Demi menyelamatkan keluarganya, Alina terpaksa menerima pernikahan kilat dengan pria asing yang bahkan belum sempat ia kenal. Ia mengira pernikahan itu hanya formalitas, hingga hari pertama bekerja di perusahaan impiannya mengubah segalanya.
Pria dingin yang duduk di kursi CEO itu ternyata adalah suaminya sendiri.
Di depan semua orang, pria itu bersikap seolah mereka orang asing. Namun diam-diam, ia selalu melindungi Alina dari setiap fitnah dan bahaya yang mengintainya. Saat identitas mereka akhirnya terbongkar, rahasia besar, perebutan kekuasaan, dan pengkhianatan mulai mengancam rumah tangga mereka.
Mampukah cinta tumbuh di balik pernikahan yang dipenuhi rahasia? Atau justru semuanya akan berakhir sebelum benar-benar dimulai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bali yang Ahirnya Dinikmati
Pagi kedua setelah Alina berhasil “mengusir” Devan keluar dari kamar hotel terasa jauh berbeda.
Kalau biasanya Devan harus membangunkan Alina, pagi itu justru suara ketukan kecil di pintu kamar mandi yang membuat pria tersebut terbangun.
“Devan.”
Tidak ada jawaban.
“Devan!”
Pria itu membuka mata dengan malas.“Apa?”
“Kita terlambat.”
Devan menatap jam di meja samping tempat tidur.Baru pukul enam pagi.Ia mengerutkan kening.
“Terlambat dari apa?”
“Dari jadwal.”
Devan duduk.“Jadwal apa?”
Pintu kamar mandi terbuka.
Alina muncul dengan rambut yang masih sedikit basah dan pakaian santai.
Ia memegang ponsel di tangannya.“Ini.”
Devan menerima ponsel tersebut.
Di layar terdapat catatan yang cukup panjang.
Pukul tujuh sarapan.
Pukul delapan berangkat.
Pukul sembilan jalan-jalan.
Pukul dua belas makan siang.
Pukul dua siang mengunjungi tempat wisata.
Pukul empat kembali ke pantai.
Pukul enam melihat matahari terbenam.
Devan membaca semuanya dengan wajah datar.“Kamu membuat jadwal?”
“Iya.”
“Ini liburan atau agenda rapat?”
Alina mengambil kembali ponselnya.“Kalau tidak dijadwalkan, nanti kamu mengajakku kembali ke ranjang.”
Devan tertawa kecil.“Trauma sekali.”
“Bukan trauma. Belajar dari pengalaman.”
Devan bangkit dari tempat tidur.“Baiklah.”
Ia berjalan mendekat.“Mulai hari ini aku mengikuti jadwal Nyonya Alina.”
Alina tersenyum puas.“Bagus.”
“Tapi ada satu syarat.”
“Apa?”
“Kalau aku capek, aku boleh mengeluh.”
“Boleh.”
“Kalau aku lapar?”
“Boleh.”
“Kalau aku ingin istirahat?”
“Boleh.”
Devan mengangguk.“Kalau aku ingin mengajak istriku duduk sebentar menikmati pemandangan?”
Alina berpikir sejenak.“Boleh.”
“Kalau aku ingin—”
“Sudah.”
Alina mendorong bahunya.“Cepat mandi.”
Devan tertawa.
Setelah sarapan, mereka berangkat.
Hari itu Alina ingin menikmati Bali dengan lebih santai.
Mereka tidak mengejar terlalu banyak tempat.
Alina hanya ingin melihat pemandangan, mencoba makanan, dan menikmati waktu bersama.
Tujuan pertama mereka adalah sebuah kawasan yang dipenuhi bangunan tradisional dan toko-toko kecil.
Begitu turun dari mobil, Alina langsung terpukau.“Bagus sekali.”
Devan berdiri di sampingnya.“Kamu suka?”
“Suka.”Alina mengeluarkan ponsel.
“Foto.”
“Lagi?” tanyanya terkejut" Memangnya kemarin kurang?”desahnya “Menurutku cukup.”
“Menurutku belum.”
Devan menghela napas.
Namun tetap berdiri di samping Alina.
“Sekarang senyum.”
Devan tersenyum.
“Jangan seperti itu.”
“Seperti apa?”
“Seperti sedang foto untuk kartu identitas.”
“Aku sudah tersenyum.”
“Itu bukan senyum.”
Devan mengangkat alis.
“Lalu?”
“Begini.”
Alina tersenyum lebar.
Devan menirunya.
Klik.
Alina melihat hasilnya.
“Nah.”
“Bagus?”
“Bagus.”
“Berarti aku mulai pandai.”
“Jangan cepat puas.”
Mereka berjalan lebih jauh.
Alina sesekali berhenti untuk melihat berbagai barang kerajinan.
Devan yang awalnya hanya mengikuti akhirnya ikut memperhatikan.“Apa kamu suka yang itu?”
Alina menunjuk sebuah hiasan kecil.“Lucu.”
“Beli.”
“Tidak perlu.”
“Kenapa?”
“Sudah terlalu banyak.”
Devan mengambilnya.“Kalau kamu suka, beli.”
Alina menatapnya.“Kamu kalau soal belanja memang gampang sekali.”
“Bukan aku yang belanja.”
“Lalu?”
“Anggap saja aku investor.”
Alina tertawa.“Investor apaan?”
“Investor kebahagiaan istri.”
“Gombal.”
“Fakta.”
Akhirnya hiasan kecil itu masuk ke dalam tas belanja mereka.
Menjelang siang, mereka mencari tempat makan.
Alina memilih sebuah restoran dengan suasana terbuka.
Begitu makanan datang, ia langsung terlihat antusias.
Devan memperhatikannya.“Kenapa?”
“Kamu kelihatan bahagia.”
“Karena lapar.”
Devan tertawa.“Jadi bukan karena bersamaku?”
“Dua-duanya.”
“Jawaban aman.”
Alina mencicipi makanannya.
Matanya langsung membesar.“Enak!”
Ia menyodorkan makanan kepada Devan.“Coba.”
Devan mencicipi.“Enak.”
“Kan?”
Alina kemudian memesan beberapa makanan lain.
Devan melihat meja mereka yang semakin penuh.“Kamu yakin kita bisa menghabiskan semuanya?”
Alina mengangguk.“Bisa.”
Satu jam kemudian, Devan menatap meja yang masih menyisakan beberapa piring.
Ia menatap Alina.
Alina pura-pura tidak melihat.“Jangan lihat aku.”
“Aku tidak melihatmu.”
“Kamu jelas melihat.”
“Katanya bisa habis.”
“Memang akan habis.”
“Kapan?”
Alina menunjuk Devan.
“Kamu bantu.”
Devan menggeleng sambil tertawa.
“Ini namanya jebakan.”
“Ini namanya kerja sama suami istri.”
Akhirnya mereka menghabiskan makanan itu bersama.
Setelah makan, mereka melanjutkan perjalanan.
Sore hari, Alina meminta Devan berhenti di sebuah tempat yang menawarkan pemandangan indah.
Mereka berjalan cukup jauh.
Devan yang terbiasa dengan sepatu formal mulai mengeluh.
“Alina.”
“Hm?”
“Kakiku pegal.”
Alina menoleh.“Kamu capek?”
“Sedikit.”
“Kita istirahat.”
Mereka duduk di sebuah bangku.
Alina mengambil air mineral dari tas.“Nih.”
Devan menerimanya.“Terima kasih.”
Alina kemudian tersenyum.“Bagaimana rasanya menjadi turis?”
“Berat.”
“Padahal baru sehari.”
“Aku lebih suka rapat.”
Alina tertawa.
“Tidak boleh.”
“Kenapa?”
“Karena selama dua minggu ini kamu milikku.”
Devan menoleh.“Dua minggu?”
Alina mengangguk.
“Kita masih punya beberapa hari.”
“Dan kamu sudah membuat jadwal?”
“Sudah.”
Devan memijat pelipisnya.“Aku mulai menyesal.”
Alina tertawa.“Sudah terlambat.”
Mereka kemudian kembali ke pantai menjelang sore.
Langit mulai berubah warna.
Alina berjalan tanpa alas kaki.
Devan mengikutinya.
Kali ini tidak ada kejar-kejaran.
Mereka hanya berjalan perlahan di sepanjang tepian air.
Alina menggenggam tangan Devan.“Besok kita ke mana?”
“Kamu yang menentukan.”
“Benarkah?”
“Benar.”
“Kalau aku mau naik perahu?”
“Naik.”
“Kalau mau snorkeling?”
Devan menatapnya.“Kamu bisa?”
“Belum.”
“Berarti belajar.”
Alina tersenyum lebar.
“Kalau aku takut?”
“Aku temani.”
“Kalau aku tenggelam?”
Devan langsung mengerutkan kening.“Jangan bicara begitu.”
Alina tertawa.“Aku bercanda.”
Devan menghela napas.“Jangan bercanda soal itu.”
Alina menatap wajah suaminya.Kemudian tersenyum lembut.“Baik.”
Mereka berhenti ketika matahari mulai turun.
Alina mengambil kamera.
“Devan.”
“Hm?”
“Duduk.”Devan duduk di pasir.
Alina duduk di sampingnya.
Ia mengatur kamera.“Jangan bergerak.”
“Aku tidak bergerak.”
“Jangan bicara.”
Devan menutup mulut.
Klik.
Klik.
Klik.
Beberapa foto berhasil diambil.
Alina melihat hasilnya.
Ada foto mereka berdua dengan wajah serius.
Ada foto Devan sedang menatap laut.
Ada foto Alina tertawa.
Ada satu foto ketika Devan sedang menatap Alina.
Alina berhenti pada foto terakhir.
“Kamu lihat apa?”
Devan ikut melihat.“Kamu.”
“Bukan laut?”
“Bukan.”
Alina tersenyum malu.“Kenapa?”
“Tidak tahu.”Devan mengambil kamera itu.
“Kadang aku memang lebih tertarik melihatmu daripada pemandangan.”
Alina memukul lengannya pelan.“Jangan mulai.”
“Aku cuma jujur.”
“Gombal.”
“Tapi kamu senang.”
Alina tidak menjawab.
Ia hanya menyandarkan kepala di bahu Devan.Matahari semakin rendah.
Cahaya keemasan menyelimuti wajah mereka.
“Aku ingin mengingat hari ini,” kata Alina.
“Kenapa?”
“Karena rasanya sederhana.”
Devan menatapnya.“Bukankah kamu suka sesuatu yang mewah?”
“Aku suka mewah.”
Alina tertawa kecil.
“Tapi aku juga suka seperti ini.”
Ia menunjuk pantai.“Tidak ada pekerjaan. Tidak ada telepon kantor. Tidak ada orang yang meminta sesuatu.”
Devan mengangguk.
“Kalau begitu kita harus sering melakukan ini.”
“Setuju.”
“Bukan hanya di Bali.”
Alina menatapnya.“Di mana?”
“Di mana saja.”
Devan menggenggam tangannya.“Asalkan bersamamu.”Alina tersenyum.
Malam itu mereka memilih makan malam di restoran yang menghadap laut.
Suasananya tenang.
Lampu-lampu kecil menyala di sekitar mereka.
Angin malam berembus lembut.
Alina menikmati makan malam sambil sesekali bercerita tentang tempat-tempat yang ingin mereka kunjungi suatu hari nanti.
“Aku ingin ke Jepang.”
“Boleh.”
“Swiss.”
“Boleh.”
“New Zealand.”
“Boleh.”
“Paris.”
Devan tersenyum.
“Boleh.”
Alina menatapnya.
“Semua boleh?”
“Selama waktunya ada.”
“Dan pekerjaan?”
“Bisa ditinggalkan sebentar.”
Alina tersenyum.“Tumben.”
“Aku sudah belajar.”
“Belajar apa?”
“Bahwa perusahaan bisa menunggu.”Devan menggenggam tangannya di atas meja.
“Tapi waktu bersama orang yang kita cintai tidak selalu bisa diulang.”
Alina terdiam.
Kalimat itu sederhana, tetapi terasa sangat dalam.
Ia membalas genggaman tangan Devan.
“Kalau begitu, jangan lupa.”
“Aku tidak akan lupa.”
Malam semakin larut.
Mereka kembali ke hotel dengan perasaan puas.
Begitu masuk kamar, Alina langsung menjatuhkan diri ke sofa.
“Capek.”
Devan tertawa.“Katanya mau menikmati Bali.”
“Menikmati bukan berarti tidak capek.”
Devan duduk di sampingnya.“Besok masih ada jadwal.”
Alina langsung menoleh.“Jangan bilang kamu mau membatalkannya.”
“Tidak.”
“Bagus.”
Devan tersenyum.“Besok kita lakukan apa pun yang kamu mau.”
Alina berpikir.
Kemudian senyumnya melebar.“Aku sudah punya rencana.”
“Apa?”
“Rahasia.”
Devan menghela napas.“Kenapa aku merasa besok akan melelahkan?”
“Karena kamu suamiku.”
Devan tertawa.
Alina ikut tertawa.
Malam itu mereka tidur dengan perasaan ringan.
Hari kedua di Bali telah berlalu.
Dan tanpa mereka sadari, waktu liburan yang tersisa semakin sedikit.
Namun masih ada satu hari terakhir yang ingin mereka nikmati sepenuhnya.
Hari terakhir yang akan menjadi kenangan sebelum mereka kembali ke Jakarta.