Indonesia
NovelToon NovelToon
SANG PENAFSIR LANGIT

SANG PENAFSIR LANGIT

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Fantasi / Action
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Kang Minho, juru tulis arsip Kota Eunha, meninggal kecelakaan. Di tubuhnya, Nuri terbangun—peramal rasi dari Negeri Cahaya yang kini menempati raga itu. Nuri bukan Minho; ia hanya memakai identitas Minho. Di kota, ia tetap dipanggil Minho. Di baliknya, Nuri membawa peta langit dan warisan Sang Gaib yang mengguncang kerajaan. Dari arsip kota yang sederhana, ia naik menjadi penafsir seluruh cakrawala dan pemimpin Majelis Batu Cakrawala. Namun tiap keping yang ia ungkap mendekatkannya pada Dewa Tua, sementara Pangeran Selat sudah mencuri namanya sejak langit pertama terbuka. Di balik pertempuran dan konspirasi yang berlarut-larut, satu pertanyaan menggantung: apakah Nuri menyelamatkan dunia, atau justru menulis takdir yang menghancurkannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Rumah Doa Agung

Di dalam ruang kerja yang bercahaya redup itu, gumaman Guru Mudang melayang di antara tumpukan berkas, lalu tenggelam pelan.

Sambil bergumam, ia melirik sekilas ke arah Guru Seojun, seakan berharap ada secuil petunjuk yang dapat membangkitkan ingatannya kembali.

Guru Seojun, dengan mata birunya yang cekung, menggeleng tanpa ragu-ragu. "Aku tidak punya kesan apa-apa tentang keluarga itu."

"...Baiklah. Mungkin hanya nama yang kebetulan sama." Guru Mudang menurunkan tangan kirinya dan tertawa dengan nada merendahkan diri.

Nuri cukup kecewa dengan hasil percakapan itu, tetapi ia tak kuasa menahan diri untuk menambahkan, "Guru, Guru Mudang, sebagaimana kalian berdua ketahui, aku sangat tertarik untuk menjelajah dan memulihkan sejarah Zaman Silam. Jika kalian teringat sesuatu atau memperoleh informasi yang berkaitan, sudikah kalian menulis surat kepadaku?"

"Tidak masalah." Berkat sikap Nuri hari ini, pengajar sepuh berambut perak itu cukup berkenan kepadanya.

Guru Mudang pun mengangguk dan bertanya, "Alamatmu masih sama seperti yang dulu?"

"Untuk saat ini, benar. Tetapi aku akan segera pindah. Nanti aku akan menulis surat untuk memberitahukan kalian," jawab Nuri penuh hormat.

Guru Seojun mengguncang-guncang tongkat hitamnya dan berkata, "Memang sudah waktunya kau pindah ke lingkungan yang lebih baik."

Pada saat itu, Nuri sempat melihat sepintas koran yang dipegang Guru Mudang. Ia menimbang-nimbang kata-katanya sebelum berkata, "Guru, Guru Mudang, sebenarnya apa yang diberitakan koran tentang Tuan Hyun dan Nyonya Seol? Aku hanya mengetahui sedikit dari penyidik yang menangani perkara itu."

Guru Mudang baru saja akan menjawab ketika Guru Seojun tiba-tiba mengeluarkan arloji saku yang tergantung di rantai emas pada jas hitamnya.

Klik! Ia membuka tutup arloji saku itu lalu mengetuk-ngetuk tongkatnya.

"Pertemuan akan segera dimulai. Mudang, kita tidak boleh terlambat. Berikan koran itu kepada Minho."

"Baiklah." Guru Mudang menyerahkan koran yang telah ia baca itu kepada Nuri. "Kami akan naik ke lantai atas. Jangan lupa menulis surat. Alamat kami belum berubah, masih di kantor bagian sejarah Balai Sejarah Eunha. Haha."

Ia tertawa sambil berbalik, mengajak Guru Seojun meninggalkan ruangan itu.

Nuri melepas topinya dan membungkuk. Setelah menyaksikan kedua lelaki itu pergi, ia berpamitan kepada Tuan Seokmun, lalu menyusuri lorong dan perlahan keluar dari gedung batu kelabu tiga lantai itu.

---

Sambil membelakangi matahari yang tinggi, ia memegang tongkatnya, membentangkan koran itu, dan membaca nama judulnya: "Koran Pagi Eunha."

Kota Eunha memang memiliki banyak jenis koran dan majalah. Ada Koran Pagi Eunha, Koran Sore, Koran Jujur, Kabar Harian Bongnae, Warta Utara, majalah keluarga, dan ulasan buku. Nuri dengan santai menyebut beberapa nama yang melintas di benaknya.

Tentu saja, sejumlah di antaranya bukan terbitan lokal; mereka didatangkan lewat konvoi dagang dan kereta api Si Melayang.

Karena industri percetakan sudah semakin maju, harga selembar koran telah turun hingga tinggal satu keping tembaga. Kalangan pembacanya pun semakin meluas dari hari ke hari.

Nuri tidak mengamati isi koran itu terlalu cermat. Ia dengan cepat membalik ke halaman berita kota yang memuat laporan berjudul "Pembunuhan oleh Perampok Bersenjata".

"...Menurut keterangan pihak kepolisian, kondisi di kediaman Tuan Hyun sangat mengenaskan. Emas, perhiasan, dan uang yang hilang, berikut semua barang berharga yang mudah dibawa, tidak tersisa sekeping pun. Kuat dugaan perbuatan itu dilakukan oleh gerombolan penjahat kejam yang tidak segan membunuh orang-orang tak berdosa, seperti Tuan Hyun dan Nyonya Seol, ketika wajah mereka sempat terlihat."

"Ini penghinaan terang-terangan terhadap hukum kerajaan kita! Ini tantangan terhadap keamanan umum! Tidak seorang pun ingin mengalami peristiwa semacam ini! Tentu saja, ada satu kabar baik: polisi telah menemukan jejak para pembunuh dan menangkap pelaku utamanya. Kami akan berusaha sebaik mungkin melaporkan perkembangannya."

"Juru berita: Tuan Hyojin."

Laporan semacam ini jarang memuat seluruh kebenaran, dan Nuri cukup dewasa untuk memahami kebiasaan itu. Ia hanya perlu memastikan jejak keluarga Miru tetap tertutup rapat dari mata wartawan.

Perkara itu telah diselesaikan dan ditutup-tutupi... Sambil menyusuri jalan raya, Nuri mengangguk dengan cara yang nyaris tak tampak.

Lagipula, kisah perampokan bersenjata adalah cerita yang masuk akal untuk orang biasa; siapa yang akan menaruh curiga pada sekadar rombongan penyamun?

Ia terus berjalan sambil membalik-balik koran itu, membaca berita-berita lain dan cerita-cerita bersambung di dalamnya.

Tiba-tiba, bulu kuduk di tengkuknya berdiri, seolah ditusuk jarum halus.

Seseorang sedang mengamatiku? Mengamati dan mengikuti gerakku? Berbagai pikiran itu membanjiri kepala Nuri, dan ia merasakan firasat yang samar.

Dulu, di Negeri Cahaya, ia pernah merasakan tatapan tak terlihat seperti ini, dan akhirnya menemukan sumber tatapan itu. Namun, rasa itu tidak pernah sejernih dan setegas yang ia rasakan sekarang!

Getaran yang sama juga pernah tersisa dalam pecahan-pecahan ingatan Kang Minho.

Apakah penjelmaan jiwaku ke dalam raga ini, atau ritus penyeimbang nasib misterius itu yang menguatkan indra keenamku?

Nuri menahan gejolak hatinya agar tidak mencari-cari wajah si pengamat. Berbekal pengetahuan dari buku dan sandiwara yang pernah ia baca serta tonton, ia memperlambat langkahnya, menyimpan koran itu dengan rapi, lalu mengalihkan pandangan ke arah Sungai Seorin.

Ia menghitung satu demi satu hela napasnya agar wajahnya tetap tenang. Senyum tipis sengaja ia pertahankan di sudut bibir, seolah tidak ada sesuatu pun yang mengganggu kenikmatan dirinya bertamasya.

Berikutnya, ia bertingkah seperti orang yang sedang menikmati pemandangan, pelan-pelan menoleh ke berbagai arah. Ia berputar dengan wajar seolah tidak sedang mengamati apa pun, padahal matanya menyerap semua yang terlihat.

Selain pepohonan, hamparan rumput, serta para pelajar yang lewat di kejauhan, tidak ada siapa pun di sana.

Padahal ia bisa bersumpah bahwa ia tidak salah merasa. Tatapan itu terasa seperti benang halus yang diam-diam menjahit kulitnya menunggu saatnya menyeret.

Namun, Nuri amat yakin bahwa ada seseorang yang sedang mengawasinya!

Ini... Jantung Nuri berdebar kencang, dan darah terasa mengalir cepat di sekujur tubuhnya.

Ia membentangkan koran dan menutup separuh wajahnya, takut jika siapa pun akan melihat raut wajahnya yang berubah.

Sementara itu, ia mencengkeram tongkatnya dan bersiap menarik belatinya.

Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah. Nuri terus melangkah pelan.

Perasaan sedang diamati itu masih bertahan, tetapi tidak ada bahaya yang tiba-tiba menerkam.

Ia berjalan dengan kaku melintasi jalan raya itu sampai tiba di tempat menunggu kereta kuda umum. Kebetulan, sebuah kereta berhenti di hadapannya.

"Jalan Bunga Teratai... Gang Menara... Tidak, kau harus pergi ke Jalan Delima." Nuri terus membuang pikiran-pikiran yang melayang.

Semula ia berencana langsung pulang ke rumah, tetapi ia takut akan mengajak pengamat yang entah berniat apa itu menuju kediamannya. Berikutnya, ia berpikir untuk mendatangi Gang Menara dan meminta bantuan rekan-rekannya di Garda Malam. Namun, ia berubah pikiran, khawatir akan membuat musuh itu tersulut dan membongkar keberadaan Garda Malam. Karena itu, ia dengan santai memilih tempat lain.

"Enam keping," ucap petugas pemungut ongkos seperti biasa.

Hari ini Nuri tidak membawa lembar uang emas. Ia menyembunyikan uangnya di tempat biasa dan hanya membawa dua lembar uang bernilai satu keping perak. Sebelum datang ke sini, ia telah menghabiskan enam keping tembaga untuk kereta tadi, sehingga yang tersisa hanyalah satu keping perak dan enam keping tembaga. Karena itu, ia mengeluarkan semua keping tembaganya dan menyerahkannya kepada petugas.

Setelah naik ke dalam kereta dan menemukan tempat duduk, barulah ketika pintu kereta ditutup, Nuri merasakan kegelisahan karena diamati itu hilang!

Ia mengembuskan napas pelan; anggota tubuhnya terasa sedikit kesemutan.

Apa yang harus aku lakukan?

Apa yang harus aku lakukan selanjutnya? Nuri menatap ke luar jendela kereta sambil berpikir keras mencari jalan keluar.

Sebelum ia mengetahui maksud orang yang mengawasinya, ia harus berasumsi bahwa orang itu berniat buruk!

Banyak pikiran bermunculan di benaknya, tetapi satu per satu ia buang. Ia belum pernah menghadapi peristiwa semacam ini, dan ia memerlukan beberapa menit untuk menata pikirannya.

Ia mencoba mengingat wajah-wajah yang melintas di halte dan kedai makan semenjak tadi, menandai siapa saja yang nyaris selalu muncul di batas pandangannya.

Ia harus memberitahukan Garda Malam. Hanya merekalah yang benar-benar dapat menyingkirkan ancaman ini!

Tetapi aku tidak bisa langsung mendatangi markas mereka, atau aku bisa saja membongkar keberadaan mereka. Mungkin justru itulah tujuan orang itu...

Mengikuti alur pikiran itu, Nuri memperkirakan berbagai kemungkinan, dan pikirannya perlahan-lahan menjadi jernih.

Nuri perlahan mengembuskan napas, dan sebagian ketenangannya kembali. Ia menatap serius pemandangan di luar jendela yang berpacu pergi meninggalkannya.

Di balik kaca jendela, kota yang berkilau itu terasa semakin menjauh. Ia membiarkan jemarinya mengusap ujung tongkat, menyiapkan diri untuk segala kemungkinan selama perjalanan.

Sepanjang perjalanan menuju Jalan Delima tidak terjadi sesuatu yang mencurigakan. Namun, begitu Nuri membuka pintu dan turun dari kereta, perasaan gelisah karena diamati itu langsung menyerangnya kembali!

Ia bertingkah seolah tidak merasakan apa-apa. Sambil membawa koran dan tongkat, ia berjalan perlahan menuju arah Gang Menara.

Akan tetapi, ia tidak memasuki jalan itu. Ia mengambil rute lain menuju Jalan Cahaya Rubi yang terletak di belakangnya. Di sana terbentang sebuah alun-alun putih yang indah dan sebuah rumah doa besar beratap runcing!

Rumah Doa Agung Senja!

Kedudukan utama Rumah Doa Ratu Selubung Senja di Kota Eunha!

Sebagai penganut yang taat, tidak ada yang aneh jika Nuri ikut serta dalam kebaktian atau berdoa pada hari libur jadwalnya.

Rumah doa itu dirancang mengikuti gaya kuil-kuil tua di Tanah Utara, lengkap dengan menara lonceng hitam yang tinggi dan berwibawa, berdiri di antara jendela-jendela berbingkai biru dan merah.

Nuri melangkah masuk ke rumah doa itu, menyusuri lorong utama menuju balai sembahyang. Di sepanjang jalan, jendela-jendela kaca berwarna tersusun atas pola-pola kaca merah dan biru yang membiarkan cahaya berwarna masuk ke dalam balai. Warna birunya nyaris hitam, sedangkan merahnya sama persis dengan Bulan Rubi di malam hari. Suasana di sekitarnya tampak gelap dan penuh misteri.

Perasaan sedang diamati itu lenyap seketika. Nuri bertingkah seperti biasa, berjalan menuju balai sembahyang yang terbuka.

Tidak ada jendela tinggi di sini. Kegelapan yang pekat justru ditekankan. Namun, di balik mezbah melengkung, tepat di dinding yang berhadapan dengan pintu masuk, terdapat sekitar dua puluh lubang bundar sebesar kepalan tangan yang membiarkan cahaya matahari masuk dengan cemerlang.

Bagai pejalan kaki yang tiba-tiba mengangkat kepala di tengah malam yang gelap dan melihat hamparan bintang yang berkilau dengan keagungan, kemurnian, dan kekudusan.

Meskipun Nuri selalu percaya bahwa para dewa dapat dianalisis dan dipahami, di tempat ini ia tidak kuasa menahan diri untuk menundukkan kepala.

Sang pendeta utama berkhotbah dengan nada yang lembut. Nuri menyusuri lorong yang membelah bangku-bangku doa menjadi dua barisan, mencari tempat kosong yang dekat dengan jalan setapak, lalu duduk perlahan.

Ia menyandarkan tongkatnya pada sandaran bangku di depannya, melepas topinya lalu meletakkannya di pangkuan bersama koran. Sesudah itu, ia mengatupkan kedua telapak tangannya dan menundukkan kepala.

Seluruh proses itu berjalan pelan dan menyerupai kebiasaan, seolah Nuri benar-benar datang untuk berdoa.

Nuri memejamkan mata dan mendengarkan suara pendeta utama di dalam kegelapan.

"Mereka yang kekurangan pakaian dan makanan tak memiliki penutup tubuh di kala dingin."

"Mereka basah kuyup oleh hujan, dan bergerombol di celah-celah batu karena tak punya tempat berteduh."

"Mereka adalah yatim piatu yang direnggut dari dada ibunya, harapan telah hilang dari mereka; mereka adalah kaum papa yang terdesak keluar dari jalan yang benar."

"Ratu Selubung Senja tidak pernah membuang mereka. Kepada merekalah, Ia melimpahkan kasih-Nya."

Gema memperkuat suara itu dan masuk ke telinganya. Nuri melihat hamparan kegelapan di hadapannya, dan ia merasakan jiwanya serta pikirannya disucikan.

Ia menerima semuanya dengan tenang sampai sang pendeta utama menuntaskan khotbahnya dan menutup kebaktian.

Setelah itu, sang pendeta utama membuka pintu sebuah bilik pengakuan di sampingnya. Para pria dan wanita mulai berbaris mengantre.

Nuri membuka matanya dan mengenakan topinya kembali. Dengan tongkat dan koran di tangan, ia berdiri dan mengambil tempat dalam barisan.

Lebih dari dua puluh menit kemudian, gilirannya tiba.

Ia melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya. Kegelapan terbentang di hadapannya.

"Anakku, ada apa yang ingin kau sampaikan?" Suara sang pendeta utama terdengar dari balik sekat papan kayu.

Nuri mengeluarkan lencana Kesatuan Ketujuh dari sakunya dan menyerahkannya melalui celah kepada sang pendeta utama.

"Ada seseorang yang menguntitku. Aku ingin bertemu Kapten Baek." Seolah ikut terserang oleh kegelapan yang sunyi itu, nada suaranya melembut.

Sang pendeta utama menerima lencana itu dan setelah berdiam beberapa detik, ia berkata, "Dari bilik ini, belok kanan lalu berjalan sampai ke ujung. Akan ada sebuah pintu rahasia di sisi dinding. Setelah kau masuk ke sana, akan ada orang yang menuntunmu."

Sambil berkata begitu, ia menarik seutas tali di dalam ruangan, dan sebuah lonceng kecil di suatu tempat berdering sekilas. Seorang pengurus doa tertentu mendengar bunyi itu.

Nuri mengambil kembali lencananya, melepas topi, menempelkannya ke dada, membungkuk sedikit, lalu berbalik dan keluar dari bilik.

Setelah memastikan perasaan sedang diamati itu benar-benar hilang, ia mengenakan topinya kembali. Tanpa emosi yang berlebihan, ia memegang tongkatnya dan berbelok ke kanan, sampai tiba di tepi sebuah mezbah melengkung.

Ia menemukan pintu rahasia di dinding yang berhadapan dengannya. Tanpa suara, ia membukanya dan menyelinap masuk dengan cepat.

Pintu rahasia itu menutup tanpa suara, lalu muncul seorang pengurus doa paruh baya berjubah hitam dalam cahaya lampu gas.

"Ada apa?" tanya pengurus doa itu dengan singkat.

Nuri menunjukkan lencananya dan mengulangi apa yang telah ia sampaikan kepada sang pendeta utama.

Pengurus doa paruh baya itu tidak bertanya lebih lanjut. Ia berbalik dan melangkah maju dalam kesunyian.

Koridor di balik pintu rahasia menyempit, berbelok-belok, dan pada setiap tikungan berdiri lentera gas yang menyala redup. Nuri mencatat arah setiap belokan tanpa mengalihkan pandangannya dari punggung berjubah hitam di depan.

Nuri mengangguk, melepas topinya, lalu mengikuti dengan tenang di belakangnya sambil memegang tongkat hitam.

Nona Bomi pernah menyebutkan bahwa dari pertigaan di dekat jalan raya, jika berbelok ke kiri menuju arah Gerbang Senja, seseorang akan sampai di Rumah Doa Agung Senja.

1
-Thiea-
kayaknya minho sengaja dilenyapkan kali ya. 🤔
-Thiea-
bertransmigrasi kayaknya dia ya.🤔
-Thiea-
dia kenapa? apakah hilang ingatan? kayaknya asing sama keadaan.
Xlyzy
itu kayak nya harus di cari tau deh penyebab nya kenapa tiba tiba berpindah di tubuh orang lain lagi
Tamaa
mahalnya
Tamaa
anak gadis sukanya yang begituan
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
aku bayanginnya ala drakor korea min 🤣😭
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
ini latarnya korea berati ya tor?
Kartika Candrabuwana: mirip korea..tp mix fantasi jg
total 1 replies
Miu.Nuha
wiii ajaib juga ya
aku jadi penasaran sok kalo minho cedera lagi apa y gk bakal ngerasa sakit 🙄
Miu.Nuha
ini kalo keluar rumah apa gk pada jerit tuh para warga 😅🙄
Filan
malam ini dia memang terlalu banyak berpikir sampai pusing.
Filan
woah, bulannya merah... ini bukan Korea ya, negeri fantasi? Dan dia juga berasal dari negeri yang beda tapi serupa.
Kartika Candrabuwana: semi korea dan fantasi
total 1 replies
Filan
nyalain lampunya pakai koin?
Kartika Candrabuwana: iya betul
total 1 replies
Filan
orangnya memang sudah mati kalau ga ada jiwa lain yang menempati.
Myz Pena
iih ngeri bangettt... seharusnya orang dengan benjolan kepala itu bisa sekarat berhari2 di rumah sakit🤧
Putry Chan
bangkit lah nuri emang tangguh
abis nagis langsung mode srius mental baja gitu loh
ginevra
ou begitu... karena jiwanya gantinmaka raganya ikut pulih
ginevra
lukanya sembuh sendiri ya
ginevra
ngeri banget lukanya, harus cek ke dokter deh, takutnya ada pendarahan otak
Arni Arlinawati Pratiwi💃
oke.. jadi nuri yang masuk ke tubuh nya kang minho ini adalah peramal.. jadi jiwa nuri yang punya kemampuan diem di tubuh nya kang minho, 🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!