Terancam Drop Out karena masa studi yang di ujung tanduk, Ruby menyusul Bara --dosen pembimbingnya hingga ke pelosok desa tempat pria itu melakukan penelitian. Misinya hanya satu, acc skripsi demi menyelamatkan masa depannya.
Sebuah kesalahpahaman konyol membuat mereka dituduh melanggar adat setempat. Tanpa opsi untuk bernegosiasi, Ruby dan Bara dipaksa menikah. Dalam semalam, status Ruby berbalik 180 derajat: dari mahasiswa abadi, menjadi istri sah sang dosen.
Kejutannya tak berhenti di situ. Bara bukan sekadar dosen senior dan dingin, dia adalah duda beranak dua dan salah satu anak Bara penyandang disabilitas.
"Satu dosen dingin, plus bonus dua krucil. Mirip promo beli satu dapat tiga.”
Ruby mendongak, menatap Bara yang menatapnya. "Jadi, ibu tiri! Siapa takut? Lagipula, menghadapi bab empat Pak Bara aja saya bertahan, apalagi cuma ngadepin mereka berdua!"
“Mas, panggil saya mas Bara.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perhatian Bara
Bab 9
Ruby ingin tergelak karena permintaan Bara. Pernah merasakan berpacaran saat SMA, tidak ada panggilan sayang. Sekarang dia berada di tengah hubungan halal dengan Bara dan suaminya itu ingin dipanggil mas. Berusaha menahan agar tidak memuntahkan tawa, apalagi ada duo bocil dengan wajah polos masih menatapnya.
Ia berdehem lalu melirik anak-anak. “Baik, mas Bara,” ucap Ruby sengaja dengan pelan dan penuh tekanan mengejek Bara. “Kalian sudah makan siang, pasti sudah ya. Ini ‘kan udah sore,” ujar Ruby. Bu Siti mengambil alih tas bekal Adly dan Jelita dan membawa ke dapur.
“Sudah,” jawab Adly.
Jelita masih memandang Ruby tidak berkedip.
“Hei, cantik, kenapa melamun.” Ruby mengusap pipi Jelita yang menggeleng.
“Kalian ke kamar, istirahat,” titah Bara.
Jelita dan Adly patuh, meninggalkan pasangan itu. Meski Jelita sempat menengok ke belakang.
“Istirahat ya, kalian pasti lelah. Nanti kita ngobrol lagi,” ujar Ruby sambil melambaikan tangan. Senyum di wajahnya perlahan hilang menyaksikan sendiri bagaimana Adly berjalan.
“Mas Bara, tunggu aku.” Ruby mengejar langkah Bara menaiki tangga. “Mas! Nggak cocok. Paling pas panggil bapak atau om. Om Barata.” Ruby terkikik. “Ada lagi yang lebih cocok. Daddy, daddy Bara.” Ruby makin tergelak puas menjahili suami juga dosen yang terkenal dingin di kampus. “Berasa jadi sugar babynya daddy Bara.” Tidak sadar kalau mereka sudah sampai depan kamar.
Bara membuka pintu lalu menarik Ruby masuk, menghimpit tubuh gadis itu di belakang pintu. Kedua tangan mengungkung di samping kepala.
“Pak … Bara,” ucap Ruby lirih sambil menelan saliva mengatasi rasa takutnya. Tawanya sudah menguap entah kemana. Saat wajah Bara mendekat mengikis jarak.
“Kenapa gugup? Mau coba peran sugar baby dan sugar daddy?”
“Apaan sih, bercanda doang kali.”
“Ruby, dengar! Jangan pernah panggil saya bapak di depan anak-anak dan jangan memancing kesabaran saya, karena saya bisa nekat.”
Ruby mendorong dada Bara agar menjauh. “Mancing apaan? Mana ada saya mancing. Pak Bara aja yang baper.” Ruby menatap sekeliling kamar Bara. “Ini kamar kita? Terus saya tidur di mana, ranjangnya cuma satu.”
“Menurut kamu?” Bara menuju walk in closet dan Ruby kembali mengekor langkahnya.
“Gak ngerti, saya nggak pernah share kamar sama orang lain. Apalagi sama duda.”
Bara berhenti mendadak, Ruby menabrak punggung kekar pria itu.
“Ya ampun, amblas hidung saya. Ini aset pak, salah satu modal saya kerja. Nggak estetik kalau hidung saya berubah arah.” Ruby mengusap hidungnya dengan wajah cemberut. Bara sudah berbalik dan berdiri berhadapan. “Itu punggung apa pagar beton sih, keras amat.”
Bara tidak komentar meski ia ingin bertanya kondisi Ruby.
“Jadi, saya tidur di ranjang, Pak Bara tidur di sofa. Gitu ‘kan?”
Tidak menjawab, Bara malah bersedekap sambil menatap Ruby.
“Diam berarti deal, oke.”
“Siapa bilang saya oke. Pembagiannya malam ini saya dibawah kamu diatas, besok sebaliknya. Begitu saja, lebih adil.”
Ruby melirik sinis dan berdecak. “Saya tau maksud nya ya. Gini nih ngomong sama duda kelamaman, bikin merinding kayak dideketin setan.”
Dari pada menanggapi malah emosi jiwa, Bara menuju walk in closet. Ruby masih mengekor langkahnya.
“Nanti saya tambahkan lemari di sini untuk keperluan kamu. Sisa barang bisa disimpan di ruangan lain,” jelas bara lalu menunjuk koper dan tas yang tadi dibawa bibi ke kamar itu. “Bereskan pakaian kamu. Gunakan lemari yang ada.”
“Nanti ….” Ruby mengerang sambil memegang perutnya. Menahan sakit sambil menggigit bibir.
“Ruby, kamu … sakit?”
“Perut saya, sa-kit,” sahut Ruby lirih, tangan kirinya mencengkram lengan sang suami.
Bara mendekat, mendapati gadis itu serius kesakitan. Jelas bukan drama, ada titik-titik keringat di dahinya. Merangkul Ruby keluar dari walk in closet lalu mendudukkannya di ranjang.
“Sering begini?”
Alih-alih menjawab, malah Ruby memejamkan mata sambil meringis. Meski hubungan mereka belum baik, bukan berarti tidak ada sisi kemanusiaan. Bara membaringkan Ruby ke atas kasur dan melepas alas kaki gadis itu.
Demi apa, Barata lepas sepatu gue. Harusnya gue foto terus tempel di masing kampus. Pasti heboh, batin Ruby tapi hanya bisa diam karena menahan nyeri.
“Sakitnya gimana?”
“Sepertinya maag saya kumat.”
“Maag?”
Ruby mengangguk. “Tadi pagi saya belum sempat sarapan. Tadi siang nggak selera, berasa kayak lagi di sidang orang tua bapak.”
Bara menghela nafas. Oke, Ruby ada keluhan dengan pencernaan. “Ada obat yang biasa kamu minum? Harusnya kamu lebih aware, punya maag tapi telat makan.”
Ruby membalik badan memunggungi Bara. “Saya sakit pak. Jangan dinasehati terus, lagi nggak butuh ceramah. Butuhnya dijam4h.”
“Ruby, jangan panggil saya bapak," tegur Bara lalu menarik selimut menyelimuti sampai pinggang, tidak ingin senewen sendiri mendapati kedua kaki menggoda milik istrinya. Apalagi ujung dress yang tersingkap memperlihatkan lagi putih dan mulusnya kedua pah4 di baliknya.
Terdengar ketukan pintu. Bara menoleh, meninggalkan sejenak istrinya. Membuka pintu kamar, Jelita berdiri di sana.
***
Jelita mendatangi kamar Adly, membuka pintu tanpa mengetuknya.
“Yang sopan, Ta. Kalau aku lagi ganti baju, gimana coba?”
“Tapi kita saudara bang, nggak pa-pa kali. Lagian masih kecil juga.” Jelita langsung menuju ranjang dan duduk di sana.
Adly berjalan tertatih menuju meja belajar. Membuka buku pelajaran dan menghidupkan tabletnya.
“Abang!”
“Kenapa?”
“Aku nggak nyangka istri papi masih muda, mana cantik banget. Kirain dapat wanita yang sudah seumuran papi, jutek dan galak. Kayaknya … dia nggak gitu ya. Kok bisa ya, dia mau sama papi yang udah punya kita.”
Adly menghela nafas mendengar ocehan adiknya. “Kamu gimana, sih. Semalam ngeluh, takut ibu tiri kita sudah tua dan jelek. Sekarang ngeluh lagi, kenapa mau sama papi. Itu urusan orang dewasa Ta, nggak usah ikut campur.”
“Ck, namanya juga khawatir. Tapi.” Jelita turun dari ranjang, menghampiri Adly dan berdiri di sampingnya. “Mana tahu kelihatannya aja cantik, taunya galak, judes.”
“Ta, aku ada tugas kamu keluar gih. Ganggu aja!”
“Ck, tugas apaan. Paling buka medsos, lihat akun teman abang yang cewek.”
“Sok, tahu.”
“Abang, aku penasaran!”
“Aku, nggak.”
“Ih, terus gimana?”
“Kamu temui aja, ajak bicara dan buktikan sendiri. Baik atau galak seperti pikiran kamu.”
“Hm, iya, ya!”
Jelita meninggalkan kamar Adly menuju lantai dua dimana kamar sang papi berada. Mengetuk pintu kamar dan tidak lama terbuka.
“Pih,” ucap bocah itu sambil berusaha melihat ke dalam kamar, mengintip dari kiri dan kanan tubuh sang papi.
Bara melangkah keluar lalu menutup pintu kamar. “Ada apa?”
“Ih, papi. Tante Ruby mana?”
“Di dalam. Ada masalah?”
Jelita bersedekap memanyunkan bibirnya. “Kami harus panggil apa ke beliau. Masa tante? Mana orang percaya kalau dia ibu tiri aku dan abang.”
“Masalah itu … bicarakan nanti. Terserah kalian, papi tidak memaksa panggilan apapun, selama itu sopan.”
“Aku mau bertemu tante Ruby.” Jelita sudah memegang handle pintu, tapi ditahan oleh Bara.
“Nanti saja, beliau sedang tidak sehat.”
“Masa pih? Tadi baik-baik saja, kalian habis ngapain?” Jelita memicingkan matanya.
Bara mengusap wajah. Demi apa, dia baru menyadari kalau sikap Ruby yang cerewet seperti putrinya. Mengarahkan Jelita agar kembali ke kamarnya dan bicara setelah Ruby lebih baik.
“Orang dewasa sangat aneh. Mereka sedang apa sih,” gumam Jelita.
Terus jadi kompor mleduk bwt Bara Meldy 💪
Awas ya kamu .....🤭