Luna berjalan menyusuri jalanan yang sepi di malam yang semakin pekat dan dari jauh dia melihat sosok anak kecil berlari kencang dengan napas tersengal-sengal dan di belakang gadis kecil itu terlihat seorang pria bertubuh tinggi berkulit hitam dengan wajah layaknya seorang penjahat, pria itu berlari mengejar gadis kecil itu sambil mengarahkan pistolnya ke udara memberi peringatan keras pada gadis kecil yang semakin ketakutan itu.
Merasa ada yang tidak beres dengan sigap Luna meraih tubuh mungil gadis kecil itu dan membawanya bersembunyi di dalam sebuah gang sempit sambil menutup mulut gadis kecil itu agar tidak bersuara.
Luna menatap gadis kecil yang ketakutan itu sambil meletakkan jari telunjuknya ke mulutnya memberi isyarat, gadis kecil itu menganggukkan kepalanya menurut.
Luna berhasil menyelamatkan gadis kecil itu dari kejaran para penjahat.
yuk ikuti kelanjutannya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isshabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.20 Tatapan yang berubah
Leon membopong tubuh Luna yang sudah penuh bersimbah darah itu, Luna terkulai lemas dan tidak sadarkan diri dalam gendongan Leon.
Leon berlari kencang menggendong tubuh Luna dan membawanya masuk ke dalam sebuah kamar yang terletak tidak jauh dari kamar utama, dengan perlahan Leon membaringkan tubuh Luna di atas tempat tidur itu sambil berbisik lirih pada Luna "Bertahanlah Luna, jangan tinggalkan Emily," ucapnya dengan kesadaran penuh dan rasa emosional yang mendalam sekelebat bayangan masa lalu itu hadir saat Aleysa(ibunya Emily) juga terbaring tidak sadarkan diri setelah mendapat tusukan senjata tajam dari musuh Leon yang juga menyusup masuk ke dalam mansionnya persis seperti yang Luna alami saat ini.
"Cepat panggilkan Dokter!! Sekarang juga...!!" teriak Leon dengan suara kencang dan membahana di seluruh ruangan kamar itu.
Dengan segera Asisten Leon menelpon dokter keluarga dan menyuruhnya untuk segera datang ke mansion.
"Dokter David sudah meluncur ke sini Tuan," ucap asisten Leon.
"Mami Luna...," Emily yang berdiri di samping Leon menangis melihat Luna yang masih terbaring tidak sadarkan diri itu.
Dan tak lama kemudian tim medis pribadi Leon sudah datang dan masuk ke dalam kamar itu. Dokter David dan timnya bersiap untuk mengobati luka sabetan di lengan Luna.
"Tolong semuanya keluar dari ruangan ini, kami akan melakukan pengobatan pada Nyonya Luna," perintah Dokter David pada semua orang yang berada di dalam kamar itu.
Asisten pribadi Leon dan semua pengawal yang ada di sana mulai keluar meninggalkan kamar itu, Bibik senior menggandeng Emily dan membimbingnya untuk keluar dari kamar itu juga.
Leon menolak meninggalkan ruangan dan terus berada di samping Luna. Pria yang biasanya kejam dan tidak tersentuh itu kini memperlihatkan rasa bersalah yang mendalam saat melihat perban melilit tubuh Luna.
Dokter David dan timnya mulai mengobati luka sabetan di lengan Luna, tim dokter mulai membersihkan darah segar yang menetes di sekitar lengan Luna yang terluka itu.
"Sabetan senjata tajamnya cukup dalam Tuan dan luka yang di alami Nyonya juga cukup serius," Dokter David membalikkan badannya dan berkata pada Leon yang sedang berdiri dengan was was di belakang nya.
"Lakukan pengobatan yang terbaik untuknya!" perintah mutlak Leon pada David sambil menyilangkan kedua tangannya di dadanya tak lepas menatap Luna dengan prihatin.
"Baiklah saya akan berikan pengobatan yang terbaik untuk Nyonya Luna," ucap Dokter David pada Leon.
Kemudian Dokter David dan timnya mulai bekerja dengan serius menangani luka sabetan di lengan Luna itu sementara Leon memperhatikannya dari kursi tempatnya duduk yang tidak jauh dari tempat tidur tempat Luna sedang di obati.
"Lihat saja Marcus!! Kalau sampai terjadi apa-apa pada Luna, aku tidak akan melepaskan kamu lagi aku akan buru kamu dan hancurkan kamu dengan tanganku sendiri!!" Leon merutuk di dalam hatinya dengan geram menahan amarahnya pada Marcus yang dulu sudah menyebabkan Aleysa(ibunya Emily) sampai menghembuskan napasnya yang terakhir.
Mata Leon terus memperhatikan dengan seksama setiap detik pengobatan yang di lakukan oleh tim medis Dokter David.
Setelah berlangsung beberapa jam akhirnya pengobatan yang di lakukan pada Luna selesai juga. Dokter David membuka sarung tangan dan maskernya dan berjalan ke arah Leon yang masih setia duduk di kursi menunggu proses pengobatan itu sampai selesai.
"Sudah selesai Tuan, tolong jaga kesehatan Nyonya Luna dan jangan lupa harus rutin minum obatnya agar lukanya cepat sembuh, sebentar lagi Nyonya akan sadar setelah reaksi obat biusnya hilang, ucap Dokter David pada Leon.
"Ya," ucap Leon sambil berdiri menatap Luna yang masih terbaring lemas di atas tempat tidur itu.
Setelah Dokter David keluar dari kamar itu Leon tetap duduk di dalam kamar di sisi tempat tidur menunggu Luna sampai dia siuman.
Anak buah Leon melaporkan bahwa target utama penyusup sebenarnya adalah menghabisi siapa pun yang menjadi sosok terdekat Leon. Leon tersadar bahwa batas antara "pekerja" dan "keluarga" di mata musuh-musuhnya sudah kabur. Luna kini berada dalam bahaya besar bukan lagi sekadar karena statusnya sebagai pengasuh, melainkan karena posisinya di hati Leon dan Emily.
Pintu kamar di ketuk oleh anak buah Leon dan Leon memerintahkannya untuk masuk ke dalam kamar itu "Permisi Tuan," ucap anak buah Leon saat sudah masuk ke dalam kamar itu. "Ada apa?" tanya Leon menatap anak buahnya yang sepertinya membawa sebuah berita untuknya.
"Tuan saya mendengar berita kalau ternyata saat ini para penyusup itu sedang menargetkan orang-orang terdekat Tuan untuk di jadikan sasaran utama mereka,' ucap anak buah Leon dengan wajah yang serius.
Leon menghembuskan napasnya dengan kesal sambil berkata "Ya aku tahu itu, sejak kematian Aleysa(ibu kandung Emily) mereka memang selalu menargetkan orang terdekat aku dan aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi, cukup Aleysa yang menjadi korbannya dan sampai saat ini aku juga masih tidak terima dengan kematian Aleysa aku akan tetap balas dendam pada mereka semua," Leon mengepalkan tangannya sampai buku-buku jarinya memutih saking geramnya terhadap musuh-musuhnya itu.
"Mulai detik ini lebih di perketat lagi penjagaan di mansion jangan sampai kejadian serupa terulang lagi, paham!!" Leon menatap lurus pada anak buahnya itu.
"Baik Tuan!" ucap anak buah Leon patuh pada perintahnya.
Anak buah Leon sudah keluar dari kamar itu dan tiba-tiba Leon melihat Luna yang mulai sadarkan diri, buru-buru Leon menghampiri Luna dan berdiri di sisi tempat tidur tempat Luna sedang terbaring. Luna membuka matanya perlahan dan melihat ke sekeliling kamar lalu dia menatap Leon yang berdiri di sampingnya "Kenapa saya ada di kamar ini Tuan?" tanya Luna pada Leon dengan kebingungan.
"Kamu tadi pingsan dan terluka akibat sabetan senjata tajam dari penyusup yang masuk ke dalam mansion ini," ucap Leon dengan suara yang tidak lagi dingin.
"Emily! Mana Emily!!" teriak Luna panik sambil reflek memegang lengan Leon yang masih berdiri di sisi tempat tidurnya itu.
Leon menatap Luna dia bisa merasakan betapa tulusnya sayang Luna pada Emily yang bukan anak kandungnya itu sampai-sampai dia mengkhawatirkan keadaan Emily dengan sebegitunya, perlahan Leon menyentuh tangan Luna yang masih memegang lengannya itu dan berkata pada Luna " Kamu tidak usah khawatirkan Emily, dia tidak apa-apa dia aman sekarang, dan sekarang kamulah yang harus mendapatkan perawatan yang lebih intensif karena luka di lenganmu itu cukup serius kata dokter tadi. Terimakasih karena kamu sudah rela berkorban untuk menyelamatkan nyawa Emily dari para penyusup itu," Leon tersenyum samar pada Luna.
Luna menarik napas lega karena Emily sudah aman dan tidak kenapa-kenapa "Tuan tidak usah berterimakasih kepada saya karena ini sudah tugas saya untuk melindungi Emily sesuai yang tertulis di perjanjian kontrak itu dan Tuan juga sudah menggaji saya cukup besar untuk menjadi pengasuh sekaligus penjaga Emily dan saya rasa apa yang saya lakukan itu wajar Tuan sebagai bukti tanggung jawab saya pada pekerjaan saya," ucap Luna pada Leon dan Leon pun menyadari kalau ternyata Luna adalah wanita yang bertanggung jawab dan konsisten dan itu membuat Leon semakin kagum pada Luna.
Para pelayan dan pengawal menyadari perubahan drastis pada sikap sang majikan. Leon tidak lagi memanggil Luna dengan nada perintah yang kaku, melainkan menunjukkan proteksi penuh, memastikan kenyamanan Luna, dan kerap ketahuan mencuri pandang dengan tatapan hangat yang sarat akan kecemasan.
Di ruang kerjanya saat larut malam, Leon menatap berkas dokumen pernikahan kontrak mereka. Pria itu menyadari aturan utama yang ia buat sendiri—dilarang jatuh cinta—telah hancur berantakan. Rasa khawatirnya pada Luna bukan lagi demi efisiensi kerja atau kebahagiaan Emily, melainkan karena ia benar-benar takut kehilangan Luna sebagai seorang wanita yang dicintainya.