Berjuang dari nol di Paris, Jungkook dan Taehyung mendirikan studio game independen bernama HexaVerse. Di tengah kerja keras membesarkan bisnis tersebut, adik Taehyung, Mira, tiba di Paris untuk kuliah.
Jungkook yang membantu Mira beradaptasi perlahan jatuh cinta pada gadis yang kini tumbuh mandiri dan cerdas itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tatitu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Skenario Licik dan Dinding yang Ditahan
Dua hari berlalu dengan cepat. Pagi yang dinanti-nanti sekaligus mendebarkan itu akhirnya tiba.
Mentari pagi membias tipis di balik awan mendung Paris saat Mira sibuk merapikan pakaian di depan cermin kamar. Mengenakan sweter rajut putih dipadu dengan trench coat cokelat hangat, ia membenarkan tali tas ranselnya. Hari ini adalah hari pertamanya menginjakkan kaki secara resmi sebagai mahasiswa Fashion Design and Merchandising di Université Paris-Sorbonne.
Saat keluar dari kamar, aroma sangrai kopi yang harum sudah memenuhi ruang tengah. Jungkook berdiri di dekat konter dapur dengan kemeja hitam yang lengannya tergulung rapi hingga siku.
"Sudah siap?" tanya Jungkook seraya menyerahkan secangkir latte hangat dengan tumbler yang sudah tertutup rapat.
"Sudah, Oppa," jawab Mira dengan senyum terkembang, walau raut gugup tak bisa sepenuhnya ia sembunyikan. "Aku berangkat sekarang, ya. Terima kasih kopinya!"
"Kau benar-benar tidak mau diantar?" tanya Jungkook sekali lagi, matanya menatap Mira lekat.
"Tidak usah," tolak Mira halus namun mantap seraya mengenakan sepatunya di depan pintu. "Aku sudah menghafal rute Métro-nya sejak semalam. Aku pergi dulu, Oppa!"
Gadis itu menyunggingkan senyum manis terakhir sebelum memutar gagang pintu dan menghilang di balik lorong.
Begitu pintu apartemen tertutup rapat, keheningan menyelimuti ruangan. Jungkook berdiri membisu beberapa saat, menatap pintu yang kini tertutup. Rasa cemas dan naluri protektif yang dipesankan Taehyung, ditambah gejolak perasaannya sendiri, seketika menguasai pikirannya.
Jungkook langsung meraih kunci mobil dan mantel tebalnya dari gantungan.
Suasana stasiun Métro pagi itu luar biasa padat oleh lalu lalang pekerja dan mahasiswa. Mira berjalan perlahan menelusuri tangga bawah tanah, memegang erat tali ranselnya seraya memperhatikan papan penunjuk arah dengan teliti.
Tanpa Mira sadari, dari jarak sekitar sepuluh meter di belakangnya, sebuah sosok tinggi tegap ber-mantel hitam panjang berjalan mengikutinya dengan tenang. Jungkook sengaja menjaga jarak, menurunkan topi kupluknya agak rendah untuk menyamarkan diri di tengah kerumunan.
Jungkook memperhatikan setiap gerak-gerik Mira. Pria itu siap melangkah maju jika ada orang berniat jahat atau jika gadis itu tampak kebingungan di persimpangan stasiun. Namun, rasa bangga perlahan menyusup ke dada Jungkook saat melihat betapa gigihnya Mira, gadis itu berhasil menemukan peron yang tepat, naik ke dalam gerbong Métro, dan turun di stasiun Cluny - La Sorbonne tanpa kendala sedikit pun.
Hingga akhirnya, Mira melangkah keluar menuju pelataran kampus Sorbonne yang megah. Wajah gadis itu berbinar terang saat melangkah menaiki tangga batu gedung utamanya.
Dari dalam mobil sedan hitamnya yang terparkir di tepi jalan tak jauh dari gerbang kampus, Jungkook menurunkan kaca jendela sedikit. Ia menyandarkan siku, memperhatikan Mira yang kini melambaikan tangan ramah pada beberapa rekan sekelasnya yang baru.
Jungkook tersenyum tipis, sebuah senyum hangat penuh kebanggaan yang jarang sekali ia perlihatkan pada dunia.
Kau melakukannya dengan sangat baik, Kim Mira, bisik batin Jungkook pelan.
Ponselnya di atas dasbor kemudian bergetar, menampilkan nama sekretarisnya yang mengingatkan rapat penting pukul sembilan pagi. Jungkook menatap sosok Mira untuk terakhir kalinya sebelum gadis itu menghilang di balik pintu kayu besar perpustakaan kampus.
Dengan perasaan lega yang menghangatkan dadanya, Jungkook memutar kemudi, meluncur membelah jalanan Paris menuju studionya.
Setelah memastikan sosok Mira hilang dengan selamat di balik pintu kayu megah perpustakaan Sorbonne, Jungkook melajukan sedan hitamnya membelah jalanan Paris. Namun, tujuannya pagi ini bukanlah studio HexaVerse, melainkan sebuah bangunan apartemen klasik bergaya Haussmann yang terletak di kawasan Le Marais—apartemen yang disewa Taehyung untuk Mira.
Berbekal kunci dan kartu akses cadangan yang dititipkan Taehyung sebelum keberangkatannya, Jungkook menaiki tangga melingkar menuju lantai tiga.
Klek.
Jungkook memutar kunci dan mendorong pintu kayu apartemen itu perlahan. Suara dentuman alat kerja dan bau cat yang tipis menyambutnya di lorong depan. Dua orang pekerja bangunan lokal berpakain kerja dekil tampak sedang merapikan beberapa peralatan mereka di area dapur.
"Bonjour, monsieur," sapa salah satu tukang paruh baya dengan bahasa Prancis yang kental, terkejut melihat kehadiran pria asing berpenampilan sangat rapi dan intimidatif berdiri di ambang pintu.
Jungkook melangkah masuk, menyapu pandangannya ke sekeliling ruangan. Dinding dapur memang sempat mengelupas akibat kebocoran pipa air dari lantai atas, namun pengerjaannya sebenarnya sudah hampir rampung sepenuhnya. Pipa baru telah terpasang, dindingnya sudah diplester ulang, dan hanya menyisakan proses pengecatan akhir.
Secara teknis, apartemen ini sudah bisa dihuni kembali dalam satu atau dua hari ke depan.
Sesuatu di dalam dada Jungkook bergejolak menolak kenyataan itu.
Jungkook merogoh dompet kulitnya, lalu melangkah mendekati mandor proyek tersebut. Dengan bahasa Prancis yang fasih dan bernada amat tenang namun tak tertolak, Jungkook angkat bicara.
"Pengerjaan apartemen ini... tolong perpanjang durasinya," ujar Jungkook datar.
Sang mandor mengerutkan keningnya heran. "Pardon? Tapi ini hanya tinggal pengecatan, Tuan. Besok sore pun sebenarnya sudah selesai."
Tanpa mengedipkan mata, Jungkook mengeluarkan beberapa lembar uang kertas ratusan Euro dari dompetnya dan meletakkannya langsung di atas meja kerja sang mandor. Nilai yang jauh dari cukup untuk membayar biaya pengerjaan ekstra.
"Dengar baik-baik," potong Jungkook dengan tatapan mata yang mendadak sangat dingin dan berwibawa. "Jika pemilik apartemen, seorang gadis muda bernama Kim Mira, datang mengecek ke sini hari ini atau besok, katakan padanya bahwa pengerjaannya mengalami masalah serius. Katakan padanya seluruh sistem pipa di dalam dinding lapuk dan harus diganti total. Itu membutuhkan waktu setidaknya dua hingga tiga bulan lagi."
Kedua tukang itu saling pandang sejenak, terkejut melihat nominal uang di atas meja dan permintaan yang cukup tidak biasa ini. Namun, melihat gestur Jungkook yang teguh dan tak menerima bantahan, sang mandor akhirnya meraih lembaran uang tersebut dan mengangguk pelan.
"Bien, monsieur. Kami mengerti. Kami akan memperlambat pengerjaannya dan mengatakan hal itu padanya."
"Bagus," balas Jungkook singkat. "Jangan sampai ada satu detail pun yang bocor."
Jungkook membalikkan badan dan melangkah keluar dari apartemen itu. Saat mengunci kembali pintu dari luar, sebuah hembusan napas panjang lolos dari bibirnya.
Pria itu menyandarkan punggungnya sejenak pada dinding lorong apartemen yang dingin. Ada rasa bersalah kecil yang mencubit batinnya karena telah membohongi Mira yang begitu polos. Namun, rasa bersalah itu kalah telak oleh keinginan egoisnya untuk terus menyembunyikan gadis itu di bawah atap apartemennya sendiri.
Dengan senyum tipis yang sarat akan dominasi dan kepuasan tersembunyi, Jungkook menyimpan kembali kunci serep itu ke dalam saku mantelnya, lalu melangkah mantap menuju studionya.
Sinar matahari sore yang condong ke barat menyinari pelataran kampus Sorbonne saat perkuliahan pertama Mira resmi berakhir. Dengan semangat yang membuncah dan rasa penasaran yang tak tertahankan, Mira melangkah mantap menuju stasiun Métro, berniat langsung menuju apartemennya di kawasan Le Marais untuk mengecek perkembangan renovasi.
Di sepanjang jalan, gadis itu membayangkan betapa menyatunya ia nanti dengan kehidupan mandirinya di Paris. Walaupun ada sudut hatinya yang merasa amat nyaman berada di dekat Jungkook, Mira merasa tidak boleh terus-terusan menjadi beban bagi pria sibuk itu.
Tiba di depan pintu apartemennya, Mira memutar kunci dan melangkah masuk dengan senyum terkembang. "Permisi... Bonjour!"
Sang mandor yang sedang berpura-pura mengukur ketebalan pipa di dekat dapur seketika menoleh. Merekam dalam ingatan raut wajah gadis muda yang digambarkan oleh pria bertubuh tegap pagi tadi, sang mandor buru-buru memasang raut wajah penuh penyesalan.
"Ah, Mademoiselle Kim?" sapa tukang itu seraya melepas sarung tangannya.
"Ya, benar. Saya Mira," jawab Mira dengan bahasa Prancis yang sedikit terbata namun penuh antusiasme. "Bagaimana perkembangan renovasinya, Pak? Apakah kira-kira lusa saya sudah bisa pindah ke sini?"
Sang mandor menghela napas berat, menggelengkan kepalanya seraya menunjuk ke arah celah dinding dapur yang disengaja dibobok sedikit lebih lebar.
"Saya punya berita buruk, Mademoiselle," ujar sang mandor sesuai skenario yang telah disusun Jungkook. "Saat kami membongkar bagian utama, kami menemukan bahwa pipa-pipa utama di dalam dinding ini sudah sangat lapuk dan berkarat parah. Jika hanya ditambal sulam, airnya bisa bocor besar dan merusak seluruh lantai kayu."
Raut gembira di wajah Mira seketika luntur. "A-apa? Lalu... bagaimana solusinya?"
"Seluruh jalur pipa bangunan di area dapur dan kamar mandi harus diganti total dari struktur dasar. Dan pengerjaannya..." sang mandor berpura-pura mengetuk-ngetuk papannya, "...membutuhkan waktu setidaknya dua hingga tiga bulan ke depan. Namun bisa lebih cepat"
"Dua sampai tiga bulan?!" pekik Mira kaget, matanya membelalak tak percaya. "Lama sekali?"
"Oui, Mademoiselle. Ini masalah keamanan jalur air gedung tua. Kami tidak bisa mengambil risiko," jawab tukang itu meyakinkan.
Mira terdiam berdiri di tengah ruangan yang masih berantakan. Bahunya merosot lelah. Harapan untuk bisa mandiri dan tidak merepotkan Jungkook seketika runtuh total di depan matanya. Dua hingga tiga bulan adalah waktu yang sangat lama.
Dengan langkah lesu dan perasaan campur aduk, Mira akhirnya berpamitan dan berjalan keluar dari apartemennya.
Malam harinya, aroma masakan tumis yang lezat memenuhi apartemen Jungkook. Jungkook yang baru kembali dari studio sedang berdiri di konter dapur, masih mengenakan kemeja putih yang digulung hingga siku.
Pintu depan terbuka pelan. Mira melangkah masuk dengan wajah muram dan helaan napas berat yang begitu kentara.
Jungkook yang membelakanginya perlahan menoleh. Di balik raut wajahnya yang berpura-pura tenang dan bertanya-tanya, ada kepuasan tersembunyi yang mengalir hangat di dalam dadanya.
"Kau baru pulang, Mira-ya?" panggil Jungkook lembut seraya mematikan kompor. "Bagaimana kuliah pertamamu? Dan... bagaimana dengan apartemenmu?"
Mira berjalan lesu mendekati meja makan, menghempaskan tubuhnya di atas kursi dengan helaan napas panjang.
"Kuliahnya sangat menyenangkan, Oppa," gumam Mira pelan, menumpukan dagunya di atas kedua tangan. "Tapi... apartemenku bermasalah besar."
Jungkook menaikkan sebelah alisnya, pura-pura terkejut. "Bermasalah bagaimana?"
"Tukangnya bilang seluruh sistem pipanya lapuk dan harus diganti total dari dalam dinding," aduh Mira dengan raut wajah frustrasi yang polos. "Pengerjaannya memakan waktu dua sampai tiga bulan lagi. Aku bingung harus mencari tempat tinggal sementara di mana lagi..."
Jungkook melangkah mendekat, meletakkan semangkuk sup hangat di depan Mira. Pria itu menyunggingkan senyum tipis yang teramat teduh, menatap langsung ke dalam manik mata Mira yang tampak pasrah.
"Kenapa harus bingung?" tutur Jungkook dengan suara beratnya yang menenangkan, mengusap puncak kepala Mira dengan sangat halus. "Bukankah kemarin malam aku sudah bilang? Kau bisa tinggal di sini semaumu. Anggap saja ini rumahmu sendiri."
Mira mendongak, menatap mata jernih Jungkook yang begitu penuh perlindungan. Rasa frustrasinya mendadak sirna, berganti dengan debaran halus di dadanya yang kembali berpacu hebat.
"Terima kasih banyak, Oppa..." bisik Mira tulus, tanpa pernah menyadari bahwa skenario "kerusakan pipa" itu adalah hasil mahakarya rencana manis sang Presdir Jeon untuk menahannya tetap berada di sisinya.