Indonesia
NovelToon NovelToon
Pengasuh Manis Sang Direktur

Pengasuh Manis Sang Direktur

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Pengasuh
Popularitas:46
Nilai: 5
Nama Author: Mutiara Putri

Demi kabur dari kawin paksa—dijual ayahnya yang mabuk demi melunasi utang—Sekar, gadis desa yang selalu menahan lapar demi menyembunyikan tubuhnya yang "terlalu menonjol", nekat merantau ke Surabaya dan jadi pengasuh di rumah keluarga konglomerat Adiwijaya.

Di rumah megah itu ada Narendra—orang memanggilnya Nara. Putra bungsu yang dingin, sempurna, dan seolah tak tersentuh. Priyayi, direktur muda, es yang tak pernah mencair. Sekar cuma punya satu rencana: menunduk, jangan menonjol, kumpulkan uang, lalu pergi diam-diam.

Tapi malam itu, saat rahasia tubuhnya nyaris terbongkar, justru Nara yang menemukannya lebih dulu. Dan lelaki yang katanya tak pernah kehilangan kendali itu... malah berbisik pelan:
**"Mulai sekarang, kau hanya boleh kenyang di depanku."**

Sejak itu, semuanya berubah. Ipar yang memfitnahnya mencuri, preman yang terus mengganggu, keluarga sosialita yang memandang rendah "gadis desa yang tak tahu bibit-bebet-bobot"—satu per satu dihadapi. Nara membelanya di depan semua orang; dan Sekar sendiri belajar melawan, bangkit dari nol dengan tangannya sendiri.

Demi Sekar, Nara rela keluar dari perusahaan keluarga, memulai dari titik nol, membalik keadaan sampai jadi orang terkaya—hanya untuk menaruh semua hartanya atas nama perempuannya.

Dari pengasuh yang menahan lapar... jadi nyonya besar yang dimanja seumur hidup.

Waktu wartawan bertanya kenapa ia sekeras itu bekerja, sang konglomerat yang biasanya dingin cuma melirik istrinya, lalu tersenyum tipis:
**"Istriku manja. Ya, harus kumanjakan."**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

Bab 11

Aku yang Urus Dia

Nara

Malam setelah kejadian di gang, aku menonton rekaman itu tujuh kali.

Sekar menekan tombol darurat tanpa terlihat. Dia menilai jalan keluar, pura-pura menyerah, lalu melempar cabai ketika Roy cukup dekat. Tidak ada satu gerakan pun yang sia-sia.

Setelah berhasil lari, tubuhnya baru mulai gemetar.

Aku menghentikan video pada bingkai tangan Roy yang meraih jilbabnya. Dada terasa penuh oleh kemarahan yang dingin.

Bayu duduk di seberang meja kerja. "Polisi masih memeriksa. Keluarga Roy mencoba menghubungi pengelola kompleks, minta diselesaikan baik-baik."

"Tidak ada penyelesaian tanpa Sekar."

"Sudah saya sampaikan."

"Pastikan mereka tidak menghubunginya langsung."

Bayu mengangguk. "Nomor Roy dan dua temannya diblokir di sistem gerbang. Patroli malam ditambah."

Aku menutup rekaman. "Keluarganya?"

"Pamannya malu dan bersedia memberi pernyataan tertulis bahwa Roy tidak tinggal di rumah itu. Tapi dia tidak bisa menjamin Roy tidak kembali."

"Kalau begitu jangan mengandalkan jaminannya."

Aku meminta Bayu mengirim salinan rekaman, nomor laporan, dan kronologi ke penasihat hukum keluarga. Bukan untuk menekan polisi, melainkan agar bukti tidak hilang ketika keluarga Roy mulai mencari alasan.

"Pastikan saksi warung punya salinan kontak kita," kataku. "Kalau mereka diintimidasi, laporkan sebagai kejadian terpisah."

"Sudah. Pengemudi ojol yang melihat juga bersedia memberi keterangan."

"Biaya transportasi mereka ditanggung, tetapi jangan memberi uang yang bisa dianggap membeli kesaksian."

Bayu mencatat tanpa bertanya. Keluarga kami punya koneksi yang cukup untuk membuat satu telepon mengubah arah perkara. Aku tidak ingin menggunakannya. Sekar perlu melihat bahwa hukum bisa berdiri untuknya tanpa harga tersembunyi, bukan belajar bahwa keselamatannya hanya ada selama seorang Adiwijaya mau melindungi.

Di luar ruang kerja, langkah ringan berhenti sebentar. Pintu tidak diketuk. Beberapa detik kemudian langkah itu menjauh.

Sekar mungkin sedang memastikan aku masih di sini sebelum menghabiskan makanannya.

Pikiran itu mengurangi marahku sekaligus membuatnya lebih dalam.

***

Bayu membuka map lain.

"Ini hasil pemeriksaan latar yang Bapak minta. Saya batasi pada ancaman keamanan, catatan desa, dan orang yang mungkin mencarinya."

Aku membaca nama Sukirman, biasa dipanggil Sukir. Ayah kandung Sekar. Tidak punya pekerjaan tetap, dikenal sering mabuk, memiliki utang kepada rentenir lokal dan beberapa utang pribadi.

"Rencana pernikahannya?"

"Ada. Bukan akad resmi yang sudah didaftarkan. Lebih seperti kesepakatan keluarga. Sukir menerima uang muka dari seorang kreditur dan berjanji menikahkan Sekar setelah utang dianggap lunas. Sekar menolak lalu pergi."

"Jadi dia menjual putrinya."

"Secara hukum dan agama, persetujuan mempelai perempuan tetap diperlukan. Tapi di lapangan, tekanannya nyata. Bu Tumi membantu Sekar keluar dan menghubungkan ke rumah kita."

Bayu menunjukkan tangkapan pesan warga. Sukir menuduh Sekar anak durhaka, mengatakan dia kabur bersama lelaki, lalu meminta orang memberi kabar bila melihatnya.

Tanganku mengencang pada pulpen.

Semua yang Sekar ceritakan terbukti. Bahkan versinya lebih lunak daripada kenyataan. Dia tidak menyebut uang muka atau kebohongan yang disebarkan ayahnya.

Ada foto rumahnya di halaman berikutnya. Dinding bata tanpa plester, atap seng berkarat, sumur di belakang. Di foto lain, Sukir duduk di warung dengan botol minuman di meja. Aku berhenti pada pintu kayu kecil di samping rumah.

"Itu apa?"

"Gudang kayu bakar," jawab Bayu. "Menurut Bu Tumi, Sekar pernah dikunci semalaman di sana setelah menolak perjodohan."

Pulpen di tanganku patah.

Tinta mengenai jari. Bayu mengambil tisu, tetapi aku tidak bergerak. Dalam benakku, Sekar yang selalu takut pintu tertutup kini memiliki bentuk yang lebih jelas. Bukan kebiasaan aneh. Bukan rasa malu tanpa asal. Tubuhnya mengingat satu malam di balik kayu dan gelap.

"Jangan masukkan cerita itu ke laporan yang bisa dibaca orang rumah," kataku. "Simpan terbatas."

"Mengerti."

"Apakah Sukir tahu dia di Surabaya?"

"Belum. Tapi dia mulai menghubungi kenalan yang bekerja di kota. Risiko ditemukan ada."

"Perketat kerahasiaan data pekerja. Tidak ada alamat, jadwal, atau foto Sekar keluar dari rumah ini."

"Siap."

"Bu Tumi aman?"

"Sukir curiga, tapi belum punya bukti. Saya sarankan kita tidak sering menghubunginya dari nomor keluarga."

Aku berdiri dan berjalan ke jendela. Halaman belakang gelap. Di sayap pekerja, lampu kamar Sekar masih menyala.

Aku pernah mengira rasa ingin tahuku berasal dari aroma aneh dan botol kecil. Kini aku tahu itu hanya pintu pertama. Yang mengikatku adalah cara Sekar terus berdiri meski semua orang dalam hidupnya mengajarinya untuk mengecil.

Dan keinginan untuk membuatnya berhenti takut telah berubah menjadi sesuatu yang lebih dekat pada kepemilikan daripada belas kasihan.

Aku tidak bangga pada bagian itu.

Aku juga tidak mampu menyangkalnya.

"Bayu," kataku, "mulai besok satu orang mengawasi rute Sekar kalau dia keluar. Dari jarak wajar. Dia harus tahu, bukan dibuntuti diam-diam."

"Saya bicara dengannya langsung."

"Ajari lagi prosedur keamanan. Jangan membuatnya merasa dikurung."

Bayu menatapku sesaat. "Boleh saya bicara sebagai teman?"

"Tidak."

"Saya tetap akan bicara." Dia bersandar. "Bapak terlalu terlibat. Ibu dan keluarga pasti melihat. Kalau niat Bapak belum jelas, Sekar yang akan menanggung omongan."

Aku tidak suka mendengarnya karena dia benar.

"Tugasmu keamanan."

"Keamanan sosialnya juga perlu dipikirkan."

"Saya tidak akan membiarkan siapa pun menyakitinya."

"Masalahnya, perhatian Bapak sendiri bisa menjadi alasan orang menyakitinya."

Aku menatap map di meja. Wajah Ratih saat makan malam dan cara Ibu mengamati muncul di kepala.

"Saya akan berhati-hati."

"Berhati-hati bukan berarti membuat keputusan untuknya," lanjut Bayu. "Kalau Bapak ingin menambah pengawalan, minta persetujuannya. Kalau ingin membantu urusan Sukir, beri tahu fakta yang perlu dia tahu."

Aku menatapnya tajam. "Sejak kapan kau ahli hubungan manusia?"

"Sejak saya melihat Bapak yang biasanya membaca kontrak seratus halaman tanpa salah malah menonton video gang tujuh kali."

Aku hampir menyuruhnya keluar. Namun dalam keadaan lain, aku mungkin akan mengakui lelucon itu pantas.

Bayu mengangguk, meski jelas tidak sepenuhnya percaya.

***

Pukul sebelas, telepon dari paman Roy masuk ke nomor kantor rumah. Aku menjawab sendiri.

Dia meminta maaf, lalu beralih mengatakan Roy masih muda, hanya salah pergaulan, dan laporan polisi akan merusak masa depannya.

"Masa depan Sekar nyaris dirusak tiga lelaki di gang," jawabku. "Mengapa masa depan Roy baru penting setelah dia gagal?"

Lelaki itu terdiam.

"Kami siap mengganti ponsel dan belanja yang rusak."

"Itu kewajiban, bukan harga untuk membeli diam."

"Pak Nara, kita tetangga."

"Karena itu seharusnya keluarga Anda menghentikannya sejak kejadian pertama."

Aku mengakhiri telepon setelah menegaskan seluruh komunikasi harus melalui polisi atau pendamping hukum. Tidak ada ancaman, tidak ada koneksi keluarga yang kupakai untuk membengkokkan proses. Hanya batas yang tidak boleh lagi dilanggar.

Nomor lain segera masuk, kali ini dari pengelola lingkungan. Dia khawatir keributan merusak nama kompleks. Aku menjawab bahwa nama sebuah lingkungan tidak dijaga dengan menyembunyikan gangguan terhadap perempuan, melainkan dengan memastikan pelakunya tidak bebas mengulang. Setelah itu, pembicaraan menjadi jauh lebih singkat.

Ketika berbalik, Sekar berdiri di ambang pintu terbuka. Dia membawa mangkuk kosong dan sapu tangan yang sudah dicuci.

"Saya mau mengembalikan ini."

Aku menerima sapu tangan. Ada jahitan kecil di bagian yang terkena darah, rapi hampir tak terlihat.

"Tanganmu?"

"Sudah tidak sakit."

"Bayu akan menjelaskan pengamanan baru besok. Kalau kau tidak setuju, katakan."

Sekar mengangguk. "Saya dengar telepon tadi. Terima kasih tidak menyuruh saya mencabut laporan."

"Itu hakmu."

"Banyak orang bilang perempuan miskin harus tahu diri kalau berhadapan dengan keluarga yang punya nama."

"Mereka salah."

Dia memainkan ujung mangkuk. "Kalau keluarga Roy meminta maaf langsung, saya mau mendengar. Tapi saya tidak mau laporan hilang. Saya mau ada catatan kalau dia mengulang."

"Bayu akan menyampaikan itu."

"Dan soal pengawalan... saya setuju kalau keluar jauh. Kalau hanya ke taman tengah, jangan. Saya tidak mau merasa semua langkah diawasi."

Aku menahan dorongan untuk membantah. "Baik."

"Benar-benar baik?"

"Kau meminta pilihan. Saya memberikannya."

"Wajah Den tidak terlihat ikhlas."

Kalimat itu begitu jujur hingga aku kehilangan jawaban sesaat. Sudut bibirnya bergerak kecil. Untuk pertama kali setelah semua ketakutan, dia berani menggodaku.

"Saya akan belajar terlihat ikhlas," kataku.

"Sulit, ya?"

"Sangat."

Senyumnya muncul lebih jelas, lalu cepat disembunyikan. Pemandangan itu mengendurkan sesuatu di dada yang tidak diselesaikan oleh laporan polisi maupun pengamanan gerbang.

Dia menatapku beberapa detik, lalu tersenyum tipis. "Selamat malam, Den."

Setelah dia pergi, aku membuka laci dan meletakkan sapu tangan di dalam, bukan di keranjang cucian.

Jahitan buatannya membentuk garis kecil di sudut. Aku mengusapnya sekali dengan ibu jari, lalu menarik tangan seolah tertangkap melakukan sesuatu yang tidak masuk akal. Kain itu seharusnya dikembalikan kepada pemiliknya. Besok, pikirku.

Aku tahu besok akan menemukan alasan lain untuk menyimpannya.

Bayu melihat tindakan itu, tetapi cukup bijak untuk tidak berkomentar.

Aku menutup map tentang Sukir.

Sekar belum perlu mengetahui semua detail malam ini. Namun sebelum bahaya dari desa tiba di gerbang, aku akan memastikan dia punya pilihan hukum, tempat aman, dan suara dalam setiap keputusan. Melindungi bukan berarti mengambil alih hidupnya. Kalimat Bayu menyebalkan, tetapi benar.

"Urusan dia," kataku, lebih kepada diri sendiri daripada Bayu, "mulai sekarang aku yang bereskan, tanpa merampas haknya menentukan jalan sendiri mulai malam ini juga."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!