Indonesia
NovelToon NovelToon
TAKDIR CINTA SANG CEO DINGIN

TAKDIR CINTA SANG CEO DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Penyelamat
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: achmad abdur roufur rokhim

Arga Danendra, CEO muda pemegang kendali kerajaan bisnis terbesar, memiliki hati sedingin es. Dikhianati dan dicampakkan oleh wanita yang sangat dicintainya di masa lalu saat ia belum bergelimang harta, Arga kini memandang sinis semua wanita. Baginya, mereka hanyalah makhluk serakah yang memuja kekayaan.

​Namun, takdir berkata lain ketika sebuah insiden penyerangan memaksanya bersembunyi di permukiman pinggiran kota. Dalam kondisi terluka parah dan kehilangan memori sementaranya, ia diselamatkan oleh Senja Kirana, gadis yatim piatu yang hidup miskin namun memiliki senyum secerah matahari. Tanpa memandang status atau harta, Senja merawat pria asing itu dengan tulus dan penuh kasih sayang. Kepolosan, keluguan, dan kehangatan Senja perlahan meruntuhkan dinding es di hati Arga, mengembalikan warna hidupnya yang telah lama sirna.

​Ketika ingatan Arga kembali dan mantan kekasihnya muncul lagi demi mengincar posisi nyonya besar, sang CEO muda bersumpah akan menggunakan seluruh kekuasaannya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon achmad abdur roufur rokhim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Pelukan Pembenaran dan Badai Keadilan Sang Raja

​Di dalam rumah kontrakan berukuran tiga kali empat meter itu, udara seolah membeku.

​Panggilan telepon dari Raka baru saja diputus, namun aura gelap yang mematikan masih pekat menguar dari tubuh Arga Danendra. Tangan besarnya mencengkeram ponsel satelit itu begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih, nyaris meremukkan benda berlapis logam titanium tersebut. Mata elangnya yang biasanya tenang, kini berkilat oleh kobaran api neraka yang siap menghanguskan apa saja.

​Mereka mengusirnya. Mereka membuat bidadariku menangis.

​Kata-kata Raka terus berdengung di telinga Arga, berulang-ulang seperti mantra kutukan. Di dunia ini, tidak ada satu orang pun yang berani meninggikan suara di hadapan Arga Danendra, apalagi menuduhnya melakukan hal hina. Namun hari ini, sekumpulan semut di sebuah kedai roti pinggiran berani menuduh, memfitnah, dan menghancurkan harga diri satu-satunya wanita yang Arga tempatkan di singgasana hatinya.

​Arga memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam untuk menekan insting membunuhnya yang nyaris lepas kendali. Ia tidak boleh lepas kendali di sini. Jika ia menghancurkan kedai itu dengan tangannya sendiri, identitasnya akan terbongkar. Ia harus menunggu Senja pulang. Ia harus menjadi rumah yang aman bagi gadis itu terlebih dahulu.

​Setengah jam kemudian, terdengar suara langkah kaki yang diseret dari arah luar gang.

​Arga segera menyembunyikan ponselnya dan duduk di atas kasur, mengubah postur tubuhnya yang mengintimidasi menjadi postur seorang pria yang sedang bersandar santai.

​Pintu kayu jati itu terbuka perlahan.

​Senja Kirana melangkah masuk. Penampilannya sangat memprihatinkan. Rambutnya yang diikat ekor kuda tampak berantakan. Seragam cokelatnya kusut, dan wajahnya tertunduk dalam-dalam, berusaha disembunyikan di balik poni rambutnya. Gadis itu tidak mengucapkan salam ceria seperti biasanya. Ia berjalan gontai, meletakkan tas kainnya di atas meja, dan langsung berbalik menuju area dapur kecil, membelakangi Arga.

​"Kau pulang cepat hari ini," tegur Arga pelan, memecah keheningan. Nada suaranya dibuat selembut dan sehangat mungkin.

​Tubuh Senja tersentak kaget. Bahu kecilnya menegang.

​"I-Iya, Kak..." jawab Senja dengan suara parau dan bergetar, mati-matian menahan isakan. "T-Tiba-tiba bahan adonan habis, jadi... jadi kedai tutup lebih awal."

​Gadis itu sedang berbohong, dan ia berbohong dengan sangat buruk. Senja mengambil panci kecil, berpura-pura sibuk mencucinya, namun tangan gadis itu gemetar hebat hingga panci itu tergelincir dari tangannya dan jatuh berdebum ke lantai semen.

​Senja berjongkok untuk mengambil panci itu, namun alih-alih berdiri kembali, ia justru memeluk lututnya di lantai dapur. Pertahanannya runtuh. Isakan tangis yang sedari tadi ia tahan di sepanjang jalan pulang, akhirnya pecah. Suara tangisannya sangat memilukan, terdengar seperti suara anak burung yang sayapnya patah dan dibuang dari sarangnya.

​Arga tidak bisa menunggu sedetik pun lebih lama. Ia bangkit dari kasurnya, mengabaikan rasa nyeri yang masih tersisa di pinggangnya, dan melangkah lebar menghampiri Senja.

​Ia ikut berjongkok di belakang gadis itu, melingkarkan kedua lengan besarnya yang kokoh, merengkuh tubuh mungil yang sedang bergetar hebat itu dari belakang, dan menyandarkan punggung Senja ke dada bidangnya.

​"Ssst... aku di sini," bisik Arga tepat di telinga Senja. "Tidak perlu berbohong padaku, Senja. Katakan padaku, siapa yang telah melukaimu?"

​Mendengar suara bariton yang begitu melindungi itu, tangisan Senja semakin menjadi-jadi. Ia memutar tubuhnya, membalas pelukan Arga, menenggelamkan wajahnya di dada pria itu, membasahi kemeja putih Arga dengan air mata kesedihan dan keputusasaannya.

​"K-Kak Arga... mereka memecatku... mereka bilang aku pencuri..." isak Senja terputus-putus, suaranya nyaris habis. "Ada uang yang hilang... dan mereka menemukannya di dalam tasku. Tapi aku berani bersumpah, Kak! Aku tidak pernah menyentuh uang itu! Aku tidak tahu bagaimana uang itu bisa ada di tasku! Tapi tidak ada yang mau mendengarkanku... Semua orang menatapku dengan jijik... Mereka bilang aku mencurinya untuk membayar utang rentenir..."

​Senja mencengkeram kemeja Arga dengan putus asa, mendongak menatap mata elang pria itu dengan sisa-sisa air mata yang mengalir deras. Ketakutan terbesar Senja saat ini bukanlah kehilangan pekerjaan, melainkan ketakutan bahwa pria di depannya ini akan ikut meragukannya.

​"Kak Arga... percayalah padaku... aku bukan pencuri... aku tidak mengambilnya..." mohon Senja pilu.

​Arga menatap bola mata yang membengkak itu. Rasa sakit yang merobek dadanya saat ini jauh lebih mematikan daripada tikaman pisau musuh mana pun.

​Tanpa ragu sedikit pun, tanpa bertanya lebih jauh, dan tanpa meminta bukti apa pun, Arga menangkup kedua pipi Senja dengan tangan besarnya. Ia menatap gadis itu dengan tatapan absolut yang mengunci jiwa.

​"Aku percaya padamu," ucap Arga dengan suara yang sangat mantap dan tak terbantahkan.

​Senja tertegun. "K-Kakak... tidak meragukanku? Bahkan saat semua bukti memberatkanku?"

​Arga tersenyum tipis, sebuah senyuman yang memancarkan keyakinan mutlak. Ia mengusap air mata di pipi Senja dengan ibu jarinya. "Di mataku, kau adalah gadis yang rela membagi satu-satunya telur rebus milikmu untuk orang asing. Gadis yang hatinya lebih berharga dari seluruh emas dan berlian di dunia ini. Jadi, mana mungkin bidadariku ini merendahkan dirinya sendiri dengan mencuri uang recehan dari sebuah kedai?"

​Kata-kata 'aku percaya padamu' dan 'bidadariku' itu menghantam relung hati Senja dengan kekuatan yang menyembuhkan. Saat seluruh dunia memunggunginya dan menuduhnya sebagai penjahat, pria yang tidak memiliki apa-apa ini justru menjadi satu-satunya orang yang berdiri membelanya tanpa syarat.

​Senja kembali memeluk Arga dengan erat, menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher pria itu, menangis untuk melepaskan segala sesak di dadanya. Namun kali ini, itu adalah tangisan kelegaan. Ia merasa aman. Selama Arga memercayainya, ia merasa bisa menghadapi dunia sekejam apa pun.

​Sementara ia membiarkan Senja menangis di pelukannya, wajah Arga yang bersandar di puncak kepala gadis itu berubah menjadi seringai iblis yang mematikan. Matanya menatap tajam ke arah dinding semen, seolah bisa menembus ruang dan waktu langsung menuju ke kedai roti tersebut.

​Menangislah sepuasmu di sini, Sayang. Karena mulai detik ini, aku akan memastikan orang-orang yang membuatmu meneteskan air mata ini akan menangis darah hingga mereka memohon kematian pada Tuhan.

​Di balik punggung Senja, sebelah tangan Arga merogoh ponselnya, menekan satu tombol yang langsung mengirimkan sinyal perintah eksekusi kepada Raka yang sudah stand by di lokasi.

​Permainan sesungguhnya baru saja dimulai.

​Sementara itu, di Kedai Roti Harum Manis.

​Siska sedang berdiri di balik meja kasir sambil memoles lipstik merah menyala di bibirnya. Senyum kemenangan tak pernah lepas dari wajahnya sejak satu jam yang lalu, usai Senja diusir dari kedai. Para pelanggan yang bergosip tadi sudah pulang, kedai kini kembali sepi, hanya menyisakan beberapa pelanggan yang sedang duduk memakan roti di meja sudut.

​Pak Yanto duduk di ruang kerjanya dengan wajah murung, menyesali kejadian hari ini namun merasa ia telah melakukan hal yang benar demi menjaga reputasi bisnisnya.

​Tiba-tiba, suara decit rem yang sangat keras dari luar mengejutkan semua orang.

​Tiga buah SUV hitam pekat sekelas Mercedes-Benz G-Class—mobil mewah yang harganya puluhan miliar dan sama sekali tidak cocok berada di distrik kumuh ini—berhenti memblokir seluruh area parkir depan kedai.

​Pintu-pintu mobil terbuka serentak. Belasan pria bertubuh tegap, mengenakan setelan jas hitam formal dan kacamata hitam, turun dan langsung menyebar. Beberapa dari mereka menutup pintu depan kedai secara paksa, membalikkan papan nama menjadi 'CLOSED', dan mengunci akses keluar masuk. Pelanggan yang ada di dalam kedai berteriak panik, namun para pria berjas itu menyuruh mereka diam dengan tatapan mengancam.

​"H-Hei! Apa-apaan ini?! Siapa kalian?!" teriak Siska panik, kemoceng di tangannya jatuh ke lantai.

​Pak Yanto yang mendengar keributan langsung berlari keluar dari ruang kerjanya. Wajah tuanya memucat pasi melihat kedainya dikepung oleh orang-orang yang tampak seperti mafia kelas atas.

​"Tuan-tuan... ada masalah apa ini? Ini tempat usaha yang sah!" seru Pak Yanto gemetar.

​Dari balik kerumunan pria berjas hitam itu, melangkahlah seorang pria tinggi dan tampan, dengan aura arogan yang sangat kental. Pria itu sudah berganti pakaian. Ia tidak lagi mengenakan hoodie usang seperti semalam, melainkan setelan jas Armani berwarna navy dengan kemeja kerah terbuka tanpa dasi. Senyum miring yang sangat dingin dan merendahkan tersungging di bibirnya.

​Itu adalah Raka Narendra. Tangan kanan sang Raja Iblis.

​"Tempat usaha yang sah?" Raka mengulang perkataan Pak Yanto dengan nada geli, seolah ia baru saja mendengar lelucon konyol. Ia berjalan santai menyusuri etalase roti, mengambil sepotong roti manis, mengendusnya sedikit, lalu membuangnya ke lantai seolah itu adalah sampah.

​Raka berhenti tepat di depan Pak Yanto. Ia merogoh saku jas bagian dalamnya, mengeluarkan sebuah dokumen legal dengan segel emas, dan melemparkannya ke atas dada Pak Yanto hingga pria tua itu harus menangkapnya dengan panik.

​"Baca baik-baik, Pak Tua. Mulai jam sepuluh pagi tadi, seluruh sertifikat tanah, bangunan, dan hak paten Kedai Harum Manis ini telah dibeli secara tunai oleh perusahaan kami," ucap Raka dengan suara bariton yang menggema di seluruh kedai. "Artinya, aku adalah perwakilan dari pemilik baru tempat ini. Dan sebagai pemilik baru, kami memiliki hak untuk melakukan 'audit menyeluruh' terhadap kinerja karyawan yang... mengecewakan."

​Mata Pak Yanto membelalak ngeri saat melihat logo perusahaan yang tercetak di kertas itu. Walaupun itu nama perusahaan cangkang, stempel notaris dan bukti transfer bernilai miliaran rupiah yang terlampir di sana sangat nyata. Kedai ini memang sudah bukan miliknya lagi secara hukum.

​Siska yang berdiri di kasir mulai berkeringat dingin. Firasat buruk merayapi tengkuknya.

​"A-Audit?" tanya Pak Yanto dengan bibir bergetar. "Tapi kinerja kedai ini sangat baik, Tuan. Pendapatan kami selalu—"

​"Tutup mulutmu," potong Raka tajam, senyum gelinya lenyap seketika, digantikan oleh aura membunuh yang ia pelajari dari Arga. "Kinerja baik? Kau menyebut memecat karyawan yang tidak bersalah dan mempermalukannya di depan umum sebagai 'kinerja baik'?"

​Deg!

​Jantung Siska seakan jatuh ke perutnya.

​Raka menoleh dengan lambat, matanya yang sedingin es menusuk tepat ke arah Siska yang kini berdiri gemetar mematung di balik mesin kasir.

​"Kau," Raka menunjuk Siska dengan dagunya. "Wanita ular bernama Siska. Kemarilah."

​"S-Saya tidak mengerti maksud Tuan," elak Siska, suaranya bergetar hebat. Ia memaksakan diri tersenyum manis, mencoba menggunakan pesonanya. "Jika yang Tuan maksud adalah Senja... gadis itu memang ketahuan mencuri uang sepuluh juta dari laci bos hari ini. Kami punya bukti—"

​"Bukti?" Raka tertawa hambar, suara tawanya sangat menakutkan. Ia menjentikkan jarinya sekali ke udara.

​Salah satu anak buah Raka yang membawa sebuah koper perak segera melangkah maju. Pria itu membuka koper tersebut, yang ternyata berisi perangkat komputer mini super canggih. Ia menyambungkan sebuah kabel ke layar televisi layar datar yang biasanya digunakan Pak Yanto untuk memutar menu kedai di atas meja kasir.

​"Kalian pikir," Raka mulai berjalan mondar-mandir dengan gaya aristokrat yang mematikan, "saat perusahaan kami membeli aset ini pagi tadi, kami tidak melakukan pengamanan? Jam setengah sebelas siang tadi, sebelum Pak Yanto pergi ke bank, tim intelijen kami telah meretas seluruh jaringan CCTV di jalan ini, termasuk CCTV keamanan di dalam ruang kerja ini yang kalian pikir sudah rusak."

​Mendengar kata CCTV, wajah Siska seketika berubah menjadi seputih mayat. Kakinya lemas hingga ia harus berpegangan pada pinggiran meja kasir agar tidak ambruk.

​"Putar rekamannya," perintah Raka tanpa emosi.

​Layar televisi itu berkedip sesaat, sebelum akhirnya menampilkan rekaman video berkualitas High Definition (HD) yang sangat jernih. Bahkan sudut kamera itu diperbesar dan distabilkan oleh teknologi militer milik Danendra Group.

​Di layar tersebut, tampak jelas waktu menunjukkan pukul 12.15 siang. Terlihat sosok Siska yang mengendap-endap masuk ke ruang kerja Pak Yanto, menarik laci meja, mengambil amplop cokelat tebal itu, lalu tersenyum licik. Kamera kemudian beralih ke sudut lain, merekam Siska yang menyelinap ke pintu gudang tepung, membuka tas kain usang milik Senja, dan memasukkan amplop itu ke dasarnya, lalu menutupinya kembali dengan syal.

​Semuanya terekam dengan sempurna, tak terbantahkan, dan diputar di depan semua orang di kedai itu, termasuk pelanggan yang masih tertahan di sana.

​"T-Tidak... i-itu editan! Itu pasti rekayasa!" jerit Siska histeris, menunjuk layar itu dengan jari gemetar.

​Raka mendengus jijik. Ia melangkah mendekati Siska, menatap wanita itu dengan tatapan merendahkan seolah sedang melihat kotoran di sol sepatunya.

​"Bermain kotor dengan menjebak orang lain, lalu berteriak paling keras menuduh mereka pencuri. Kau sungguh spesies manusia terendah yang pernah kutemui," desis Raka.

​Pak Yanto, yang sejak tadi menatap layar itu dengan mulut setengah terbuka, akhirnya sadar akan apa yang telah terjadi. Kakinya lemas, ia jatuh terduduk di kursi pelanggannya. Hatinya hancur berkeping-keping menyadari bahwa ia baru saja memecat, menghina, dan membuang anak gadis yang sama sekali tidak bersalah, hanya karena ia termakan oleh skenario licik Siska.

​"Siska... kau..." suara Pak Yanto bergetar oleh amarah dan penyesalan yang luar biasa. "Berani-beraninya kau melakukan hal sekeji ini pada Senja?! Anak itu tidak pernah menyakitimu!"

​"Dia merebut semuanya dari saya, Pak!" teriak Siska kalap, air matanya mulai luntur merusak riasan tebalnya. "Sejak anak yatim sialan itu datang, Bapak dan semua pelanggan selalu memujinya! Saya muak melihat wajah sok sucinya!"

​Plak!

​Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Siska, bukan dari Raka, melainkan dari salah satu pelanggan ibu-ibu yang tadi pagi ikut termakan gosip, namun kini merasa sangat malu dan marah karena telah dimanipulasi.

​"Dasar wanita iblis! Tega-teganya kau menjebak anak yatim yang sedang kesusahan!" maki ibu itu.

​Raka mengangkat tangannya, mengisyaratkan keributan itu untuk berhenti. Ia tidak punya waktu meladeni drama opera sabun kampung ini. Bos besarnya sedang menunggu laporannya di rumah kontrakan sana.

​[Pesan Tersembunyi untuk Pembaca:]

(Ada sebuah hukum mutlak di alam semesta ini: Kebenaran bisa disembunyikan, bisa ditutupi, dan bisa diputarbalikkan, namun ia tidak akan pernah bisa dihancurkan. Orang yang menggunakan fitnah dan kebohongan untuk menjatuhkan orang lain pada hakikatnya sedang menggali kuburannya sendiri.

​Siska mengira dengan menghancurkan Senja, ia akan bersinar lebih terang. Namun ia lupa, cahaya yang didapat dari mencuri pelita orang lain tidak akan bertahan lama, dan saat angin keadilan bertiup, orang yang bermain dalam kegelapan akan terbakar oleh apinya sendiri. Jadilah seperti Senja, yang meskipun jatuh dan direndahkan, hatinya tetap bersih, karena pada akhirnya, tangan tak kasat mata dari takdir akan selalu membela mereka yang benar.)

​"Cukup," suara Raka kembali mengambil alih dominasi ruangan. Ia menatap Siska yang sedang memegangi pipinya yang memerah.

​"Siska, mulai detik ini kau dipecat dengan tidak hormat. Tapi jangan berpikir kau bisa keluar dari pintu itu dan mencari pekerjaan di tempat lain," Raka tersenyum miring, senyum yang menjanjikan kehancuran masa depan. "Aku telah memerintahkan anak buahku untuk memasukkan namamu ke dalam daftar hitam (blacklist) seluruh perusahaan dan pelaku bisnis di negara ini. Bahkan untuk menjadi tukang cuci piring di warung tenda pinggir jalan pun, tidak akan ada yang mau menerimamu."

​Mata Siska membelalak lebar. Teror sesungguhnya baru saja dimulai. Ia tidak hanya kehilangan pekerjaan, ia kehilangan masa depannya.

​"Dan itu belum selesai," tambah Raka. Ia melirik ke arah pintu kedai.

​Di luar sana, sirine polisi terdengar meraung-raung. Dua mobil patroli polisi baru saja tiba, dipanggil khusus oleh orang-orang Danendra Group dengan jalur VIP.

​"Kau akan dituntut atas pasal pencurian uang perusahaan—karena niat awalmu adalah mengambil uang itu—serta pasal pencemaran nama baik berlapis. Kau akan membusuk di sel tahanan, dan tidak akan ada satu pengacara pun di kota ini yang berani membelamu, karena aku yang melarangnya."

​Siska jatuh berlutut, menangis meraung-raung dan memohon ampun, mencoba memeluk kaki Raka. Namun anak buah Raka dengan sigap menendang wanita itu menjauh, sebelum akhirnya polisi masuk dan menyeret Siska keluar dari kedai bagaikan menyeret seekor anjing kurap. Segala jerit dan tangisannya sama sekali tidak digubris. Pemandangan itu adalah karma instan yang paling brutal dan memuaskan.

​Setelah Siska diseret masuk ke dalam mobil polisi, Raka beralih menatap Pak Yanto yang masih gemetar di kursinya.

​"T-Tuan..." Pak Yanto menundukkan kepalanya dalam-dalam, menangis menyesali kebodohannya. "Saya pantas dihukum. Saya terlalu buta dan bodoh karena telah menuduh Senja... Saya telah menghancurkan hati anak yang sangat baik..."

​Raka menatap pria tua itu. Arga telah memerintahkannya untuk tidak memecat Pak Yanto, karena Arga tahu Senja menyayangi pria tua ini layaknya sosok seorang ayah.

​"Penyesalanmu tidak ada artinya jika kau hanya menangis di sini, Pak Tua," ucap Raka dingin. "Bosku, sang pemilik baru, memberimu satu kesempatan terakhir."

​Pak Yanto buru-buru mendongak. "A-Apa pun itu, Tuan! Saya akan melakukannya!"

​"Datang ke rumah Senja malam ini. Bawa bukti rekaman ini padanya. Sujudlah di hadapannya, mohon ampun padanya secara langsung, dan bawa dia kembali bekerja di tempat ini. Bersihkan namanya di depan semua orang di distrik ini. Jika kau gagal membawa Senja kembali bekerja sambil tersenyum..."

​Raka mencondongkan wajahnya, aura 'Bayangan Iblis'-nya menguar pekat.

​"...aku jamin, kedai ini akan kuratakan dengan bulldozer esok pagi, dan kau akan tidur di jalanan seumur hidupmu."

​Pak Yanto mengangguk kuat-kuat, air matanya terus mengalir. "S-Saya mengerti, Tuan! Saya akan memohon ampun padanya! Saya akan mengembalikan nama baiknya!"

​Raka menegakkan tubuhnya, merapikan kerah jas mahalnya. Tugasnya di sini sudah selesai. Sang Ratu telah dibersihkan namanya, dan para pengkhianat telah dihukum.

​Ia membalikkan badan, melangkah keluar kedai dikawal oleh belasan pria berjas hitam, meninggalkan para pelanggan yang masih membeku ketakutan. Raka masuk ke dalam SUV mewahnya, mengeluarkan ponsel satelitnya, dan mengirimkan satu pesan singkat ke nomor rahasia Arga.

​Target dilumpuhkan. Nama baik Nyonya telah dibersihkan. Manajer kedai sedang dalam perjalanan menuju lokasimu untuk berlutut.

​Kembali ke rumah kontrakan Senja.

​Tangisan Senja telah mereda, menyisakan isakan-isakan kecil. Ia masih berada di dalam pelukan Arga, menempelkan telinganya di dada bidang pria itu, mendengarkan detak jantung Arga yang berdentum stabil dan menenangkan.

​Di atas kepala Senja, ponsel Arga bergetar pelan. Sang CEO melirik layar ponselnya sekilas, membaca pesan dari Raka.

​Senyum tipis yang sarat akan dominasi absolut kembali terukir di bibir Arga.

​Arga melepaskan pelukannya perlahan, namun kedua tangannya tetap bertengger di bahu Senja. Ia menatap mata gadis itu yang masih sembap dan merah. Ia mengusap pipi Senja dengan ibu jarinya, memberikan kehangatan yang membuat Senja merasa terlindungi sepenuhnya.

​"Berhentilah menangis, Bidadari," ucap Arga dengan suara baritonnya yang paling lembut, seolah pria ini tidak pernah memerintahkan kehancuran masa depan seseorang lima menit yang lalu.

​"Tapi Kak... nama baikku..." Senja menunduk sedih. "Semua orang di kedai mengira aku maling. Pak Yanto sangat membenciku. Aku kehilangan pekerjaanku..."

​Arga mengangkat dagu Senja, memaksa gadis itu menatap matanya.

​"Dengar, Senja. Kebenaran memiliki jalannya sendiri untuk mencari cahaya. Bahkan ketika seluruh dunia berusaha menguburnya dalam kegelapan, kebenaran akan selalu menang," bisik Arga, kalimat yang diucapkannya bagaikan sebuah ramalan pasti.

​"Kau tidak akan kehilangan apa pun. Percayalah padaku. Aku punya firasat, sebentar lagi akan ada seseorang yang datang mengetuk pintu ini untuk memohon maaf padamu."

​Senja mengerutkan kening dengan sisa isakannya. "Memohon maaf? Tidak mungkin, Kak. Tidak ada yang—"

​TOK! TOK! TOK!

​Belum sempat Senja menyelesaikan kalimatnya, suara ketukan panik dan tergesa-gesa terdengar dari arah pintu luar.

​"Senja! Senja, Nak! Buka pintunya! Ini Bapak!"

​Suara Pak Yanto yang serak, panik, dan dipenuhi isak tangis penyesalan terdengar jelas dari balik pintu kayu jati tersebut, menembus keheningan senja hari itu.

​Mata Senja membelalak lebar, tak percaya dengan pendengarannya sendiri. Ia menoleh menatap pintu, lalu kembali menatap Arga dengan pandangan takjub.

​Arga membalas tatapan itu dengan senyum kecil yang sangat tenang. Ia menganggukkan kepalanya perlahan ke arah pintu.

​"Pergilah buka pintunya, Senja," ucap Arga pelan. "Dunia baru saja menyadari kesalahannya padamu."

​Malam itu, roda takdir kembali berputar sesuai dengan keinginan Sang Raja. Dan untuk pertama kalinya, Senja mulai menyadari bahwa di balik pesona rapuh pria amnesia yang ia rawat ini, tersimpan sebuah keajaiban besar yang selalu berhasil melindunginya dari segala badai kehidupan.

1
𝐀⃝🥀Weny
kira² apa yang mau dilakukan Natasya ya🤔
𝐀⃝🥀Weny: astaga /Facepalm//Facepalm//Facepalm/ sebelumnya kuracuun dirimu🤣🤣😜😜
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
aduuuh... mama Rini gangguin aja, kan Arga sudah menahan diri lama😜😜😜😜🤣🤣🤣
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
terkadang luka yg ditorehkan masa lalu tidak bisa hilang begitu saja... jadi kamu harus bersabar senja dan bangunlah kepercayaan kembali untuk Arga 😊
𝐀⃝🥀Weny
Alhamdulillah.. mamanya Arga gak kayak orang kaya yg jahat🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
ya pastinya kamu Raka 🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
akhirnya senja sudah memaafkan Arga... semoga Arga tidak membuat ulah lagi 😅🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
mungkin permintaan senja, kalau memang Arga mencintainya jangan pernah ikut campur urusannya.. biarlah waktu mengalir sebagaimana mestinya...
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ren₂₄🏡s⃝ᴿ M⃟3💋
mampir
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: 😍😍😍🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
hempaskan saja si hama itu, bikin sakit mata saja😅😅😅
𝐀⃝🥀Weny: /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 4 replies
𝐀⃝🥀Weny
demi mengejar cinta, apa saja akan ku lalui ... ahaaaay🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
heemmm.. padahal cinta, kenapa gengsi😅🤣🤣🤣jangan pantang menyerah Arga, kejarlah trs😄
𝐀⃝🥀Weny
wah bakalan seru nih, si Natasha juga sudah balik dan mau menemui Arga 😄 aduh senja, meskipun kamu menyamar gak bakalan bisa lari dari Arga Karena dia punya insting yang bagus🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny: preeeett 😜
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
larilah sejauh yang kamu mau senja, tapi ingatlah sejauh apa pun kamu lari.. pasti ditemukan juga sama Arga.. kecuali yang membantumu lari itu musuhnya Arga 😅🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny: asek aseeeek... cinta palsu🤣🤣🤣😜
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
sudah dikasih kebebasan sesuai keinginan kenapa gak langsung keluar😅 sekarang menyesalkan, tadi aja sok²an gak mau😏🤣🤣🤣
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 3 replies
𝐀⃝🥀Weny
sejatinya kebahagiaan tidak di ukur dengan harta, tapi nek gak punya harta Yo meh ngenesss/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: ooooooooooooooo
total 5 replies
𝐀⃝🥀Weny
terkadang yg di butuhkan bukan kemewahan, melainkan sederhanaan dan kedamaian 🥰
𝐀⃝🥀Weny
sebuah kekuasaan memang pemenangnya 🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny: 😪😪😪😪😪
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
tuhkan... senja kecewa😅 harusnya sebelum pergi tu alasan kalau ingatanya sudah pulih, gak langsung pergi gitu aja😪🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
mungkinkah Arga pura² tidak kenal senja untuk mengelabuhi musuh soal kelemahannnya🤔
𝐀⃝🥀Weny
kasihan senja ditinggal gitu aja😪 bersabarlah senja, suatu saat nanti kamu pasti tau kebenaran tentang Arga😅😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!