tangan Adam terasa begitu hangat di atas meja, memberikan keberanian yang selama ini terpendam rapat dalam dada Senja. Momen manis dan suasana tenang malam ini terasa begitu langka, hingga Senja merasa ini adalah saat yang tepat untuk menumpahkan seluruh isi hatinya, meski ada ketakutan besar yang membayangi.
Senja menatap lurus ke dalam manik mata Adam. Senyum tipisnya perlahan memudar, berganti dengan raut wajah serius dan serba salah.
"Mas..." panggil Senja pelan, suaranya sedikit bergetar.
"Iya, Senja? Ada apa?" tanya Adam lembut, membalas tatapan istrinya.
Senja menarik napas panjang, mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya sebelum melanjutkan.
"Aku mau tanya satu hal... dan tolong jawab dengan jujur, Mas," ucap Senja. Jemarinya yang berada di dalam genggaman Adam bergerak canggung.
"Apakah... apakah ada sedikit saja kesempatan bagi aku untuk mendapatkan cintamu?"
Adam terpaku. Genggaman tangannya pada jemari Senja perlahan mengendur, meski belum sepenuhnya dilepaskan.
Senja menunduk sebentar, tak sanggup melihat perubahan raut wajah suaminya, lalu kembali memberanikan diri menatap Adam dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Aku tahu, dari hari pertama kita menikah, kamu sudah memperingatkan aku. Kamu bilang pernikahan ini terjadi karena keadaan, hatimu masih milik Arum, dan kamu minta aku untuk tidak berharap lebih," tutur Senja jujur, menumpahkan segala kebenaran yang selama ini menyiksanya sendiri.
"Aku sudah mencoba, Mas. Aku sungguh-sungguh mencoba untuk menjaga hatiku agar tidak melampaui batas. Tapi selama dua tahun ini, melayanimu, hidup bersamamu, melihatmu setiap hari... aku gagal. Aku terlanjur jatuh cinta sama suamiku sendiri. Aku mencintaimu, Mas Adam."
Hening merayap di antara mereka. Dering denting sendok dari meja lain dan sayup suara musik rooftop seolah lenyap, menyisakan keheningan yang tajam di meja mereka.
"Aku cuma mau tahu," lanjut Senja dengan suara yang makin parau, menahan air mata agar tidak menetes di depan Adam.
"Apakah perjuanganku selama dua tahun ini ada artinya buat kamu? Atau sampai kapan pun... tempat di hatimu memang tidak akan pernah ada untukku? Tolong beri aku kepastian." Senja berusaha menahan air matanya, dia sudah siap dengan jawaban Adam.
"Katakan saja yang jujur, Mas. Setelahnya aku tak akan bertanya lagi!" lanjut Senja dengan suara bergetar namun tegas.
Adam terpaku. Bibirnya terbuka sedikit, namun tak ada satu kata pun yang keluar. Matanya menatap Senja dengan sorot yang sulit diartikan, antara rasa bersalah yang mendalam dan pergolakan batin yang hebat.
"Atau..." Senja menarik napas panjang, mencoba menguatkan hatinya yang hancur berkeping-keping.
"Jika memang Arum sudah kembali, atau sudah ada wanita lain yang mengisi hatimu dan membuatmu berubah beberapa bulan terakhir ini... katakan padaku, Mas. Aku siap pergi. Kapan pun kamu minta, aku akan berkemas dan melangkah mundur."
"Senja, jangan bicara seperti itu..."
"Lalu aku harus bagaimana, Mas?" potong Senja lirih, tersenyum pahit di balik tangisnya.
"Selama dua tahun ini, aku selalu mencoba meyakinkan diriku kalau suatu saat kamu akan memandangku sebagai istrimu yang utuh. Tapi makin kemari, aku makin sadar... aku ini hanya tempat bersinggah untukmu, Mas. Tempatmu beristirahat saat kamu lelah. Bukan rumah... bukan rumah tempat hatimu ingin menetap."
Kata-kata Senja menghantam dada Adam begitu keras. Kalimat itu diucapkan tanpa nada amarah, melainkan dengan nada kepasrahan yang teramat dalam, sebuah kepasrahan dari seorang wanita yang sudah lelah berjuang sendirian dalam pernikahan mereka.
Adam memandangi istrinya yang menunduk mengusap air mata. Keheningan malam itu terasa jauh lebih dingin dan mencekam daripada sebelumnya, menunggu kepastian yang kini sepenuhnya ada di tangan Adam.
Adam mengusap wajahnya kasar, kebimbangan kian memuncak. Pertanyaan Senja menghantamnya tepat di titik paling rapuh, membedah rasa bersalah yang selama ini berusaha ia kubur rapat-rapat. Ia ingin menjawab, ingin merangkai kata-kata yang bisa menenangkan hati istrinya, namun lidahnya terasa begitu kelu. Bayangan Arum dan pengabdian Senja selama dua tahun ini bertabrakan keras di dalam kepalanya, menciptakan labirin bingung yang tak menemukan jalan keluar.
"Senja..." panggil Adam, suaranya parau dan terputus.
"Jawab aku, Mas," bisik Senja pelan, matanya menatap Adam penuh kepasrahan.
"Cukup satu kata. Beri aku kejelasan."
Namun Adam tetap tak sanggup memberikan jawaban itu. Alih-alih bersuara, Adam bangkit dari duduknya. Tanpa peduli pada pandangan beberapa pengunjung lain di restoran rooftop itu, ia melangkah cepat mengitari meja dan berlutut di sebelah kursi Senja.
Sebelum Senja sempat menghindar, Adam merengkuh tubuh istrinya ke dalam pelukan hangat dan erat. Pria itu menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher Senja, menghirup aroma tubuh wanita yang selama dua tahun ini selalu setia menunggunya di rumah.
"Jangan tanya itu malam ini, Senja... Aku mohon," bisik Adam liris di telinga Senja. Pelukannya semakin erat, seolah takut jika ia melonggarkannya sedikit saja, Senja akan benar-benar menghilang dari hidupnya.
"Maafkan aku... Maaf karena aku belum bisa jadi pria yang baik buat kamu."
Senja mematung di dalam dekapan itu. Dada Adam bergetar, mengindikasikan pergolakan batin yang tak kalah hebat. Namun pelukan hangat tanpa ketegasan status ini justru terasa semakin menyiksa Senja. Tak ada ungkapan cinta, tak ada kepastian, hanya penundaan dari sebuah kenyataan pahit.
"Kenapa, Mas?" tanya Senja dengan suara pecah, tangannya tetap terkulai di sisi tubuhnya tanpa membalas pelukan Adam.
"Kenapa susah sekali untuk sekadar jujur?"
Adam melepaskan pelukannya perlahan, namun kedua tangannya tetap menggenggam erat bahu Senja. Ia menatap mata istrinya yang sembap dengan tatapan penuh penyesalan.
"Kita pulang sekarang, ya?" ucap Adam lembut, mengusap sisa air mata di pipi Senja dengan ibu jarinya.
"Tempat ini terlalu ramai. Kita bicarakan ini lagi di rumah."
"Bicarakan lagi?" Senja tersenyum getir, menepis pelan tangan Adam dari pipinya.
"Atau kamu cuma mau mengulur waktu sampai aku capek dan lupa lagi?"
"Bukan begitu, Senja," potong Adam cepat, suaranya sarat akan permohonan.
"Aku cuma mau kita tenang dulu. Tolong... ikut aku pulang sekarang."
Senja memejamkan mata sejenak, menahan helaan napas berat yang sarat akan kekecewaan. Ia akhirnya mengangguk pelan, menyadari bahwa memaksakan jawaban malam ini hanya akan menambah luka di hatinya.
"Baik, Mas. Kita pulang," kata Senja datar.
Adam berdiri, ia meraih jemari Senja, yang kini terasa pasrah dan dingin lalu menuntun istrinya berjalan keluar meninggalkan restoran, membawa serta ketidakpastian yang masih menggantung erat di antara mereka.