Dikiranya Numpang Hidup, Padahal Aku Bos Suamiku
Bismillah
🌹🌹
Kertas tebal berwarna biru muda dengan lambang garuda emas di atasnya tergeletak begitu saja di meja kaca yang agak berdebu. Di sana, tertera tulisan tegap: KARTU KELUARGA.
Annisa Septiani menatap namanya yang tertera di urutan kedua. Sebuah nama pemberian ayahnya—seorang pengusaha properti kenamaan di Jakarta—dengan harapan putri tunggalnya itu tumbuh jadi wanita yang dihormati, anggun, dan mandiri. Tapi selama tiga tahun terakhir, nama Annisa Septiani seolah tak ada harganya. Di rumah ini, ia cuma dipanggil "Nisa", seorang istri yang kerap dianggap numpang hidup.
Demi cinta yang ia kira tulus, Annisa yang baru berusia 24 tahun itu rela menyembunyikan identitas aslinya. Ia berpura-pura cuma gadis yatim piatu biasa saat dipersunting Rian, pria yang kini berumur 28 tahun. Annisa cuma ingin menguji—apakah Rian benar-benar mencintainya atau cuma mengincar harta keluarga Septiani.
Dan pagi ini, jawaban dari ujian itu makin jelas kelihatan.
"Nisa! Kopi Ibu mana?! Jam segini kok belum siap? Kamu tuh di rumah ngapain aja dari tadi, sih?!"
Suara melengking Bu Rini—ibu mertuanya—memecah keheningan ruang tamu. Suara yang saban hari bikin telinga panas. Padahal, rumah berlantai dua yang mereka tempati ini, cicilan tiap bulannya diam-diam selalu dilunasi oleh Annisa lewat rekening rahasianya.
Annisa menarik napas panjang. Ia buru-buru menutup laptop tipis di mejanya—laptop yang baru saja ia pakai untuk memantau pergerakan saham dan laporan keuangan anak perusahaan keluarganya. Setelah mengunci laci meja kerja, ia melangkah ke dapur.
Di meja makan, Bu Rini sedang duduk bersedekap dengan muka ditekuk. Di sampingnya ada Sisil, adik ipar Annisa yang masih kuliah semester lima. Jemari Sisil sibuk mengusap layar ponsel sambil mengoleskan lipstik mahal. Sementara di ujung meja, Rian—suami Annisa—tampak rapi dengan kemeja kantor biru gelap, tersenyum-tersenyum sendiri menatap ponselnya.
"Ini Bu, kopinya. Baru selesai Nisa seduh," ucap Annisa pelan, meletakkan cangkir porselen berisi kopi panas di depan mertuanya.
Bu Rini meraih cangkir itu, menyeruputnya sedikit, lalu mendadak menghempaskannya kembali ke tatakan piring. Trak! Air kopi hitam yang masih mengepul itu terpercik dan mengenai punggung tangan Annisa.
"Panas! Kamu niat bikin kopi apa mau menyiram Ibu, sih?!" bentak Bu Rini tanpa peduli tangan Annisa yang langsung memerah. "Lagian ya, Nis, kamu tuh mumpung masih muda harusnya sadar diri! Lihat suami kamu! Rian banting tulang dari pagi sampai malam cari uang sebagai Manager di perusahaan besar, eh ... dapet istri cuma bisa menghabiskan uang dan malas-malasan di rumah!"
Annisa menunduk, mengusap bekas cipratan kopi di tangannya pakai tisu. Di balik tundukan kepalanya, ada senyum tipis yang getir.
'Menghabiskan uang Mas Rian?'
Gaji Rian sebagai Manager Divisi Pemasaran bahkan tidak cukup untuk bayar pajak tahunan mobil-mobil mewah di garasi rumah orang tua Annisa. Selama tiga tahun menikah, uang belanja tiga juta rupiah dari Rian sama sekali tak pernah Annisa pakai. Semua kebutuhan rumah tangga, biaya listrik, air, sampai gaji ART harian, semuanya keluar dari kartu kredit Annisa sendiri.
Tapi di mata Bu Ambar dan Sisil, Annisa cuma wanita pengangguran tak berpendidikan yang beruntung bisa dinikahi Rian.
"Iya tuh, Mbak Nisa," timpal Sisil tanpa dosa, menaruh cermin kecilnya ke meja. "Mbak Nisa enak banget santai di rumah, nonton TV, makan, tidur. Sedangkan Mas Rian kerja keras demi kita. Oh ya, Mas Rian ... Sisil mau minta uang lima juta dong. Hari ini ada acara kumpul sama geng kampus. Teman-teman Sisil pada pakai tas branded baru. Masa Sisil cuma pakai tas lokal? Malu-maluin nama Mas Rian yang udah jadi Manager!"
Rian menghentikan jemarinya di atas layar ponsel. Wajahnya agak meringis, kelihatan ragu. Tapi karena gengsi di depan ibu dan adiknya, Rian berdeham menutupi rasa canggung.
"Lima juta, Sil? Bukannya minggu lalu Mas baru kasih tiga juta buat beli baju?" tanya Rian.
"Aduh, Rian! Sama adik sendiri kok hitung-hitungan banget, sih?!" potong Bu Ambar cepat. "Uang lima juta kan kecil buat kamu yang udah punya jabatan! Lagian, kalau uangmu kurang, potong aja jatah uang belanja si Nisa! Toh dia di rumah cuma makan sama tidur, gak butuh belanja yang mahal-mahal. Mau gaya kayak gimana lagi dia di rumah?"
Rian menghela napas panjang. Ia menatap Annisa dengan pandangan dingin. Tak ada lagi sisa-sisa rasa sayang seperti dulu saat Rian mengejar-ngejarnya di kampus.
"Ya sudah. Nis, bulan ini jatah uang belanjamu Mas potong dua juta, ya. Nanti sisanya kasihkan ke Sisil," ujar Rian gampang banget, seolah Annisa tak punya hak buat membantah.
Annisa menatap suaminya lurus-lurus. Pria 28 tahun di hadapannya ini benar-benar sudah berubah total sejak diangkat jadi Manager setahun lalu di anak perusahaan Vantara Development Group—perusahaan raksasa yang pemiliknya tak lain adalah ayah kandung Annisa. Rian yang dulu berjanji akan membahagiakannya, kini makin tinggi hati karena pujian semu.
"Ya sudah, kalau itu mau Mas Rian," sahut Annisa tenang. Toh, uang belanja dari Rian selama ini cuma berakhir di kotak amal masjid depan kompleks.
Namun, saat Rian mau meraih gelas tehnya, ponsel pintarnya di atas meja bergetar. Sebuah notifikasi pesan muncul di layar luar yang tidak terkunci. Karena posisi Annisa berdiri tepat di samping Rian, matanya dengan sangat jelas membaca nama pengirim dan isinya:
[Eriska - Pemasaran]: Mas sayang, jangan lupa nanti makan siang bareng di restoran Jepang langganan kita ya ;) Parfum yang kamu beliin kemarin wangi banget, makasih ya calon suamiku ... muah!
Suasana di ruang makan itu mendadak membeku buat Annisa.
Rasa kasihan dan sisa rasa cinta di hati Annisa mendadak amblas tak berbekas. Eriska. Nama staf baru di divisi pemasaran yang belakangan ini sering dipuji Rian sebagai anak buah yang penurut. Ternyata, di balik alasan "lembur kantor" yang selalu diucapkan Rian setiap pulang malam, ada wanita lain yang sedang menikmati hasil uang Rian.
Rian yang sadar Annisa melihat layarnya, buru-buru menyambar ponsel itu. Muka Rian langsung pucat pasi, sebelum akhirnya berubah merah karena panik dan malu.
"Kamu ngapain lirik-lirik HP orang?!" bentak Rian dengan suara meninggi. Ia berdiri mendadak sampai kursinya terdorong ke belakang. "Ini urusan kerjaan kantor! Kamu tuh cewek bodoh gak paham urusan pekerjaan Manager! Jangan sok tahu dan gak usah campuri urusan Mas!"
Bu Rini ikut-ikutan melotot. "Nah, bener kata Rian! Kamu jangan mulai curigaan ya jadi istri! Rian itu orang sibuk! Udah bagus kamu ditampung dan dikasih makan di rumah ini, perempuan gak jelas asal-usulnya!"
Sisil ikut terkekeh sinis sambil mencangklong tasnya. "Mbak Nisa tuh mending ngaca deh. Udah dapet Mas Rian yang ganteng dan sukses, bukannya bersyukur malah nyari gara-gara. Kalau Mas Rian capek, bisa-bisa Mbak Nisa dicerai dan dibuang ke jalanan!"
Annisa berdiri membeku. Tangan tangannya terkepal erat di balik daster rumahan berbahan katun sederhana yang ia pakai. Dadanya berdesir dingin. Tapi bukan karena sedih atau mau menangis. Rasa sakit hati itu sudah hilang, berganti jadi kemarahan yang dingin dan sangat terencana.
Tiga tahun pengorbanannya. Tiga tahun penyamarannya. Tiga tahun kesabarannya menahan hinaan mertua dan ipar demi menjaga harga diri Rian ... semuanya dibalas dengan pengkhianatan murah seperti ini.
Annisa menarik napas panjang, merapikan daster sederhananya, lalu berdiri tegap. Ia mengangkat kepalanya tinggi-tinggi. Saat mata indahnya menatap Rian, tak ada lagi tatapan polos atau takut-takut.
Yang ada cuma tatapan dingin, tajam, dan berwibawa—tatapan khas putri tunggal pengusaha paling berpengaruh di kota ini.
"Mas Rian bener," ucap Annisa dengan suara yang sangat tenang, tapi entah kenapa bikin Rian, Bu Rini, dan Sisil mendadak bungkam. "Nisa memang gak paham gimana caranya kerja jadi seorang Manager."
Annisa melangkah satu tapak mendekati Rian yang membisu melihat perubahan aura istrinya.
"Tapi Nisa tahu banget ... gimana caranya memecat seorang Manager dan bikin dia berlutut tanpa sisa."
Bersambung...
Assalamu'alaikum, met pagi Kakak semuanya. Ada karya terbaru nih dari Mommy Ghina, mau test ombak dulu. Kalau ramai, lanjut. Kalau sepi, dibungkus ☺. Jadi mohon dukungannya ya, semoga saja ceritanya bisa menghibur Kakak semuanya 🤗.
Salam hangat dari atas ranjang, soalnya masih harus bedrest, tapi tangan rasanya gatal ingin menulis 😁. Selamat membaca
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 24 Episodes
Comments
Rohmi Yatun
waalaikumsalam Thor.. sepertinya menarik ni cerita barunya.. dah masuk favorit ni.. semoga bisa lanjut sampe end ya tjor..
dan semoga author cepet sembuh.. aamiin.. 🤲🙏
2026-09-02
1
Sugiharti Rusli
mungkin maksudnya telapak tangan atau tangan kanannya yah mom ini,,,
2026-09-03
0
Kar Genjreng
waalaikumsalam. met pagi juga ,,, terimakasih ya Mommy,,,semoga tambah bagus dan menghibur semua semngat,,,,
kayanya ini seru ayo pada baca karya Mommy terbaru 👍👍🤲🤲
2026-09-02
0