Indonesia
NovelToon NovelToon
TAKDIR CINTA SANG CEO DINGIN

TAKDIR CINTA SANG CEO DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Penyelamat
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: achmad abdur roufur rokhim

Arga Danendra, CEO muda pemegang kendali kerajaan bisnis terbesar, memiliki hati sedingin es. Dikhianati dan dicampakkan oleh wanita yang sangat dicintainya di masa lalu saat ia belum bergelimang harta, Arga kini memandang sinis semua wanita. Baginya, mereka hanyalah makhluk serakah yang memuja kekayaan.

​Namun, takdir berkata lain ketika sebuah insiden penyerangan memaksanya bersembunyi di permukiman pinggiran kota. Dalam kondisi terluka parah dan kehilangan memori sementaranya, ia diselamatkan oleh Senja Kirana, gadis yatim piatu yang hidup miskin namun memiliki senyum secerah matahari. Tanpa memandang status atau harta, Senja merawat pria asing itu dengan tulus dan penuh kasih sayang. Kepolosan, keluguan, dan kehangatan Senja perlahan meruntuhkan dinding es di hati Arga, mengembalikan warna hidupnya yang telah lama sirna.

​Ketika ingatan Arga kembali dan mantan kekasihnya muncul lagi demi mengincar posisi nyonya besar, sang CEO muda bersumpah akan menggunakan seluruh kekuasaannya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon achmad abdur roufur rokhim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30: Rencana Busuk Angsa Hitam dan Lenyapnya Sang Bidadari

​Di sebuah suite VVIP hotel bintang lima di kawasan Thamrin, aroma minyak esensial lavender dan melati menguar memenuhi ruangan berbintang tersebut.

​Natasha duduk bersandar di sofa beludru merah, mengenakan jubah mandi sutra putih sambil menyesap segelas champagne. Di hadapannya, seorang penata rambut profesional sedang sibuk merapikan tatanan rambut ikalnya. Wajah cantik wanita itu memantul di cermin besar, memancarkan aura kesombongan yang tak pernah luntur meski ia baru saja dicampakkan oleh takdir di Eropa.

​Di seberangnya, Cindy, sahabat sosialitanya, sibuk menggeser layar tablet, membaca laporan dari beberapa informan bayaran yang mereka sewa.

​"Ini gila, Nat," gumam Cindy, matanya membelalak menatap deretan teks di layar. "Informanku di distrik selatan mengatakan bahwa pagi ini, seluruh kawasan itu mendadak dijaga ketat oleh pria-pria berjas hitam. Mereka menyisir pasar tradisional dan terminal bayangan. Arga Danendra benar-benar membalikkan kota hanya untuk mencari pelayan katering itu!"

​Bibir merah Natasha melengkung membentuk senyum sinis yang meremehkan. Ia meletakkan gelas champagne-nya dengan gerakan anggun yang dibuat-buat.

​"Tentu saja dia mencarinya dengan panik, Cindy. Pria yang terluka egonya akan selalu bertingkah berlebihan," ucap Natasha dengan nada sangat percaya diri, seolah ia adalah profesor yang paling memahami isi kepala Arga.

​"Kau tidak mengerti jalan pikiran pria seperti Arga. Pelayan miskin itu berani meninggalkannya, menolak kekayaannya. Bagi seorang penguasa arogan, penolakan dari rakyat jelata adalah sebuah penghinaan. Arga mencarinya bukan karena cinta, melainkan karena obsesi untuk menaklukkan. Dia tidak terima mainan murahnya berani lari dari sangkarnya."

​Cindy mengerutkan kening. "Lalu, apa rencanamu? Kau tidak bisa tiba-tiba muncul di kantornya begitu saja. Arga yang sekarang sangat kejam. Dia bisa saja melemparmu keluar dari jendela lantainya."

​Natasha tertawa renyah, sebuah tawa yang terdengar sangat beracun. Ia menatap pantulan dirinya di cermin, membelai pipinya yang mulus tanpa cela.

​"Arga boleh menjadi iblis bagi seluruh dunia, tapi bagiku, dia akan selalu menjadi pemuda miskin yang berlutut di bawah kakiku sambil memegang cincin murahan," bisik Natasha penuh ilusi.

​"Dia belum pernah melupakanku, Cindy. Kebencian adalah sisi lain dari koin cinta. Gadis gembel itu hanyalah bayangan pelariannya. Rencanaku sederhana: Aku akan memberinya apa yang selama ini tidak bisa diberikan oleh pelayan miskin itu."

​"Apa itu?"

​"Sebuah kelas, air mata penyesalan palsu, dan status," jawab Natasha licik. "Besok lusa, kudengar yayasan amal milik ibunda Arga akan mengadakan pameran lukisan tahunan. Arga sangat menyayangi ibunya, dia pasti hadir di sana. Aku akan datang ke acara itu. Aku akan berdandan sangat anggun namun terlihat rapuh."

​Mata Natasha berkilat jahat. Otaknya mulai menyusun skenario sinetron yang sempurna.

​"Aku akan 'tidak sengaja' menabraknya. Lalu aku akan menangis. Aku akan bercerita betapa menderitanya hidupku disiksa oleh mantan suamiku di Eropa, dan betapa aku menyesal telah meninggalkan pria sebaik Arga. Pria memiliki ego pelindung yang besar. Saat melihat cinta pertamanya yang dulu angkuh kini hancur dan memohon perlindungannya... Arga pasti akan luluh. Dia akan membuang pelayan miskin itu kembali ke jalanan, dan aku akan kembali duduk di atas takhta Nyonya Danendra."

​Natasha mengangkat gelasnya, bersulang pada bayangannya sendiri di cermin. Rencana licik sang angsa hitam telah tersusun rapi. Ia merasa kemenangan sudah berada di genggamannya, tanpa menyadari bahwa hati Arga Danendra saat ini telah sepenuhnya terkunci dan terkubur hidup-hidup di sebuah kamar kos sempit di pinggiran rel kereta.

​Sementara Natasha sedang membangun istana ilusinya, di belahan kota yang lain, sang Iblis Korporat tengah dilanda kepanikan yang nyaris menghancurkan kewarasannya.

​Sebuah Maybach hitam pekat melaju dengan kecepatan ugal-ugalan, membelah jalanan sempit distrik pinggiran. Suara decit rem yang sangat memekakkan telinga terdengar saat mobil raksasa itu berhenti paksa tepat di depan gerbang kawasan kos-kosan kumuh.

​Arga Danendra menendang pintu mobilnya hingga terbuka. Ia berlari keluar tanpa memedulikan tatapan kaget para tetangga. Jas hitamnya berkibar, wajahnya pucat pasi dipenuhi keringat dingin. Di belakangnya, Raka dan beberapa pengawal elit berlari menyusul.

​"Di mana kamar kosnya?!" raung Arga pada salah satu agen bayangan yang menyamar sebagai penjual minuman di depan kos.

​"Di ujung lorong lantai dua, Bos! Tapi kami tidak melihat Nyonya Senja keluar dari pintu depan sama sekali!" lapor agen itu dengan tubuh gemetar.

​Tanpa membuang waktu satu detik pun, Arga berlari menaiki tangga beton yang sempit. Jantungnya berdetak begitu brutal hingga rasanya menembus tulang rusuknya. Ketakutan yang menumpuk di kepalanya membuat kakinya nyaris kehilangan tenaga, namun adrenalin memaksanya terus melangkah.

​Ia tiba di depan pintu tripleks yang tertutup rapat.

​"Senja! Buka pintunya!" Arga menggedor pintu itu dengan kepalan tangannya.

​Hening. Tidak ada jawaban dari dalam.

​"Senja! Aku mohon, buka pintunya! Jangan lakukan ini!" teriak Arga, suaranya pecah, sarat akan keputusasaan.

​Karena tidak ada respons, Arga mundur selangkah. Dengan satu tendangan keras yang dipenuhi kemarahan dan ketakutan, pintu tripleks murah itu jebol hingga engselnya patah.

​Arga menerobos masuk ke dalam kamar yang pengap tersebut.

​Kosong.

​Kasur lipat di sudut ruangan terlipat rapi. Lemari plastik kecilnya terbuka lebar tanpa sehelai pakaian pun tersisa. Ruangan itu telah ditinggalkan.

​Napas Arga tercekat. Matanya menangkap sesuatu di atas lantai semen yang bersih, tepat di tengah ruangan.

​Sebuah amplop cokelat.

​Arga melangkah gontai, menjatuhkan dirinya bertumpu pada satu lutut, lalu memungut amplop tersebut. Tangannya bergetar hebat saat ia membuka isinya. Tumpukan uang tunai berwarna merah jatuh berserakan. Itu adalah seluruh uang yang ia transfer secara rahasia untuk Senja. Gadis itu menarik semuanya, dan meninggalkannya di sini.

​Senja tidak membawa sepeser pun uang darinya. Gadis itu benar-benar memutus seluruh ikatan mereka.

​Arga meremas amplop kosong itu hingga hancur di tangannya. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, bahu lebarnya bergetar menahan tangisan yang menyiksa. Rasa sesak di dadanya terasa seolah ia baru saja ditusuk hidup-hidup, ribuan kali lebih sakit dibandingkan luka fisik apa pun yang pernah ia terima.

​"Raka!!" raung Arga menggelegar ke luar pintu, suaranya dipenuhi oleh amarah predator yang kehilangan pasangannya.

​Raka yang berdiri di ambang pintu langsung menegakkan tubuh. "Ya, Bos!"

​"Dia keluar dari pintu belakang yang menembus ke pasar tradisional! Segel pasar itu! Jangan biarkan satu pun mobil, truk, atau motor keluar dari area ini! Periksa setiap sudut, setiap gang! Hentikan semua bus yang mengarah ke luar kota dari terminal selatan! Temukan dia hidup-hidup!"

​"Tim sudah menyebar, Ga! Tapi pasar sedang dalam jam sibuk, lautan manusia terlalu padat!"

​"Aku tidak peduli!" Arga bangkit berdiri, matanya memerah menyala, memancarkan kegilaan absolut. "Gunakan seratus, seribu, atau sepuluh ribu orang jika perlu! Jika dia berhasil keluar dari batas kota ini hari ini... kalian semua akan menerima akibatnya dariku!"

​Arga berlari keluar dari kamar kos, menerobos pintu belakang yang setengah terbuka, dan langsung terjun ke dalam lautan manusia di pasar tradisional yang hiruk-pikuk. Sang raja miliarder itu tak lagi memedulikan statusnya. Ia menembus kerumunan, memanggil-manggil nama bidadarinya dengan putus asa di tengah bau amis ikan dan sayuran busuk, berharap keajaiban akan menjawabnya.

​Hanya berjarak dua ratus meter dari posisi Arga, di sudut pasar yang paling kotor dan becek, Senja Kirana tengah berlari dengan napas yang nyaris putus.

​Gadis mungil itu mengenakan jaket usang, topinya ditarik serendah mungkin untuk menutupi wajahnya. Ransel di punggungnya terasa sangat berat, namun ia terus berlari menyusuri lorong-lorong sempit di antara lapak pedagang sayur. Bau menyengat dari lumpur dan sisa pemotongan daging ayam sama sekali tidak ia hiraukan.

​Di kejauhan, melalui celah kerumunan pembeli, Senja bisa melihat beberapa pria berjas hitam dan berbadan tegap mulai memasuki area pasar. Mereka menyebar, menanyakan ciri-cirinya pada beberapa pedagang sambil menunjukkan sebuah foto dari ponsel.

​Mereka sudah menyadarinya! batin Senja panik. Jantungnya berdegup tak karuan.

​Senja bersembunyi di balik tumpukan keranjang bambu kosong di dekat los pedagang buah. Ia mengintip dengan tubuh gemetar. Pasukan bayangan Arga bergerak sangat cepat dan terorganisir. Mereka mengunci akses keluar-masuk pasar.

​"Aku harus keluar dari sini sekarang, atau aku akan kembali terkurung di sangkar emas itu," bisik Senja pada dirinya sendiri, menyeka peluh dingin di dahinya.

​Matanya bergerak liar mencari jalan keluar. Di ujung area bongkar muat, ia melihat sebuah truk sayur tua bak terbuka yang mesinnya sudah menyala. Itu adalah truk milik Pak Joko, pedagang sayur asal desa yang biasa menyuplai Kedai Harum Manis. Senja tahu bahwa jam segini, truk itu akan segera berangkat kembali ke Jawa Tengah melalui jalur pantura yang jarang diperiksa polisi.

​Ini adalah satu-satunya tiket ke luar kota tanpa identitas.

​Senja melihat dua orang pria berjas hitam sedang berjalan mendekat ke arah area bongkar muat. Waktunya hanya hitungan detik.

​Dengan nekat, Senja merangkak keluar dari balik keranjang bambu. Ia memanfaatkan momen saat seorang pedagang es balok melintas dengan kereta dorong besarnya untuk menutupi tubuhnya dari pandangan para pria berjas hitam tersebut.

​Begitu ia tiba di bagian belakang truk Pak Joko, Senja tidak berpikir dua kali. Ia melemparkan ransel beratnya ke atas tumpukan karung kol dan sawi, lalu dengan susah payah ia memanjat naik ke atas bak truk. Tangannya lecet terkena pinggiran besi berkarat, namun adrenalin menutupi rasa sakitnya.

​Di atas bak truk, Senja langsung tiarap. Ia menarik sebuah terpal plastik berwarna biru kotor yang berbau tanah basah, dan menutupi seluruh tubuh serta ranselnya di balik tumpukan karung sayur.

​Kegelapan dan hawa pengap langsung menyergapnya di balik terpal itu. Senja meringkuk, memeluk lututnya, dan menahan napasnya.

​Suara derit pintu depan truk terdengar ditutup. Pak Joko dan kernetnya telah masuk ke dalam kabin.

​"Ayo berangkat, Mamat. Keburu hujan turun lagi nanti di jalan tol," samar-samar Senja mendengar suara berat Pak Joko dari depan.

​Truk tua itu bergetar hebat saat masuk ke gigi satu. Mesinnya menderu kasar, dan perlahan, kendaraan besar itu mulai bergerak membelah keramaian area bongkar muat pasar.

​Dari balik celah kecil terpal biru yang sedikit terbuka, Senja bisa melihat keluar.

​Truk itu bergerak pelan menuju pintu gerbang keluar pasar. Tiba-tiba, truk berhenti mendadak. Terdengar suara ketukan keras di pintu kabin.

​"Permisi, Pak! Tolong matikan mesin sebentar,"

​Darah Senja seolah membeku. Itu suara pria berjas hitam! Pasukan Arga mencegat truk ini di pintu keluar!

​Senja menggigit lengannya sendiri kuat-kuat, menahan jeritan panik agar tidak keluar. Tubuhnya gemetar hebat di bawah tumpukan karung sayur. Jika mereka menyingkap terpal ini, semuanya berakhir. Ia akan diseret kembali ke dalam neraka kemewahan Arga.

​"Ada apa ini, Mas? Saya mau pulang ke kampung, sayurnya sudah habis laku," jawab Pak Joko heran.

​"Kami sedang mencari seorang wanita muda. Tingginya sekitar satu meter enam puluh, mengenakan ransel. Apa Bapak melihatnya menyelinap ke bak belakang truk Bapak?"

​"Wah, nggak ada, Mas. Dari tadi saya dan kernet saya bongkar muat di sini, nggak ada cewek lewat. Apalagi bak saya ini isinya sisa karung kotor sama terpal bau. Siapa juga yang mau sembunyi di situ."

​Terdengar suara langkah kaki yang berat mendekat ke arah bak truk bagian belakang. Jantung Senja berdegup seperti dentuman meriam. Ia memejamkan mata erat-erat, merapalkan doa tanpa henti di dalam kepalanya.

​Seorang pria berjas hitam berdiri tepat di samping bak. Tangan pria itu terulur, meraih ujung terpal biru.

​Hanya tinggal ditarik, dan Senja akan tertangkap basah.

​Namun, tepat pada detik yang sangat krusial itu, terdengar suara keributan dari arah dalam pasar.

​"Bos! Seseorang dengan ciri-ciri jaket yang sama terlihat berlari ke arah stasiun kereta pinggiran!" seru agen lain dari jarak sepuluh meter.

​Pria berjas hitam yang hendak menyingkap terpal itu menghentikan gerakannya. Ia melepaskan ujung terpal, menepuk dinding bak truk dengan kasar.

​"Jalan, Pak! Cepat jalan!" perintah agen itu sebelum berbalik dan berlari menyusul rekan-rekannya ke arah stasiun.

​Truk kembali menderu, kali ini melaju lebih cepat, meninggalkan area pasar, berbelok memasuki jalan raya antar kota, dan semakin lama semakin menjauh dari distrik selatan yang kini sedang diacak-acak oleh pasukan Danendra Group.

​Di bawah terpal yang gelap dan pengap itu, Senja mengembuskan napas yang sedari tadi ia tahan.

​Air mata kembali menetes membasahi pipinya yang kotor oleh debu sayuran. Ia telah berhasil. Ia lolos dari cengkeraman sang raja. Ia benar-benar telah meninggalkan Jakarta.

​Senja menarik lututnya lebih erat, memeluk dirinya sendiri di tengah guncangan truk yang menderu.

​Maafkan aku, Kak Arga... isak Senja dalam hati, meratapi keputusannya. Kau mungkin berkuasa atas seluruh kota itu, tapi kau tidak akan pernah berkuasa atas hatiku dengan cara yang salah. Hiduplah bahagia di atas panggung kristalmu, dan biarkan aku menghilang di duniaku.

​[Pesan Author:]

(Ada sebuah luka yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang pernah mencintai terlalu dalam: Cinta yang posesif tidak akan pernah bisa mengunci jiwa seseorang, ia hanya bisa mengunci fisiknya.

​Arga mengira dengan mengerahkan ribuan orang dan miliaran uang, ia bisa menahan Senja. Ia lupa bahwa Senja bukan sebuah aset perusahaan yang bisa diakuisisi secara paksa. Senja adalah angin; semakin kuat kau menggenggamnya, semakin cepat ia menyelinap dari sela-sela jarimu.

​Truk sayur yang kotor itu membawa Senja menjauh, bukan untuk menghukum Arga, melainkan untuk memberikan waktu bagi alam semesta bekerja. Terkadang, kita harus kehilangan sesuatu sepenuhnya agar kita belajar bagaimana cara yang benar untuk memilikinya. Arga harus hancur berkeping-keping untuk menyadari bahwa cinta tidak diraih dengan kekuasaan, melainkan dengan pengorbanan ego. Dan di luar sana, Natasha tengah bersiap menari di atas kehancuran ini, tanpa sadar bahwa ia hanya akan mempercepat kebangkitan cinta sejati yang sesungguhnya.)

​Sementara itu, di pintu keluar pasar tradisional.

​Arga Danendra berdiri mematung di bawah langit siang yang perlahan mulai mendung. Rambutnya berantakan, kemeja mahalnya kotor terkena cipratan lumpur pasar.

​Raka berlari menghampirinya dengan napas tersengal.

​"Bos... stasiun kereta kosong. Orang berjaket itu ternyata hanya seorang anak remaja yang kebetulan memakai jaket yang sama," Raka melaporkan dengan wajah tertunduk, tidak berani menatap mata bosnya. "Kami kehilangan jejaknya, Ga. Dia berhasil keluar dari perimeter."

​Arga tidak merespons. Ia menatap jalan raya panjang di hadapannya yang dipenuhi lautan kendaraan bermotor. Kota ini terlalu besar, dan dunia di luar sana terlalu luas.

​Gadisnya telah pergi. Bidadarinya telah terbang meninggalkannya.

​Tiba-tiba, rintik hujan mulai turun dari langit Jakarta, membasahi wajah sang miliarder. Arga menjatuhkan lututnya ke atas aspal yang kotor dan berair. Pria yang memegang kendali atas perekonomian negeri itu menengadahkan wajahnya ke langit, dan sebuah raungan keputusasaan yang sangat menyayat hati pecah dari tenggorokannya, menenggelamkan gemuruh guntur di atas sana.

​Kekalahannya telah mutlak. Sang Raja Iblis kembali sendirian di dalam istana esnya yang megah, menanti badai masa lalu (Natasha) yang akan segera mengetuk pintunya di saat ia berada di titik paling hancur dalam hidupnya.

1
𝐀⃝🥀Weny
kira² apa yang mau dilakukan Natasya ya🤔
𝐀⃝🥀Weny: astaga /Facepalm//Facepalm//Facepalm/ sebelumnya kuracuun dirimu🤣🤣😜😜
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
aduuuh... mama Rini gangguin aja, kan Arga sudah menahan diri lama😜😜😜😜🤣🤣🤣
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
terkadang luka yg ditorehkan masa lalu tidak bisa hilang begitu saja... jadi kamu harus bersabar senja dan bangunlah kepercayaan kembali untuk Arga 😊
𝐀⃝🥀Weny
Alhamdulillah.. mamanya Arga gak kayak orang kaya yg jahat🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
ya pastinya kamu Raka 🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
akhirnya senja sudah memaafkan Arga... semoga Arga tidak membuat ulah lagi 😅🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
mungkin permintaan senja, kalau memang Arga mencintainya jangan pernah ikut campur urusannya.. biarlah waktu mengalir sebagaimana mestinya...
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ren₂₄🏡s⃝ᴿ M⃟3💋
mampir
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: 😍😍😍🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
hempaskan saja si hama itu, bikin sakit mata saja😅😅😅
𝐀⃝🥀Weny: /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 4 replies
𝐀⃝🥀Weny
demi mengejar cinta, apa saja akan ku lalui ... ahaaaay🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
heemmm.. padahal cinta, kenapa gengsi😅🤣🤣🤣jangan pantang menyerah Arga, kejarlah trs😄
𝐀⃝🥀Weny
wah bakalan seru nih, si Natasha juga sudah balik dan mau menemui Arga 😄 aduh senja, meskipun kamu menyamar gak bakalan bisa lari dari Arga Karena dia punya insting yang bagus🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny: preeeett 😜
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
larilah sejauh yang kamu mau senja, tapi ingatlah sejauh apa pun kamu lari.. pasti ditemukan juga sama Arga.. kecuali yang membantumu lari itu musuhnya Arga 😅🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny: asek aseeeek... cinta palsu🤣🤣🤣😜
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
sudah dikasih kebebasan sesuai keinginan kenapa gak langsung keluar😅 sekarang menyesalkan, tadi aja sok²an gak mau😏🤣🤣🤣
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 3 replies
𝐀⃝🥀Weny
sejatinya kebahagiaan tidak di ukur dengan harta, tapi nek gak punya harta Yo meh ngenesss/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: ooooooooooooooo
total 5 replies
𝐀⃝🥀Weny
terkadang yg di butuhkan bukan kemewahan, melainkan sederhanaan dan kedamaian 🥰
𝐀⃝🥀Weny
sebuah kekuasaan memang pemenangnya 🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny: 😪😪😪😪😪
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
tuhkan... senja kecewa😅 harusnya sebelum pergi tu alasan kalau ingatanya sudah pulih, gak langsung pergi gitu aja😪🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
mungkinkah Arga pura² tidak kenal senja untuk mengelabuhi musuh soal kelemahannnya🤔
𝐀⃝🥀Weny
kasihan senja ditinggal gitu aja😪 bersabarlah senja, suatu saat nanti kamu pasti tau kebenaran tentang Arga😅😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!