Indonesia
NovelToon NovelToon
Lamaran Yang Bukan Untukku

Lamaran Yang Bukan Untukku

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami / Konglomerat berpura-pura miskin / Balas Dendam
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Sefin Eka Ramana Putri

Tujuh tahun Cynthia Dewi mencintai YB dengan seluruh hatinya. Namun di hari yang seharusnya menjadi bahagia bagi mereka berdua, YB justru melamar Karen — wanita yang selama ini selalu ia anggap adik. Cynthia melihat semuanya dengan mata kepalanya sendiri, dan hatinya hancur seketika. Di saat ia merasa sudah tak memiliki siapa pun, Aloy datang menolongnya. Ia bukan hanya teman lama, tetapi juga sosok yang menyimpan rahasia besar dari masa lalu Cynthia. Mampukah Cynthia membuktikan jati dirinya, membalaskan dendam, dan menemukan cinta sejatinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefin Eka Ramana Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Rahasia di Balik Liontin Berlian

Kata-kata wanita tua itu terus bergema di telinga Cynthia sepanjang perjalanan pulang. Wanita yang dulu bekerja di rumah Keluarga Hutapea dan melihatnya sejak hari lahir itu berpesan dengan suara tenang dan penuh keyakinan, seakan setiap kata yang terucap adalah sebuah kebenaran yang tak akan pernah bisa dibantah oleh siapa pun.

"Kalung yang dipakai wanita itu hanyalah separuh bagian. Sedangkan separuh lainnya... masih tersimpan rapi. Ketahuilah, Nak... saat kau baru saja lahir ke dunia, Nyonya Hutapea telah menyiapkan sepasang kalung penanda yang terbelah menjadi dua bagian, sama-sama berbentuk separuh hati berkilauan. Satu bagian dipakaikan ke lehermu — bayi Cynthia — di ruang inkubator rumah sakit sebagai tanda pengenal yang tak akan pernah tertukar. Sedangkan separuh bagian lainnya... selalu melingkar di leher Nyonya Hutapea sendiri, tak pernah dilepas sejak hari perpisahan itu."

Cynthia berhenti melangkah tepat di tepi jalan yang sepi itu. Kakinya terasa berat seakan tak sanggup melangkah lebih jauh. Kalimat itu seakan membuka kabut tebal yang selama ini menyelimuti pikirannya. Jadi... kalung penanda itu memang ada dua bagian. Satu bagian diambil Ibu kandung Karen dari leher bayi Cynthia saat wanita itu membawa Cynthia pergi secara diam-diam dari rumah sakit belasan tahun lalu, dan kini kalung itu justru melingkar di leher Karen seakan menjadi bukti bahwa Karen adalah putri yang dicari. Sedangkan separuh bagian lainnya... masih melingkar di leher Ibu kandungnya sendiri, tak pernah berpindah tangan, tak pernah dilepas, menjadi satu-satunya penanda kerinduan yang tak pernah pudar.

Namun wanita tua itu belum selesai bercerita. Di sela-sela napasnya yang memendek karena usia yang sudah lanjut, ia kembali berbisik sesuatu yang membuat jantung Cynthia berpacu kencang seakan hendak meledak di dalam dadanya. Sesuatu yang selama ini disembunyikan rapat-rapat dan tak diketahui oleh siapa pun selain orang tua kandungnya sendiri.

"Ada satu hal lagi yang tak diketahui siapa pun selain Tuan dan Nyonya Hutapea. Di bagian belakang liontin kalung yang dipakai Nyonya Hutapea... terukir namamu dan tanggal lahirmu dengan huruf emas halus yang sangat indah. Sedangkan kalung yang diambil dari lehermu saat bayi... tidak memiliki ukiran apa pun di bagian belakangnya. Itulah tanda pembeda yang sesungguhnya, tanda yang tak bisa dibuat-buat maupun dipalsukan oleh siapa pun, sehebat apa pun kebohongan yang disusun."

Cynthia tertegun diam di tengah jalan yang mulai sepi itu. Matanya terbelalak tak percaya mendengar penuturan wanita tua tersebut. Dari luar, kedua kalung itu tampak sama persis — sama-sama berbentuk separuh hati yang indah, sama-sama berkilau memancarkan cahaya lembut saat terkena pantulan cahaya, seakan tak ada satu pun perbedaan yang terlihat oleh mata telanjang. Namun di balik permukaan berlian yang berkilau indah itu... tersembunyi bukti paling kuat yang tak disadari sama sekali oleh Ibu kandung Karen maupun Karen sendiri. Wanita itu hanya melihat bentuk luar kalung yang cantik dan khas, merasa cukup dengan separuh kalung itu untuk meyakinkan siapa pun. Namun ia tak pernah sekalipun membalikkan liontin tersebut untuk melihat apa yang tersembunyi di baliknya. Ia tak tahu bahwa kebenaran sesungguhnya justru tersimpan di bagian yang tak pernah ia perhatikan.

Saat berdiri di teras rumah Keluarga Hutapea tadi siang, di tengah keputusasaannya yang mendalam, di saat air matanya hampir jatuh membasahi pipi karena rasa kecewa, mata Cynthia sempat menangkap sekilas sesuatu yang berkilau lembut di leher Nyonya Hutapea. Di balik kain selendang yang dikenakan wanita itu dengan anggunnya, terlihat samar-samar sepasang kalung berlian berbentuk separuh hati yang melingkar indah dan berkilau lembut. Saat itu Cynthia terlalu terpukul dan terlalu sedih untuk memperhatikannya lebih jauh. Namun kini... setelah mendengar penuturan wanita tua itu, secercah harapan mulai menyala perlahan di dadanya yang sempat gelap gulita. Kalung penanda yang sesungguhnya itu... sedang melingkar di leher Ibu kandungnya sendiri, lengkap dengan ukiran nama dan tanggal lahirnya yang terukir indah di balik permukaannya yang berkilau.

Jantungnya berpacu kencang menyadari hal itu. Kalung di leher Karen itu memang asli miliknya — namun hanya separuh bagian yang polos tanpa tanda apa pun. Sedangkan separuh yang dipakai Nyonya Hutapea... menyimpan bukti yang tak bisa dibantah oleh siapa pun di dunia ini. Jika Cynthia berani kembali ke rumah megah itu dan meminta Nyonya Hutapea untuk membalikkan kedua kalung itu... di sanalah kebohongan yang telah disusun sedemikian rapi itu akan runtuh seketika. Di satu sisi tertulis nama dan tanggal lahirnya dengan jelas dan indah. Di sisi lain... polos bersih tanpa ukiran apa pun. Bukti itu jauh lebih kuat dari seribu kata pembelaan, jauh lebih kuat dari air mata kepura-puraan.

Namun harapan itu seketika bercampur dengan rasa takut yang mendalam. Bagaimana cara meyakinkan Nyonya Hutapea yang baru saja mengusirnya dengan pandangan penuh kecewa dan ketidaksukaan? Bagaimana mungkin ia kembali ke hadapan wanita itu dan berkata: "Ibu... cobalah balikkan liontin kalung yang Ibu pakai di leher Ibu sendiri. Dan minta pula wanita yang mengaku putri Ibu itu untuk membalikkan kalung di lehernya. Di sanalah letak kebenaran sesungguhnya yang selama ini Ibu cari." Bukankah itu terdengar mustahil dan semakin membuatnya dianggap pembohong yang tak tahu malu dan berani menuduh sembarangan?

Di sisi lain, Ibu kandung Karen tampak begitu tenang dan begitu yakin dengan rencananya yang ia anggap sempurna. Wanita itu merasa dengan hanya membawa separuh kalung berbentuk separuh hati saja sudah cukup untuk meyakinkan siapa pun, termasuk orang tua kandung Cynthia. Ia sama sekali tidak menyadari adanya ukiran rahasia yang tersembunyi di bagian belakang kalung yang terus melingkar di leher Nyonya Hutapea sejak dulu. Karen pun merasa tenang dan aman karena kalung yang melingkar di lehernya tampak sama persis dari luar dengan kalung yang dipakai Nyonya Hutapea. Ia tak tahu bahwa di balik permukaan berlian yang berkilau indah itu... belum ada satu pun nama yang tertulis untuk membuktikan bahwa dialah pemilik aslinya.

Sementara itu, di kediaman Keluarga Hutapea yang megah dan luas itu, Karen duduk di samping Tuan dan Nyonya Hutapea sambil sesekali menyentuh kalung di lehernya dengan senyum bangga yang tak bisa disembunyikan. Namun di balik senyum manisnya, hatinya merasa gelisah tanpa sebab yang jelas. Nyonya Hutapea sesekali menatap kalung yang melingkar di leher Karen dengan tatapan yang masih menyisakan keraguan, lalu tanpa sadar menyentuh kalung yang melingkar di lehernya sendiri dengan lembut. Ada sesuatu yang terasa belum lengkap di hatinya. Bentuknya memang tampak sama... namun mengapa hatinya belum merasa sepenuhnya tenang dan merasa putrinya sungguh telah pulang? Tanpa sadar, jari telunjuk Nyonya Hutapea perlahan menyentuh bagian belakang liontin kalungnya sendiri, seakan sedang menyentuh sebuah janji suci yang terukir indah di sana sejak belasan tahun silam.

Malam itu, Cynthia duduk termenung di tepi tempat tidurnya yang sederhana. Di dadanya kini tumbuh sebuah tekad yang baru dan kuat. Wanita tua itu telah menceritakan segalanya dengan sangat jelas. Kalung penanda yang melengkapi miliknya sedang melingkar di leher Ibu kandungnya sendiri, lengkap dengan ukiran nama dan tanggal lahirnya yang menjadi bukti tak terbantahkan. Ia hanya perlu menunggu waktu yang tepat — saat hati Nyonya Hutapea tenang dan terbuka — untuk memintanya membalikkan kedua kalung itu. Saat ukiran nama itu terbaca oleh semua orang... barulah kebohongan itu akan runtuh seketika, dan kebenaran akan berdiri tegak tak bisa dibantah oleh siapa pun.

Namun di rumah yang sama, di balik dinding kamar yang remang-remang dan gelap, Ibu kandung Karen tiba-tiba terbangun lelap dari tidurnya. Hatinya berdebar tak menentu seakan ada sesuatu yang buruk akan terjadi. Seakan ada sesuatu yang terlupa dari rencananya yang ia kira sudah sempurna tanpa celah. Sesuatu yang justru menjadi celah paling berbahaya bagi seluruh kebohongan yang telah ia susun selama belasan tahun ini...

1
Sefin Eka Ramana Putri
Luar biasa! Alur cerita yang terus berkembang dan penuh kejutan. Saya sangat terkesan dengan bagaimana penulis menggambarkan perasaan masing-masing karakter — rasa sakit, rindu, dendam, dan cinta tulus yang tak pernah padam. Cynthia adalah wanita yang sangat kuat, dan Aloy adalah bukti bahwa pria baik hati memang ada. Bagaimana dengan kalian? Bagian mana yang paling membuat kalian tak sabar menanti kelanjutan ceritanya? Yuk bagikan pendapatmu di kolom komentar! 👇✨
pineapple
semangat kak, kalo berkenan ku tunggu kunjungan nya hehe
Sefin Eka Ramana Putri: ok kak. siap. terima kasih sudah mampir. ntar saya balik berkunjung ke novel kak ya..😊🙏
total 1 replies
Dini
jangan lupa mampir dan komentar di karyaku #Tanah_Luka_dan_Persahabatan
Sefin Eka Ramana Putri: ok kak. siap
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!