Kurosawa Kaito adalah pria paling sial di seluruh Jepang bukan kiasan, itu fakta yang bisa dibuktikan lewat statistik. Payung selalu ketinggalan pas hujan deras, promosi kerja direbut orang lain di detik terakhir, bahkan mesin ATM pernah menelan kartunya di hari gajian.
Semua berubah saat sahabatnya memaksanya mencoba Aeon Requiem, VRMMORPG full-dive terbaru yang sedang jadi fenomena dunia. Saat membuat karakter, Kaito yang selama ini terlalu sial untuk berharap apa pun asal memasukkan seluruh poin stat awal ke satu parameter yang paling sering diabaikan pemain lain: Luck (Keberuntungan).
Yang tidak ia sangka: sistem game ini menghitung keberuntungan bukan sebagai angka kosmetik, tapi sebagai variabel nyata yang memengaruhi drop rate, critical hit, event tersembunyi, bahkan takdir NPC. Seorang pemain yang di dunia nyata tidak pernah menang undian apa pun, kini menjadi satu-satunya orang yang ditakdirkan untuk selalu beruntung di dunia yang bukan dunia nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon webnakama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6 — Melangkah ke Dunia Sebenarnya
Kaito natap tulisan itu lama banget, sampe Souma yang duduk di sampingnya mulai heran kenapa dia tiba-tiba diem kayak orang ngeliat hantu.
"Woy, lo kenapa?" Souma nyolek lengannya. "Muka lo pucet banget."
Kaito berkedip, panel tulisan itu udah ilang dari pandangannya, kayak nggak pernah muncul sama sekali. "Lo... beneran nggak liat tadi?"
"Liat apaan, sih? Dari tadi lo cuma diem natap kosong."
Kaito mikir sebentar, nimbang mau cerita atau enggak. Tapi akhirnya dia mutusin diem aja dulu. Bukan karena nggak percaya sama Souma, dia percaya banget, malah Souma orang yang paling dia percaya di dunia ini selain keluarganya sendiri. Tapi ada sesuatu soal pesan itu yang kerasa terlalu personal, terlalu aneh buat diomongin sekarang, apalagi dia sendiri belum ngerti itu apaan.
"Nggak, bukan apa-apa, mungkin gue kecapean. Kepala gue masih agak pusing nyesuain sama semua ini." kata Kaito
Souma natap dia agak curiga, tapi nggak maksa. "Yaudah, kalo gitu istirahat dulu aja. Kita udah dapet banyak banget hari ini, lumayan buat modal awal lo."
Mereka jalan keluar dari Hutan Cahaya Redup, balik ke arah kota. Di sepanjang jalan, Kaito diem-diem mikirin lagi kalimat yang barusan muncul.
Kau adalah yang telah lama ditunggu.
Kedengerannya kayak potongan dialog dari cerita fantasy murahan, tapi entah kenapa, rasanya beda. Nggak kayak teks sistem biasa yang generik dan kaku. Ada semacam bobot di kata-katanya, kayak ada sesuatu yang beneran ngomong, bukan cuma program yang jalanin skrip.
Dia coba mikir logis, mungkin ini bagian dari event tersembunyi yang emang dirancang developer, semacam easter egg buat pemain yang beruntung nemuin kombinasi tertentu. Itu penjelasan paling masuk akal. Tapi bagian dari dirinya, bagian yang udah kenal betul rasanya jadi orang yang selalu dapet perlakuan "berbeda" dari kebanyakan orang, nggak bisa sepenuhnya percaya penjelasan sesimpel itu.
Begitu keluar dari area hutan, mereka nyampe lagi di Plaza Kota Awal, dan Souma nunjuk ke arah gerbang besar di ujung plaza, tempat kerumunan pemain lain lalu-lalang keluar masuk.
"Nah, itu gerbang menuju Vale Aurora, kota utama tempat semua pemain sungguhan mulai grinding, ikut guild, ambil quest gede. Area tutorial sama hutan tadi itu anggep aja baru pemanasan doang." kata Souma.
Kaito natap gerbang itu, ngerasa campuran antara excited dan gugup. Dari balik gerbang, dia bisa liat sekilas gedung-gedung tinggi bergaya campuran fantasi-modern, air mancur raksasa di tengah alun-alun kota, dan lautan pemain dari berbagai server yang keliatan sibuk sama urusan masing-masing.
"Ini... gede banget," gumam Kaito.
"Ini baru kota starter, bro. Tunggu sampe lo liat continent-continent lain," Souma nyengir, jelas seneng bisa jadi orang yang ngenalin semua ini ke Kaito.
Mereka jalan lewat gerbang, dan begitu masuk, suara-suara dunia berubah drastis lebih rame, lebih hidup, campuran obrolan dari ratusan pemain, suara pedagang NPC nawarin barang, dan sesekali suara ledakan kecil dari arah training ground yang keliatan di kejauhan.
"Nah," kata Souma, berhenti sebentar di deket papan pengumuman besar yang penuh sama quest board digital, "sekarang waktunya lo pikirin mau ngapain ke depannya. Mau ikut guild? Gue bisa rekomen lo ke guild gue, walau mereka agak strict soal requirement level."
Kaito mikir sebentar. "Kayaknya... belum dulu deh. Gue masih pengen ngerti dulu gimana cara kerja semua ini. Lagian..." dia berhenti sebentar, "...soal item-item tadi. Menurut lo, gue harus cerita ke orang lain nggak?"
Souma diem, mikir serius. "Jujur, itu keputusan lo sendiri sih. Tapi kalo gue jadi lo, gue bakal hati-hati dulu. Item selangka itu bisa ngundang perhatian yang nggak selalu bagus. Ada pemain-pemain tertentu yang doyan banget nyari 'anomali' buat dieksploitasi atau malah dijadiin bahan gosip drama."
"Jadi maksud lo, diem-diem dulu aja?"
"Iya, minimal sampe lo lebih ngerti cara kerja sistemnya sendiri. Nggak enak kan kalo lo baru sehari main udah jadi bahan omongan seluruh server."
Kaito ngangguk setuju. Dia emang bukan tipe yang suka jadi pusat perhatian, seumur hidup di dunia nyata aja dia lebih milih jadi orang yang nggak dianggep daripada jadi bahan omongan, walaupun ironisnya kebanyakan omongan soal dia justru soal kesialannya.
Mereka ngabisin sisa waktu itu buat jalan-jalan keliling Vale Aurora, dan Souma dengan semangat nunjukin macem-macem tempat, toko senjata legendaris yang dijagain NPC pandai besi tua yang katanya udah "hidup" sejak game ini rilis, arena duel kecil tempat pemain bisa spar buat latihan, sampe kedai makanan virtual yang katanya rasanya beneran bisa dinikmatin walau cuma simulasi.
"Coba deh, gue tau ini kedengeran aneh, tapi makanan di sini beneran punya rasa. Gila banget teknologinya." kata Souma sambil nyodorin semangkuk ramen virtual yang baru aja dia pesen dari kedai pinggir jalan,
Kaito nyoba nyeruput kuahnya, dan matanya melebar. "Anjir, ini... beneran kerasa. Bahkan lebih enak dari ramen instan yang biasa gue makan."
"Kan gue bilang," Souma ketawa puas, kayak lagi pamerin rumah baru ke temen deket. "Nah, itu di sana arena duel. Kalo lo udah lebih pede, kita bisa spar bareng di situ. Bagus buat ngerti pola serangan lo sendiri."
Kaito ngeliat ke arah arena, ngeliat dua pemain lagi baku hantam pake pedang dan tombak, gerakan mereka cepet dan terkoordinasi kayak udah latihan bertahun-tahun. Dia jadi ngerasa kecil sendiri ngebandingin gerakannya yang masih kaku tadi di hutan.
"Kayaknya gue butuh waktu lama buat bisa segesit itu," gumam Kaito.
"Santai aja, semua orang mulai dari situ juga. Lagian lo punya... yah, keunggulan lain yang mungkin nggak butuh gesit-gesit amat," Souma nyengir, ngedip sebelah mata.
Di tengah jalan-jalan itu, mereka lewat depan papan peringkat besar yang nampilin daftar pemain top server secara real-time, clear rank, duel rank, guild rank, semuanya update otomatis. Kaito berhenti sebentar, natap nama-nama yang berjejer di urutan atas.
"Itu semua orang beneran, atau bot?" tanya Kaito.
"Beneran. Itu pemain-pemain top di server Jepang-3," jawab Souma, nunjuk salah satu nama di urutan tinggi. "Tuh, contohnya. Rin. Duel rank-nya nomer tiga server, udah gitu clear rank-nya juga masuk sepuluh besar. Orangnya misterius banget, jarang keliatan di forum, tapi kalo urusan skill, dia salah satu yang paling ditakutin."
Kaito natap nama itu sekilas, nggak nyangka kalo beberapa jam sebelumnya, orang yang namanya baru aja disebut Souma itu justru lagi natap layarnya sendiri, nyimpen info soal dia.
"Keren juga," gumam Kaito, terus ngelanjutin jalan, nggak nyangka takdir mereka bakal ketemu lebih cepet dari yang dia kira.
Menjelang malam atau lebih tepatnya siklus waktu virtual yang mulai berubah jadi senja keemasan di langit Vale Aurora, Kaito sama Souma duduk di pinggir air mancur besar untuk istirahat sejenak.
"Gimana rasanya hari pertama lo di dunia ini?" tanya Souma.
Kaito diem sebentar, mikirin semuanya dari awal, alarm yang nggak bunyi, kopi tumpah, kereta yang lepas tiga detik, presentasi yang berantakan. Terus dia bandingin sama beberapa jam terakhir ini, drop item yang bikin orang lain syok, chest tersembunyi yang muncul di jalurnya, dan pesan aneh yang cuma bisa dia baca sendirian. Rasanya kayak dua hidup yang beda banget, dan anehnya, dia sekarang lagi berdiri di persimpangan keduanya.
"Aneh, Kayak... buat pertama kalinya, gue nggak ngerasa jadi orang yang paling sial di ruangan." kata Kaito jujur.
Souma nyengir, nepuk pundaknya. "Nah gitu dong. Lo pantes dapet ini, Kaito. Serius."
Kaito nggak jawab apa-apa, cuma natap air mancur yang mancarin cahaya keemasan dari pantulan langit senja. Ada rasa hangat yang asing numbuh di dadanya, rasa yang udah lama banget nggak pernah dia rasain, rasa kalo mungkin, buat sekali ini aja dunia nggak sepenuhnya ngelawan dia.
Dia mikir, kalo besok dia harus balik ke dunia nyata ke apartemen sempitnya, ke pekerjaan yang mungkin masih ngasih dia tatapan kecewa dari atasan, apa perasaan ini bakal tetep ada atau ilang begitu aja kayak mimpi biasa. Tapi buat sekarang, dia mutusin nggak mikirin itu dulu. Buat sekarang, dia cuma mau duduk di sini, ngerasain sesuatu yang jarang banget dia rasain: tenang.
Tapi jauh di sudut pandangannya, samar-samar, satu ikon kecil yang tadi sempet dia liat di papan peringkat, nama "Rin" yang berkedip pelan di urutan tiga, entah kenapa bikin dia ngerasa ada sesuatu yang bakal berubah nggak lama lagi.
Dia belum tau, tapi jarak antara dirinya dan nama itu, di dunia yang katanya seluas benua, ternyata jauh lebih deket dari yang dia kira.