"Setiap orang punya satu nama dari masa SMA yang tak pernah benar-benar hilang." Ini adalah suara kejujuran Satria untuk sosok di masa lalunya—tentang rahasia di balik seragam putih-abu-abu, luka yang mendewasakan, dan keberanian melepaskan demi cinta yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Putra Satria Hsb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1- Hari Pertama...
Hari ini adalah hari pertama resmi masuk sekolah. Akhirnya, kami bisa menyelesaikan masa-masa orientasi siswa yang menurutku sangat membosankan. Namaku Satria Putra, tetapi teman-teman lebih sering memanggilku Satria.
Di hari pertama ini, seluruh siswa baru dikumpulkan di lapangan untuk mendengarkan pengumuman pembagian kelas. Nama demi nama dipanggil satu per satu. Namun, alangkah terkejutnya aku ketika namaku disebut masuk ke kelas X IPA 2—salah satu kelas unggulan di sekolah ini. Sungguh di luar dugaan. Jika diingat-ingat, semasa SMP dulu, jangankan masuk sepuluh besar, masuk peringkat lima belas besar saja aku tidak pernah.
Saat melangkah masuk ke ruang kelas, aku bisa melihat isi ruangan ini didominasi oleh anak-anak jenius dan kutu buku. Sangat bertolak belakang dengan kepribadianku yang tidak bisa diam. Aku menoleh ke kiri dan ke kanan, lalu mataku menangkap sosok Diko yang ternyata satu kelas denganku. Tanpa pikir panjang, aku langsung memanggilnya.
"Woy, Diko!" panggilku penuh semangat.
"Lah, kau kelas ini juga?" Diko menatapku dengan raut heran.
"Iya, Ko. Aku saja bingung kok bisa masuk kelas ini," jawabku jujur.
"Gimana kalau kita duduk satu meja saja?" ajakku penuh harapan.
Diko adalah anak yang cukup pintar. Aku mengenalnya sejak SMP. Dia orang yang baik, meskipun terkadang cukup keras kepala.
"Oke, enaknya kita duduk di sebelah mana?" sahut Diko menyetujui.
*Yes! Ada tempat contekan,* sorak batinku kegirangan.
"Bagaimana kalau di sebelah sana, Ko? Baris kedua dari depan dekat jendela, biar nanti tidak kepanasan," usulku.
"Ide bagus, Satria," jawab Diko.
---
Setelah pembagian kelas selesai, kami diizinkan pulang. Aku pun bergegas kembali ke rumah. Jarak antara sekolah dan rumahku cukup jauh, kira-kira lima kilometer.
"Assalamualaikum, Satria pulang," sapaku begitu melangkahkan kaki ke dalam rumah.
"Waalaikumsalam, masuk," jawab Papa dari ruang tengah. Beliau sedang menonton televisi.
"Gak kerja, Pa?" tanyaku.
"Libur," jawab Papa singkat.
"Gimana sekolahmu tadi?" tanya Mama yang menyusul dari arah dapur dengan rasa penasaran.
"Cuma pembagian kelas, Ma. Tapi Satria masuk kelas X IPA 2. Kayaknya Satria gak bakal kuat, deh... mau pindah kelas IPS saja kalau bisa," keluhku.
Papa yang mendengar keluhanku langsung menyeletuk dengan nada sedikit tinggi. Beliau kurang suka mendengar sikap menyerahku.
"Kamu ini belum dicoba sudah mengeluh! Dijalani saja dulu. Kamu kan laki-laki, harus berani mengambil tantangan. Belum dicoba kok sudah mau menyerah? IPA itu penting kalau kamu nanti mau jadi dokter atau cita-cita lain yang mewajibkan lulusan IPA. Kamu pasti bisa!" sahut Papa menceramahiku.
"Iya, Pa, nanti Satria jalani dulu. Sekarang Satria mau mandi dan istirahat dulu, ya," balasku pasrah.
---
Selesai mandi, bayangan seorang siswi yang tadi sempat berada di dekat kami tiba-tiba melintas di pikiranku. Parasnya cukup manis, badannya tidak terlalu tinggi, memiliki lesung pipi, dan bentuk bibir yang sangat indah.
*Ah, kenapa aku memikirkannya, ya? Dia dulu sekolah di mana, ya? Apakah dia satu kelas dengan kami?* gumamku dalam hati sambil melamunkan sosok tersebut.
Rasa penasaran yang makin memuncak membuatku tidak tahan. Tanpa pikir panjang, aku langsung menelepon Diko.
"Ko, kamu lagi di mana?" tanyaku begitu sambungan terhubung.
"Lagi di rumah," jawabnya.
"Aku mau main ke rumahmu, kamu lagi sibuk tidak?"
"Tidak, aku lagi main PS," jawab Diko santai.
"Wah, pas sekali! Aku ke rumahmu sekarang, ya!" seruku penuh semangat.
Diko tinggal di kampung yang tidak jauh dari rumahku. Sejak SMP aku memang sering main ke rumahnya, jadi aku sudah cukup akrab dengan kedua orang tuanya. Aku segera mengeluarkan sepeda motor, berpamitan kepada orang tua, dan langsung meluncur.
Sesampainya di rumah Diko, aku berdiri di depan gerbang.
"Ko... Diko... Assalamualaikum!" panggilku. Namun, tidak ada sahutan.
"Ko... Diko... Assalamualaikum, permisi!" ulagku dengan rasa kesal yang mulai naik.
*Mana orang ini? Gak disuruh masuk atau bagaimana? Sialan juga si Diko,* gerutuku dalam hati.
Tiba-tiba pintu rumah terbuka. Diko muncul dengan muka tanpa dosa, memasang senyum tidak jelas seolah tak merasa bersalah sedikit pun.
"Eh, ada Satria. Sudah lamakah? Kok tidak memanggil? Panas, lo, di luar," kata Diko santai.
"Anjay, kepalamu gak memanggil! Hampir dikira orang gila aku karena berteriak-teriak tidak jelas!" balasku emosi.
"Sorry, sorry... Masuk, masuk. Mau minum apa?" tanyanya menyeringai.
"Terserah, tapi kalau bisa yang dingin," jawabku yang masih agak jengkel.
Di dalam rumah, aku berpapasan dengan Mama Diko dan langsung menyapa serta bersalaman santai dengannya.
"Satria, kamu satu kelas ya sama Diko?" tanya Mama Diko.
"Iya, Tante. Satu kelas dan kami duduk berdua," balasku sopan.
"Baguslah kalau begitu. Yang akur dan saling bantu nanti, ya."
"Siap, Tante. Kalau Satria pasti bantu Diko... tapi tidak tahu kalau Diko mau bantu Satria atau tidak, apalagi kalau Satria tidak buat PR atau tidak paham tugas, Diko mau menyonteki atau tidak, hahaha," candaku.
Mama Diko pun tertawa mendengar celotehanku.
---
Aku dan Diko lalu ke kamar untuk bermain PS2. Di sela-sela permainan, aku mulai memancing obrolan tentang sosok perempuan yang kulihat di sekolah tadi. Aku berusaha menjelaskan ciri-cirinya sedetail mungkin.
"Siapa, ya? Kok aku tidak melihat siswi yang kau sebutkan ciri-cirinya itu?" Diko ikut penasaran.
Kami terus bermain PS, tetapi pikiranku tetap tidak fokus. Bayangan siswi itu terus berputar-putar di kepalaku. Rasa penasaran yang memuncak membuat permainanku makin kacau. Ini bukan sekadar rasa suka biasa—rasanya beda, jauh lebih dalam dari itu.
Selesai bermain PS, kakek Diko datang mengajak Diko pergi ke kebun di belakang rumah. Meskipun sudah tua, kakek Diko masih sangat gagah dan memiliki semangat muda yang luar biasa. Daripada bosan di rumah, aku memutuskan untuk ikut ke kebun.
Ini pertama kalinya aku pergi ke kebun Diko. Jaraknya tidak terlalu jauh dan kebunnya cukup luas, ditanami pisang dan buah pepaya—atau yang di tempat kami biasa disebut buah kates. Tanpa menunggu instruksi, aku dan Diko langsung mengambil peralatan untuk membersihkan rumput liar serta menebang pohon pisang yang sudah tidak produktif. Kakek Diko sangat gesit bekerja.
Tak lama kemudian, langit berubah mendung dan angin bertiup kencang. Hujan deras akan segera turun. Kami bergegas membereskan peralatan dan berlari pulang.
Sesampainya di rumah Diko, hujan turun dengan sangat lebat. Niatku untuk langsung pulang terhalang cuaca. Mama Diko melarangku pulang menerobos hujan dan membuatkan kami pisang goreng hangat hasil dari kebun tadi.
Sambil menunggu pisang goreng matang, kami membuka kembali lembaran daftar nama siswa-siswi yang satu kelas dengan kami. Kami memperhatikan nama itu satu per satu, mencoba mencocokkan dengan sosok perempuan tadi.
Hingga mata kami tertuju pada satu nama: **NARA**.
Nama itu terasa sangat asing di telinga kami.
*Nara? Apakah dulu dia satu SMP dengan kami? Ah, tidak mungkin, dulu tidak ada yang bernama Nara. Atau dia dari SMP lain? Tapi aku belum pernah melihat wajahnya sekalipun... Nara... Siapa sebenarnya Nara?*
Pertanyaan itu terus berputar di kepalaku. Apakah aku menyukainya? Ah, tidak mungkin seseorang menyukai orang lain hanya dalam sekali pandang. Mungkin ini hanya rasa penasaranku pada sosok asing yang baru kulihat. Lagi pula, kalaupun aku menyukainya, mana mungkin dia menyukai cowok seperti aku.
Mengingat momen itu rasanya sangat lucu. Anak ingusan kelas 10 yang baru merasakan getaran cinta pertama—mencintai seseorang bahkan sebelum mengetahui namanya, mencintai seseorang tanpa mengenal siapa dirinya.
Tetapi, perasaan kali ini sungguh berbeda. Ini bukan sekadar kekaguman biasa seperti saat SMP. Inilah cinta pertama. Dan suara dari setiap lembar cerita ini, memang kudedikasikan penuh untuk dia.