Indonesia
NovelToon NovelToon
Sistem Dewa Hoki : Aku Bukan Pembawa Sial

Sistem Dewa Hoki : Aku Bukan Pembawa Sial

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Sistem
Popularitas:10.2k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Selama bertahun-tahun, Akbar dicap sebagai pembawa sial oleh seluruh warga kampung, bahkan disalahkan atas kecelakaan tragis yang merenggut nyawa kedua orang tuanya. Kelelahan dengan hidup yang penuh penderitaan dan cemoohan, Akbar memutuskan untuk mengakhiri segalanya dengan melompat dari atas jembatan. Namun, tepat sebelum tubuhnya jatuh, sebuah layar hologram mendadak muncul dan memberinya "Sistem Dewa Hoki". Kini, berbekal keberuntungan absolut dari sistem tersebut, Akbar siap membalikkan keadaan, membungkam mulut orang-orang yang merendahkannya, dan membongkar rahasia kelam di balik kematian orang tuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Dia memarkir motornya agak jauh di balik pohon beringin besar dekat balai desa.

Suasana proyek pembangunan itu terlihat sangat sepi, para pekerja masih tertidur pulas di dalam tenda mereka.

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mengendap-endap dari arah gang sempit di samping Warung Bu Tejo.

Dua orang pria berjaket hitam terlihat berjalan menunduk sambil menenteng dua jerigen biru besar.

Mereka adalah dua preman suruhan Haris yang baru saja tiba di lokasi target.

"Itu tumpukan kayu dan semennya, kita siram bensinnya di sana saja biar apinya cepat menyebar," bisik preman keriting.

"Oke, ayo cepat lari ke sana sebelum ada warga ronda yang lewat," balas temannya.

Mereka berdua langsung berlari pelan menuju tumpukan material yang hanya berjarak sepuluh meter dari mereka.

Namun hal gila dan sangat tidak masuk akal tiba-tiba terjadi tepat di depan hidung mereka.

Brakkk. Bukkk.

Kedua preman itu menabrak sesuatu yang sangat keras dan kokoh hingga mereka terpental ke belakang.

"Aduh hidungku! Sialan, siapa yang menaruh kaca transparan tebal di tengah jalan begini!" umpat preman keriting sambil memegangi hidungnya yang berdarah.

"Kaca apanya bodoh, tidak ada apa-apa di depan kita ini," jawab temannya kebingungan meraba-raba udara kosong.

Namun tangan temannya itu juga terhenti di udara, tertahan oleh sebuah permukaan rata yang keras tapi sama sekali tidak terlihat oleh mata.

Mereka berdua saling berpandangan dengan wajah pucat pasi dan bulu kuduk yang mendadak merinding hebat.

"Ini... ini tembok apa? Kenapa tidak kelihatan tapi keras banget seperti beton?" suara preman keriting mulai bergetar panik.

"Jangan-jangan tanah ini ada penunggunya, ayo kita putar cari jalan dari arah samping sana," usul temannya mulai ketakutan.

Mereka berdua berlari memutar ke arah kanan menuju celah di antara gundukan pasir dan tiang besi.

Brakkk.

Mereka kembali menabrak udara kosong yang keras hingga dahi mereka benjol kemerahan.

"Sial! Di sini juga ada tembok gaibnya!" teriak preman itu mulai histeris dan membuang jerigen bensinnya ke tanah.

Akbar yang menonton dari balik pohon beringin hanya menyeringai lebar menikmati kebodohan dua manusia itu.

Mereka terus mencoba mencari celah masuk dari berbagai arah, tapi hasilnya selalu sama, menabrak tembok gaib hingga memar-memar.

Rasa takut pada hantu perlahan menguasai akal sehat mereka, apalagi suasana malam desa memang sangat sepi dan mistis.

"Sudahlah kita lari saja! Uang bos Haris tidak sebanding kalau kita mati dicekik hantu penunggu tanah ini!" teriak preman keriting menangis ketakutan.

Mereka berdua membalikkan badan berniat kabur meninggalkan jerigen bensin mereka begitu saja.

Tapi tepat saat mereka berbalik, sosok Akbar sudah berdiri tegap bersedekap dada tepat sepuluh langkah di depan mereka.

Lampu jalanan kuning menyorot wajah Akbar dari samping, membuat sorot matanya terlihat seperti malaikat maut.

"Kalian mau pergi ke mana malam-malam begini bawa bensin?" sapa Akbar dengan suara datar dan menggema.

Kedua preman itu langsung menjerit kaget nyaris pingsan melihat kemunculan Akbar yang mendadak tanpa suara.

"Ampun Bang Akbar! Kami cuma disuruh Bos Haris, kami tidak ada niat jahat!" sujud preman keriting itu di atas aspal sambil menangis.

"Disuruh membakar material tokoku ya?" tebak Akbar pura-pura menebak padahal dia sudah tahu semuanya.

"I... iya Bang, Bos Haris suruh kami bakar semuanya pakai dua jerigen bensin itu," jujur temannya tanpa berani berbohong sedikit pun.

"Kami mohon jangan bunuh kami Bang, kami cuma kroco suruhan yang lagi butuh uang buat makan."

Akbar berjalan santai mendekati dua jerigen biru yang tergeletak di tanah itu dan menendangnya pelan.

"Kalian berdua dengarkan baik-baik, aku tidak akan memukul atau membunuh kalian malam ini," ucap Akbar tenang.

Kedua preman itu langsung mengangkat kepala mereka dengan wajah penuh harap dan kelegaan.

"Tapi sebagai gantinya, kalian ambil kedua jerigen bensin ini sekarang juga."

Akbar menatap mata kedua preman itu dengan tajam menembus jiwa mereka.

"Bawa bensin ini kembali ke gubuk bos kalian si Haris itu."

"Lalu siram bensin ini ke gubuknya dan nyalakan apinya saat dia sedang tidur mabuk di dalam sana."

Mata kedua preman itu langsung membelalak sempurna mendengar perintah balik yang sangat kejam dan gila tersebut.

Menyuruh mereka membakar bos mereka sendiri hidup-hidup adalah hal yang tidak pernah terpikirkan oleh otak preman kampung mereka.

"Ta... tapi Bang Akbar, kalau dia mati terbakar kami bisa ditangkap polisi pasal pembunuhan berencana," tolak preman keriting gemetar hebat.

"Sistem, aktifkan sisa durasi Cincin Negosiasi Mutlak sekarang," perintah Akbar di dalam kepalanya.

[Cincin Negosiasi Mutlak telah diaktifkan kembali. Durasi tersisa: 10 menit.]

Wush.

Gelombang aura dominasi mutlak yang sangat pekat kembali memancar dari cincin perak di jari telunjuk Akbar.

Aura itu langsung menghantam mental kedua preman itu hingga mereka merasa sedang dihakimi oleh seorang raja lalim.

Rasa takut ditangkap polisi mendadak sirna digantikan oleh rasa takut mutlak pada pemuda di depan mereka ini.

"Lakukan apa yang aku perintahkan, atau kalian berdua tidak akan pernah melihat matahari terbit besok pagi," ancam Akbar dengan senyum psikopat.

"Pilihan ada di tangan kalian, bakar gubuk itu sekarang atau tembok gaib ini akan meremukkan tulang kalian malam ini juga."

Tekanan mental dari cincin itu benar-benar menghapus sisa logika manusia normal di otak mereka.

Mereka berdua buru-buru mengambil kembali jerigen bensin itu dengan tangan gemetar parah.

"Ba... baik Bang Akbar! Kami akan bakar gubuk bos Haris sekarang juga!" jawab mereka serempak layaknya robot yang diprogram.

Mereka langsung berlari kocar-kacir menuju motor mereka dan memacunya gila-gilaan kembali ke desa sebelah.

Akbar menonaktifkan cincin dan ilusi tembok gaibnya perlahan, tersenyum puas melihat hasil karyanya.

Bermain pikiran dengan preman bermental tempe jauh lebih menyenangkan daripada harus mengotori tangannya sendiri.

Haris yang sudah berniat jahat membakar tokonya harus menerima bayaran setimpal dengan dibakar oleh senjatanya sendiri.

Ding.

Suara lonceng mekanis berbunyi sangat nyaring di dalam kepala Akbar.

[Selamat! Tuan telah berhasil menghancurkan ancaman monopoli bisnis terakhir di wilayah ini dengan sangat cerdas.]

[Karma fatal telah dikembalikan kepada pengirimnya dengan bunga seratus persen.]

[Misi Utama berhasil diselesaikan dengan hasil luar biasa memuaskan!]

[Sistem memberikan penghargaan sebesar 200 Poin Hoki.]

[Tuan mendapatkan Hadiah Utama: Satu Kotak Item Misteri Kelas Emas.]

Mata Akbar berbinar terang benderang membaca tulisan emas yang melayang di depan matanya di tengah gelapnya malam.

Dua ratus poin hoki adalah jumlah yang sangat besar, cukup untuk memborong banyak barang di toko kelas perak nanti.

Tapi yang paling membuatnya penasaran setengah mati adalah Kotak Item Misteri Kelas Emas tersebut.

Barang kelas perak saja sudah bisa membengkokkan akal sehat, apalagi barang kelas emas.

"Sistem, simpan kotak emas itu dulu di inventaris, aku akan membukanya besok pagi saat kepalaku sudah segar," perintah Akbar bijak.

[Permintaan diterima. Kotak Item Misteri Kelas Emas tersimpan aman di inventaris spasial Tuan.]

Akbar kembali berjalan menuju motornya yang diparkir di balik pohon beringin.

Dia memacu motornya pulang menuju kontrakannya dengan hati yang luar biasa ringan dan lega.

Di kejauhan arah barat, tepatnya di desa tetangga tempat Haris tinggal, kepulan asap hitam tebal dan kobaran api merah menyala mulai terlihat membakar langit malam.

Dua preman suruhan Haris ternyata benar-benar melaksanakan perintah mutlak Akbar tanpa berani membantah sedikit pun.

Malam ini adalah malam terakhir nama Juragan Haris terdengar di kecamatan ini.

Esok pagi, matahari akan terbit menyinari fondasi baru dari toko raksasa milik penguasa sejati yang baru, Akbar.

Perjalanannya telah resmi berakhir dengan kemenangan telak tanpa ada satu pun luka di tubuhnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!