SINOPSIS
Mati di tangan Antagonis yang kejam? Itu urusan belakangan. Tapi hidup miskin dan banyak utang? Itu penistaan bagi jiwa kapitalis Aura!
Bertransmigrasi ke dalam tubuh Elara—seorang figuran pelayan istana lusuh yang ditakdirkan mati di Bab 10—Aura menolak menyerah pada takdir novel klise. Berbekal insting bisnis tingkat dewa dan satu koin emas pusaka curian, ia nekat menerobos masuk ke ruang kerja Pangeran Caden, sang Antagonis utama yang dingin, sadis, dan luar biasa kaya. Bukannya mengemis nyawa, Elara justru memeras sang pangeran dan menawarinya proposal investasi saham!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: Romansa di Tengah Tumpukan Emas
Pintu besi setebal dua meter terbuka perlahan dengan bunyi mekanis yang berat.
Aura nyaris lupa cara bernapas. Di depannya terhampar ruangan seluas lapangan basket yang lantai, dinding, dan langit-langitnya terbuat dari baja putih. Di tengah ruangan, bertumpuk-tumpuk batangan emas batangan, permata seukuran kepalan tangan, dan koin-koin kuno, berserakan seperti mainan Lego anak-anak.
Ini adalah Brankas Bawah Tanah Pribadi Pangeran Caden.
"Ya Tuhan... Ya Gusti... Buddha, dewa kekayaan cai shen ye... ini surga dunia," bisik Aura, matanya melotot nyaris copot. Ia berjalan tertatih-tatih mendekati gunungan emas itu, lalu tanpa aba-aba, ia menjatuhkan dirinya ke atas tumpukan koin emas layaknya berenang di lautan.
"Aduh! Keras, anjir! Tapi enak! Dingin-dingin mahal!" erang Aura sambil memeluk sebuah batangan emas yang beratnya mencapai lima kilogram.
Caden berjalan di belakangnya, kedua tangannya masuk ke dalam saku celana. Senyum tipis, sangat tipis namun hangat, tak lepas dari bibirnya melihat tingkah ajaib gadis itu.
Seorang pelayan masuk membawa sebuah meja bundar kecil berlapis taplak putih, lengkap dengan dua porsi steak wagyu A5, caviar, dan sebotol wine yang harganya setara dengan sebuah desa. Meja itu diletakkan tepat di tengah brankas, dikelilingi oleh gunungan harta.
"Makan dulu, Elara. Kau bisa memeluk emas-emas itu lagi nanti," panggil Caden, duduk di salah satu kursi, menuangkan wine ke dalam gelas.
Aura bangkit dengan susah payah, masih enggan melepaskan batangan emas dari pelukannya. Ia membawanya ke meja makan dan meletakkannya di pangkuannya seperti memeluk seekor kucing Persia.
"Bos," Aura menatap hidangan mewahnya, lalu menatap Caden. "Gue mulai curiga. Bos baik banget sama gue akhir-akhir ini. Pindahin meja kerja, beliin baju, ngasih bonus gila-gilaan, sekarang ngajak makan di brankas. Bos nggak lagi rencanain money laundering (pencucian uang) dan mau jadiin gue kambing hitamnya, kan?"
Caden menghentikan gerakan tangannya yang sedang memotong daging. Ia menatap Aura dengan pandangan tidak percaya.
"Kau meragukan niat baikku dan menuduhku melakukan kejahatan finansial rendahan seperti pencucian uang?" suara Caden terdengar dingin, namun matanya memancarkan rasa geli.
"Habisnya, aneh aja! Di novel—eh, maksudnya di gosip istana, Bos itu terkenal kejam, sadis, dan nggak punya hati. Boro-boro ngajak makan siang pelayan, ngelihat pelayan napas aja Bos langsung minta algojo turun tangan!"
Aura mengunyah daging wagyunya dengan beringas. "Tapi ke gue, Bos royalnya minta ampun. Kalau bukan karena skill trading gue yang emang setara dewa, gue pasti udah mikir Bos naksir gue."
Suasana brankas itu tiba-tiba menjadi sangat hening.
Caden meletakkan pisau dan garpunya. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, menopang dagu dengan punggung tangannya, menatap tepat ke dalam mata kecokelatan Aura yang membulat polos.
"Lalu," suara Caden terdengar sangat rendah, sedikit serak, dan sangat maskulin hingga membuat udara di brankas itu terasa hangat. "Bagaimana jika pemikiran itu benar?"
Aura yang sedang menelan caviar, langsung tersedak hebat.
"Uhuk! Uhuk! A-apa?! Air! Air!" Aura menepuk-nepuk dadanya panik. Caden dengan tenang menyodorkan segelas air putih yang langsung ditenggak habis oleh Aura.
"B-Bos bercanda, kan?" Aura menatap Caden dengan ngeri. "Jangan pakai prank gitu dong! Gini ya, Bos. Kalau Bos naksir gue, rasionya nggak masuk akal!"
Caden menaikkan sebelah alisnya. "Rasio apa?"
"Rasio investasi emosional!" Aura meletakkan batangan emasnya ke atas meja, mulai menjelaskan dengan serius seperti sedang mempresentasikan grafik saham. "Lihat ya. Bos itu Antagonis... eh maksudnya, Menteri Keuangan terkaya, keturunan raja, tampan, sempurna. Nilai valuasi Bos itu ribuan triliun! Sedangkan gue? Gue cuma cewek barbar dari desa yang modalnya cuma koin hasil nemu di taman! Secara hitung-hitungan merger & acquisition, perusahaan raksasa nggak mungkin mau merger sama perusahaan rintisan miskin yang nggak punya aset tetap!"
"Kau salah, Elara."
Caden berdiri dari kursinya. Ia berjalan memutari meja perlahan, langkah kakinya tidak mengeluarkan suara di atas lantai baja, bagaikan seekor panther hitam yang sedang mengintai mangsa. Ia berhenti tepat di belakang kursi Aura.
Aura menahan napas saat mencium aroma cologne mint dan musk khas pria itu yang kini berada sangat dekat.
Kedua tangan besar Caden bertumpu di sandaran kursi Aura, mengurung gadis itu. Pangeran itu membungkuk, mendekatkan wajahnya hingga bibirnya nyaris menyentuh telinga Aura.
"Di dunia investasi yang aku kenal," bisik Caden, suaranya mengalirkan sengatan listrik ke sepanjang tulang belakang Aura, "Aset yang paling berharga bukanlah emas atau perusahaan raksasa. Aset yang paling berharga adalah aset yang... anomali. Sesuatu yang tidak bisa diprediksi oleh pasar. Sesuatu yang langka, tidak peduli apa kata orang, dan tidak bertekuk lutut pada aturan yang ada."
Caden menyingkirkan sehelai rambut cokelat yang jatuh di leher Aura, sentuhan jarinya yang dingin membuat gadis itu merinding pelan.
"Kau menolak pangeran protagonis yang dicintai seluruh negeri. Kau mengancamku dengan koin pusaka. Kau berteriak soal uang di hadapanku tanpa rasa takut sedikit pun." Caden memutar kursi itu hingga Aura berhadapan langsung dengannya. Jarak wajah mereka hanya beberapa inci. "Kau adalah anomali paling berharga yang pernah kutemukan, Elara. Dan aku... adalah investor yang sangat posesif."
Aura menelan ludah dengan susah payah. Jantungnya berdebar sangat kencang. Ia, yang biasanya bisa membalas perkataan siapa pun dengan tajam, mendadak kehilangan kata-kata.
Sialan. Kenapa Antagonis ini pesonanya lebih gila daripada Pangeran Utama?! batin Aura berteriak panik.
Tapi karena Aura adalah Aura si Gadis Bar-bar, insting kapitalisnya yang sudah mendarah daging segera mengambil alih untuk menutupi kegugupannya.
"E-ekhem!" Aura mendehem keras, wajahnya sedikit memerah. Ia mendorong dada bidang Caden perlahan dengan telunjuknya. "B-Bos! Kalau mau merger atau ngaku naksir, baca dulu syarat dan ketentuannya! Gue ini matre stadium akhir, lho! Kalau Bos naksir, berarti semua aset di brankas ini otomatis jadi joint-asset alias harta gono-gini! Berani nggak Bos?!"
Bukannya marah hartanya diklaim, senyum Caden justru semakin lebar dan berbahaya. Ia meraih jari telunjuk Aura yang ada di dadanya, lalu mengecup buku jarinya dengan lembut namun penuh klaim mutlak.
"Ambil semuanya," jawab Caden, suaranya gelap oleh hasrat dan kepemilikan. "Emasku, hartaku, kekuasaanku. Semuanya milikmu. Tapi sebagai gantinya, nyawamu, waktumu, dan pikiran gila matremu itu... adalah milikku seutuhnya."
Aura mematung. Di dalam otaknya yang biasanya berisi angka-angka, mendadak sistemnya error.
Gawat. Antagonis ini nggak cuma gila harta... dia beneran gila! Dan sialnya... kenapa gue malah ngerasa cuan banget ditaksir orang gila kayak dia?!
Alur novel Cinta Sang Mahkota benar-benar sudah tidak bisa diselamatkan. Sang figuran miskin tidak hanya selamat dari kematian, ia kini sukses melelang hatinya sendiri kepada penawar tertinggi.