Di balik kesuksesan Bian sebagai Manajer, ada Husna istri sah yang anggun, mandiri, dan pemegang kendali finansial keluarga. Saat Bian tergoda Salma, karyawatinya dan meminta izin menikah lagi, Husna tidak mengamuk. Ia memberi satu syarat mutlak 100% gaji resmi Bian wajib ditransfer ke rekeningnya.
Sementara bagi Salma yang menawari cinta ala ABG hanya dinafkahi dari hasil toko swalayan baru yang belum pasti untung.
Merasa menang, Salma setuju tanpa sadar ia salah lawan. Situasi makin panas saat Devan dan Deka, putra kembar yang saat ini sudah sekolah tingkat SMA, terang-terangan membela sang ibu dan membenci Bian. Siapa pemegang tahta sejati dalam keluarga ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAHTA YANG TAK TERGOYAHKAN
Langkah kaki Bian dan Salma terseret berat menembus kegelapan lorong samping yang menghubungkan bangunan utama dengan paviliun belakang. Angin malam yang berembus dingin seolah ikut menertawakan kehancuran harga diri mereka. Salma berjalan sambil sesenggukan, mengusap air matanya yang terus menetes deras, merusak sisa-sisa riasan di wajahnya.
Pintu kayu paviliun berderit kasar saat Bian mendorongnya terbuka. Hawa pengap, bau apek bekas gudang, dan aroma debu yang belum sepenuhnya hilang langsung menyambut indra penciuman mereka. Tak ada lampu kristal yang hangat, tak ada aroma steak daging sapi impor atau sup krim jamur lezat yang baru saja memanjakan mata dan hidung Salma di meja makan Husna.
Salma melemparkan tas mewahnya ke atas meja kayu tua dengan kasar.
Tubuhnya gemetar hebat akibat perpaduan antara rasa lapar yang melilit perut, kelelahan fisik usai membongkar muatan di toko, serta rasa hinaan mendalam atas gertakan Husna dan ketajaman lidah Devan-Deka.
"Mas! Salma gak tahan lagi!" jerit Salma meluapkan emosinya, suaranya melengking memenuhi ruangan paviliun yang sepi. "Salma dipermalukan! Diinjak-injak sama anak-anak kamu yang kurang ajar itu! Dan kamu... kamu cuma diam saja melihat istri muda kamu dibantai di depan mata kamu sendiri?."
Bian yang sedang memijat pelipisnya yang berdenyut makin kencang langsung menghentikan gerakannya. Ia menatap Salma dengan mata memerah dan napas memburu.
"Salma, tolong... Mas ini capek!" pangkas Bian dengan suara serak menahan amarah. "Kamu pikir Mas tidak malu?! Mas ini Ayah mereka! Mas yang paling dihantam harga dirinya di meja makan tadi! Kamu mau Mas buat apa?! Mau Mas pukul Devan di depan Husna?! Kamu dengar sendiri kan ancaman Husna tadi?! Kalau Mas sentuh Devan, besok pagi Mas bakal diusir dari rumah ini dan toko swalayan Mas bakal dihancurkan total."
"Ya terus kenapa kalau diusir, Mas?!" bentak Salma tak mau kalah, melangkah mendekati Bian dengan dada naik turun. "Kenapa Mas masih bertahan di tempat kotor dan menghinakan ini? Kita punya uang dari kebun sawit rahasia kamu kan?! Kenapa kita tidak keluar dari sini, sewa rumah mewah, atau tinggal di apartemen?."
"Kamu lupa atau pura-pura bodoh, Salma?!" potong Bian dengan nada tinggi, menunjuk wajah Salma. "Pencairan dana sawit itu baru masuk besok atau lusa! Bank butuh proses! Hari ini uang tabunganmu cuma cukup buat bayar lima puluh persen pasokan barang toko! Kita tidak punya uang tunai pegangan malam ini! Mau bayar pakai apa sewa apartemen mewah sekarang, hah?!"
Salma terbungkam seketika. Kenyataan pahit itu kembali menghantam dadanya. Bayangan lauk-pauk mewah di meja makan Husna daging steak yang juicy, udang panggang, dan jus buah segar kembali menari-nari di ingatan Salma. Perutnya berbunyi nyaring, memprotes rasa lapar yang kian menyiksa sejak siang.
Dengan langkah kaki disentak-sentakkan, Salma berjalan menuju dapur kecil di sudut paviliun, berharap setidaknya ada keajaiban kecil atau sisa makanan yang layak di sana.
Namun begitu ia membuka lemari gantung yang berdebu, mata Salma belalak tak percaya.
Di dalam lemari itu hanya teronggok lima bungkus mie instan rasa kaldu ayam dan dua bungkus mie goreng instan murah. Di samping kompor gas tua yang berkarat, berdiri sebuah galon air minum yang tinggal terisi seperempatnya.
Tidak ada bumbu dapur, tidak ada telur, tidak ada daging, tidak ada sayuran, bahkan tidak ada piring keramik yang layak selain dua buah mangkok melamin kusam dan panci aluminium kecil.
"Benar-benar mie instan..." bisik Salma dengan suara bergetar.
Air mata kejengkelan kembali merebak di pelupuk matanya. Perkataan Husna di depan pintu rumah utama tadi bukan sekadar gertakan atau selorohan, melainkan sebuah penghinaan nyata yang kini berada tepat di depan matanya. Selera makan Salma yang tadinya tergiur oleh hidangan kelas atas di rumah utama, seketika menguap berganti rasa mual dan jengkel luar biasa.
"Kenapa, Salma?" tanya Bian yang menyusul ke area dapur, menyandarkan tubuhnya di ambang pintu dengan wajah lelah.
Salma menoleh cepat, menunjuk rak lemari dapur dengan tangan gemetar. "Ini maksud kamu, Mas?. Ini makanan yang disediakan buat kita di malam pertama kita tinggal di sini?. Mie instan kotor begini?."
"Ya syukuri aja apa yang ada, Salma!" keluh Bian frustrasi, melangkah mendekati kompor. "Kita lapar kan?! Dari pada perut kosong sampai besok pagi, ya dimasak saja mie instan itu! Jangan banyak protes!."
"Gak mau, Mas! Salma gak mau makan mie instan!" jerit Salma menolak keras. "Salma ini baru nikah sama kamu! Semalam kita makan malam di resto hotel bintang lima! Masa sekarang Salma disuruh makan mie instan di gudang kotor berdebu kayak rakyat jelata?! Salma gak sudi!"
"Jaga mulutmu, Salma!" bentak Bian, kesabarannya benar-benar runtuh detik itu juga. Ia mengambil dua bungkus mie instan dari lemari dan melemparkannya ke atas meja kompor dengan kasar. Brak! "Kamu pikir Mas suka dalam kondisi seperti ini?! Mas juga mau makan steak di depan tadi! Tapi keadaan kita lagi dihimpit! Jangan bertingkah seolah-olah kamu itu putri raja yang tidak bisa tersentuh kesusahan."
"Memang Mas yang janji mau jadikan Salma ratu!" Salma membalas bentakan itu dengan teriakan yang tak kalah nyaring. "Mana janji Mas Bian?! Sebelum nikah Mas bilang mau manjakan Salma, mau kasih semua kebutuhan Salma, mau jadikan Salma nyonya di rumah ini! Baru satu hari nikah, Salma cuma dapat debu, dihina anak-anak kamu, dan sekarang disuruh makan mie instan rebus tanpa telur! Mas Bian penipu."
"Salma!" Bian mengangkat tangannya, matanya membelalak murka mendengar tuduhan tersebut.
Salma tak gentar, justru membusungkan dadanya dengan wajah menantang. "Apa?! Mas mau pukul Salma juga?! Pukul, Mas! Pukul! Supaya makin jelas kalau Mas memang laki-laki tidak berguna yang cuma berani bentak istri muda di gudang kotor."
Pertengkaran sengit itu membahana di dalam ruangan paviliun yang sempit. Kata-kata kasar dan saling tuduh terlontar tanpa henti. Bian menatap wanita yang baru dinikahinya semalam itu dengan raut wajah asing. Mana sosok Salma yang dulu begitu lembut, mengerti keadaan, dan selalu mengelus dadanya saat ia mengeluh tentang Husna? Mana sosok wanita manis yang bersumpah akan mencintainya apa adanya? Semuanya sirnah hanya dalam hitungan jam saat uang dan kemewahan mendadak tersendat.
Sementara di sisi lain, Salma menatap Bian dengan tatapan penuh rasa penyesalan dan kebencian. Laki-laki yang ia kira bakal menjadi ladang kekayaan tak terbatas dan tiket menuju kehidupan kelas atas, kini tampak begitu menyedihkan, kusam, dan tak berdaya di hadapan istri tua serta anak-anaknya.
Dengan dada memburu, Bian memalingkan wajahnya. Ia tidak melayangkan pukulan, melainkan menyambar panci aluminium tua, mengisinya dengan air galon, dan menyalakan kompor gas dengan dentuman kasar.
"Kalau kamu tidak mau makan, diam! Mas mau makan." ujar Bian dingin, menolak menatap mata Salma lagi.
Salma membalasnya dengan dengusan penuh rasa jijik. Tanpa memedulikan Bian yang mulai memasak mie instannya sendiri, Salma berbalik arah, berjalan menuju kamar tidur paviliun yang kasurnya hanya dilapisi sprei tipis dan berbau lembap. Ia menghempaskan tubuhnya ke kasur, menutup wajahnya dengan bantal, dan menangis meratapi nasibnya yang berubah drastis dalam sekejap.
Di dapur, Bian duduk sendirian di atas kursi kayu. Ia menyantap mie instan rebus langsung dari pancinya dengan perasaan berantakan. Setiap suapan rasa kaldu ayam itu terasa bagai duri di tenggorokannya. Ditemani suara jangkrik dari luar dan ketukan dingin rasa penyesalan di dadanya, Bian mulai bertanya-tanya pada dirinya sendiri. "Apakah keputusan memboyong Salma dan mengkhianati Husna adalah awal dari kehancuran hidupnya?."
Keesokan harinya...
Sinar matahari pagi menembus kaca jendela paviliun yang kusam dan berdebu. Suasana di dalam kamar tidur terasa begitu canggung dan dingin. Tidak ada ucapan selamat pagi yang hangat, tidak ada ciuman kening pengantin baru, apalagi sarapan lezat di atas nampan.
Salma terbangun dengan mata sembap dan kepala pening luar biasa. Tubuhnya terasa pegal-pegal akibat tidur di atas kasur keras paviliun yang tak senyaman kasur busa tebal di hotel atau rumah lamanya. Di sampingnya, Bian masih tertidur pulas dengan posisi meringkuk, mengenakan pakaian bekas kemarin yang belum sempat diganti.
Salma melirik jam dinding di atas pintu. Angka menunjukkan pukul 08.15 pagi.
Sesuai dengan pengajuan cuti pernikahan yang telah disetujui oleh manajemen dan jajaran direksi sebelum pesta pernikahan berlangsung, Bian dan Salma memiliki hak libur cuti menikah selama satu minggu penuh. Karena ini baru hari kedua setelah pernikahan, mereka masih memiliki sisa lima hari libur cuti yang seharusnya diisi dengan momen bulan madu romantis, jalan-jalan ke luar kota, atau bersantai menikmati status baru.
Namun kini, hak libur cuti satu minggu itu justru terasa bagai vonis hukuman kurungan penjara bagi mereka berdua.
Jika mereka harus berangkat bekerja ke kantor atau toko hari ini, setidaknya ada alasan untuk melarikan diri dari paviliun yang pengap ini. Tapi karena status mereka resmi sedang cuti menikah, mereka terjebak di dalam bangunan bekas gudang ini tanpa bisa berbuat banyak.
Salma beranjak dari kasur dengan malas. Ia melangkah ke luar kamar menuju teras depan paviliun untuk mencari udara segar.
Namun begitu matanya menatap ke arah halaman utama, pemandangan di sana makin membakar kedengkian di dadanya.
Di teras rumah utama yang sejuk dan terlindung dari terik matahari pagi, Husna terlihat sedang duduk anggun di meja taman. Ia mengenakan pakaian santai yang elegan, menyesap cangkir kopinya seraya membaca majalah bisnis. Tak jauh dari Husna, Devan dan Deka yang mengenakan seragam sekolah rapi sedang berpamitan. Kedua remaja itu mencium tangan ibunya dengan penuh rasa hormat, lalu melangkah menuju mobil jemputan sekolah yang sudah menunggu.
Husna melambaikan tangannya dengan senyuman hangat penuh kebahagiaan seorang ibu. Kehidupan di rumah utama berjalan begitu sempurna, harmonis, dan penuh kedamaian seolah-olah keberadaan Bian dan Salma di paviliun belakang tidak memberikan pengaruh atau riak sekecil apa pun bagi kehidupan mereka.
Salma meremas pembatas kayu teras paviliun hingga buku-buku jarinya memutih. "Wanita itu... dia benar-benar menganggap kita seperti sampah tidak terlihat!" batin Salma bergolak penuh dendam.
Tak lama kemudian, langkah kaki Bian yang berat terdengar dari dalam. Laki-laki itu keluar teras dengan mata merah dan rambut acak-acakan. Ia memegang ponselnya dengan cemas, memeriksa apakah ada notifikasi masuk dari bank mengenai pencairan dana kebun sawit rahasianya.
Namun layar ponselnya tetap sepi dari notifikasi kredit masuk.
"Gimana, Mas? Uang sawitnya sudah masuk belum?!" tanya Salma cepat tanpa basa-basi, menoleh menatap Bian dengan pandangan menuntut.
Bian menghela napas kasar, mengusap wajahnya yang kusam. "Belum. Bank kan baru buka jam sembilan pagi ini. Proses kliring butuh waktu, Salma. Jangan desak Mas terus."
"Gimana Salma gak mendesak, Mas?!" seru Salma dengan nada jengkel. "Kita ini masih punya sisa lima hari libur cuti nikah! Masa kita mau mengurung diri di gudang berdebu ini selama sisa liburan cuti kita?! Salma bosan! Salma mau keluar, mau jalan-jalan, mau makan makanan yang layak! Uang tabungan Salma kemarin sudah lurus dipakai talangi toko kamu lima puluh persen."
Bian memandang Salma dengan tatapan dingin dan lelah. "Kalau kamu mau jalan-jalan, pakai sisa uangmu sendiri! Mas tidak punya uang tunai sekarang. Mas juga harus mengawasi laporan swalayan hari ini lewat telepon."
"Mas Bian!" Salma menjerit frustrasi. "Masa cuti menikah kita hancur total kayak gini?! Harusnya kita honeymoon ke Bali atau Singapura seperti yang Mas janjiin sebelum nikah."
"Bisa diam tidak, Salma?!" bentak Bian, urat di lehernya menegang. "Kamu lihat situasi tidak sih?! Toko Mas baru saja kena badai operasional, Husna menutup semua akses uang keluarga, dan kamu cuma bisa nuntut honeymoon?! Pikiranmu cuma uang, uang, dan liburan."
"Lho! Memang itu hak Salma sebagai istri!" Salma membalas bentakan itu, mendekatkan wajahnya ke arah Bian. "Kalau Mas gak punya uang dan tak sanggup bahagiain Salma selama cuti ini, jangan sok-sokan nikahin Salma! Mas yang pancing Salma dengan janji manis, sekarang setelah dapat, Salma ditelantarkan di tempat kumuh ini."
Pertengkaran pagi hari itu kembali pecah di teras paviliun belakang, memecah keheningan pagi.
Dari kejauhan di teras rumah utama, Husna yang baru saja melepas keberangkatan anak-anaknya ke sekolah, mendengar samar-samar suara jeritan dan bentakan dari arah belakang.
Husna meletakkan cangkir porselennya ke atas tatakan dengan ketukan pelan yang elegan. Ia menyunggingkan sebuah senyuman tipis senyuman penuh rasa puas yang tak terhingga.
Husna tahu betul, tanpa perlu ia mengotori tangannya dengan kekerasan atau amarah, jalinan cinta manis yang berlandaskan keserakahan dan pengkhianatan itu akan hancur dan saling memakan dari dalam. Dan hari-hari sisa cuti menikah satu minggu ini akan menjadi neraka paling menyiksa bagi pengantin baru tersebut di balik tembok paviliun belakang.
ngaca tuh di talang air ,,
😒😒😒😒
udh jgn ngimpi terlalu tinggi duluu ,,
nnti Kalo jatuh sakiit ,,
kl halu jgn ktinggian,gliran jtuh pst sakittttt.....😛😛😛....
ngarep jd nyonya,eehhh......
mlah jd gembel.....
msh juga nyari yg sengklek di luar,,
😒😒😒
kalo Blum berarti km bnr2 gx tau diri 😒😒
prgi sono,kl ga mmpu ngontrak tnggal aja d kolong jmbtan....
apa itu kehalangan?