Indonesia
NovelToon NovelToon
Dikiranya Numpang Hidup, Padahal Aku Bos Suamiku

Dikiranya Numpang Hidup, Padahal Aku Bos Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Balas Dendam / Identitas Tersembunyi
Popularitas:35.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy Ghina

"Mas bilang jatah uang belanja Nisa dipotong dua juta untuk Sisil. Nisa pikir, kalau Sisil sudah dapat uang tunai dua juta dari Mas Rian, buat apa lagi dia pakai kartu kredit atas nama Nisa? Lagi pula, Nisa kan cuma wanita bodoh yang nggak punya penghasilan. Nisa takut nggak sanggup bayar tagihan kartu kredit itu bulan depan."


Demi cinta yang ia kira tulus, Annisa yang baru berusia 24 tahun itu rela menyembunyikan identitas aslinya. Ia berpura-pura cuma gadis yatim piatu biasa saat dipersunting Rian, pria yang kini berumur 28 tahun. Annisa cuma ingin menguji—apakah Rian benar-benar mencintainya atau cuma mengincar hartanya.

Dan suatu hari, jawaban dari ujian itu makin jelas kelihatan.

Tiga tahun pengorbanannya. Tiga tahun penyamarannya. Tiga tahun kesabarannya menahan hinaan mertua dan ipar demi menjaga harga diri Rian ... semuanya dibalas dengan pengkhianatan murahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13. Tamparan Realita

Raungan tangis Bu Rini menggema nyaring di dalam ruang tamu yang kini tampak makin pengap. Wanita paruh baya itu berlutut di atas lantai marmer, memegangi ujung celana Pak Danu dengan jemarinya yang dipenuhi perhiasan emas. Namun, pengacara senior itu sama sekali tidak bergeming. Wajah Pak Danu tetap datar dan dingin, sementara dua petugas kepolisian berdiri sigap di sampingnya untuk memastikan proses hukum berjalan tanpa hambatan.

"Pak! Tolong, Pak! Jangan usir kami!" ratap Bu Rini dengan suara parau bercampur napas yang memburu. "Ini rumah anak saya! Rian yang membawa kami tinggal di sini! Mana mungkin rumah seindah ini milik si Nisa yang pengangguran itu?!"

Pak Danu menarik kakinya secara perlahan, menghindari usapan tangan Bu Rini dengan gerakan yang sangat sopan namun tegas.

"Ibu Rini, saya sarankan Ibu segera berdiri dan gunakan waktu yang tersisa untuk mengemas pakaian," ujar Pak Danu dingin. "Sertifikat kepemilikan tanah dan bangunan ini terdaftar secara sah di BPN atas nama Annisa Septiani. Seluruh bukti pembayaran tunai dan hak guna bangunan terikat langsung pada rekening pribadi Mbak Annisa sejak empat tahun lalu—bahkan sebelum anak Ibu mengenal beliau."

Rian yang berdiri di dekat sofa tampak bagaikan mayat hidup. Seluruh persendian di tubuhnya serasa meloloskan diri. Wajahnya yang biasa dipenuhi rasa percaya diri kini pucat pasi, dihiasi keringat dingin yang mengucur deras dari pelipis hingga membasahi kerah kemejanya.

Mata Rian menatap tajam ke arah Annisa yang baru saja menginjakkan kaki di anak tangga terakhir.

"Nisa," panggil Rian dengan suara parau yang gemetaran. Pria itu melangkah terhuyung-huyung mendekati istrinya. "Kamu ... kamu benar-benar tega melakukan ini pada Mas? Pada Ibu dan adik Mas?!"

Annisa menghentikan langkahnya tepat di tengah ruangan. Ia merapikan ujung blazer kremnya dengan gerakan yang sangat anggun. Tatapan mata indahnya yang bening menatap Rian tanpa ada sedikit pun sisa-sisa kehangatan.

"Tega, Mas?" tanya Annisa lembut. "Bukankah kata 'tega' itu lebih cocok ditujukan untuk pria yang tega memberi makan selingkuhannya dengan barang mewah puluhan juta, sementara di rumah ia tega memotong jatah makan istrinya dan membiarkan ibunya kelaparan di tengah rumah tanpa listrik?"

Jleb!

Sindiran Annisa bagaikan sembilu tajam yang langsung menusuk dada Rian. Wajah Rian kian memerah menahan rasa malu yang amat sangat di depan Pak Danu, para petugas kepolisian, dan anak buah Vantara Group.

"Nisa! Mas tahu Mas salah!" seru Rian panik. Pria yang selama tiga tahun ini selalu bersikap angkuh dan memandang rendah Annisa, mendadak menjatuhkan kedua lututnya ke lantai. *Brak!* Rian bersimpuh tepat di hadapan Annisa.

Bu Rini dan Sisil yang menyaksikan hal itu langsung terperanjat histeris.

"Rian! Kenapa kamu bersimpuh di depan cewek itu?!" jerit Bu Rini tidak terima. "Berdiri, Rian! Berdiri! Jangan rendahkan harga dirimu di depan menantu kurang ajar ini!"

Rian tidak mendengarkan teriakan ibunya. Rasa takut akan kehancuran karier, ancaman penjara atas penggelapan dana kantor, dan kenyataan bahwa ia akan dibuang ke jalanan tanpa harta sepeser pun telah merobohkan seluruh kesombongannya.

"Nisa ... tolong, Nisa," mohon Rian dengan suara tercekik, mencoba meraih jemari tangan Annisa. "Tolong cabut gugatan cerai itu ... tolong batalkan pengosongan rumah ini. Mas janji ... Mas akan putuskan hubungan dengan Eriska hari ini juga! Mas bakal berubah, Nisa! Mas bakal ikuti semua kemauan kamu!"

Annisa menarik tangannya ke belakang sebelum jemari Rian sempat menyentuhnya. Ia menatap Rian dari atas ke bawah dengan pandangan yang sarat akan rasa jijik.

"Sudah terlambat, Mas Rian," bisik Annisa pelan. "Tiga tahun Nisa bersabar. Tiga tahun Nisa menahan semua hinaan dari Ibu dan Sisil demi menjaga harga diri Mas Rian sebagai kepala keluarga. Nisa menyembunyikan identitas Nisa sebagai putri tunggal pemilik Vantara Group dan mengaku anak yatim piatu, hanya untuk melihat ... apakah Mas Rian mencintai Nisa karena tulus atau karena takhta."

Rian mendongak, matanya melotot lebar dengan pupil yang bergetar hebat. "P-putri ... pemilik Vantara Group ...?"

Kata-kata itu bergema nyaring di dalam ruang tamu, menghantam gendang telinga Rian, Bu Rini, dan Sisil bagaikan dentuman meriam yang meretakkan dinding-dinding rumah.

Bu Rini yang tadinya hendak memaki Annisa lagi mendadak membisu total. Mulutnya ternganga lebar, matanya membelalak tak percaya.

Vantara Group?! Konglomerasi raksasa yang menguasai jaringan properti, perhotelan, dan infrastruktur terbesar di negeri ini?!

"N-nggak mungkin," gumam Bu Rini dengan suara mencicit, seluruh tubuhnya mendadak gemetaran hebat. "K-kamu ... anaknya Pak Yusuf Al Ghazali ...?"

Annisa tidak merespons ucapan Bu Rini. Ia hanya menatap Rian yang kini tampak begitu kerdil dan malang di bawah kakinya.

"Dan hasil dari ujian tiga tahun itu sangat jelas, Mas," lanjut Annisa dengan nada dingin yang menusuk puncaknya. "Mas Rian bukan cuma pria yang silau harta dan sombong karena jabatan kecil sebagai Manager. Tapi Mas Rian juga seorang penakut yang menyalahgunakan kepercayaan kantor demi memanjakan wanita simpanan."

Pak Danu melangkah mendekat, melihat jam tangan Rolex di pergelangan tangannya. "Mbak Annisa, waktu lima belas menit pertama sudah berlalu. Mobil pribadi Mbak Annisa sudah siap di depan."

Annisa mengangguk pelan. "Terima kasih, Pak Danu. Tolong awasi pengosongan ini sampai selesai. Pastikan tidak ada satu pun barang berharga milik saya yang terbawa oleh mereka."

"Siap, Mbak Annisa," jawab Pak Danu tegas.

Annisa membalikkan badan, melangkah dengan anggun menuju pintu keluar. Setiap pijakan sepatu high heels-nya menciptakan bunyi ketukan yang mantap, seolah menginjak-injak sisa-sisa kesombongan keluarga Rian yang kini hancur menjadi debu.

"Annisa! Jangan pergi, Nisa! Annisa!" jerit Rian histeris seraya mencoba merangkak mengejar Annisa.

Namun, dua orang petugas kepolisian bertubuh tegap dengan sigap memasang badan, menahan dada Rian hingga pria itu tertahan di lantai.

"Pak, tolong kooperatif! Jangan menyulitkan petugas!" tegur salah satu polisi dengan nada tegas dan berat.

Di luar pekarangan rumah, sebuah mobil Sedan Mercedes-Maybach berwarna hitam mengilap telah terparkir manis dengan pintu penumpang belakang yang sudah dibukakan oleh seorang pengawal pribadi berseragam rapi.

Di dalam mobil, duduk seorang pria tegap berwajah tampan dengan aura matang yang amat pekat. Pria itu tak lain adalah Fandi Prasetyo. Fandi mengenakan kemeja putih dengan lengan yang tergulung rapi hingga siku, memperlihatkan jam tangan mewah dan garis lengan yang kokoh.

Annisa masuk ke dalam mobil, melipat gaunnya dengan anggun, dan duduk di samping Fandi.

Pintu mobil ditutup rapat, mengisolasi seluruh kebisingan dan jeritan histeris dari dalam rumah Rian. Udara sejuk dan aroma wangi sandalwood yang menenangkan di dalam mobil mewah itu seketika menyapa indra penciuman Annisa.

Fandi menoleh perlahan, menatap wajah Annisa dengan sepasang mata cokelat gelapnya yang tenang dan dewasa. Tidak ada tatapan kasihan di sana—hanya ada tatapan penghormatan yang sangat tinggi untuk ketegaran seorang wanita.

"Semuanya berjalan lancar, Annisa?" tanya Fandi dengan suaranya yang berat dan menenangkan.

Bersambung...

1
Cicih Sophiana
jgn gitu dong kalian... kalian juga kan pernah ikut menikmati uang nya... teman lagi susah bukan nya membantu ini malah di bully... teman macam apa kalian
Mutaharotin Rotin
laaannjjuut Mak ghin
Mutaharotin Rotin
kok g update lagi mom 🙏🙏🙏
Cicih Sophiana
itulah pelakor pasti cari kaki laki yg bisa di pirotin walau udah punya istri...
Cicih Sophiana
cakep 👍 ibu dapat balasan nya yg membuat pingsan...
Cicih Sophiana
pak Ginanjar tolong saya pak... saya lapar tp tdk punya yang untuk membeli sesuatu...🫢
Mulaini
Rian dan Eriska sudah pasti dapat hukuman penjara lebih lama.
Mulaini
Rian penangguhan penahanan mu di tolak.
Teh Euis Tea
udah blangsak baru deh ngakuin nisa menantu kemarin2 nisa kalian jadikan babu
Teh Euis Tea
elehh bu rini dulu km punya rasa kemanusiaan ga waktu menindas anisa menantumu
Nar Sih
terima dan jalani nasib mu atas dosa juga kesombongan mu
Nar Sih
jalani saja nasib mu bu rini yg sombong dulu terima kenyataan hukuman untuk ank mu yg mantan suami durjana🤣🤣
Mutaharotin Rotin
kok


🥰🥰🥰🥰🥰
Cicih Sophiana
udah ngabisin uang kantor kamu Rian... sekarang kamu minta di bebaskan? mimpi aja kali
Cicih Sophiana
klo mau menyakiti dan menghina pengangguran... knp dulu kalian menikah?sebelum menikah kan mungkin kamu Rian tadinya sudah pendekatan atau pacaran kan?
Naufal Affiq
penyesalan mu rian terlambat
Naufal Affiq
lanjut mommy
Kar Genjreng
Mak jedurrrr langit runtuh seketika penyesalan bnya sudah tak ada lagi harapan pupus sudah tinggal lah kenangan dan hayalan,,, dengan wajah pucat pasi kedua manusia penghianat
kini duduk di kursi pesakitan,,,ohhh Tuhan
seandainya engkau mengingatkan kala itu
mungkin tidak akan terjadi seperti ini ratapan rian hidayat 😮😮😭😭 sekarang Tuhan sedang berkehendak,,
Kar Genjreng
ya elanhh Bu ketika masih menantu kan Anissa gayanya selangit,,,bahkan tidak perduli sama sekali ga Suami ga mertua ga pula adek iparnya,,, semua menghina nya bahkan selalu memotong uang nafkah
demi adeknya sekarang mengemis menghiba,,,sapa yang perduli dengan dirimu Rini dan sisil ,,,bertahanlah seperti Anissa ketika menjadi menantu dirimu
Sugiharti Rusli
karena kan dalam satu atau dua tahun pernikahan, pasti sudah terlihat watak aslinya sih seharusnya,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!