Indonesia
NovelToon NovelToon
The Last Survivors

The Last Survivors

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Hari Kiamat / Horor
Popularitas:132
Nilai: 5
Nama Author: Pineapple banana

Wabah misterius meluluhlantakkan peradaban dalam semalam, mengubah manusia menjadi makhluk haus darah yang tak kenal lelah. Di tengah kota yang sunyi dan penuh mayat hidup, sekelompok orang yang tak saling kenal terpaksa bersatu. Mereka bukan hanya harus bertahan dari serangan para mayat hidup, tapi juga menghadapi pengkhianatan, kelaparan, dan kenyataan pahit bahwa mereka mungkin adalah sisa-sisa manusia terakhir di muka bumi. Antara harapan dan keputusasaan, mereka harus memilih: bertahan hidup sendiri, atau mati bersama sebagai satu-satunya harapan umat manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pineapple banana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 33

Matahari mulai naik, menyinari hutan dan sungai tempat mereka berlindung. Namun langit tak sepenuhnya cerah — gumpalan awan hitam menggantung rendah, pertanda hujan akan segera turun pagi itu.

Rafli dan Toni pergi berburu sejak subuh. Semua bekal mereka tertinggal di sekolah, mungkin sudah terinjak dan hancur di tangan para mayat hidup. Beruntung hutan di sekitar sungai masih menyisakan kehidupan. Walaupun hasilnya sederhana — dua ekor kelinci — setidaknya ada sesuatu untuk dibawa pulang.

"Hanya dua ekor kelinci, aku tak menemukan yang lain," ucap Rafli saat berjalan pulang.

"Cukup untuk dibagi rata. Ayo kembali, siapa tahu Hendrik dan yang lain mendapat ikan," ajak Toni.

Di tepian sungai, Hendrik dan Mega memang membawa kabar baik. Ikan-ikan segar tertangkap cukup banyak untuk makan pagi semua orang. Danu membantu menyusun kayu untuk tungku api, sementara yang lain sibuk mendirikan tempat berlindung. Natalia bersama Wenda, Andri, Amar, Jodie, Zacky, dan Dokter Rizal menyusun terpal menjadi tenda yang cukup luas.

"Cukup untuk menampung kita semua," ucap Jodie saat tenda berdiri tegak.

Andri menyahut pelan, "Kita bagi dua bagian saja. Kita para lelaki tak bisa tidur berdekatan dengan kalian para wanita."

Zacky mengangguk setuju. "Benar juga."

Jodie menatap mereka tak terima. "Itu cuma pikiran kalian sendiri. Aku biasa saja. Tidur dekat Wenda, Mega, Natalia... siapa pun, aku tak masalah." Ia merasa perkataan mereka merendahkan para wanita.

Natalia segera menarik lengan Jodie menjauh. "Sudah, Jodie... jangan di balas."

"Aku cuma tak suka mereka bicara begitu. Kalian itu harus dihormati, bukan diperlakukan seperti itu," gerutu Jodie sambil duduk cemberut.

Natalia tersenyum lembut, merangkul bahunya. "Makasih ya sudah membela kami. Kamu orang paling baik."

Jodie mendekatkan kepalanya ke bahu Natalia. "Bagiku kau sudah seperti keluarga, Nat. Kalau ada yang berani menyakiti kalian, aku akan berdiri di barisan paling depan."

Danu yang melihat itu dari kejauhan, berjalan mendekat. "Ada apa?"

"Tak apa-apa, hanya hal sepele," jawab Natalia.

Namun Danu tak berhenti. Ia melangkah lurus ke arah Andri, mencengkeram kerah bajunya, lalu — prak! — satu pukulan mendarat di wajah pemuda itu. Semua orang terkejut. Natalia segera berlari mendekat dan memeluk Danu dari belakang, menahannya.

"Hei! Apa-apaan ini?!" Andri mengusap bibirnya yang berdarah. "Tiba-tiba memukulku begitu?"

"Sekali lagi kau bicara seperti itu pada mereka, habis kau!" ancam Danu, napasnya memburu, menahan amarah karena pelukan Natalia.

Natalia menariknya menjauh dengan tegas. "Kau kenapa, hah?"

Danu menunduk, tak menjawab.

"Jawab aku, Danu!"

"Aku tak suka... sama seperti Jodie. Aku tak suka mereka bicara merendahkan mu, Natalia, dan yang lain," suaranya terdengar pelan namun tegas.

"Tapi tak harus memukul Andri! Ingat, kita ini rekan. Kita keluarga!"

Saat itu Rafli dan Toni tiba. Melihat keributan, Rafli segera meletakkan buruannya ke tangan Mega lalu mendekat.

"Ada apa ini?"

"Dia memukul Andri , karena hal sepele," kata Natalia.

Rafli menatap Danu. "Ada masalah apa, kawan?"

Danu menghela napas kasar. "Aku tak suka cara Andri bicara soal tidur dekat kalian... dekat Natalia, Mega, Wenda, Nenek Indah... seakan kalian bukan manusia yang patut dihormati."

Rafli mengangguk pelan, lalu menepuk bahu Danu. "Sudah jangan di balas ucapan mereka, lebih baik kita siapkan sarapan. Perut akan kenyang dan menenangkan hati."

Namun Andri tak melupakan peristiwa itu. Di balik wajah yang ia paksa tenang, ia menyimpan dendam dan merencanakan sesuatu saat semua lengah nanti.

Di sudut lain, Nenek Indah tersenyum sambil menatap Danu yang diam di samping api. Ia berbisik pada Hendrik, "Pemimpinmu itu menaruh hati pada Natalia."

Hendrik tersenyum tipis. "Bagaimana Nenek bisa tahu?"

"Lihat saja tingkahnya," jawab Nenek pelan. "Marahnya, cemasnya, perhatiannya... semua muncul kalau Natalia yang bersangkutan."

Hendrik hanya mengangguk. Di tengah dunia yang hancur ini, cinta tumbuh diam-diam — indah sekaligus berbahaya.

Tak lama kemudian, ikan pepes dan kelinci bakar pun siap disajikan. Mereka duduk melingkar di atas karpet yang diambil dari salah satu rumah warga yang ditinggalkan. Di sana juga tersisa cabai dan bawang yang masih segar, serta beras yang dikumpulkan Wenda dan Dimas dari dapur rumah-rumah kosong itu.

Nasi hangat terhidang di samping lauk yang harum semerbak.

"Dunia sudah berakhir begini, tapi kita masih bisa makan nasi," ucap Mega takjub.

"Kita harus bersyukur. Ingat, sebelumnya kita hampir hanya makan umbi-umbian saja, kadang sarden kalengan," tambah Dimas.

Mereka menyantap makanan itu dengan nikmat, seolah tak ada kekhawatiran sedikit pun. Setelah selesai, beberapa orang duduk bersantai sambil menyalakan rokok yang ditemukan di warung tak jauh dari sana.

"Kau merokok, Danu?" tanya Dimas melihat Danu menarik kepulan asap.

"Biasanya tidak, hanya saat ada tekanan berat seperti ini," jawab Danu pelan.

Dimas mencondongkan badan, wajahnya serius. "Danu... soal warung itu, aku curiga."

Danu menoleh. "Curiga apa?"

"Barang-barang di sana begitu saja. Makanan, pakaian, perlengkapan... seolah pemiliknya pergi sebentar dan akan kembali. Kalau mereka mengungsi, kenapa tak bawa apa-apa?"

Danu terdiam sejenak, lalu berdiri. "Aku ingin melihatnya sendiri." Ia menatap semua orang. "Aku akan memeriksa rumah-rumah itu. Sebagian ikut aku, sisanya tetap di sini jaga tempat ini."

"Ke mana?" tanya Toni.

"Ke pemukiman warga yang ditinggalkan itu."

"Aku ikut!" Andri segera berdiri, diikuti Zacky.

"Aku juga..." Natalia ikut bangkit, namun Danu menoleh tegas.

"Kau tetap di sini, Nat."

"Tolonglah, Danu..." kekehnya, namun Rafli memberi isyarat agar menurut. Natalia pun duduk kembali, wajahnya cemberut menahan kesal.

"Baiklah — Andri, Zacky, Dimas, dan Rafli ikut denganku. Sisanya tetap berjaga di sini," perintah Danu.

Mereka pun berangkat meninggalkan tempat perkemahan, menuju deretan rumah yang sunyi dan kosong — tempat yang menyimpan pertanyaan besar: ke mana perginya semua orang?

Bersambung

1
Abyyasdemons
keren
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!