Karena tak tahan dengan desakan keluarga dan masalah yang bertubi menghimpit keluarganya, Sutami(28tahun) menerima pinangan Juragan Waluyo(45tahun), seorang duda kaya yang memiliki seorang putra dan dua putri yang berbeda watak.
Menjadi ibu tiri bukan impian Sutami, tapi demi menyelamatkan kehormatan keluarga dari stigma 'perawan tua pembawa sial', maka pernikahan pun dilangsungkan.
Mampukah Sutami menjalankan perannya sebagai istri sekaligus ibu tiri?
Bagaimana cara Sutami menghapus stigma masyarakat tentang 'ibu tiri jahat?’
Mari berimajinasi bersama. Semua tokoh dan kejadian dalam cerita hanya sebuah karangan. Jika ada kebetulan yang dibetulkan, silahkan disalahkan kebetulannya yang disama-samakan.
Semoga semua berbahagia. —yosh—
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LUKA DAN OBATNYA
Waluyo duduk di tepi ranjang, menatap frustasi pada Dara yang duduk lemah di kursi rodanya, menatap kosong keluar jendela, dengan bibir terkatup rapat.
“Sudah berapa lama dia seperti itu?” tanya Waluyo saat mbak Rini masuk membawa nampan berisi makanan dan obat.
“Mungkin sekitar setengah jam, Pak.”
Waluyo mendesah berat. Bahunya turun karena lelah dan putus asa.
“Bude Rin, Dara pengen mainan di luar… sambil nunggu ibu pulang,” lirih gadis kecil itu tanpa ekspresi.
Mbak Rini berjongkok di depan Dara, merapikan selimut di pangkuan gadis kecil itu, kemudian mendorong pelan kursi rodanya. “Baiklah, tapi sambil mainan Bude suapin ya,” ujar Mbak Rini lembut, lalu mengusap air mata yang tanpa sadar sudah menggenang di ujung kelopaknya. ‘Owalah, Nduk… kasihan sekali kamu ini, tapi gimana ya, caranya biar kamu bisa mengerti kalau ibumu sudah tiada?’ batin sendu Mbak Rini.
Di samping gazebo, di bawah rindangnya pohon akasia, perlahan senyum Dara mulai terkembang, meski wajahnya masih pucat.
“Kita sambil makan ya,” bujuk Mbak Rini. “Terus diminum obatnya.”
“Aku belum lapar. Nanti saja makannya, dara mau main dakon dulu, Bude bisa ambil di lemari mainan situ, ibu nyimpennya di situ!” seru Dara menunjuk pada lemari kayu di bawah gazebo.
Belum sempat Mbak Rini bergerak, bel pintu gerbang berbunyi keras.
“Tunggu di sini sebentar ya, Nduk. Bude bukain pintu dulu, kayaknya ada tamu.”
Dara mengangguk pelan, lalu sibuk memainkan beberapa lembar daun kering yang jatuh ke pangkuannya.
Mbak Rini membuka gerbang, lalu menanyakan hal dasar. “Mau cari siapa, Mbak?” tanyanya menelisik penampilan Sutami yang berdiri diluar gerbang.
Penampilannya sederhana tapi rapi. Blouse warna peach muda dipadukan dengan celana bahan berwarna abu, serta rambut lurus sebahu yang dibiarkan terurai.
“Pak Waluyo, pemilik selepan di Majumapan. Ada?” tanya Sutami ragu-ragu.
Melihat penampilan sang tamu yang tampak meyakinkan, Mbak Rini langsung membuka gerbang, dan mempersilahkan Sutami masuk.
Gerbang besi tertutup di belakang Sutami. Ia berdiri kaku di halaman rumah megah itu.
“Tunggu sebentar ya, Mbak. Saya panggilkan Bapak,” ujar Mbak Rini setelah menutup gerbang.
Sutami mengangguk setuju, pandangannya menyapu ke seluruh halaman dengan tatapan takjub. Namun, belum sempat kekagumannya terhenti, suara langkah kecil berlari mendekat.
"Ibu?! Ibu pulang? Ibu hidup lagi?!"
Seorang gadis 6 tahun langsung menghambur memeluk lengan Sutami erat. "Jangan pergi lagi ya, Bu..."
Sutami terkejut, begitu juga dengan Mbak Rini yang sudah berdiri di teras rumah, hendak memanggil tuannya.
"Eh, Dek... salah orang. Aku bukan—"
Langkah berat memotong reaksi Sutami. Waluyo keluar dari pintu utama, masih mengenakan kaos olahraga dan handuk tergantung di leher. Wajahnya langsung mengeras saat melihat pemandangan itu.
"Heh! Kamu siapa?!" bentaknya berjalan cepat.
Mbak Rini cepat-cepat menyusul tuannya, "Maaf Pak, itu tamu. Katanya ada urusan penting sama Bapak."
Waluyo sudah berdiri berjarak dengan Sutami “Dara, kemari, Nak.” lirihnya mengayunkan tangan gesture memanggil.
“Nggak mau! Dara mau sama ibu!” celetuk Dara semakin erat melingkarkan lengannya ke pinggang Sutami.
Waluyo kembali menegakkan tubuhnya, menatap Sutami penuh selidik. Dari ujung kepala sampai ujung sepatu pantofelnya. Rapi, bersih, tapi jelas bukan dari kalangan atas.
"Sales? Debt collector? Atau dari yayasan mana?" tanyanya dingin.
“Saya, kakaknya Kuswara, salah satu karyawan Bapak. Saya—”
“Bapak jangan marahin ibu!” potong Dara melotot ke raga Waluyo.
Tubuh Waluyo menegang, mendengar itu, ditambah lagi ia tak bisa menyangkal bahwa, ‘Sialan. Sekilas... memang mirip Ranti. Cara dia berdiri, cara dia menunduk,”'batin Waluyo, tapi gengsi berhasil menahannya. ‘Jangan lemah, Waluyo!”'serunya untuk diri sendiri.
Melihat situasi canggung itu, Sutami segera bicara, suaranya tenang meski gemetar, satu tangannya merangkul pundak Dara, seperti yang sering ia lakukan untuk menenangkan muridnya yang tantrum tiba-tiba. "Permisi, Pak Waluyo. Saya Sutami, kakaknya Kuswara. Saya datang bukan untuk membuat masalah. Saya hanya mau bertanya... berapa sebenarnya hutang adik saya? Saya mau bantu melunasi. Saya janji akan menyicil setiap bulan dari gaji saya."
Waluyo menyipit, lalu menimbang. Di satu sisi ia muak dengan kelakuan Kuswara. Di sisi lain, anaknya menangis memeluk perempuan ini.
Akhirnya ia mengalah setengah. "Masuk, kita bicara di dalam."
Di ruang tamu yang luasnya mungkin empat kali lipat ruang tamu di rumahnya, Sutami duduk pelan di sofa, dengan Dara yang tidak mau lepas dari lengan Sutami. Sedangkan Waluyo menempatkan diri duduk berhadapan, dengan wajah tegang, dan rahang mengeras.
“Jadi, Anda benar kakaknya Kuswara?” tanya Waluyo pelan. “Tapi… jumlah yang harus dikembalikan itu tidak sedikit.”
Sutami mengangguk kecil lalu tersenyum lembut ke arah Dara yang memainkan jemari Sutami. "Saya tahu mungkin Kuswara banyak salah, Pak. Tapi tolong beri dia kesempatan, toh semua pinjaman yang ia ambil tak lain hanya untuk membantu kebutuhan rumah. Saya akan membantu tanggung jawab, karena saya juga ikut bersalah."
Waluyo mengernyit dalam, “Apa pekerjaanmu?”
“Guru TK, Pak.” Sutami menjawab singkat, karena Dara terus memeluk dan meminta perhatian darinya.
Hati Waluyo mencelos. Bohong kalau bilang Kuswara cuma punya hutang. Yang ia lakukan itu korupsi, pencurian uang, mengubah laporan keuangan, bahkan mencuri. Harusnya dipecat dan dipolisikan.
Tapi melihat perempuan di depannya ini, wajah polos dan tutur kata yang terdengar tak dibuat-buat, rela datang sore-sore demi adiknya, bahkan siap menyerahkan gajinya yang hanya seorang guru TK. Waluyo tak tega bicara sejujurnya.
Waluyo menarik napas. "Dara, masuk kamar dulu ya. Bapak mau bicara serius sama Ibu ini."
"Nggak mau!" Dara malah memeluk lebih erat.
Waluyo melunak, nadanya dipaksa lembut. "Dara anak Ibu yang baik kan? Kalau Dara membantah, nanti Ibu ini pergi lagi lho."
Dara mendongak, melihat ke wajah Sutami. Setelah diangguki pelan oleh Sutami, akhirnya Dara menurut, meski berat hati. Ditemani Mbak Rini, Dara menjauh meski sambil sesekali menoleh. “Janji ya, Ibu jangan pergi lagi!” serunya sebelum menghilang dibalik dinding pembatas antara ruang tamu dan ruang tengah.
“Kita ke dapur aja Bude, buatkan minum untuk ibu, boleh?” pinta Dara manja tapi sorot mata gadis cilik itu terlihat hidup. Bahkan mampu berjalan sendiri berbanding terbalik dengan sebelum Sutami datang.
Begitu putrinya menjauh, wajah Waluyo kembali datar. "Baiklah," katanya. "Saya tidak akan memecat Kuswara. Dan tenggat pengembalian uangnya... akan saya perpanjang."
Sutami menghela napas lega.
"Tapi dengan syarat," lanjut Waluyo. Ia bersedekap. "Saya akan menyelidiki latar belakang Anda dulu. Saya harus tahu Anda orang seperti apa. Dan karena entah setan apa yang merasuki anak saya sampai mengira Anda sebagai mendiang ibunya... sekarang tugas Anda adalah membuat Dara makan dan meminum obatnya.”
Sutami terdiam. Tuduhan itu menyakitkan. Tapi ia mengangguk pelan. "Baik, Pak. Saya mengerti."
Waluyo berdiri, membuang muka, meski di dalam dadanya perang batin berkecamuk. 'Sial. Kenapa harus mirip? Kenapa harus datang sekarang?’
…….
Dapur rumah Waluyo luas dan kinclong. Kompornya 4 tungku, kulkasnya 2 pintu. Sutami sampai kikuk sendiri.
“Ibu! Ibu mau masak buat Dara?” teriak Dara ruang seketika ia melihat Sutami berdiri diambang pintu dapur.
“E… anu….” Sutami tampak gugup. ‘Aduh! dapurnya MasterChef ini… apa aku bisa masak nyaman di tempat mewah begini?’ batinnya gugup tak berhenti takjub melihat semua peralatan masak modern ada lengkap di tempat itu.
Dara duduk di kursi tinggi, dagu ditopang tangan, menatap Sutami tanpa berkedip.
"Ibu dulu juga suka masak buat Dara. Telur dadar iris tipis-tipis, terus dibentuk love! Data mau itu sekarang!"
Jantung Sutami mencelos. Ia menoleh dan tersenyum kaku. "Oh gitu... sini, kita bikin bareng ya?"
Kata ‘Ibu’ itu meluncur begitu saja. Canggung, tapi itu seolah sapaan biasa selayaknya saat ia sedang berada di dalam kelas.
Mendengar ajakan itu, Dara langsung bersorak. "Iya! Asyik!"
Sambil mengocok telur, Dara mulai bercerita ringan, tentang semua kenangan yang terlintas di ingatannya. Hingga ingatan menyakitkan itu pun melintas di sana, di potongan hitam sudut hati Dara yang tanpa sadar terlupakan karena syok berat yang dialami bocah itu.
"Ibu Dara, namanya Ranti. Cantik seperti Dara, suka nyanyiin pas Dara mau tidur. Terus... kecelakaan 1 bulan lalu. Pas mau jemput Dara les." Dara berhenti, air matanya jatuh."
...****************...
Bersambung....
rasain tuh 😏