Tiga tahun lalu, Kaluna Adiswara dinyatakan meninggal setelah mobilnya ditemukan hancur di dasar sungai. Tubuhnya tidak pernah ditemukan. Selama bertahun-tahun ia dianggap telah meninggalkan suami dan putrinya, bahkan dituduh menggelapkan uang perusahaan. Ketika ingatannya pulih dan Kaluna kembali, ia justru menemukan suaminya telah menikahi Veyra, adik angkat yang dulu ia anggap sebagai keluarga. Lebih menyakitkan lagi, putrinya, Elara, kini memanggil Veyra Mama. Kaluna tidak datang untuk merebut suaminya. Ia datang untuk mendapatkan kembali namanya, hak sebagai ibu, aset yang dirampas, dan mencari tahu siapa yang mencoba membunuhnya. Di balik keluarganya yang terlihat sempurna, ternyata tersimpan rahasia tentang pemalsuan dokumen, pengkhianatan, dan sebuah kejahatan yang telah disembunyikan selama bertahun-tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A. A. Pusung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13 TELEPON MILIK PERUSAHAAN
Kaluna menunjuk kolom pemesan pada data kendaraan di layar telepon Naren.
“Siapa yang memesan mobil itu?” tanya Kaluna.
Naren menggulir informasi yang baru diterimanya. “Catatan pemakaian kendaraan tidak bisa diakses sembarang orang. Kita perlu meminta catatan dari perusahaan pemiliknya.”
“Kalau mereka menolak?”
“Salindri bisa mengirim permintaan resmi.”
Salindri mengambil teleponnya. “Saya akan menghubungi bagian hukum mereka malam ini. Tapi kemungkinan jawabannya baru ada besok.”
Kaluna berjalan mendekati jendela kamar hotel. Kota di luar masih ramai, tetapi pikirannya tertahan pada foto Elara di halaman sekolah. Orang yang memotret anaknya memakai kendaraan dari perusahaan rekanan Mahardika Medika. Foto Kaluna di hotel tiga tahun lalu juga diambil menggunakan perangkat perusahaan.
Dua kejadian itu berbeda, tapi keduanya tetap mengarah ke satu tempat: Mahardika Medika.
“Bagaimana kalau kendaraan itu memang dipakai untuk tugas resmi?” tanya Kaluna.
Naren menoleh. “Tugas resmi apa yang sampai nyuruh orang ngaku sebagai utusan keluarga, terus nanya jadwal pulang anak?”
Kaluna tidak menanggapi. Ia tahu tidak ada penjelasan wajar untuk itu.
Salindri selesai mengirim pesan, lalu menutup laptopnya. “Untuk malam ini, kita tidak bisa melakukan banyak hal. Kaluna, pastikan nomor asing tidak bisa melihat informasi akunmu. Jangan mengunggah lokasi. Jangan menghubungi pengirim ancaman.”
“Aku tidak pernah mengunggah lokasi.”
“Ya.”
“Aku ingin bertemu Elara.”
Salindri menatapnya. “Malam ini?”
“Aku hanya ingin memastikan dia baik-baik saja.”
“Arsen kemungkinan tidak akan mengizinkan.”
“Dia bukan satu-satunya orang yang boleh mengambil keputusan.”
Naren bersandar di kursi. “Kau sudah sepakat memberi tahu sebelum datang.”
“Aku akan memberi tahu.”
Kaluna mengambil telepon dan membuka pesan terakhir dari Elara. Tidak ada pesan tambahan setelah anak itu bertanya apakah orang yang datang ke sekolah adalah orang jahat.
Ia mengetik perlahan.
Kamu sudah makan malam?
Balasan datang beberapa menit kemudian.
Sudah. Mama masak sup.
Kata Mama tidak lagi terasa setajam sebelumnya, tapi tetap membuat jemari Kaluna berhenti. Mama yang dimaksud Elara adalah Veyra.
Enak?
Lumayan. Wortelnya terlalu banyak.
Kaluna tanpa sadar tersenyum kecil. Dahulu Elara selalu memisahkan wortel dari makanannya, lalu menyembunyikannya di bawah nasi. Kebiasaan itu rupanya belum berubah.
Kamu masih tidak suka wortel?
Tiga titik muncul di layar.
Kok kamu tahu?
Kaluna membaca pertanyaan itu dua kali.
Dulu kamu juga tidak suka.
Elara tidak langsung membalas. Hampir satu menit berlalu sebelum pesan berikutnya masuk.
Papa bilang besok kamu mungkin datang.
Kaluna mengangkat wajah. Arsen belum mengatakan apa pun kepadanya.
Kalau kamu tidak keberatan, aku akan datang.
Kali ini balasan Elara hanya satu kata.
Iya.
Kaluna meletakkan telepon di atas meja.
“Dia mengizinkanmu datang?” tanya Naren.
“Sepertinya begitu.”
“Jadi malam ini kau nggak jadi ke kantor Bramasta?”
Kaluna menoleh. “Aku tidak bilang mau ke sana.”
“Tapi kau kepikiran ke sana.”
Salindri menghela napas pendek. “Kalian berdua sebaiknya tidur. Besok kita harus menelusuri dua jalur. Kendaraan rekanan dan perangkat perusahaan yang digunakan untuk mengirim foto hotel.”
Kaluna memperhatikan foto lama di layar laptop. Pada metadata gambar terdapat kode inventaris telepon perusahaan. Kode itu belum pernah diperiksa secara lengkap karena mereka lebih dulu menerima ancaman terhadap Elara.
“Bisa kita periksa malam ini?” tanyanya.
Naren membuka catatannya. “Kode perangkat hanya bisa dicocokkan dengan daftar inventaris perusahaan.”
“Aku masih tercatat sebagai pendiri.”
“Secara hukum kau masih dalam proses dinyatakan hidup.”
“Jadi kita masih harus nunggu?”
Salindri menggeleng. “Tidak. Besok saya ajukan permintaan akses bersamaan dengan pemeriksaan kendaraan.”
Kaluna benci harus menunggu. Ia juga tidak ingin bertindak gegabah dan membuat perusahaan menghapus jejak yang tersisa.
Malam itu ia hampir tidak tidur. Setiap kali memejamkan mata, foto Elara di sekolah kembali muncul. Kemudian bayangan hotel menyusul. Kemeja putih, pintu kaca, dan map merah tua yang seperti pernah berada di tangannya.
Menjelang pagi, Kaluna baru tertidur beberapa jam.
Ia terbangun karena telepon bergetar.
Pesan dari Salindri masuk pukul tujuh lewat dua puluh menit.
Perusahaan rekanan bersedia memberikan catatan kendaraan. Kita bertemu di kantor mereka pukul sembilan.
Kaluna segera bangun.
Kantor perusahaan penyedia transportasi dan keamanan itu berada di kawasan industri, sekitar empat puluh menit dari hotel. Bangunannya sederhana, dengan deretan kendaraan operasional terparkir di belakang pagar.
Seorang manajer bernama Harun menerima mereka di ruang rapat kecil. Salindri menjelaskan ancaman terhadap Elara dan menunjukkan potongan rekaman dari sekolah.
Harun memeriksa nomor kendaraan tersebut.
“Mobil ini memang milik kami,” katanya.
“Siapa yang memakainya kemarin pagi?” tanya Kaluna.
Harun membuka data perjalanan di komputer. “Dalam catatan kami, kendaraan digunakan untuk pemeriksaan lokasi.”
“Lokasi apa?”
“Tidak tertulis.”
Naren mendekat. “Siapa pemesannya?”
Harun membaca kolom di layar, lalu tampak ragu.
“Permintaan datang melalui akun perusahaan klien.”
“Mahardika Medika?” tanya Salindri.
Harun mengangguk singkat.
Napas Kaluna tertahan. “Bagian mana?”
“Di sistem cuma tertulis layanan korporat. Biasanya dari bagian operasional atau keamanan.”
“Siapa nama orang yang mengirim?”
Harun menggulir halaman. “Tidak ada nama. Permintaan masuk menggunakan akun bersama.”
“Pengemudinya?”
“Bisa kami panggil.”
Pengemudi kendaraan ternyata seorang lelaki berusia sekitar empat puluh tahun bernama Yudi. Ia tampak bingung ketika diperlihatkan foto mobilnya di dekat sekolah Elara.
“Saya cuma diminta mengantar dua orang,” katanya.
“Siapa?” tanya Kaluna.
“Saya tidak kenal.”
“Mereka naik dari mana?”
“Dari parkiran gedung lama Mahardika Medika.”
Kaluna menoleh kepada Naren. Gedung lama berada dua blok dari kantor pusat. Sebagian lantainya sudah tidak digunakan, tetapi beberapa unit administrasi masih bekerja di sana.
“Apakah mereka memakai kartu pegawai?” tanya Salindri.
“Saya tidak melihat.”
“Laki-laki atau perempuan?”
“Dua-duanya laki-laki.”
“Salah satunya turun di sekolah?”
Yudi mengangguk. “Yang pakai topi.”
“Yang satu lagi?”
“Duduk di belakang. Dia tidak banyak bicara.”
“Apakah dia yang mengambil foto?”
“Saya tidak tahu. Saya duduk di depan.”
“Kamu nggak tanya kenapa mereka berhenti di sekolah?”
Yudi tampak tidak nyaman. “Saya pikir mereka sedang memeriksa lokasi keamanan. Pesan tugasnya memang begitu.”
Naren meminta melihat surat tugas digital. Harun membuka catatan pemesanan.
Hanya ada satu kalimat pada kolom keperluan.
Pemeriksaan titik penjemputan keluarga direksi.
Kaluna membaca kalimat tersebut dengan dada mengeras. Orang yang memesan kendaraan tahu Elara termasuk keluarga direksi. Ia juga tahu sekolah Elara dan urusan penjemputannya.
“Nomor yang digunakan untuk menghubungi pengemudi?” tanya Naren.
Yudi mengeluarkan telepon. “Ada, tapi waktu saya telepon kembali sudah tidak aktif.”
Nomor itu memakai kartu prabayar dan tidak tercatat atas nama yang mereka kenal. Salindri meminta salinan catatan pemesanan, lokasi penjemputan, serta rekaman komunikasi antara Yudi dan pemesan.
Sebelum pergi, Kaluna bertanya kepada pengemudi, “Apa kamu melihat wajah mereka?”
“Yang turun dari mobil tidak jelas. Yang satunya sempat melepas masker.”
“Bisa mengenalinya kalau melihat foto?”
Yudi ragu. “Mungkin.”
Jawaban itu belum cukup. Paling tidak, sekarang mereka punya saksi yang mungkin bisa mengenali salah satu dari mereka.
Dari kantor rekanan, Kaluna pergi ke rumah Mahardika. Ia sudah memberi tahu Arsen bahwa ia akan datang.
Veyra membuka pintu.
Wajah perempuan itu tampak lebih lelah daripada biasanya.
“Elara sedang belajar di ruang makan.”
“Aku hanya akan menemuinya sebentar.”
Veyra menyingkir memberi jalan. “Dia menunggumu.”
Kaluna tidak menyangka mendengar kalimat tersebut.
Elara duduk di meja makan dengan buku pelajaran terbuka. Seorang guru pendamping sedang merapikan beberapa lembar tugas. Ketika melihat Kaluna, Elara mengangkat tangan kecil.
“Kamu datang.”
“Iya.”
“Papa bilang kamu sibuk cari orang yang datang ke sekolah.”
Kaluna duduk di kursi seberangnya. “Kami sedang mencarinya.”
“Sudah ketemu?”
“Belum.”
Elara menunduk kepada bukunya. “Aku tidak takut.”
Kaluna memperhatikan pensil yang digenggam Elara terlalu erat.
“Tidak apa-apa kalau takut.”
“Aku bilang tidak takut.”
“Baik.”
Kaluna tidak memaksanya mengaku. Ia hanya duduk di sana sementara Elara mengerjakan soal matematika.
Tidak lama kemudian, anak itu mendorong bukunya.
“Ini salah di mana?”
Kaluna membaca soal tersebut. “Kamu menambahkan yang ini dua kali.”
Elara memeriksa jawabannya.
“Oh.”
Veyra berdiri tidak jauh dari mereka. Ia tidak ikut campur, tetapi juga tidak meninggalkan ruangan.
Kaluna membantu Elara menyelesaikan dua soal sebelum Salindri menelepon.
“Akses daftar inventaris disetujui,” katanya.
“Sekarang?”
“Kita harus ke gedung utama sebelum bagian arsip tutup.”
Kaluna melihat Elara. Anak itu sedang menghapus jawabannya dengan serius.
“Aku harus pergi,” kata Kaluna.
Elara berhenti menghapus.
“Cepat sekali.”
“Aku akan datang lagi.”
“Kapan?”
Kaluna hampir menjawab besok, tetapi tidak ingin membuat janji yang belum pasti.
“Setelah aku bicara sama Papa dan Mama Veyra.”
Elara mengangguk kecil, meskipun terlihat sedikit kecewa.
Kaluna berpamitan kepada Veyra, lalu menuju kantor Mahardika Medika.
Salindri dan Naren sudah menunggunya di ruang arsip administrasi. Seorang staf inventaris membawa daftar perangkat perusahaan dari tiga tahun lalu.
Kode pada metadata foto hotel dimasukkan ke sistem.
Catatan awal menunjukkan telepon itu dibeli untuk kebutuhan sekretariat dewan. Perangkat digunakan untuk dokumentasi rapat, komunikasi internal, dan pengiriman berkas.
“Siapa pemegang pertamanya?” tanya Kaluna.
Staf membaca layar. “Perangkat tidak diberikan kepada satu orang. Awalnya menjadi telepon bersama sekretariat.”
“Lalu?”
“Ada perubahan pencatatan enam bulan kemudian.”
Naren mendekat. “Tampilkan riwayat serah terimanya.”
Staf membuka halaman lain. Telepon itu kemudian dipindahkan dari sekretariat umum ke Kantor Ketua Dewan. Setelah itu, perangkat beberapa kali digunakan dalam kegiatan luar kantor, termasuk pertemuan dengan mitra perusahaan.
Kaluna memandang tanggal terakhir sebelum kecelakaannya. Telepon tersebut aktif pada hari ia berada di hotel.
“Siapa yang membawa perangkat pada hari itu?” tanya Salindri.
Staf membuka dokumen serah terima digital. Nama pengguna tidak langsung muncul. Ia harus membuka lampiran lama yang tersimpan dalam bentuk hasil pindai.
Beberapa detik kemudian, sebuah formulir memenuhi layar.
Di bagian bawah ada tanda tangan penerima dan nama lengkap orang yang terakhir memegang perangkat itu.
Kaluna membaca nama itu perlahan.
Revan Daneswara.