Indonesia
NovelToon NovelToon
KISAH CINTA YANG BERACUN

KISAH CINTA YANG BERACUN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Obsesi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Park ha

`KISAH CINTA YANG BERACUN`

Mereka kembar identik.
Tapi hidup mereka tidak pernah sama.

Lea Anggita. Ceria, pemberani, agak ceroboh. Tumbuh berkecukupan di luar negeri bersama ibunya.

Alia Anggita. Pintar, berprestasi, pendiam. Tumbuh dalam kesederhanaan bersama neneknya setelah ayah mereka meninggal.

Satu-satunya yang menyatukan mereka: pesan tiap malam.

Sampai suatu hari, pesan dari Alia berubah.
`Aku malu, Lea. Aku nggak mau sekolah lagi.`

Pria yang Alia cintai... ternyata hanya mempermainkannya.
Menjadikannya bahan taruhan.
Dan mempermalukannya di depan satu sekolah.

Nama pria itu: *Teo Ozawa*.
PENGUASA SMA OZAWA.
TIRAN YANG SEHARUSNYA DIHINDARI, BUKAN DICINTAI.

Dan Lea tidak terima.
Jika kakaknya tidak bisa membela diri...
Maka Lea yang akan datang.
Menyamar jadi Alia.
Dan membuat Teo Ozawa membayarnya.

Masalahnya...
Bagaimana jika tiran itu... mulai jatuh cinta pada "Alia" yang baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20_Taring di Dalam Kandang

...BAB 20_Taring di Dalam Kandang...

Suasana di koridor gedung utama Ozawa School pagi itu terasa jauh lebih padat dan penuh bisik-bisik. Kehadiran Teo Ozawa—senior paling berkuasa dari tingkat kelas 12—yang turun tangan langsung membawakan tas seorang siswi kelas 11 kemarin masih menjadi bahan pembicaraan terpanas di setiap sudut sekolah. Murid-murid tidak ada yang berani menatap lurus, namun mata mereka diam-diam mencuri pandang setiap kali 'Alia' melangkah melewati lobi.

Di lantai dua, tepat di depan pintu kelas 11-A, Teo sudah berdiri tegak menunggu. Pria itu tidak lagi mengenakan seragam dengan kancing terbuka sembarangan; ia tampak rapi, namun aura intimidasi yang terpancar dari tubuh tingginya justru terasa semakin pekat dan berbahaya.

Begitu Lea melangkah anggun menaiki tangga dan tiba di koridor kelasnya, Teo langsung memotong jalur. Senior kelas 12 itu berdiri tepat di hadapan Lea, mengurung ruang gerak gadis tersebut dengan posturnya yang menjulang.

`"Kamu sengaja membuat tontonan buat satu sekolah kemarin, Alia?"` desis Teo rendah, suaranya parau dan sarat akan amarah tertahan. Lingkaran hitam tipis di bawah mata obsidiannya memperjelas fakta bahwa ia tidak tidur semalaman—bukan karena takut, melainkan karena otaknya terbakar oleh rasa penasaran tingkat tinggi untuk mencari tahu siapa sebenarnya sosok `Julian` dan `Ethan` yang berani masuk ke dalam radar kehidupannya.

Lea menghentikan langkahnya. Ia sama sekali tidak menunjukkan rasa gentar. Sebaliknya, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang amat menantang.

`"Tontonan apa maksudmu, Teo?"` tanya Lea dengan suara jernih dan tenang. `"Bukankah seorang pelayan yang baik memang seharusnya melayani tuannya dengan patuh?"`

`Krah!` Rahang Teo mengeras hingga giginya bergemelutuk. Ia tidak tahan lagi dengan cara gadis ini memandangnya—bukan dengan rasa takut seperti korban-korban perundungannya yang lain, melainkan dengan tatapan mengejek seorang ratu yang sedang melihat bidak catur kepunyaannya.

Teo mencondongkan wajahnya, membisikkan ancaman tepat di dekat telinga Lea. `"Jangan merasa di atas angin, cewek beasiswa. Aku turuti permainanmu di depan umum kemarin bukan karena aku tunduk padamu, tapi karena aku memegang kata-kataku dan bukan pengecut yang lari dari taruhan. Nikmati saja kemenangan kecilmu ini... karena aku sedang mencari tahu siapa saja orang-orang di belakangmu."`

Lea mendongak, memangkas jarak di antara mereka hingga hidung mereka hampir bersentuhan. Tatapan matanya memancarkan ketajaman yang membekukan.

`Degh!`

Seketika napas Teo tertahan di tenggorokan. Jarak yang terlampau dekat itu membuat aroma wangi tubuh Lea yang khas—manis, elegan, namun menusuk dingin—menghantam indra penciumannya secara telak. Dalam jarak sedekat ini, iris mata kembar dua gadis itu tampak begitu memikat, memantulkan bayangan dirinya sendiri dengan sorot tanpa rasa takut yang sanggup melumpuhkan kewarasan seorang tiran. Untuk sepersekian detik, detak jantung Teo bergemuruh ribut di dalam dada, memicu gelombang aneh yang membakar sekujur aliran darahnya dan membuat ego tingginya mendadak kehilangan kendali.

`"Kalau begitu, carilah sampai tuntas, Tuan Tiran,"` bisik Lea halus, jemari lentiknya dengan santai merapikan kerah seragam Teo seolah-olah pria di hadapannya benar-benar pesuruh tak berharga. `"Karena waktu kamu untuk berdiri di sini tidak akan lama lagi."`

Sebelum Teo sempat membalas atau mencengkeram pergelangan tangan gadis itu, bel masuk kelas berbunyi nyaring memecah keheningan koridor. Tanpa menunggu aba-aba dari sang senior, Lea berputar dengan anggun dan melangkah masuk ke dalam kelas 11-A, meninggalkan Teo yang berdiri mematung dengan kepalan tangan berdarah dingin di sisi tubuhnya.

Pelajaran di kelas berjalan dengan tensi yang tak kalah mencekam. Meskipun Teo sudah kembali ke lantai atas tempat kelas 12 berada, bayang-bayang kehadirannya seolah masih menempel di dinding-dinding kelas 11-A.

Sepanjang jam pelajaran pagi, tidak ada satu pun siswa yang berani mendekati meja Lea. Bahkan `Reno` dan `Bagas`—yang biasanya menjadi algojo perundungan—tampak gelisah dan memilih diam seribu bahasa di barisan belakang, menghindari kontak mata dengan gadis yang kini berada di bawah "perlindungan" mengerikan sang ketua geng.

Namun, di balik ketenangan luar biasa yang ia tunjukkan di dalam kelas, pikiran Lea tetap terbagi.

Di dalam saku roknya, ponsel emas bernomor lokal Indonesia miliknya tergeletak diam. Namun, di dalam tas jinjing pribadinya yang tersimpan di laci meja, ponsel titanium hitam berenkripsi khusus milik jaringan internasional sesekali bergetar pelan, menandakan pesan-pesan dari Australia yang mulai menumpuk minta dibalas.

Lea melirik sekilas ke arah jendela kelas yang menampilkan langit Jakarta yang mulai mendung. Ia tahu betul, tekanan yang ia berikan pada Teo di sekolah baru permulaan. Permainan psikologis ini baru saja memasuki babak di mana sang tiran mulai kehilangan kendali atas kewarasannya sendiri.

Dan di lantai atas, di ruang kelas 12 yang menghadap langsung ke arah halaman, Teo berdiri di dekat jendela dengan pandangan kosong yang mematikan. Di tangannya, sebuah ponsel berdering menampilkan panggilan masuk dari staf administrasi yayasan ayahnya—membawa kabar awal tentang kejanggalan-kejanggalan kecil pada sistem keuangan sekolah yang mulai goyah akibat ulah pihak tak dikenal.

Serigala itu mulai menyadari bahwa kandangnya sedang disusupi oleh pemburu yang jauh lebih mematikan darinya.

Sore harinya, setelah jam kepulangan sekolah yang dilewati dengan sorot mata penuh rasa penasaran dari para murid lain, Lea menumpang taksi online menuju kawasan apartemen penthouse mewah di Jakarta Selatan. Sepanjang perjalanan, pikirannya merangkai rencana lanjutan untuk menghancurkan pertahanan mental Teo keesokan harinya.

Begitu tiba di lobi, kartu akses VVIP membawanya langsung naik ke lantai teratas menggunakan lift pribadi. Pintu lift berdenting lembut membuka, menampilkan lorong marmer privat menuju unit penthouse miliknya. Lea melangkah masuk dengan santai, melepas sepatu hak tingginya, dan meletakkan tas jinjing di atas meja konsol dekat pintu. Suasana apartemen terasa sangat hening dan temaram.

Namun, langkah Lea mendadak membeku di tempat. Bulu kuduknya meremang seketika saat ia mendapati sepasang sepatu pantofel kulit mahal berukuran pria tergeletak rapi di rak sepatu.

Tidak hanya itu. Dari arah dapur terbuka di ujung ruang tamu, samar-samar tercium aroma kopi hitam pekat bercampur parfum mewah berkelas yang sangat ia kenal—aroma khas yang sama sekali tidak mungkin berada di Jakarta, kecuali jika pemiliknya memutuskan untuk terbang secara diam-diam ribuan mil melintasi samudra.

`Deg!`

Jantung Lea mendadak copot. Wajahnya yang biasanya selalu tenang, dingin, dan memegang kendali penuh mendadak memucat pasi. Matanya membelalak lebar dalam kebisuan.

Dengan napas tertahan dan tubuh menegang kaku, Lea menoleh pelan ke arah ruang tengah.

Di sana, berdiri tegak bersandar pada Kitchen island bermarmer hitam dengan segelas wiski di tangan kanannya, adalah sosok pria berpostur tegap dengan setelan jas rapi tanpa dasi. Pria berwajah tampan matang dengan sorot mata setajam elang itu menatap lurus ke arahnya, menyunggingkan senyum miring yang penuh wibawa namun menyimpan ancaman terselubung.

`Julian.`

Pria itu benar-benar ada di hadapannya saat ini. Di Jakarta. Di dalam penthouse pribadinya tanpa peringatan apa pun!

`"Hai, sweetheart,"` sapa Julian dengan suara beratnya yang tenang, memecah kesunyian apartemen. `"Kaget melihatku?"`

Lea benar-benar terkejut setengah mati. Seluruh rencana dan skenario manipulatif yang ia susun di kepalanya seketika buyar tak tersisa. Ponsel titanium di dalam tasnya yang bergetar karena panggilan `Ethan` dari Melbourne seolah tak berdaya lagi saat ia harus berhadapan langsung dengan monster paling berpengaruh dari Australia yang kini berdiri tepat di hadapannya. Pacar dia yang paling posesif.

 

1
falea sezi
lanjut
falea sezi
suka cwek badasss gini
Park ha: ini versi kebalikannya kinara wkwkkw... kinara sana rian dah mau tamat
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!