Indonesia
NovelToon NovelToon
AMIRA MENANTU TERBUANG

AMIRA MENANTU TERBUANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

Dua tahun menikah
berpisah setelah akad bahkan belum pernah malam pertama
amira menunggu dengan sabar
mengabdi kepada keluarga suami
tapi setelah dua tahun berpisah
kata yang pertama dari suaminya adam "Amira aku akan menikah lagi"
bagaimana kelanjutannya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: Perlawanan Pertama & Kepergian Tanpa Jejak

BAB 2: Perlawanan Pertama & Kepergian Tanpa Jejak

Amira masuk ke dalam taksi dengan hati yang remuk redam. Air matanya menetes pelan mengaliri pipi. Ia segera merengkuh ponselnya dan menelpon Rika, teman dekat sekaligus kepercayaan yang mengelola restorannya.

"Rika, besok kita ke Bali," ucap Amira tanpa basa-basi.

"Ha? Ada acara apa, Bu Bos?" tanya Rika kaget di ujung telepon.

"Liburan."

"Wow, keajaiban dunia ke delapan! Sudah dua tahun Bu Bos tidak pernah ngajak kita liburan."

"Sudahlah, siapkan semuanya. Aku lagi kesal," potong Amira singkat.

"Siap, Bos! Sering-sering kesal ya, Bos, biar kita sering liburan!" kekeh Rika.

"Rika, mau aku potong jatah libur kamu?"

"Eh, Bu Bos jangan gitu dong! Siap, siap, aku siapkan semuanya sekarang. Berarti restoran besok ditutup dulu ya? Cari penerbangan pagi atau siang, Bos?"

"Pagi atau siang boleh. Semua karyawan ikut."

"Siap laksanakan, Bu Bos!" jawab Rika semangat sebelum mengakhiri panggilan.

Amira menyandarkan kepalanya pada kaca mobil, menatap jalanan ibu kota yang remang dipenuhi kerlap-kerlip lampu malam. Ia menyapu air mata yang menggenang di sudut matanya.

"Mbak... kenapa menangis?" tanya sopir taksi yang melihatnya dari kaca spion tengah.

"Lagi pilek, Mas," sahut Amira pelan.

"Oh..." Sopir itu mengangguk kaku dan kembali fokus mengemudi.

Pukul sembilan malam, taksi tiba di depan rumah mertuanya. Badan Amira terasa sangat lelah. Ia hanya ingin membaringkan tubuh di kasur. Namun, begitu kakinya melangkah melewati pintu depan, suara nyaring Ibu Mirna langsung menyambutnya.

"Mana jatah uang belanja Ibu bulan ini, Amira?" tagih Mirna tanpa menyapa.

Amira menghentikan langkah dan meletakkan tasnya di atas kursi. "Mas Adam baru gajian tanggal 10, Bu. Sekarang baru tanggal delapan."

"Biasanya tanggal delapan kamu sudah pegang uangnya!"

"Tanggal 10, Bu. Kalau tidak percaya, Ibu telepon saja Mas Adam langsung," jawab Amira dingin.

Pintu kamar Sonia—adik Adam—terbuka. Sonia keluar sambil memainkan ponselnya. "Mbak, aku minta uang 500 ribu dong buat beli buku akuntansi."

Amira menatap adiknya itu datar. "Di marketplace harganya tidak sampai 500 ribu. Lagipula sekarang banyak e-book, harganya jauh lebih murah."

"Dosenku tidak mau yang e-book, Bu!" aduh Sonia pada ibunya.

"Dosennya berarti bodoh, tidak ikut perkembangan zaman," sahut Amira santai.

Ibu Mirna dan Sonia tersentak kaget. Biasanya Amira selalu mengalah, menurut, dan tidak pernah membalas kata-kata mereka. Tapi malam ini, Amira terang-terangan melakukan perlawanan.

"Kamu itu kan yang pegang uang gaji Adam? Udah, sekarang berikan saja uang itu ke Sonia!" seru Mirna galak.

"Minta langsung saja ke Mas Adam, Bu."

"Ibu tidak mau mengganggu anak Ibu yang sedang kerja! Sudahlah, pakai uang kamu dulu! Kamu pasti sudah gajian kan dari restoran tempat kamu kerja?" cecar Mirna.

"Sudah habis, Bu."

"Kenapa bisa habis?! Ini baru awal bulan, Amira!"

"Uangnya sudah aku bayarkan untuk tiket family gathering tempat kerja ke Bali," jawab Amira tanpa beban.

"Kenapa uang kamu habiskan buat liburan, Amira?! Sementara keluarga di sini sedang membutuhkan?!" tegur Mirna dengan nada tinggi.

Amira menatap ibu mertuanya itu lurus-lurus. "Keluarga bukan cuma aku dan Mas Adam, Bu. Ada Kak Ridwan, dia kan kerja juga. Belum lagi Kak Mila, dia punya toko sembako besar. Kali-kali Ibu minta dong sama mereka."

"Kamu!" bentak Mirna kesal. "Ibu tidak mau mengganggu anak-anak Ibu! Mereka itu punya banyak kebutuhan!"

"Terus... Ibu mau terus-terusan mengganggu aku dan Mas Adam?" Amira menaikkan sebelah alisnya.

"Kamu itu hanya anak panti asuhan, Amira! Buat apa kamu kumpul-kumpul uang? Uangnya mau buat siapa, hah?! Sekarang ini kamilah keluarga kamu! Kamu harus berbakti pada kami!" seru Mirna makin menjadi-jadi.

Amira tersenyum sinis. "Maaf ya, Bu. Kali ini biarkan Kak Mila dan Kak Ridwan yang ikut andil berbakti... Aku tidak mau masuk surga sendirian, Bu."

Ruang tamu itu mendadak hening seketika.

Ibu Mirna menatap Amira curiga. "Kenapa kamu ketus begitu? Apa jangan-jangan Adam sudah tidak percaya lagi sama kamu untuk kelola uangnya?"

Amira mengangguk pelan. "Mungkin. Dan mulai bulan ini, aku memang sudah tidak mau lagi mengelola uang Mas Adam."

Wajah Mirna seketika berbinar. Di pikirannya, bayangan uang puluhan juta rupiah gaji Adam akan langsung masuk penuh ke rekening pribadinya.

"Makanya, kalau kelola uang itu yang benar!" cercos Sonia mengejek. "Rasain... Mas Adam sudah tidak percaya lagi sama Mbak!"

"Terserah kalian," ucap Amira cuek. Ia berbalik melangkah menuju kamarnya dan mengunci pintu.

Di dalam kamar, Amira menarik kopernya. Tanpa ragu, ia merapikan pakaian dan barang-barang pribadinya ke dalam koper, bersiap meninggalkan rumah itu besok pagi untuk liburan ke Bali—sekaligus memutus hubungan secara perlahan.

Sementara di ruang tamu, Pak Diki yang baru saja pulang narik ojek online meletakkan jaketnya dengan napas terengah-engah.

"Sampai kapan kamu dan anak-anak mau memeras Amira, hah?" tegur Pak Diki pada istrinya.

"Memeras apanya, Pak?! Uang yang dipegang Amira itu uang Adam!" sangkal Mirna tidak mau kalah.

"Adam gaji puluhan juta, tapi baju Amira dari dulu cuma itu-itu saja! Aku rasa uang Adam justru habis dipotong sama kalian!" tegas Pak Diki. Ia sengaja tetap bekerja sebagai driver ojek online karena enggan menikmati uang menantunya yang terus-terusan diperas.

"Bapak kalau tidak bisa membiayai hidup kami, tidak usah banyak protes!" semprot Mirna kasar.

Pak Diki mendengus kesal. Matanya memerah menahan emosi. "Kamu pikir tanah ini milik siapa, hah?! Kamu pikir tanah warisanku habis dijual demi siapa?! Jangan hitung-hitungan denganku, Mirna!"

Dengan hati jengkel, Pak Diki berjalan masuk ke kamarnya. Ia merasa keluarganya semakin hari semakin serakah dan kehilangan nurani.

"Dasar tua bangkai!" umpat Mirna pelan.

"Bu, gimana dong? Aku butuh uang 500 ribu ini," rengek Sonia memecah kekesalan ibunya.

"Untuk apa sebenarnya? Beli buku? Buku yang mana?!" cerca Mirna. "Kamar kamu itu penuh dengan skincare, bukan buku! Amira bisa kamu bohongi, tapi tidak dengan Ibu!"

Sonia menyengir. "Iya deh... aku memang mau beli skincare, Bu. Soalnya aku lagi dekat sama cowok kaya, namanya Yamamoto."

"Kok kayak nama orang Jepang?"

Sonia segera membuka ponselnya dan menunjukkan foto seorang pria bermata sipit, bertubuh tampan, dengan pakaian bermerek kelas atas. "Ini anak orang kaya, Bu. Sepertinya dia suka sama aku."

"Beneran kaya dia?" mata Mirna berbinar lagi.

"Beneran, Bu! Besok sore aku mau ketemuan sama dia, makanya aku mau salonan dulu."

Mirna menarik napas panjang lalu membuka aplikasi m-banking-nya. "Ya sudah, nanti Ibu transfer. Tapi kamu harus serius sama dia, ya!"

"Tenang saja, Bu!" jawab Sonia kegirangan sebelum masuk ke kamarnya.

Baru saja Mirna mau menyelonjorkan kaki, ponselnya kembali berdering. Nama anak laki-lakinya, Ridwan, tertera di layar.

"Ada apa, Wan?"

"Bu, pinjam uang dong... Lina belum bayar SPP sekolah," ujar Ridwan di ujung telepon.

"Loh, kok belum? Kamu memangnya belum gajian?"

"Sudah, Bu. Tapi sudah habis buat bayar cicilan mobil."

"Kan Adam belum kirim uang, Wan," sahut Mirna.

"Minta ke Amira dulu, Bu. Biasanya juga begitu, kan?"

"Itulah! Amira tidak tahu kesurupan apa hari ini. Susah sekali dimintai uang! Tunggu dua hari lagi saja, pas Adam gajian."

"Waduh, tidak bisa, Bu! Kalau besok tidak dibayar, Lina tidak bisa ikut ujian sekolah!"

"Memang berapa SPP-nya?"

"5 juta, Bu."

"Loh, kok mahal sekali?!"

"Ya namanya juga sekolah elit, Bu... Ayolah, Bu, tanyakan ke Amira. Dia kan tidak punya keluarga lagi selain kita, jadi dia harus membahagiakan keluarga kita!"

Mirna mengurut pelipisnya yang mendadak pening. "Ya sudah, tunggu besok pagi, ya. Sekarang sudah malam, takutnya dia malah makin ngambek."

"Ya sudah, Ridwan tunggu besok pagi ya, Bu."

Mirna memijat kepalanya yang makin berdenyut. Baru hari ini Amira menolak memberikan uang. Padahal biasanya tanggal berapa pun Amira selalu punya uang cadangan.

Ada yang tidak beres nih... batin Mirna curiga.

Waktu berlalu hingga pagi menjelang.

Biasanya, jam enam pagi aroma masakan Amira sudah memenuhi dapur dan sarapan sudah terhidang rapi di meja. Namun pagi ini, suasana rumah sangat sunyi. Dapur dingin dan kosong.

"Amiraaaaa!" teriak Mirna dari ruang tengah. "Bangunnnnn!"

Tidak ada sahutan. Kesal karena panggilannya diabaikan, Mirna melangkah lebar menuju kamar menantunya dan mendorong pintu hingga terbuka.

Kamar itu sudah rapi... dan kosong. Amira sudah tidak ada di sana.

1
sunaryati jarum
Semoga keluarga Amira
sunaryati jarum
Mulai jadi pemuas sang penguasa,Sonia
sunaryati jarum
O mau jadi wanita simpanan ,Sonia.Tapi Yamamoto tak akan pernah menyentuh Amira
@Mita🥰
wiiiih mungkin kakak nya Amira
@Mita🥰
pasti anak buah kakek Amira yang bikin unggah an Amira hilang
YuWie
anak siapakah kamu amir
sunaryati jarum
Mungkin kau putri pebisnis besar yang diculik dan ditinggalkan di panti asuhan
YuWie
rung sadar kan..malah tambah dodro..alias tambah kebangetan niat jahatnya
YuWie
benar kata pak polisi..bertele tele
Suanti
sonia tak pernah kapok klu kejadian lgi sm amira jgn mau pki jln damai jeblos kan aja ke penjara biar kapok 🤭
sunaryati jarum
Keluarga pak Diki tidak waras semua kecuali Pak Diki
@Mita🥰
ealah ..alah bukan nya sadar malah makin menjadi
@Mita🥰
🤣🤣🤣🤣🤣🤣 nah sekarang tahu kan
Suanti
sdh lah amira jeblos kan aja sonia ke penjara byk btl cerita keluarga mantan mu yg toxin 🤣🤣
Suanti
beri hukuman setimpal amira jangan mau jln damai biar kan aja di penjara biar tau rasa mantan keluarga toxin 🤭🤣
YuWie
Luar biasa
santi damayanti: terimakasih kaka
total 1 replies
YuWie
bacottt..ciatt..tendang aja al
YuWie
ngerti anak yatim piatu malah diperas.. situ waras
Suanti
jgn2 pria tua itu bpk nya amira atau kakek nya, amira 🤣🤣
Suanti
dasar keluarga toxin selalu salah kan amira 🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!