Demi meningkatkan reputasi, Ophelia—seorang anak yatim piatu—tiba-tiba diadopsi oleh keluarga Pratama, konglomerat yang baru naik kasta. Namun bukannya kasih sayang, ia justru mendapatkan penyiksaan di rumah dan bullying di sekolah elit yang dimasukinya.
Puncaknya, Ophelia tewas secara tragis di tangan mereka.
Tetapi alam semesta memberinya kesempatan kedua. Terbangun satu tahun sebelum kematiannya, Ophelia bertekad merobohkan keluarga Pratama menggunakan senjata mematikan: rahasia-rahasia busuk yang ia ketahui dari masa depan.
Dibantu oleh seorang pewaris misterius dari keluarga ternama, kali ini Ophelia tidak akan lagi menjadi korban. Dia yang akan memegang kendali atas panggung permainan hidupnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ashe Lepidoptera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9
Meminta nomor Reine katanya.
Chelsea menghela nafas sembari melihat ke arah lapangan sana. Upacara penerimaan murid baru sudah selesai, sekarang mereka dibagi menjadi beberapa kelompok untuk menyelesaikan tugas berkeliling sekolah.
Si anak pungut itu, Ophelia juga ada disana.
Dia terlihat bercengkrama dengan Airin seakan mereka sudah kenal lama.
Kenapa?
Kenapa anak itu ingin meminta nomor Reine? Apa Ayah menyuruhnya untuk dekat dengan Reine juga? Tapi bukannya Chelsea sudah melakukan itu semua?
Apa yang dilakukannya kurang?
Tapi mengesampingkan hal itu—
“Chelsea.”
—jika bukan karena disuruh oleh Ayahnya, Chelsea sendiri bahkan tidak mau dekat dengan orang ini.
“Iya?” sahutnya sembari mengusap rambut ke belakang telinga.
“Yang ada di bawah itu adik angkatmu ‘kan ya?” tanya Reine sembari melihat ke arah lapangan. Rambut coklat sepunggungnya dia gerai, dengan sebagian diikat rapi di belakang kepalanya. “Siapa namanya? Ophelia?”
Chelsea mengangguk. “Iya. Itu yang sedang bicara dengan Airin.”
“Airin ya?”
Tatapan Reine langsung memicing, ia menyimpan satu tangannya di depan mulut sembari tidak berhenti menatap dua orang di bawah sana.
“Aku sedang kesal sih.” Reine merentangkan tangan, sedikit menggeliat. “Agak bosan juga. Kalau kita ganggu adik angkatmu gimana? Kamu bilang kedatangannya membuatmu kesal ‘kan?”
Chelsea melebarkan mata mendengar itu.
Mengganggu, bagi Reine kata itu bukan sekedar perundungan biasa. Itu berarti kehidupan sekolah si anak pungut akan benar-benar seperti neraka dan karena posisi Reine yang merupakan anak direktur sekolah dia tidak akan bisa mengadu pada siapa-siapa.
Tidak akan ada yang bisa membantunya.
Dan lagi, Reine itu tidak akan segan-segan dengan yang namanya penyiksaan.
Dia akan... benar-benar menderita.
Tapi tidak masalah ‘kan? Ini yang Chelsea mau. Agar si anak pungut itu merasakan rasa sakit yang ia punya.
Ya. Tidak masalah.
Memang tidak tapi—entah kenapa, rasa lemon tart yang ia makan beberapa hari lalu terasa kembali di mulutnya.
Manis dan terasa agak...
“Chelsea?” panggil Reine. “Gimana?”
...hangat.
Chelsea menggaruk belakang lehernya. “Yah, Ayahku bilang kalau dia mendapat masalah di sekolah aku juga akan kena hukuman,” ucapnya sembari menghela nafas. “Si anak pungut itu pasti mengadu dan aku juga yang akan kena nanti.”
Reine terdengar kecewa. “Gitu ya? Padahal pastinya akan seru kalau kamu ikut.”
Chelsea hanya tersenyum kecil dan kembali melihat ke bawah sana.
Kehidupan sekolah si anak pungut akan menjadi neraka, tapi entah kenapa tidak ada kebahagiaan apapun di hatinya sekarang.
...****************...
“Keluar kalian.”
Hm?
Ophelia yang ada di dalam toilet menghela nafas. Akhirnya dimulai juga ya?
Ia melepas jas sekolahnya dan memakainya seperti payung diatas kepala. Ophelia juga berjongkok sembari menutup mata. Di dalam hatinya, ia mulai berhitung.
1, 2 dan…
Byuuurr!!
Ophelia tersenyum kecil.
“3,” gumamnya pelan.
Suara tawa langsung terdengar dari luar bilik toiletnya. Kira-kira ada tiga orang di luar sana. Semuanya terdengar familiar.
Tapi Ophelia yakin tidak ada Chelsea maupun Reine.
“Baunya~ siapa sih yang lagi di toilet? Busuk banget.”
Pintunya diketuk pelan. “Keluar dong, kita cuma mau kenalan.”
Ophelia memilih diam.
“Namamu Ophelia ‘kan ya? Masa ‘nggak sopan gitu sama kakak kelas?”
Ia tetap tidak bersuara.
“Oi!!” Ketukan di pintu itu makin keras, bahkan terasa seperti akan didobrak. “Kubilang keluar!”
Byuuurr!!
Gadis itu berkedip. Ah, dia tidak menyangka akan ada serangan air pel kedua. Sekarang rambut dan bajunya jadi basah semua.
“Cih, dasar pecundang.”
Ketika yakin kalau suara langkah kaki yang keluar adalah tiga orang, Ophelia membuka pintu itu perlahan. Bagus, mereka benar-benar pergi.
Matanya langsung melirik ke arah cermin. Ia terlihat seperti kucing yang baru keluar selokan.
Yah, tapi ini alasan kenapa Ophelia selalu membawa seragam pengganti. Lagipula cuma diguyur di hari pertama, itu adalah sesuatu yang patut ia syukuri.
Namun ketika baru keluar dari toilet, sebuah suara mengagetkannya. “...Lia?”
Airin.
Dan lagi, dia tidak sendirian.
“Hey,” sapa Ophelia, seakan tidak terjadi apa-apa. “Aku baru kepeleset di toilet.”
Kaiser dan Airin sama-sama menatapnya dengan tatapan tidak percaya.
“Ka-kamu nggak apa-apa?” tanya Airin cepat. Ia melihat tubuh Ophelia dari atas kebawah. “Kamu basah semua. Ini cairan apa? Pel? Kok bisa?”
“Aku jatuh, jadi bajuku ikut basah,” jawabnya simpel.
Airin terlihat akan menangis.
“Di gedung olahraga ada kamar mandi. Kita mesti kesana. Kalau nggak salah ada seragam juga di koperasi, aku bisa ambil terus—”
“Aku bawa seragam cadangan di tasku,” ucap Ophelia, memotong rasa panik temannya. “Bisa kamu ambilin? Aku mau cuci rambut disini aja.”
Airin mengangguk cepat. “Oke.”
Dan gadis itu berlari sekencang yang ia bisa, meninggalkan Ophelia dan Kaiser yang sudah kembali memasang wajah datarnya.
“Kenapa?” Ophelia tersenyum kecil. “Kalau mau tertawa tertawa saja.”
“Mana bisa begitu.”
Pemuda itu menghela nafas dan mengeluarkan sapu tangan dari sakunya. “Setidaknya usap dulu dengan ini, kalau kena matamu nanti iritasi.”
Ophelia melihat sapu tangan berwarna hitam dengan sulaman ‘Kaiser’ itu dengan dalam. Orang-orang yang membullynya mungkin sudah pergi, tapi biasanya mereka akan diam menunggu Ophelia keluar kamar mandi.
Mungkin karena ada Kaiser mereka sedang bersembunyi.
Kalau mereka melihat Kaiser menawarkan sapu tangan pribadinya pada Ophelia begini, bisa-bisa dia dibully lebih kejam besok.
Dan mungkin akan begitu.
“Kamu ini, memang benar-benar tidak peka ya?” gumam Ophelia.
“Maksudnya?”
“Kaiser.” panggil Ophelia. “Menurutmu memberikan bantuan begini akan membuatku lebih baik?”
Tangan Kaiser yang memegang sapu tangan turun perlahan. “Aku cuma... ingin membantu?”
“Tidak butuh,” ucap Ophelia cepat. “Lebih baik tertawa atau pura-pura tidak lihat saja lain kali. Itu akan lebih membantuku.”
Kaiser melebarkan mata dan meremas sapu tangannya kuat-kuat mendengar itu.
“Aku bawa seragamnya!” Airin terlihat berteriak dari ujung lorong sana. “Aku bantu kamu bersih-bersih. Kaiser tunggu diluar, jangan biarin siapapun masuk.”
“Aku bisa sendiri—”
“Masuk aja!”
Pintu itu tertutup, namun Kaiser yang disuruh menjaga memilih pergi dari sana.
...****************...
Airin berdiri dengan diam ketika melihat Ophelia mencuci rambutnya di wastafel.
“Kamu nggak mau ganti baju dulu? Dingin lho kalau tetap pakai yang basah,” ucapnya pelan.
“Kalau ganti dulu nanti basah lagi, soalnya rambutku masih bau,” jawab Ophelia santai. “Aku cuma perlu cuci sedikit terus keringkan di alat pengering sana, baru ganti baju.”
Perkataan itu membuat Airin menunduk.
Kenapa... terdengar seperti Ophelia sudah berpengalaman akan hal ini?
Apa dia sering dibully?
Airin bergumam pelan. “Kamu bukan terpeleset ‘kan ya?”
“...aku terjatuh.”
“Jangan bohong.” Airin bahkan tidak sadar suaranya bergetar. “Siapa? Kalau kita laporin ke guru kayaknya bisa. Kamu itu murid berprestasi ‘kan ya? Sekolah pastinya nggak bakal diam kalau murid paling pintar satu angkatan diperlakukan begini.”
Ophelia tertawa kecil. “Nggak juga.”
“...apa?”
“Aku udah bilang kalau di sekolah ini, akademis bukan segalanya kan?” ucapnya sembari menutup keran wastafel. “Yang paling penting adalah koneksi. Dan mereka punya koneksi lebih banyak dengan para guru disini daripada aku.”
Tapi ada dirinya.
Airin meneriakkan kalimat itu dalam hati. Kalau ia tidak bisa mereka juga punya Kaiser.
“Kaiser bisa—”
Perkataannya terhenti ketika melihat Ophelia tersenyum kecil. “Aku nggak apa-apa. Kamu sama Kaiser nggak perlu khawatir.”
Kata-kata itu terdengar kosong, seakan tidak ada kejujuran atau harapan disana.
Airin tidak bisa melakukan apa-apa.
Lalu beberapa hari kemudian, ketika melihat temannya terluka Airin tahu kalau situasinya benar-benar memburuk.