Azarin mengira, setelah ia melahirkan anak, Fajar akan bersyukur dan menganggapnya istri.
Namun semua harapan itu hancur setelah ia mendengar percakapan suami dan Ibunya.
Fajar, tidak pernah menganggapnya istri. Baginya hadirnya Mia dalam hidupnya adalah aib. Dan akan membuang Mia dengan dalih kecelakaan.
Mendengarnya Azarin langsung lemas. Ia pun memutuskan untuk kabur malam itu juga, dan tidak lagi mengharapkan belas kasih Fajar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mur Diyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mia, putriku
Nyonya Diana menghela nafas panjang. Tatapannya beralih ke arah Dean yang selalu setia memeluk dan menggenggam tangan Azarin.
Untuk sekejap ia diam. Sudah berapa lama ia tidak melihat putranya yang begitu bersemangat.
Iya bahkan dulu sempat mengira Dean memiliki kelainan s*xual karena tak pernah melihat putranya bersama wanita. Meski kerap mendengar rumor Dean pernah menjalin hubungan.
"Huftt....baiklah jika itu yang kamu inginkan, Dean."
Tatapan penuh binar terbit di manik mata sang putra.
"Makasih, mah!" seru Dean bersemangat, menoleh menatap Azarin di sampingnya dengan nafas memburu.
Seolah moment ini adalah moment yang paling di tunggu-tunggu. Begitu juga dengan Azarin, ia tak mengira Nyonya Diana merestui hubungan mereka.
"Yeyy....! Mia punya papa balu! papa balu!" seru anak kecil di depan Nyonya Diana heboh.
Wanita tua itu tatap bocil yang berdiri seraya mengangkat kedua tangannya ke atas intens.
Dibilang benci.
Tidak juga. Tanpa sadar sudut bibirnya terbit melihat ekspresi ceria Mia.
"E-ekhmm!" seru Nyonya Diana kembali ke ekspresi datar dan dingin. menatap ketiganya bergantian.
"Aku mau istirahat dulu." lanjut Nyonya Diana lagi, berbalik meninggalkan mereka dari sana.
Sementara Dean, Azarin dan Mia kembali bersorak penuh rasa bahagia. Nyonya Diana naiki anak tangga satu persatu. Setiap derap langkahnya tertata penuh ketenangan. Ia tatap kakinya yang melangkah tangga demi tangga.
Sudut bibirnya tertarik tipis, nyaris samar-samar.
"Sudahlah. Asalkan putraku bahagia, aku juga bahagia."
***
"Sudah kubilang, mama pasti akan setuju." ucap Dean saat mereka keluar dari rumah besar keluarganya.
Mereka masuk ke dalam mobil bersamaan. Melaju meninggalkan pelataran rumah Dean.
Azarin tersenyum tipis. Ia elus pucuk kepala Mia di pangkuannya. Karena terlalu aktif bermain di rumah Dean, Mia sudah lelah duluan. Alhasil tertidur begitu pulas.
"Tuan bener. Ternyata Nyonya—"
"Tuan?"
Azarin terhenyak, menatap Dean dari kaca tengah, "Iya?"
"Panggil aku Mas, Azarin. Kita akan menjadi suami istri."
Azarin membeliak, refleks merunduk, menatap wajah lelah sang putri lekat.
Memang benar, mereka akan menjadi suami istri. Namun memanggilnya mas dengan tiba-tiba, cukup membuat Azarin gugup. Meski begitu, sudah seharusnya bukan?
"Baiklah, m-mas."
Sudut bibir Dean terangkat tipis. Ada rasa lega dan bangga setelah mendengar ia dipanggil mas oleh Azarin.
"Iya, dek."
Melotot Azarin di belakang, "Dek?!"
"Iya, mulai sekarang aku manggil kamu adek."
Azarin makin gagap, "Ta-tapi—!"
"Kenapa? Kamu tidak senang?"
Azarin menggeleng cepat. Bukan dia tidak suka dipanggil Dek. Hanya saja itu terlalu menggelikan. Apalagi yang memanggilnya Dean.
Suaranya yang deep dan dalam, terasa lebih berdamage dan bisa membuat jantung Azarin tidak aman. Namun, jika Dean sudah memutuskannya ia tidak bisa berbuat apa-apa.
"Adek." lirih Azarin, nyaris seperti bisikan.
Sudut bibirnya tertarik tipis. Dipanggil adek serasa dia bukanlah wanita yang mengemban beban dalam pundaknya. Wanita yang harus dipaksa kuat oleh dunia. Tapi menjadi anak kecil yang selalu dijaga oleh kakak tertuanya.
"Mas.... Dekk..." Geli sendiri Azarin mendengarnya, merinding sebadan-badan.
"Kenapa adek?"
"Udah!" pekik Azarin terjingkit, seluruh tubuhnya meremang jika mendengar dirinya dipanggil Adek.
Dean tersenyum tipis. ia tau apa yang Azarin fikirkan. Namun entah mengapa ia jadi suka menggodanya. Seperti—melihat Azarin malu-malu itu menggemaskan dan menghibur.
"Adek...."
"Mass....!"
***
Sementara di depan kontrakan Azarin, Fajar sudah menunggu sedari tadi. Ke warung ia malah di usir oleh Naya, alhasil ia hanya bisa menunggu diam-diam di sekitar rumah Azarin.
Namun sampai jam menujuk pukul 4 sore pun, belum ada tanda-tanda kepulangan Azarin.
"Apa dia mampir ke warung makannya dulu?"
Cukup lama Fajar terdiam, menghentakkan kakinya ke tanah beberapa kali. Seolah protes karena waktu terlalu lama berjalan.
Sampai akhirnya ia mendengar suara deru mobil yang melintasi jalan depan kontrakan Azarin.
Fajar refleks menoleh. Benar saja, ternyata itu mobil Dean. Terlihat Dean, Azarin dan Mia keluar dari satu mobil yang sama.
Fajar refleks berlari ke balik tembok pagar tetangga, mengintip dari balik sana.
"Makasih yah mas, udah ajak kami jalan-jalan lagi." ucap Azarin di depan Dean.
Pria itu elus pucuk kepala Mia lembut. Sudut bibirnya tersenyum manis. Menarik kepala Azarin, lalu mengecup dahi wanita itu intens.
"Iya sayang, sama-sama." dibalas senyuman manis Azarin.
Wanita itu dengan berani menjinjit, mengecup bibir Dean sekilas. Dean yang dipancing pun tak melepas kesempatan. Ia balik meraih tengkuk leher Azarin, mel*mat bibir wanita itu dalam, dan panas.
Tubuh Fajar spontan membeku. Tatapannya berubah kosong menatap pemandangan yang begitu tidak ia sangka-sangka di depannya.
Tiba-tiba dadanya berdenyut nyeri, sangat nyeri. Kakinya sampai sulit di gerakkan, alhasil terjatuh dari pendiriannya, menimbulkan bunyi yang mengejutkan mereka berdua.
Azarin dan Dean refleks menoleh ke arah sumber suara. Terkejut mereka saat melihat siapa yang berada di ujung sana.
Fajar, mencoba berdiri dengan dibantu pagar beton samping rumah Azarin. Memaksakan bibirnya tersenyum ke arah mereka.
"Mas Fajar?!" pekik Azarin syok.
Begitu juga dengan Dean. Ia tatap Fajar serius. Rahangnya mengetat kuat. Kenapa pria itu masih belum jera juga, padahal kemarin dia sudah memperingatinya.
Fajar langkahkan kakinya yang gemetar mendekat kearah mereka. Tersenyum seolah ia tak merasakan apa-apa. Padahal hatinya nyaris hancur dari dalam.
"Maaf, aku mengganggu waktu kalian."
Fajar berdiri lemah di depan Dean dan Azarin. Nyaris membuat wanita itu khawatir.
Azarin gigit bibir bawahnya kuat, menatap nanar Fajar yang malah melihat kelakuan mereka berdua.
"Ngapain kamu kesini?!" sentak Dean tajam, langsung memasang badan di depan Azarin.
Fajar tersenyum getir, menatap sosok Mia yang tertidur di pelukan ibunya. Ada getaran tersendiri dalam hatinya.
Tentang. Wajah Mia yang begitu mirip dengan dirinya semasa kecil. Melihat putrinya secara langsung semakin membuat hatinya bergetar hebat.
"Aku—hanya ingin melihat putriku." lirih Fajar gemetar.
"TIDAKK!!" Teriak Azarin histeris.
Mia yang tertidur di dekapannya sampai terbangun akibat teriakan kencang ibunya. Dan menangis histeris karena terkejut.
"Mia putriku....jangan menangis sayang, ini papa." lirih Fajar ingin meraih sang putri.
Dean yang sudah tak tahan lagi menarik Fajar menjauh. Sementara Azarin segera membawa lari Mia ke dalam rumah.
Dean hempaskan tubuh Fajar hingga terbentur tembok gang di belakangnya.
"Mau apa kamu datang lagi?! Apa peringatanku kemarin belum cukup?!"
Faja merunduk, mengatur nafasnya yang tersengal. Bibirnya tersenyum tipis. Membuat kening Dean mengerut.
"Sebenarnya apa maumu?"
Fajar mendongak perlahan, menatap Dean intens.
Dapat Dean lihat tatapan putus asa dibalik sorot mata rapuh itu. Nyaris membuatnya merasa iba. Pria itu palingan pandangan dari lawannya cepat.
"Setidaknya jika belum sembuh jangan paksakan dirimu."
Fajar tersenyum, ia raih lengan Dean. Membuat pria itu mengerutkan kening, hendak menarik tangan. Namun Fajar menahannya.
"Maafkan aku, Dean. Aku menyesal. Dulu aku salah. Sekarang aku tidak ingin mengganggu kalian lagi. Tapi aku mohon turuti satu permintaanku ini. Pertemukan lah aku dengan putriku."
lanjuut thor.....