Indonesia
NovelToon NovelToon
Rahasia Yang Ditinggalkannya

Rahasia Yang Ditinggalkannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikah Kontrak / Diam-Diam Cinta
Popularitas:385
Nilai: 5
Nama Author: Momowen

Dia kehilangan segalanya dalam sekejap.
Kecelakaan merenggut nyawa pria yang paling mencintainya, meninggalkan hanya rekaman suara terakhir...yang tiba-tiba menghilang.

Di balik air mata dan luka, Silvia Pliis menemukan rahasia besar yang tidak pernah dia ketahui dari pria yang mencintainya.

Antara cinta yang tak sempat tersampaikan, persahabatan yang setia, dan intrik keluarga penuh ambisi...ia harus memilih:
Tetap jadi gadis polos yang dilindungi, atau membuka pintu menuju kebenaran yang akan menghancurkan segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Momowen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kunci tembaga

Silvia menatap kunci yang ada di hadapannya. Jemarinya perlahan menyentuh permukaan logam yang terasa dingin, “Terima kasih, Kek.”

Theodore tersenyum, “Selama ini Kakek selalu berpikir, suatu hari nanti ketika kalian sudah berkeluarga, Kakek yang sudah tua ini juga bisa pergi tanpa penyesalan.”

Ia tersenyum getir, “Sayangnya...rencana manusia tetap tidak akan pernah bisa mengalahkan takdir.”

Silvia meletakkan telapak tangannya di punggung Theodore dan menepuknya perlahan, “Kek, kalau Chris tahu Kakek sampai memaksakan tubuh seperti ini, dia pasti akan marah.”

Theodore baru saja hendak menjawab ketika tiba-tiba ia terbatuk pelan beberapa kali. Ia mengangkat tangan menutup mulut. Raut lelah melintas di antara kedua alisnya.

Mr. Albert segera menghampirinya dan menopang lengannya, “Tuan, dokter sudah bilang Anda harus lebih banyak beristirahat.”

Silvia ikut membantu menopang Theodore hingga lelaki tua itu perlahan kembali ke kamarnya. Ia mengganggam tangan keriput sang kakek dengan lembut.

Theodore menatapnya, “Silvia, mau tinggal untuk makan malam barengan?”

Silvia menundukkan kepala. Tangannya tetap patuh berada di dalam telapak tangan Theodore, “Kek, malam ini keluarga Pollis mengadakan makan malam keluarga...mungkin aku tidak bisa menemani Kakek pada malam ini.”

Theodore terdiam sejenak, “Pergilah. Bagaimana keadaannya nanti, ingatlah satu hal. Pintu keluarga Devallion akan selalu terbuka untukmu.”

Silvia membungkuk dalam-dalam kepada Theodore sebelum perlahan meninggalkan kamar. Namun, ketika sampai di ambang pintu, ia tidak kuasa menahan diri untuk menoleh sekali lagi.

Theodore sudah bersandar di kursinya sambil memejamkan mata. Rambut putih di pelipisnya tampak semakin tua di bawah cahaya matahari yang masuk melalui jendela.

Senja perlahan turun, langit di ufuk barat berubah menjadi perpaduan jingga lembut dan ungu kemerahan.

Silvia berdiri di depan rumah keluarga Pollis, lampu ruang tamu sudah menyala. Dari balik jendela besar, ia bisa melihat orang-orang di dalam sedang berbincang dan menikmati teh. Cahaya lampu yang hangat membuat suasana di dalam terlihat begitu nyaman.

Silvia hanya berdiri diam di bawah bayang-bayang pohon. Itu seharusnya adalah rumahnya. Namun, entah sejak kapan...Tidak pernah ada tempat lagi untuknya di sana.

Ia tidak tahu sudah berapa lama berdiri di sana ketika pintu utama keluarga Pollis akhirnya terbuka perlahan. Nelia menjadi orang pertama yang melihat Silvia berdiri termenung di luar.

“Sil, kamu sudah pulang.” Nelia langsung berlari menghampirinya tanpa alas kaki. Ia mendekatkan wajah ke telinga Silvia dan berbisik, “Akhirnya ada yang menyelematkanku.”

Silvia mendorong kepala Nelia yang terlalu dekat dengan wajahnya, “Jangan dekat-dekat. Baju parfummu terlalu menyengat.”

Nelia menunduk dan mencium bagian lengannya sendiri, alisnya langsung berkerut, “Benar juga...aku ketempelan parfum ibumu.”

Tanpa berpikir panjang, ia langsung melepas jaket yang tersampir di bahunya dan melemparkannya ke tempat sampah di dekat pintu, “Silvia sudah pulang.”

Meliana menyambutnya sambil tersenyum. Namun, senyum itu hanya berhenti di bibir. Tidak pernah benar-benar mencapai matanya.

Di sampingnya, Wendy meletakkan cangkir teh lalu perlahan berdiri. Ia menggenggam tangan Silvia dengan penuh keakraban, “Silvia, nanti duduk di mobil Tante aja ya? Sudah lama sekali kita tidak minum teh bersamaan.”

“Tentu, tentu.” Meliana langsung menyambung dengan penuh semangat, “Tante Wendy sudah jarang sekali mengajakmu. Silvia, jangan sampai membuatnya menunggu.”

Silvia menatap Wendy dengan lembut, “Tante Wendy.”

“Iya.” Wendy mencubit pipi Silvia yang terlihat sedikit lebih kurus. Tatapan matanya dipenuhi rasa iba.

Sementara itu, Victor hanya melirik Kelvin sekilas. Bahkan basa-basi pun ia tidak berminat melakukannya. Ia langsung berjalan menghampiri Wendy dan melembutkan suaranya, “Silvia. Ayok, jangan buang-buang waktu lagi.”

Victor melirik jam tangannya, jarum jam perlahan menunjuk pukul enam.

Mobil sedan hitam perlahan melaju memasuki jalan yang dinaungi pepohonan. Pohon-pohon di sepanjang jalan terus bergerak mundur di balik jendela.

Silvia duduk di antara Nelia dan Wendy. Wendy terus menggenggam tangan Silvia, matanya dipenuhi rasa iba. Ia perlahan menyingkirkan helaian rambut dari pipi Silvia, “Silvia, akhir-akhir ini kamu tidak makan dengan baik, ya? Kamu kelihatannya semakin kurus.”

Silvia membalas genggaman tangan Wendy, “Tante Wendy, aku tidak apa-apa kok.”

“Hmph.” Victor yang duduk di kursi penumpang depan langsung mendengus tidak puas, “Ibumu itu juga aneh. Anaknya sudah kelihatan begitu kurus dan pucat, yang dipikirkannya masih saja keuntungan keluarga.”

“Victor!” Wendy menegurnya dengan suara rendah.

Vincent barulah menundukkan kepala dengan kesal. Ia bergumam pelan, “Seisi keluarga itu kalau bukan mengisap darah orang, memangnya bisa apa lagi?”

Wendy hanya menghela napas.

“Kamu juga, Nelia!” Victor tiba-tiba mengalihkan pembicaraannya, “Apa bagusnya Kelvin itu? Sampai sekarang Ayah masih tidak mengerti. Dia memang tampan, tapi apalagi yang dia punyai?”

Nelia mengerucutkan bibirnya, “Emangnya tampan saja tidak cukup....?” Ia bergumam pelan, “Bukankah dulu Ayah dan Ibu juga menikah karena wajah Ayah?”

Wendy langsung menundukkan kepala dengan malu. Ia kemudian melotot tajam kepada suaminya, “Pernikahan dua keluarga ini juga terjadi karena kamu yang menyetujuinya.”

“Aku menyetujuinya karena menghormati Tuan Pollis...kalau bukan karena dia...” Victor baru mengucapkan setengah kalimat...seketika teringat sesuatu. Suaranya mendadak terhenti.

Suasana di mobil menjadi sunyi.

Wendy menggenggam tangan Silvia sedikit lebih erat.

Mobil sedan hitam itu perlahan memasuki gerbang Imperial Capital Hotel.

Kelvin berdiri tegak di depan pintu masuk hotel. Tatapannya tertuju pada Nelia yang duduk di balik jendela mobil. Sudut bibir Nelia perlahan terangkat, tatapan matanya berkali-kali jatuh kepada Kelvin.

Bahkan sebelum turun dari mobil, senyum di wajahnya sudah tidak bisa disembunyikan lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!