Alba lopez di dijodohkan keluarganya dengan pria yang tidak ia kenali,awalnya ia kesal dan ingin memberontak tapi di pikir-pikir tidak ada gunanya toh antek-antek ayahnya bisa dengan mudah menemuinya akhirnya ia ubah rencana dengan bersikap seolah menerima perjodohan itu setelah pernikahannya dengan pria asing dari keluarga mempuni itu terjalankan akan ia buat pria itu kesal dan illfeel agar cepat di ceraikan. Dan yang tak ia ketahui pria itu tak sesederhana yang ia pikirkan, dan tepat di saat ia mengetahui rahasia tergelap pria itu namun mulai sedikit luluh akankah ia tetap bertahan atau melanjutkan rencananya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon okolele, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mau dinikahkan
...Brazil, Favela....
⚠️ WARNING ⚠️
Adegan, karakter, tempat, peristiwa, dan situasi dalam cerita ini merupakan bagian dari imajinasi penulis. Beberapa unsur dapat dibuat atau dimodifikasi untuk kepentingan cerita dan hiburan semata.
Harap membaca dengan bijak.
Jangan menganggap kejadian dalam cerita sebagai gambaran kehidupan nyata.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Alba berjalan menuju ruang tamu di mana keluarganya berkumpul, ia mendongak menguap lebar rambutnya acak adul, dengan tungkai terus berjalan menuju sofa.
Alba bingung tumben-tunbennya ayah dan ibunya ini jam segini ada di rumah biasanya sudah sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Entahlah Alba merasa firasat buruk,terasa ada yang janggal dari kedua orang tuanya ini.
Alba menundukan bokongnya di sofa sembari matanya menyipit melihat kedua orangtuanya.
"Bangun pagi besok, ikut Papi Mami. "Kalimat itu terucap dari Agro dengan tutur lembut namun menekan.
" Kemana?. "Sahut Alba dengan penasaran yang terasa menggebu.
" Acara tamu ke dua calon mempelai."
"Mempelai, siapa yang mau nikah?. Alba duduk dengan tegak condong ke arah papinya.
" Kamu. "
"Loh papi kok aku sih. " Terlihat riak terkejut di wajah Alba. Ia menggeleng berulang kali.
Alba berdiri di depan papinya.
"Kenapa papi mau nikahin Baba tanpa diskusi dulu sama Baba!. " Alba berkacak pinggang dengan alis menukik.
Agro menghela nafas. "Nurut saja Baba, dia pria mempuni denganya hidupmu terjamin!. "
Alba menghentakan kakinya berulang kali, merengek dengan kepala mendongak menahan air leleh dari kelopak matanya.
"Alba mau bebas papi, kalau cepat di nikahin gimana bisa bebas aku gak mau jadi bengak gara-gara laki-laki itu mau punya anak sama aku terus dia kekang gimana papi. "
Margot berdiri menuntun putri semata wayangnya itu untuk duduk.
Lelehan air turun berlomba-lomba dari pelupuk matanya yang sembab.
"Mami kenapa gak nolak, Baba gak mau nikah mi!. " Dia mendongak menatap maminya berharap maminya bisa menolong nya.
"Baba sayang, yang papi bilang benar. Hidup baba yang dar der dor banget ini kalau menikah dengan laki-laki yang disiapkan akan sejahtera uangmu terus mengalir, daripada nanti Baba menikah dengan yang hanya mengandalkan cinta lalu mencetak banyaknya generasi penerus yang harus memahami kondisi orang tuanya yang tak mampu sampai merelakan mimpinya lebih baik baba menikahi pilihan papi. "Tutur lembut nan hangat Margot berikan pada anak yang sangat ia sayangi itu.
Alba menggeleng, Margot mengusap kepala anaknya dengan sekekali mengusap air matanya dengan ibu jarinya.
" Sialan gue gak mau nikah, kalau kabur papi pasti tetap bakal nemuin gue, ck terpaksa banget harus terima-terima aja." Alba membatin.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Alba meminum sampai habis rum merah di gelasnya yang dia letakan kembali ke meja, jemarinya mengetuk-ngetuk meja memberi kode pada bartender agar menuangkan rum kembali.
Di sebelahnya pun Paloma sama mabuknya, wajahnya memerah dengan memaksa kelopak matanya terbuka lebar.
"Gue harus gimana biar gak dijodohin Ma? "
Alba memejamkan mata saat satu tangannya yang diletakan di meja menumpu pelipisnya yang terasa nyut-nyut.
"Sumpah ya Ba orang tua lo itu terlalu vintage sekarang itu bukan jamannya jodoh-jodohan."
"Gue ga tau, katanya mereka sayang sama gue tapi mereka maksa jodohin,karena laki-laki yang mau jadi calon suami gue itu nyuntik banyak dana ke perusahaan keluarga kami yang mau bangkrut. " Helaan nafasnya berat sembari melihat ke depan tanpa fokus sama sekali.
"Ya udah lo kabur aja Ba!. Udah beres."Paloma mencoba mengusir rasa gundah Alba dengan memberi saran.
"Masalahnya nih ya—"
Alba memnghembus nafas kasar sebelum melanjutkan.
"Semua fasilitas gue bakal di bekukan, jatuhnya gue jadi bokek kalau nolak!. "
"Terus gimana dong?. " Paloma berucap lagi otaknya sekarang buntu memberi sahabatnya ini jalan keluar.
Alba menolak membalas ucapan Paloma.
Beralih menatap gelas kosong yang telah di tuangkan bartender lagi.
"Gue pasrah aja. "
"Wait....Lo serius? . "
Alba tak menjawab ia mengambil gelas berisi rum merah lalu meneguknya lagi tanpa sisa.
Rasa panas dan pahitnya alkohol berkadar tinggi meninggalkan rasa seperti terbakar di kerongkongan.
"Ba bilang sama gue kalo lo itu bercanda kan. " Gencar Paloma menuntut jawab dari Alba.
"Serius."
"Bullshit! . "Suaranya senggau,pecah,
tenggerokanya terasa tercekik.
Paloma menatap mata sahabatnya yang cerah dengan mata belo berwarna hazelnya.
Lalu meleburkan tawa yang lumayan nyaring di sana sembari menepuk-nepuk meja.
"Gue kenak lo Ba, pasti lo punya rencana kan?. "Paloma menunjuk Alba memastikan bahwa praduganya itu benar.
Hanya dalam sekejap saja, ekspresi Alba berubah tak bisa ia tahan tawa karena wajah Paloma yang teramat jenaka menurutnya.
"Tuh kan. " Paloma memyipitkan matanya memandang Alba seakan penghianat.
"Rahasia!. Hanya gue dan tuhan yang tahu. "
"Berarti lo gak nganggap gue gitu,jahat."
Paloma menggeser kursinya sedikit jauh dari Alba sembari membuang muka menolak melakukan kontak mata.
"Sini dulu gue mau cerita, di dengar syukur gak di dengar ya udah terserah lo. "Tutur Alba berusaha membujuk Paloma yang masih membuang muka darinya.
Wajah Paloma masih setia memasang mimik cemberut, dengan terlihat tak bersemangat ia mendekatkan kursinya kembali pada Alba.
" Buruan!. "
Mendengar penuturan Paloma, Alba hanya bisa geleng-geleng kepala kecil.
"Lo tahu gak?, gue itu di tunangkan sama laki-laki dari keluarga yang mempuni. Dan lo tahu yang lebih dar der dor?."
"Gak tau. " Paloma menggeleng pelan menjawab pertanyaan Paloma.
Helaan nafas berat kembali Paloma keluarkan.
"Laki-laki yang mau di Jodohin sama gue itu bahkan bersedia Lom, ngelakuin
perjodohan! . "
Paloma bahkan tak bisa mengeluarkan sepatah katapun mendengar apa yang Alba tuturkan.
"Gue bahkan gak tau wajah, umur, atau latar belakang laki-laki itu. "
Fungsi otak Alba terasa menurun karena minuman mabuk yang terus dia teguk tanpa terputus-putus.
Alba menggigit bibir bawahnya, matanya berkaca-kaca membuat air menggenang di pelupuk mata.
"Seenggak mau itu lo di jodohin Ba?. "Pertanyaan yang membuat Alba kesal itu di lontarkan Paloma.
" Loma, Loma ya jelas aku seenggak mau itu aku masih muda! , gimana kalau laki-laki itu freak?."
"Ya di cobain dulu Ba, kan cobaan itu harus di cobain kalau gak cocok baru kabur tenang, gue punya kok uang, ya resikonya lo harus udah belanja barang branded. "
"Ih gak mau ya, gue gak bisa tanpa gak belanja barang-barang baru."
Paloma hanya bisa melongo sahabatnya ini memang di treat like a princess terbiasa hidup enak.
Alba melirik jam tangannya sudah pukul 10 malam, pasti antek-antek ayahnya mencari,
persetan sudah menjadi rencana hari ini dia akan memberontak.
Tak berselang lama, pintu bar dibanting mereka berdiri di sana,beberapa orang masuk dengan setelah busana serba hitam besertakan tubuh tinggi di sesaki otot.
Alba menoleh, ia mengenal mereka, pasti mereka antek-antek yang ayahnya kirim untuk membawanya pulang.
Sialan.
Alba dengan cepat meraih pergelangan tangan Paloma, beranjak dari kursinya ingin pergi.
Telat.
Tubuh Alba di kunci dari belakang, otot Alba terasa lemas bahunya otomatis merosot menahan berat.
"Hei apa-apaan!. "
Badan Paloma condong ke salah satu bodyguard yang menahan Alba ingin menolong.
Salah satu bodyguard yang ada di belakang Paloma dengan cekatan membekap mulut beserta hidungnya dengan kain yang sudah di lumuri bius.
Alba Murka rahangnya kendur tanpa ia sadari.
Tatapan lekat tanpa kedip ia labuhkan pada bodyguard yang membius sahabatnya.
Bodyguard itu paham kekesalan dan kekhawatiran Magia.
"Dosisnya tidak tinggi nona. "
Hembusan nafas terdengar sangat kasar.
"Udah gue bilang jangan ganggu waktu senggang gue kalian paham—"
Belum sempat Alba menyelesaikan tutur katanya tubuhnya sudah di angkat ala bridal.
Alba murka, lancang sekali bodyguard ini menyentuhnya.
"Bangsat apa yang lo lakuin!.Turunin gue sekarang!,lo mau gue laporin udah lancang nyentuh gue, sama Papi! . "
"Kami di perintah jika nona melakukan perlawanan maka kami boleh melakukan apa saja. "
Alba pasrah di bawa dan di masukan ke dalam mobil di jok penumpang.
Mobil meninggalkan pekarangan bar itu membelah jalanan sepi dengan hanya beberapa mobil saja yang berlalu lalang.
"Drive faster bastard!. Perintah Alba dengan nada rendah menahan segala emosi yang mengumpul .
Bodyguard yang sedang menyetir santai menatap spion tengah mobil untuk melihat nona mudanya.Sebelum menambah lagi kecepatan mengemudinya.
" Paloma benar kalian semua itu terlalu vintage dasar gen milenial. "Dengan sedekap dada ia membuang muka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hola semoga suka sama ceritanya.
For u❤️🔥.
THANK YOU FOR READING. 🖤
Terima kasih sudah membaca sampai akhir.
Semoga ceritanya berkesan dan sampai jumpa di cerita berikutnya.