Indonesia
NovelToon NovelToon
Mr.Possessive

Mr.Possessive

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Biqy fitri S

Jingga Arletha Alinka punya segalanya—kecerdasan, karier gemilang, dan kehidupan glamor sebagai pewaris perusahaan besar. Sayangnya, satu hal yang tidak pernah masuk dalam daftar pencapaiannya adalah: pacar. Bukan karena tak ada yang mendekat, tapi karena ia terlalu sibuk dengan tumpukan pekerjaan dan target perusahaan.
Sampai akhirnya, orang tuanya melemparkan sebuah “kejutan”: perjodohan dengan Levin Artama Putra. Levin adalah pengusaha muda sukses, anak tunggal yang super manja dan Possessive. Tampan? Tentu saja. Menyebalkan? Jelas.
Pertanyaannya, bagaimana mungkin seorang wanita tegas seperti Jingga bisa cocok dengan pria yang bahkan tidak percaya pada cinta? Atau jangan-jangan, justru pertemuan konyol inilah yang akan mengubah hidup mereka berdua selamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biqy fitri S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Persiapan pernikahan Moza

Setelah beberapa hari dirawat, kondisi Mozza akhirnya membaik. Hari itu Grey yang mengurus kepulangannya, ditemani Egha yang sejak awal tak pernah beranjak dari sisinya.

Di depan rumah, Rika langsung menyambut putrinya dengan pelukan hangat. Ali menepuk bahu Egha tanda terima kasih karena sudah menjaga Mozza.

Mozza tersenyum lega melihat keluarganya lengkap, walaupun masih tampak lelah.

“Aku janji, kali ini bakal lebih jaga diri. Aku nggak mau bikin kalian khawatir lagi,” ucapnya pelan.

Egha hanya menggenggam tangan tunangannya itu, menatapnya penuh makna seolah berkata: aku nggak akan ninggalin kamu.

----

Beberapa hari setelah pulang, rumah keluarga Ali mulai terasa lebih ramai dari biasanya. Dekorator, penjahit, dan vendor-vendor wedding silih berganti datang untuk mempersiapkan pernikahan Mozza dan Egha yang tinggal seminggu lagi.

Mozza masih terlihat agak lemah, tapi wajahnya berseri-seri setiap kali melihat detail pernikahan yang mulai terbentuk. “Aku nggak nyangka, semua jadi secepat ini…” katanya sambil tersenyum pada Egha.

Egha hanya menatapnya penuh rasa sayang.

“Kamu nggak usah mikirin apa-apa lagi. Fokus aja sehat. Semua detail biar aku dan keluarga yang urus.”

Rika ikut menimpali. “Iya, Kak. Kamu cukup hadir cantik di hari H nanti. Jangan sampai jatuh sakit lagi.”

Sementara itu, Ali tampak sibuk berbicara dengan tim dekorasi, memastikan setiap detail sesuai keinginan putri sulungnya. Grey dan Jingga sesekali ikut membantu, meski sering kali suasana jadi heboh karena tingkah usil mereka berdua.

Mozza duduk diam sebentar, lalu menggenggam tangan Egha erat. “Aku nggak sabar, Gha. Rasanya… aku benar-benar beruntung.”

Egha tersenyum, menunduk lalu berbisik lembut, “Bukan cuma kamu. Aku yang paling beruntung karena akhirnya bisa resmi jadi bagian dari hidupmu.”

Sore itu Mozza datang ke butik wedding ditemani Rika, Jingga, dan tentu saja Egha yang sejak tadi tak bisa berhenti memperhatikan.

Begitu tirai ruang fitting terbuka, Mozza keluar dengan gaun putih sederhana namun elegan. Semua terdiam sejenak, bahkan Rika menutup mulutnya menahan haru.

“Ya ampun, Kak… kamu cantik banget,” ucap Rika dengan mata berkaca-kaca.

Jingga ikut bersorak kecil sambil melompat ke arah kakaknya. “Kak Mozza kayak princess!”

Mozza tersenyum malu, lalu menoleh ke arah Egha yang sejak tadi diam terpaku.

“Kenapa? Jelek ya?” tanyanya pelan.

Egha menggeleng cepat, lalu mendekat satu langkah. Tatapannya lembut, suaranya nyaris berbisik,

“Kamu cantik banget, sampai aku lupa harus napas.”

Mozza langsung merona merah, sementara Jingga langsung menutup wajah dengan kedua tangannya sambil bersuara, “Ih… romantis banget!”

Rika hanya terkekeh, lalu menoleh ke calon menantunya. “Egha, jangan bikin anak mama makin malu, ya.”

Suasana jadi penuh tawa, sementara Mozza dalam hati merasa semakin yakin: pernikahannya nanti akan jadi hari terindah dalam hidupnya.

---

Setelah selesai fitting baju pernikahan Mozza, Jingga memilih menunggu Levin menjemputnya.

Tak lama kemudian, Levin muncul dengan senyum lebar seakan dunia jadi lebih terang hanya karena melihat Jingga.

“Sayang…” Levin langsung turun dari mobilnya lalu membuka pintu mobilnya untuk Jingga.

“Kamu kangen banget ya sampai buru-buru jemput segala?” goda Jingga.

Levin mengangguk tanpa malu. “Aku rindu, Sayang. Rasanya lama banget nggak lihat kamu.”

Jingga tertawa kecil. “Padahal baru tadi pagi kita ketemu.”

“Justru itu masalahnya. Tadi pagi cuma sebentar,” balas Levin dengan wajah serius tapi manja.

Akhirnya mereka memutuskan berjalan-jalan di mall. Levin nyaris tidak pernah melepas tangan Jingga, bahkan saat mereka masuk ke toko-toko. Sesekali Levin membelikan makanan ringan atau minuman favoritnya Jingga.

Setelah puas berkeliling, Levin menarik lembut tangan Jingga masuk ke sebuah toko perhiasan mewah.

“Levin… kita ngapain ke sini?” tanya Jingga, matanya membesar.

Levin tersenyum samar. “Aku cuma pengen liat kamu makin cantik.”

Jingga langsung menggeleng cepat. “Nggak usah, Levin.”

Belum selesai bicara, Levin sudah menyuruh pelayan toko mengeluarkan beberapa koleksi.

Seorang pegawai memperlihatkan anting berlian kecil. Levin mengambilnya, lalu dengan hati-hati menyentuh telinga Jingga.

“Boleh aku pasangin?” tanyanya lembut.

Jingga diam, pipinya merona, lalu mengangguk pelan.

Begitu anting terpasang, Levin menatapnya puas. “Lihat deh… kamu cantik banget. Kayak bidadari yang turun ke bumi khusus buat aku.”

Jingga mendengus kecil, malu. “Bisa aja kamu.”

Di Toko perhiasan itu, Levin akhirnya menunjuk sebuah kalung tipis dengan liontin huruf L dari emas putih.

Pelayan menyerahkannya, lalu Levin perlahan memakaikan ke leher Jingga.

Begitu liontin itu menyentuh kulitnya, Jingga refleks meraba kalung tersebut. “Levin… huruf L?” tanyanya pelan.

Levin tersenyum kecil, menatap dalam ke matanya.

“L itu bukan cuma dari namaku. Tapi juga ‘Love’. Biar kamu selalu inget kalau aku ini bagian dari hidupmu.”

Jingga terdiam, pipinya langsung memerah.

“Kamu bisa aja bikin aku salting .”

Levin tertawa kecil lalu membetulkan letak liontin itu.

“Sekarang lihat deh… cantik banget. Aku rasa aku nggak akan biarin kamu lepas kalung ini.”

Jingga menunduk, menggenggam liontin huruf L itu erat, seolah takut jatuh. Dalam hati ia benar-benar tersentuh.

“Kalau gini aku jadi tambah nggak bisa jauh dari kamu, Levin.”

Levin tersenyum puas, lalu mengecup ujung kening Jingga sekilas. “Itu tujuan aku dari awal.”

Pelayan yang sejak tadi memperhatikan, langsung menutup mulutnya menahan senyum.

“Aduh, kalian berdua romantis banget sih… saya jadi baper sendiri,” gumamnya pelan tapi tetap terdengar.

Jingga langsung salah tingkah, wajahnya makin merah. “Aduh, malu banget…”

Levin hanya terkekeh santai sambil merangkul pinggang Jingga,

“Biarin aja. Toh memang kenyataannya aku cinta mati sama kamu.”

Pelayan toko cuma bisa geleng-geleng sambil tersenyum, ikut merasa manisnya momen itu.

Setelah memilih beberapa perhiasan, Levin akhirnya memutuskan untuk membeli semuanya untuk Jingga. Dengan wajah semringah bercampur malu, Jingga menerima kantong belanjaan berisi kotak-kotak kecil berharga itu.

Mereka berjalan beriringan keluar dari butik perhiasan. Baru saja melewati pintu kaca, langkah Jingga mendadak terhenti. Ia menyipitkan mata, seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

“Sayang …” gumamnya pelan sambil menarik lengan tunangannya.

Levin menoleh. “Kenapa, sayang?”

Jingga mengangguk ke arah lorong mall yang sedikit ramai. Samar-samar, terlihat sosok Arin berjalan di samping Roy, keduanya tampak begitu akrab.

“Bukannya itu… Roy sama Arin?” ucap Jingga takjub, nadanya penuh tanda tanya.

Levin ikut menoleh, kedua matanya menyipit, mencoba memastikan. Dan saat itu juga, sudut bibirnya terangkat tipis, seolah tahu sesuatu yang menarik akan segera terjadi.

Jingga menggenggam tangan Levin lebih erat. “Kok mereka bisa di sini bareng, ya…?”

Levin hanya tersenyum misterius. “Sepertinya kita baru saja menemukan kejutan baru.”

Mereka berdua pun berhenti sejenak, menatap ke arah Roy dan Arin yang tak menyadari keberadaan mereka.

1
csgym
bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!