Indonesia
NovelToon NovelToon
ZHOO, SANG PENAKLUK EST

ZHOO, SANG PENAKLUK EST

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:107
Nilai: 5
Nama Author: zai_zuk

Di benua Est, tujuh kerajaan hidup dalam keseimbangan rapuh. Selama ratusan tahun, tidak ada satu pun penguasa yang mampu menyatukan seluruh wilayah. Perang, perebutan takhta, dan dendam antarkerajaan telah menjadi bagian dari kehidupan manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zai_zuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 15, PINTU GERBANG THALYN

Pegunungan Thalyn menjulang tinggi menembus awan, puncaknya tertutup salju abadi yang berkilauan di bawah sinar matahari. Udara di sini dingin dan tipis, membuat napas menjadi lebih berat. Di lereng gunung yang curam itu berdiri benteng utama Kerajaan Thalyn—sebuah kota yang dibangun menyatu dengan batu gunung itu sendiri, tembok-temboknya tebal dan kokoh seolah-olah ia adalah bagian dari bumi itu sendiri. Tidak ada jalan masuk yang mudah, dan setiap pendekatan dijaga dengan ketat.

"Kita tidak bisa begitu saja masuk ke sana," kata Arvin sambil menatap tembok raksasa itu dari kejauhan. "Thalyn dikenal sangat tertutup. Mereka tidak mempercayai orang asing, terutama orang yang dicari oleh Veyra."

"Kita tidak akan meminta izin untuk masuk secara diam-diam," kata Zhoo tegas. "Kita akan pergi ke gerbang utama dan meminta pertemuan dengan penguasa mereka. Terbuka dan jujur—itu satu-satunya cara untuk mendapatkan rasa hormat dari orang-orang yang menghargai kejujuran."

Mereka berjalan mendekati gerbang besar yang terbuat dari besi dan batu. Di atas tembok, ratusan prajurit dengan busur dan panah mengawasi mereka dengan tatapan dingin dan waspada. Saat mereka berhenti di depan gerbang, seorang prajurit bertubuh tegap dengan helm tertutup berteriak dari atas:

"Berhenti! Siapa kalian dan apa tujuan kalian ke tanah Thalyn?"

"Aku Zhoo, putra dari tanah kecil di perbatasan Kaelthara!" seru Zhoo dengan suara yang lantang hingga terdengar sampai ke atas tembok. "Bersama teman-temanku, aku datang bukan untuk meminta

"Aku Zhoo, putra dari tanah kecil di perbatasan Kaelthara!" seru Zhoo dengan suara yang lantang hingga terdengar sampai ke atas tembok. "Bersama teman-temanku, aku datang bukan untuk meminta emas, bukan untuk menuntut tanah, dan bukan untuk mengancam dengan pedang! Aku datang untuk berbicara! Untuk meminta satu kesempatan—satu saja—untuk berbicara dengan penguasa kalian tentang hal yang menyangkut nasib seluruh Benua Est, termasuk Thalyn!"

Keheningan menyelimuti gerbang itu sejenak. Prajurit di atas tembok saling berpandangan. Lalu suara itu terdengar lagi, kali ini lebih dingin:

"Thalyn tidak menerima orang asing, apalagi orang yang dicari mati oleh Raja Vereon dari Veyra. Pergilah sebelum kami menganggap ini sebagai ancaman dan melepaskan panah!"

Elara melangkah maju sedikit, suaranya jernih dan tegas menembus angin gunung. "Kami tahu nama Raja Vereon membuat kalian takut! Tapi ketakutan itu justru yang ia inginkan! Jika kalian mengusir kami hari ini, kalian bukan hanya mengusir kami—kalian menyerahkan masa depan Thalyn kepada seseorang yang hanya melihat kalian sebagai angka dalam daftar pajak!"

Gerbang itu tetap tertutup. Namun sebelum Zhoo sempat berkata lagi, suara langkah kaki berat terdengar dari balik pintu besi raksasa itu. Rantai berderit pelan, dan satu pintu terbuka selebar satu orang. Di sana berdiri seorang pria raksasa dengan zirah baja yang memantulkan cahaya matahari, wajahnya penuh bekas luka tua, dan matanya seperti batu yang tak bergeming.

"Aku adalah Komandan Gareth," suaranya berat seperti batu yang beradu. "Penguasa Thalyn tidak menerima orang asing tanpa ujian. Jika kalian benar-benar ingin berbicara dengannya, kalian harus membuktikan bahwa kalian layak berdiri di hadapannya."

"Ujian apa?" tanya Zhoo tanpa ragu.

"Jalan menuju Aula Tinggi tidak mudah. Itu bukan jalan biasa—itu adalah Jalan Ujian. Di sepanjang jalan itu, ada tantangan yang menguji kekuatan tubuh, ketajaman pikiran, dan keteguhan hati. Banyak ksatria terhebat yang gagal di sana, dan beberapa tidak pernah kembali. Kalian bisa mundur sekarang dan pergi dengan selamat, atau masuk dan menghadapi risikonya."

Zhoo menatap Arvin, lalu Kael, lalu Elara. Semuanya mengangguk tanpa ragu.

"Kami masuk," kata Zhoo tegas.

Komandan Gareth mengangguk pelan, seolah sedikit terkesan. "Ikutlah. Tapi jangan berharap aku akan menolong kalian jika kalian jatuh."

Mereka melangkah masuk ke dalam benteng itu, dan dunia di luar lenyap. Di dalamnya, udara terasa lebih dingin, dinding-dinding batu yang megah menjulang tinggi, dan setiap langkah bergema di lorong yang panjang. Jalan itu menanjak terus, semakin tinggi, semakin sempit, dan semakin gelap.

Setelah berjalan hampir satu jam, mereka tiba di sebuah ruangan besar yang terang benderang oleh cahaya matahari yang masuk dari celah di langit-langit batu. Di tengah ruangan itu berdiri sebuah jembatan batu yang sangat sempit, membentang di atas jurang yang dalam dan berkabut. Di ujung jembatan itu, ada pintu besi tertutup.

"Ini ujian pertama," kata Gareth. "Jembatan Keseimbangan. Kalian harus menyeberanginya tanpa menyentuh sisi mana pun. Ingat—batu ini licin, dan angin di bawah sini kuat. Satu langkah salah, dan kalian akan jatuh ke dasar yang tak berdasar."

Kael menelan ludah. "Itu... sangat sempit."

"Jangan melihat ke bawah," bisik Elara. "Lihatlah ke depan saja. Bayangkan kalian berjalan di tanah yang datar."

Zhoo melangkah maju ke tepi jembatan itu. Ia menarik napas dalam-dalam, menenangkan dirinya, lalu melangkah perlahan ke atas batu itu. Angin berhembus kencang, menggoyangkan pakaiannya, dan ia bisa merasakan getaran halus di bawah kakinya. Ia tidak berhenti, tidak menoleh, hanya berjalan lurus dengan mata tertuju pada pintu di seberang sana.

Satu per satu mereka menyeberang. Arvin berjalan dengan tenang dan mantap, seolah ia sedang berjalan di halaman rumahnya sendiri. Elara berjalan ringan, hampir seperti melayang. Kael sempat terhuyung di tengah jalan, namun Zhoo mengulurkan tangan dan menahannya hingga keduanya sampai di seberang dengan selamat.

Gareth mengangguk pelan. "Kalian berhasil melewati ujian pertama. Tapi itu yang paling mudah. Ikutlah."

Ujian kedua menanti di ruangan berikutnya—sebuah ruangan berbentuk lingkaran dengan dinding batu yang polos, dan di tengahnya berdiri satu altar batu kosong. Tiba-tiba pintu di belakang mereka tertutup rapat, dan suara bergema dari segala arah:

"Siapa yang kalian cari? Apa yang kalian bawa? Dan jika harus memilih—apakah kalian akan menyelamatkan diri sendiri, atau menyelamatkan orang lain?"

Suara itu bukan milik manusia, melainkan suara bumi itu sendiri yang berbicara melalui batu.

"Kami mencari penguasa Thalyn!" jawab Zhoo lantang. "Dan kami membawa bukan emas, bukan permata! Kami membawa kebenaran dan harapan! Dan jika harus memilih—kami akan selalu memilih orang lain di atas diri kami sendiri!"

Seketika itu juga, bayangan mulai muncul dari lantai batu—bayangan keraguan, ketakutan, dan keinginan menyerah. Setiap orang melihat bayangan terburuk dari dirinya sendiri. Kael melihat bayangan dirinya yang lari meninggalkan teman-temannya dalam bahaya. Arvin melihat bayangan masa lalunya yang kelam. Elara melihat bayangan kegagalan yang menghancurkan orang-orang yang ia cintai.

Namun tidak ada satu pun dari mereka yang mundur. Zhoo berdiri di depan teman-temannya, suaranya tak tergoyahkan:

"Kita semua pernah takut! Kita semua pernah gagal! Tapi itu bukan siapa kita! Siapa kita adalah apa yang kita pilih untuk lakukan saat kita berdiri di ambang kegelapan! Dan aku memilih untuk tidak pernah menyerah pada kalian!"

Bayangan itu perlahan memudar, dan pintu di seberang ruangan terbuka perlahan. Komandan Gareth yang berdiri di sana sejak tadi dengan tatapan yang lebih lembut dari sebelumnya berkata:

"Kalian telah melewati ujian kedua—Ujian Hati. Banyak yang gagal di sini karena mereka tidak jujur pada diri sendiri. Kalian bisa lanjut."

Setelah menaiki tangga batu yang tak terhitung jumlahnya, mereka akhirnya tiba di Aula Tinggi—ruangan terbesar di seluruh benteng, dengan langit-langit yang menyatu dengan langit. Di atas takhta batu yang besar, duduk seorang pria paruh baya dengan wajah yang keras namun penuh kebijaksanaan, rambutnya putih seperti salju namun matanya tajam seperti elang. Itu adalah Raja Kaelen, penguasa Kerajaan Thalyn. Di sebelahnya berdiri penasihat-penasihatnya, dan di barisan samping berdiri para ksatria terkuat kerajaan itu.

"Jadi inilah pemuda yang membuat Raja Vereon begitu gelisah hingga ia mengirimkan pesan ancaman ke seluruh kerajaan?" suara Raja Kaelen berat dan dalam, bergema di seluruh aula. "Kau terlihat biasa saja, anak muda. Tidak ada mahkota di kepalamu, tidak ada jubah sutra di punggungmu. Apa yang membuatmu berpikir kau bisa menawarkan sesuatu yang tidak dimiliki oleh tujuh kerajaan ini?"

Zhoo berlutut sebentar sebagai tanda hormat, lalu berdiri tegak. "Yang Mulia, aku tidak memiliki mahkota karena mahkota itu tidak membuat seseorang menjadi pemimpin. Aku tidak memiliki jubah sutra karena aku tahu rasanya dingin saat hujan dan panas saat matahari. Tapi aku memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh Raja Vereon—aku memiliki orang-orang yang berdiri di sisiku bukan karena takut, bukan karena dibayar, tapi karena mereka percaya pada tujuan yang sama."

"Kata-kata yang manis," potong salah satu penasihat dengan sinis. "Tapi kata-kata tidak bisa menahan panah atau menghancurkan benteng Veyra."

"Benar," jawab Zhoo tenang. "Tapi kata-kata yang benar bisa membangkitkan semangat yang tidur. Dan semangat yang bersatu jauh lebih kuat daripada batu yang paling keras sekalipun. Yang Mulia, Raja Vereon tidak akan berhenti sampai ia menguasai seluruh Benua Est. Kalian tahu itu sama seperti aku tahu matahari terbit dari timur. Saat ia siap, ia akan datang ke gerbang Thalyn, dan ia akan menuntut penyerahan diri kalian. Dan jika kalian menolak... ia akan menghancurkan benteng ini, tidak peduli berapa lama waktu yang dibutuhkannya."

Raja Kaelen terdiam lama, matanya menatap Zhoo seolah ingin melihat ke dalam jiwa pemuda itu. "Dan kau berpikir dengan orang-orang yang kau kumpulkan ini, kau bisa menghentikannya?"

"Bukan aku yang akan menghentikannya, Yang Mulia. Tapi kita—bersama-sama. Jika Thalyn, Oakhaven, dan tanah-tanah yang tertindas berdiri sebagai satu, Vereon tidak akan bisa mengalahkan kita. Ia bisa mengalahkan kita satu per satu, tapi ia tidak akan pernah bisa mengalahkan kita yang berdiri bersama."

Suasana di aula itu hening. Para penasihat saling berbisik. Raja Kaelen berdiri perlahan, dan seluruh ruangan menjadi sunyi.

"Selama ratusan tahun, Thalyn berdiri sendiri," ucapnya perlahan namun tegas. "Kami tidak pernah bersekutu dengan siapa pun, dan kami tidak pernah meminta bantuan siapa pun. Tapi... aku sudah cukup lama hidup untuk melihat kapan zaman berubah. Dan aku tahu bahwa angin perang yang bertiup sekarang bukan angin biasa—itu angin yang akan mengubah peta benua ini selamanya."

Ia melangkah turun dari takhtanya, berjalan mendekati Zhoo hingga mereka berdiri berhadapan sejajar.

"Aku tidak akan memberikan pasukanku begitu saja," lanjut Raja Kaelen. "Tapi aku juga tidak akan menutup mata terhadap kebenaran. Jika kau bisa membuktikan bahwa persekutuan ini lebih dari sekadar kata-kata—jika kau bisa menyatukan setidaknya dua kerajaan lagi di sisimu sebelum musim dingin tiba—maka Thalyn akan berdiri di sisimu dengan seluruh kekuatan yang kami miliki. Jika tidak... maka pergilah, dan jangan pernah kembali."

Zhoo menahan kegembiraannya, lalu membungkuk hormat. "Terima kasih, Yang Mulia. Aku akan memenuhi syarat itu. Dan aku berjanji—saat aku kembali, aku tidak akan datang dengan tangan kosong, tapi dengan bukti bahwa persatuan itu bukan mimpi, melainkan satu-satunya jalan untuk bertahan hidup."

Saat mereka berjalan keluar dari Aula Tinggi, Komandan Gareth menunggu mereka di pintu keluar, dan kali ini ia tersenyum tipis—senyum yang jarang sekali terlihat di wajahnya.

"Kau membuat Raja berpikir, anak muda. Itu hal yang tidak mudah dilakukan. Hati-hati di jalanmu. Semoga angin mendukungmu."

"Terima kasih, Komandan," jawab Zhoo tulus. "Dan beritahu Raja—aku akan kembali. Dan saat itu terjadi, kita tidak akan lagi berbicara sebagai orang asing, tapi sebagai saudara yang berjuang untuk tanah yang sama."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!