Indonesia
NovelToon NovelToon
Laki-laki Yang Berani Ngajak Nikah

Laki-laki Yang Berani Ngajak Nikah

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Delapan tahun Tira dan Dimas menjadi kekasih. Delapan tahun pula ia menunggu satu kepastian yaitu pernikahan. Namun, ketika Dimas tak kunjung datang membawa lamaran, ayah Tira justru menjodohkannya dengan Fahri, lelaki asing yang bahkan tak pernah ia cintai.

Tira akhirnya menikah dengan Fahri, meninggalkan cinta yang telah menemaninya selama delapan tahun. Tapi bagaimana jika lelaki asing itu perlahan membuatnya menemukan cinta yang selama ini ia cari? Dan bagaimana jika Dimas baru datang ketika Tira sudah menjadi istri orang lain?

#Konflik Etika #Nikah Paksa #Air Mata Pernikahan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11

Dimas langsung menatapnya. “Kalau begitu jangan menikah dengannya.”

Tira tersenyum sedih. “Aku tidak mencintainya seperti aku mencintaimu. Tapi setidaknya dia berani mengajakku menikah.”

Dimas mendekat selangkah. “Aku juga sekarang berani.”

Tira menatapnya. “Sekarang?”

Awalnya Dimas bingung, lalu Dimas mengangguk. “Aku akan datang ke rumahmu. Aku akan bicara dengan Ayah. Aku akan melakukan semuanya. Aku tidak peduli harus mulai dari mana.”

Untuk pertama kalinya, Tira melihat Dimas seperti lelaki yang selama ini ia tunggu. Lelaki yang akhirnya datang membawa kepastian. Namun kedatangan itu terasa terlambat. “Mas,” katanya pelan, “kenapa kamu harus menunggu aku pergi dulu baru berani?” Dimas tidak mampu menjawab. “Kalau dua minggu lalu kamu datang kepadaku dan mengatakan semua ini, mungkin ceritanya akan berbeda.” Air mata Tira jatuh. “Tapi sekarang aku sudah menerima Fahri.”

“Kamu masih bisa membatalkan. Apapun resikonya kita tanggung berdua, kalau perlu kita kawin lari. Bagaimana?"

“Aku bisa.” Tira mengangguk. “Tapi aku tidak mau. Jangan gila kamu, Mas. Kawin lari? Kamu tau nggak sih, dosa ngajak perempuan yang sudah dilamar untuk membatalkan pernikahannya, apalagi ngajak kawin lari."

Wajah Dimas berubah. “Tira...”

“Aku sudah terlalu sering memilihmu.” Tira menarik napas dalam-dalam. “Sekarang aku ingin memilih diriku sendiri.”

Dimas menatapnya seolah baru saja mendengar sesuatu yang tidak ingin dipercayainya. “Jangan lakukan ini.”

“Aku tidak melakukan apa-apa kepadamu.”

“Kamu meninggalkanku.”

“Aku tidak meninggalkanmu, Dimas.” Tira menggeleng. “Aku hanya berhenti menunggumu.”

Kalimat itu membuat Dimas terdiam. Ia menundukkan kepala, kemudian mengusap wajahnya. Ada air mata yang akhirnya jatuh, sesuatu yang hampir tidak pernah Tira lihat selama delapan tahun mengenalnya. “Aku benar-benar kehilangan kamu?” tanyanya lirih.

Tira menggigit bibir. “Mungkin kamu tidak kehilangan aku hari ini.” Ia menatapnya untuk terakhir kali. “Kamu kehilangan aku sedikit demi sedikit selama bertahun-tahun. Hari ini aku hanya berhenti memungut bagian-bagian diriku yang tertinggal di hubungan kita.”

Dimas berdiri terpaku ketika Tira berjalan pergi. Kali ini ia tidak mengejar. Bukan karena sudah menyerah, melainkan karena untuk pertama kalinya ia memahami bahwa cinta tidak selalu berarti memiliki hak untuk menahan seseorang. Ia sudah mendapatkan kesempatan. Bahkan bukan sekali. Tira telah memberinya bertahun-tahun. Ia hanya baru berani ketika waktu hampir habis.

Sementara Tira terus berjalan menuju halte tanpa menoleh lagi. Dadanya terasa sakit. Sangat sakit. Sebab meskipun ia sudah memilih Fahri, mendengar Dimas mengatakan takut kehilangan dirinya tetap mampu mengguncangkan hati yang belum sepenuhnya sembuh. Tetapi Tira tahu satu hal. Ia tidak ingin kembali menjadi perempuan yang menunggu. Dan jika kali ini Dimas benar-benar ingin memperjuangkannya, ia harus menerima kenyataan bahwa Tira bukan lagi perempuan yang sama seperti delapan tahun lalu.

***

Dimas masih berdiri di tempatnya. Tira sudah lama pergi, bahkan bayangannya pun tak lagi terlihat di ujung jalan, tetapi Dimas belum juga bergerak. Orang-orang berlalu-lalang di sekitarnya. Ada yang baru pulang kantor, ada yang sibuk mencari kendaraan, ada pula yang berhenti sebentar membeli minuman. Semua berjalan seperti biasa. Hanya Dimas yang seperti kehilangan arah.

Ia sendiri tidak tahu apa yang sedang dirasakannya. Sedih, iya. Kecewa, jelas. Marah juga ada. Pada Tira, pada dirinya sendiri, mungkin pada Fahri yang bahkan belum pernah berbuat apa-apa kepadanya.

Ada rasa gagal yang menekan dada, sebab selama ini ia begitu yakin hubungan mereka akan berakhir di pelaminan. Hanya soal waktu. Ternyata waktu itu tidak pernah ia tentukan. Ia membiarkannya berjalan begitu saja sampai Tira memutuskan mengambil jalan lain.

Dimas mengusap wajahnya kasar. “Sial...” gumamnya.

Ia menendang kerikil kecil di dekat sepatunya. Pikirannya kembali pada ucapan Tira tadi. Aku cuma berhenti menunggumu. Entah kenapa kalimat itu lebih menyakitkan daripada ketika Tira mengatakan mereka putus dua pekan lalu. Dimas masih bisa menerima kalau Tira marah. Ia masih bisa mengejar kalau Tira menangis. Tetapi perempuan itu tadi begitu tenang. Seolah delapan tahun yang mereka jalani sudah selesai ia rapikan di dalam kepalanya. Seolah keputusan itu sudah bulat.

Dimas menarik napas panjang. Ada penyesalan yang muncul, tetapi di balik penyesalan itu, ada sisi lain dalam dirinya yang mulai mencari pembenaran. Sisi yang tidak mau mengakui bahwa semua ini terjadi karena kesalahannya sendiri. “Aku sudah ngejaga kamu baik-baik sebagai calon pendampingku,” katanya lirih, seolah Tira masih berdiri di depannya. “Delapan tahun kamu benar-benar nggak aku sentuh...” Rahangnya mengeras. “Aku tahan semuanya karena aku mau calon istri dan calon ibu anak-anakku nanti perempuan yang baik. Yang suci.” Ia tertawa pendek, getir. “Terus sekarang kamu ninggalin aku begitu saja?”

Dimas menatap jalan yang sudah kosong. “Dasar perempuan!” Begitu kalimat itu keluar, ia sendiri terdiam. Ada sesuatu yang terasa janggal. Ia baru saja menyebut Tira perempuan yang tidak tahu berterima kasih, padahal kalau dipikir-pikir, selama delapan tahun siapa yang sebenarnya membuat siapa menunggu? Tira sudah meminta kepastian. Ia yang diam. Tira sudah memberikan ultimatum. Ia yang tidak bergerak. Tira sudah memberinya kesempatan. Ia yang menganggap semuanya akan baik-baik saja.

Namun Dimas terlalu sibuk merasa sebagai pihak yang dirugikan sampai tidak mau melihat bagian dirinya sendiri. Ia mengeluarkan ponsel dan membuka percakapannya dengan Tira. Jarinya berhenti di layar.

Ada begitu banyak pesan selama bertahun-tahun. Foto, candaan, pertengkaran kecil, ucapan ulang tahun, bahkan percakapan tentang rencana rumah yang dulu pernah mereka bicarakan sambil tertawa. Semuanya masih ada. Tetapi sekarang Tira sedang mempersiapkan pernikahan dengan lelaki lain. Dimas menggenggam ponselnya kuat-kuat. “Kok kamu bisa, sih, Tir?” gumamnya.

Ia ingin marah. Ingin menyalahkan Tira karena pergi. Ingin mengatakan bahwa ia sudah menjaga perempuan itu selama delapan tahun. Tetapi suara kecil di kepalanya justru bertanya, menjaga sebagai apa? Sebagai calon istri? Atau sebagai seseorang yang ia anggap tidak akan pernah pergi?

Dimas menggeleng, menolak pertanyaan itu. Ia tidak mau memikirkannya sekarang. Yang ia tahu, Tira akan menikah sebulan lagi. Dan untuk pertama kalinya, waktu yang selama ini selalu ia anggap miliknya justru berjalan terlalu cepat. Ia memasukkan ponsel ke saku, lalu berjalan menuju mobil. Namun sebelum membuka pintu, langkahnya kembali terhenti. Ia teringat satu hal. Fahri. Lelaki yang belum pernah melakukan apa pun kepadanya, tetapi sekarang menjadi orang yang paling Dimas benci.

“Gue nggak akan biarin lo nikahin Tira,” gumamnya. "Enak aja, gue yang jagain Tira dari sejak ia kuliah, gara-gara gue nggak ada laki-laki yang berani mendekatinya, eh sekarang enak saja mau mengambilnya. Siapa Lu? Kayak apa sih wajahnya? Sehebat apa itu orang?" Kali ini bukan lagi sekadar rasa takut kehilangan. Dimas mulai berpikir untuk merebut kembali perempuan yang selama delapan tahun ia yakin akan selalu menunggunya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!