Kaisar Iyan: Kebangkitan Raja Iblis Abadi
Kaisar Iyan hanyalah seorang pemuda pemalas yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk tidur dan menghindari masalah.
Namun suatu hari, ia terbangun di dunia yang sama sekali berbeda.
Tanpa mengetahui bagaimana dirinya bisa sampai di sana, Iyan menemukan bahwa tubuhnya memiliki kemampuan yang tidak pernah dimiliki manusia biasa.
Ia dapat menciptakan clone dirinya sendiri.
Ia dapat memanggil pahlawan dan monster dari dunia lain.
Ia bahkan mampu membangkitkan mayat dan tulang menjadi pasukan undead yang tidak mengenal kematian.
Namun kemampuan paling mengerikan yang dimilikinya adalah sebuah kekuatan yang memungkinkan pasukannya bangkit kembali setiap kali terbunuh—selama mana miliknya masih tersisa.
Awalnya, Iyan hanya ingin hidup tenang.
Sayangnya, dunia baru ini tidak memberinya kesempatan.
Perang, kerajaan, bangsawan, monster, pahlawan, dan pengkhianatan perlahan menyeretnya ke dalam konflik yang jauh lebih besar.
Sampai akhir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BAGERAAA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BENTENG KEDUA
Aku mulai menghampiri Serof yang sedang menungguku di depan gerbang benteng bersama para pasukan.
Serof segera menyambutku.
“Tuan, kita akan berangkat sekarang. Saya sudah mempersiapkan kuda dan kereta kuda. Kita bisa berangkat sekarang.”
Aku menjawab dengan tegas.
“Kita berangkat sekarang.”
Aku kemudian menaiki kereta kuda sambil melihat ke sekeliling.
Para prajurit mulai menaiki kuda mereka dan berbaris dengan rapi. Serof kemudian duduk tepat di hadapanku.
Ia terlihat memperhatikan sepuluh orang yang kubawa dalam perjalanan ini.
“Tuan, siapa mereka? Sepuluh orang yang Anda bawa dalam perjalanan ini?”
Aku menjawab santai.
“Mereka kenalan lamaku. Aku menjemput mereka untuk ikut bersamaku.”
Serof hanya terdiam.
Namun, di dalam hatinya ia bergumam.
“Teman? Sejak kapan Tuan Muda punya teman?”
Serof kemudian bertanya lagi.
“Tuan, apakah mereka semua tidak berbahaya? Dari penampilan mereka, sepertinya mereka seperti kesatria yang berpengalaman.”
Aku hanya bergumam dalam hati.
Kesatria berpengalaman?
Bukankah gelar kesatria biasanya hanya diberikan kepada pasukan dengan kemampuan tinggi, seperti pasukan Rank S atau para penjaga Kekaisaran Pusat?
Sedangkan berdasarkan informasi dari sistem, mereka hanya dikategorikan sebagai prajurit.
Aku kemudian menjawab Serof.
“Aku sengaja tidak menceritakan tentang mereka kepada orang lain. Anggap saja ini sebagai tindakan berjaga-jaga.”
Serof hanya mengangguk.
Aku kemudian melanjutkan.
“Aku juga berencana merekrut lebih banyak pasukan agar benteng timur menjadi lebih kuat.”
Aku terdiam sejenak sebelum melanjutkan.
“Selain itu, aku berencana membangun kastilku sendiri di perbatasan timur ini.”
Serof terlihat sedikit terkejut.
“Untuk itu, jika memungkinkan, kita harus mencari penduduk yang bersedia tinggal dan menetap di wilayah timur.”
Aku kemudian bergumam dalam hati.
Huff... aku masih belum mengetahui seperti apa dunia di luar wilayah ini.
Jadi, untuk berjaga-jaga, aku akan membangun desaku sendiri di sini.
Langkah pertama adalah membangun pasukan yang kuat.
Setelah itu, aku akan merekrut penduduk yang memiliki pengalaman dan kemampuan untuk membantu perkembangan desa.
Dan yang paling penting, aku akan merekrut orang-orang yang jujur.
Jika ada yang berani bermain kotor atau melakukan korupsi...
Aku menyipitkan mata.
...aku akan menghukum mereka.
Bahkan hukumannya akan lebih buruk daripada kematian itu sendiri.
Benteng Kedua
Enam jam telah berlalu.
Akhirnya, kami tiba di benteng kedua.
Serof kemudian memberitahuku bahwa kami sudah sampai di depan gerbang benteng.
Aku turun dari kereta kuda dan mulai memperhatikan keadaan di sekitar.
Para prajurit terlihat mulai khawatir.
Beberapa bahkan terlihat ragu untuk memasuki benteng.
Serof kemudian memberikan perintah.
“Buka gerbang!”
Para prajurit segera membuka gerbang benteng.
“Para petualang, periksa wilayah di sekitar benteng!”
“Para Mage, tetap waspada dan bersiap jika terjadi sesuatu!”
“Baik!”
Para pasukan akhirnya mulai memasuki benteng.
Namun, begitu berada di dalam, aku melihat pemandangan yang mengerikan.
Mayat-mayat berserakan di seluruh wilayah benteng.
Ada mayat Orc.
Ada pula mayat manusia.
Sebagian besar terlihat seperti prajurit yang gugur dalam pertempuran.
Aku terdiam melihat pemandangan tersebut.
Tiba-tiba, sistem muncul di hadapanku.
[Mayat dan tulang-belulang dapat disimpan ke dalam Ruang Dimensi.]
Aku sedikit bingung.
“Untuk apa menyimpan semua mayat ini di dalam Ruang Dimensi?”
Sistem kemudian memberikan penjelasan.
[Mayat yang disimpan di dalam Ruang Dimensi akan tetap terjaga dalam kondisi yang jauh lebih baik.]
[Sistem dapat memperbaiki kerusakan pada mayat dan tulang-belulang sehingga lebih mudah digunakan kembali.]
[Mayat dan tulang-belulang sangat berguna untuk kemampuan Necromancer.]
Aku langsung teringat bahwa aku memiliki kemampuan Necromancer.
“Jadi begitu...”
Sistem kemudian memberikan informasi tambahan.
[Untuk saat ini, pengguna hanya dapat membangkitkan 10 Skeleton setiap hari.]
Aku kemudian melihat Ruang Dimensi milikku.
Tidak ada batas penyimpanan.
Berarti aku bisa menyimpan mayat dan tulang-belulang sebanyak apa pun tanpa khawatir kehabisan tempat.
Sistem kemudian memberikan penjelasan mengenai Skeleton.
[Skeleton tidak memiliki kepribadian sendiri.]
[Skeleton hanya akan bergerak berdasarkan perintah yang diberikan.]
[Setiap pasukan Skeleton membutuhkan seorang kapten untuk memberikan perintah.]
Aku mulai berpikir.
Kalau begitu, sepuluh prajurit summon-ku masing-masing bisa mendapatkan sepuluh Skeleton untuk mereka perintahkan.
Itu jauh lebih bagus.
Sistem membenarkan pemikiranku.
[Benar. Pasukan Skeleton wajib memiliki seorang kapten.]
Aku akhirnya memahami semuanya.
Aku kemudian memberikan perintah kepada para prajurit.
“Kumpulkan semua mayat penduduk, prajurit yang gugur, dan mayat Orc.”
“Satukan semuanya di satu tempat.”
Serof terlihat bingung.
“Tuan, untuk apa semua mayat ini dikumpulkan? Apakah akan dibakar?”
Aku menjawab dengan tenang.
“Aku akan membawa semua mayat ini bersamaku.”
Serof terlihat terkejut.
“Dengan menggunakan Skill Ruang Dimensi yang kumiliki.”
Serof semakin terkejut.
Setahunya, kemampuan penyimpanan ruang dimensi hanya dapat dimiliki oleh Mage Lingkaran Sihir tingkat tujuh atau seseorang dengan Rank S.
Ia kemudian bergumam dengan tenang.
“Sejak kapan Tuan Muda mempelajari sihir?”
Aku menjawab tanpa menunjukkan keraguan.
“Aku sudah lama mempelajari sihir.”
Serof terdiam.
Kemudian ia mulai berpikir.
Kalau dipikir-pikir, itu masuk akal.
Tuan Muda memang jarang keluar dari kamarnya. Bahkan dia hampir tidak pernah terlihat oleh siapa pun.
Jangan-jangan selama ini Tuan Muda diam-diam mempelajari sihir di dalam kamarnya?
Serof semakin kagum.
Jika benar Tuan Muda belajar secara diam-diam selama ini, itu sangat luar biasa.
Selama ini aku mengira dia hanya bermalas-malasan di dalam kamar.
Aku kemudian memperingatkannya.
“Dan jangan bertanya lebih lanjut mengenai mayat-mayat yang kusimpan.”
Serof hanya mengangguk.
“Baik, Tuan Muda.”
Tidak lama kemudian, para petualang yang sebelumnya diperintahkan untuk memeriksa dan mengawasi wilayah sekitar benteng kembali.
Salah satu dari mereka segera memberikan laporan.
“Tuan, wilayah sekitar benteng kedua aman. Kami tidak menemukan tanda-tanda keberadaan pasukan Orc.”
Serof mengerutkan kening.
“Ini sangat aneh.”
Ia melihat ke arah benteng.
“Mereka meninggalkan benteng kedua begitu saja?”
Serof kemudian berpikir.
“Jangan-jangan mereka sudah berada di benteng ketiga.”
Aku kemudian bertanya kepada Serof.
“Serof, sebenarnya ada berapa benteng di wilayah perbatasan timur?”
Serof menjawab.
“Ada tujuh benteng di wilayah timur.”
Ia terdiam sejenak.
“Namun, enam di antaranya telah hancur.”
“Yang tersisa hanyalah benteng utama tempat kita sebelumnya berada.”
Aku mulai memahami situasi sebenarnya.
Jadi benteng yang kita datangi kemarin adalah benteng terakhir yang masih bertahan sebelum benteng utama?
Aku mulai berpikir.
Jangan-jangan banyak pasukan dan komandan yang gugur ketika mempertahankan benteng-benteng sebelumnya...
Hari mulai sore.
Aku kemudian memberi tahu Serof.
“Kita akan bermalam di sini.”
Aku melihat ke arah sepuluh prajurit summon-ku.
“Kalian berjaga di gerbang depan.”
Kami sebelumnya masuk melalui gerbang belakang, jadi aku ingin memastikan gerbang depan tetap aman.
Serof juga segera memberikan perintah kepada pasukannya.
“Beberapa prajurit berjaga di gerbang depan.”
“Kita harus berjaga-jaga jika musuh datang dari arah benteng ketiga.”
Para prajurit segera menjalankan perintah.
Sementara itu, aku hanya berdiri dan memandang benteng kedua yang dipenuhi sisa-sisa perang.
Entah kenapa...
keheningan benteng ini justru membuatku merasa bahwa sesuatu yang jauh lebih besar sedang menunggu kami di depan.