Dibuang oleh darah dagingnya sendiri hanya karena ia terlahir tidak sempurna.
Haruka tumbuh tanpa pelukan orangtua, tanpa tempat pulang. Dunia memandangnya sebelah mata... dihina, direndahkan, dianggap beban yang tak pantas hidup layak. Tapi di tengah semua penolakan itu, ada satu orang yang tak pernah melepaskannya: seorang nenek tua, satu-satunya yang mau memeluknya tanpa syarat.
Dari pelukan itulah tekad Haruka lahir. Ia bangkit, merangkak sejengkal demi sejengkal dari titik terendah, bukan untuk balas dendam, tapi untuk membuktikan satu hal: gadis cacat yang dulu mereka buang, kini akan berdiri lebih tinggi dari siapa pun yang pernah meremehkannya.
Akankah Haruka berhasil membungkam semua yang pernah menghinanya? Atau luka masa lalu akan terus menariknya kembali ke titik nol?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ditolak
Balai desa pagi itu dipenuhi warga yang duduk berjejalan di atas tikar plastik yang digelar memenuhi lantai semen. Suara obrolan riuh bercampur dengan tangisan anak-anak kecil yang dibawa orangtuanya, menciptakan keramaian yang jarang terjadi di desa sekecil itu. Angin pagi berembus pelan lewat jendela-jendela kayu yang terbuka lebar, membawa aroma tanah basah sisa hujan semalam.
Di bagian depan, Pak Kades Slamet berdiri tegak mengenakan kemeja batik kebanggaannya. Sementara di sampingnya, Bu Inah duduk di kursi kayu sambil menggendong bayi mungil yang masih terbungkus kain flanel pemberian Nek Lasmi. Bayi itu tertidur pulas, tak menyadari bahwa nasibnya sedang dipertaruhkan di hadapan seluruh warga desa.
"Baik, Bapak-Bapak, Ibu-Ibu sekalian," Pak Kades membuka suara, tangannya mengetuk mikrofon usang beberapa kali sebelum akhirnya berfungsi. "Terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk berkumpul pagi ini. Seperti yang mungkin sudah banyak yang dengar, semalam Nek Lasmi menemukan seorang bayi perempuan di teras rumah kosong dekat perbatasan desa."
Gumaman warga langsung memenuhi ruangan, saling berbisik satu sama lain.
"Bayi ini ditinggalkan begitu saja oleh orangtuanya, entah siapa, kita tidak tahu," lanjut Pak Kades, suaranya menegas. "Dan sebagaimana yang bisa Bapak-Ibu lihat sendiri, kondisi kakinya juga tidak sempurna."
Bu Inah perlahan membuka sedikit kain yang membungkus kaki bayi itu, memperlihatkan kepada warga yang duduk di deretan depan. Beberapa ibu-ibu terdengar berdecak kasihan, sementara yang lain hanya menggeleng-gelengkan kepala.
"Karena itu, saya mengumpulkan Bapak-Ibu semua pagi ini," Pak Kades melanjutkan, "untuk mencari siapa di antara warga kita yang bersedia mengasuh bayi ini. Kasihan kalau dibiarkan tanpa keluarga."
Hening. Seluruh balai desa mendadak sunyi, hanya suara kipas angin tua di sudut ruangan yang berputar berdecit-decit. Tak ada satu pun tangan yang terangkat.
Pak Kades menyapukan pandangan ke seluruh ruangan, lalu matanya berhenti pada seorang pria berperawakan gemuk yang duduk di kursi paling depan, mengenakan cincin emas besar di jarinya. "Pak Hartono, bagaimana kalau Bapak? Rumah Bapak besar, rezeki juga lebih dari cukup."
Pak Hartono buru-buru menggeleng, wajahnya kikuk. "Waduh, maaf Pak Kades. Saya sama istri lagi sibuk urus perkebunan sama proyek di kota. Nggak ada waktu buat ngurus bayi, apalagi yang... begitu kondisinya."
Beberapa warga saling melirik mendengar jawaban itu, namun tak ada yang berkomentar.
Pak Kades menghela napas, lalu beralih ke pasangan muda yang duduk di deretan tengah. "Pak Yanto, Bu Sri, kalian kan sudah lama menikah tapi belum dikaruniai anak. Mungkin ini jalan rezeki dari Tuhan?"
Bu Sri menunduk, menggenggam erat tangan suaminya. "Maaf sekali, Pak Kades, kami sebenarnya juga sangat ingin punya anak. Tapi kondisi ekonomi kami belum siap, apalagi kalau anaknya butuh perawatan khusus. Kami sendiri masih ngontrak."
Pak Yanto mengangguk membenarkan, wajahnya menunduk penuh sesal.
Pak Kades kembali mencoba menawarkan ke beberapa warga lain. Bu Marni yang punya warung sembako, Pak Slamet si tukang ojek, bahkan Bu Ratna yang dikenal dermawan di desa itu. Namun jawaban yang didapat sama saja... penolakan demi penolakan, dengan berbagai alasan yang terdengar masuk akal namun tetap menyisakan kekecewaan di udara.
Suasana mulai memanas ketika salah seorang warga, Pak Dodi, berdiri dengan wajah kesal. "Kalau semua nolak, terus gimana, Pak Kades? Masa Bapak sendiri yang minta orang lain rawat, tapi Bapak nggak mau ambil tanggung jawab juga?"
Pak Kades tergagap sejenak, wajahnya memerah antara malu dan salah tingkah. "Saya... saya juga sebenarnya ingin, Pak Dodi. Tapi istri saya baru saja melahirkan bayi kembar minggu lalu. Kondisinya masih repot sekali, belum lagi kalau harus tambah satu lagi."
Pak Dodi mendengus, namun tak melanjutkan protesnya, hanya duduk kembali dengan wajah kecewa.
Di antara kerumunan itu, Nek Lasmi duduk di barisan belakang, memperhatikan semuanya dengan hati yang semakin teriris. Ia menatap bayi mungil yang masih tertidur di gendongan Bu Inah, tak menyadari bahwa dirinya sedang ditolak oleh satu desa.
Dibuang oleh orangtuanya sendiri, dan kini bahkan orang-orang yang seharusnya menolong pun enggan mengulurkan tangan.
"Anak itu sudah cukup malang," gumam Nek Lasmi pelan, lebih kepada dirinya sendiri, sebelum akhirnya ia bangkit berdiri, menopang tubuhnya yang renta dengan tongkat kayu.
"Saya saja yang rawat," suaranya lantang menembus keheningan ruangan, membuat semua mata beralih kepadanya.
Pak Kades tampak terkejut, begitu pula warga lainnya. "Nek Lasmi? Yakin, Nek? Maaf sebelumnya, tapi... kondisi Nenek kan sudah sepuh, tinggal sendirian pula. Belum lagi soal biaya hidup, Nenek kan hanya jualan peyek."
"Betul, Nek," salah seorang warga menimpali. "Kasihan Nenek juga kalau harus ngurus bayi di usia segini. Apalagi bayinya butuh perhatian ekstra."
Nek Lasmi menatap mereka satu per satu, matanya berkaca-kaca namun sorotnya tegas. "Kalau saya dilarang, terus siapa yang mau rawat anak ini? Dari tadi Pak Kades tawarkan ke semua orang, semua nolak. Sekarang giliran saya yang mau, malah dilarang juga. Jadi maunya bagaimana?"
Ruangan kembali sunyi. Tak ada satu pun yang berani menjawab, termasuk Pak Kades yang hanya menunduk, tak mampu membalas pertanyaan yang menohok itu.
Dengan langkah pelan namun mantap, Nek Lasmi berjalan maju ke depan ruangan, mendekati Bu Inah yang masih menggendong si bayi. Perlahan, ia mengulurkan kedua tangannya.
"Sini, biar Nenek gendong," ucapnya lembut, mengambil alih bayi itu dari pelukan Bu Inah dengan hati-hati, seolah bayi itu adalah benda paling berharga di dunia.
Ia mendekap bayi mungil itu erat-erat ke dadanya, menatap wajah kecil yang masih terlelap dengan tatapan penuh kasih yang tak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun sejak kematian suaminya bertahun-tahun silam.
"Mulai sekarang," Nek Lasmi berkata lantang, menatap seluruh warga yang hadir, "anak ini jadi tanggung jawab saya. Kalian semua saksinya."
Tak ada yang membantah lagi. Satu per satu warga mengangguk, sebagian karena lega tak perlu menanggung beban itu sendiri, sebagian lagi karena tersentuh oleh ketulusan wanita tua itu. Pak Kades pun akhirnya mengangguk setuju, menyudahi pertemuan pagi itu dengan perasaan campur aduk antara lega dan malu.
Nek Lasmi berjalan pulang menembus terik matahari yang mulai meninggi, mendekap bayi itu sepanjang perjalanan seakan tak ingin melepaskannya barang sedetik pun. Sesampainya di gubuk reyotnya, ia duduk di dipan kayu, menatap wajah mungil yang perlahan membuka mata, menatapnya dengan polos.
"Haruna," gumam Nek Lasmi pelan, mencoba nama itu di lidahnya. "Namamu Haruna ya, Nak. Mulai sekarang kamu cucu Nenek. Nenek janji, selama Nenek masih bisa bernapas, Nenek akan jaga kamu, rawat kamu, sayangi kamu... sampai akhir hayat Nenek."
Di luar, matahari pagi menyinari gubuk reyot itu dengan hangat, seolah alam semesta pun turut merestui janji yang baru saja terucap, janji seorang nenek tua miskin yang memilih mencintai tanpa syarat, ketika dunia memilih untuk berpaling.
aq GX bakal bosen buat ngucapin kata tu ,,
disaat org yg sempurna byk yg malas2aan ,, Krn merasa punya hidup yg serba berkecukupan ,,
malah menyia2kan hidup muda ny ,,
sedangkan km yg punya kekurangan tdk prnh menyrut kan semangat mu ,,
nenek mu pasti bangga melihat mu dari atas sana haruna ,,
tau2 keliatan ny sembuh seperti biasa ,, yx pertanda kalo tu kondisi sementara sebelum mereka pergii ,, 🥹😭😭😭 ,,
semangat trus haruna ,, km boleh berduka ,, tp cita2 jgn sampe di lupain,,
semangat haruna ,,
ni hanya kesuksesan yg tertunda ,,
msh ad jalan lain menuju sukses yg bisa km raih ,,
km harus tunjukin ma org2 yg jahatin km ,,
kalo keterbatasan km tdk menghilang kan semangat km belajar ,,