Indonesia
NovelToon NovelToon
I Love You Mas Mayor Galak

I Love You Mas Mayor Galak

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Perjodohan
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Jilbab putih

Mayor Aris adalah definisi komandan militer sempurna: tegas, seram, dan disiplin tinggi. Di markas, bisikan namanya saja sudah cukup membuat para prajurit gemetaran. Namun, reputasi "Mayor Galak" itu mendadak runtuh setiap kali ia berhadapan dengan Mayang—gadis pintar, super periang, centil, jujur, polos, sekaligus ceroboh tingkat dewa.

Sifat Mayang yang berbanding terbalik 180 derajat dengan Aris membuat hari-hari sang Mayor tak pernah tenang. Dari tingkah Mayang yang blak-blakan menggoda Aris di depan anak buahnya, hingga kecerobohan manis yang selalu sukses memicu kepanikan sang Mayor. Di balik keusilannya, kejujuran dan kepolosan Mayang justru menjadi tempat Aris melupakan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilbab putih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 Misi Makanan Berpita Merah Muda

BAB 4: Misi Makanan Berpita Merah Muda

Senin pagi adalah hari yang sangat dibenci oleh hampir seluruh pekerja di muka bumi, tetapi tidak bagi seorang Mayang. Pagi ini, semangatku membara dua kali lipat melebihi hari-hari biasanya.

Sejak pukul lima pagi, dapur rumah sudah dipenuhi wangi harum gurih dari tumisan ayam bumbu kecap, telur balado melimpah, dan sambal goreng ati favoritku.

Mbak Rina yang baru saja selesai menata piring-piring di meja makan menatapku dengan kening berkerut dalam.

"Mayang, kamu ini mau bikin katering untuk warga satu RT atau bagaimana?" tanya Mbak Rina heran sambil mengamati tiga tingkatan kotak bekal berwarna merah muda cerah yang sedang kususun rapi di atas meja.

"Setahuku, porsi makan siangmu tidak pernah sebanyak ini."

Aku tersenyum lebar, membetulkan letak kacamata tebal di hidungku dengan bangga.

"Ini bukan cuma buat Mayang, Mbak Rina Ku Sayang! Satu kotak penuh ini khusus disiapkan untuk Mas Mayor Aris Gantengku!"

Mbak Rina seketika menghentikan kegiatannya. Matanya melebar penuh rasa terkejut.

"Tunggu... Mayor Aris? Komandan Batalyon baru di asrama depan itu? Kamu nekat mau mengantar makanan ke markas militer?"

"Iya dong! Ini namanya diplomasi antar tetangga yang beretika tinggi," jawabku santai sambil mengikatkan pita kain berwarna merah muda berbentuk bunga di atas penutup kotak bekal tersebut.

"Lagipula, baju dinas Mas Mayor kan kemarin kena tumpahan gula merah kue lupisku. Sebagai warga negara yang baik, jujur, dan bertanggung jawab, aku harus memberikan kompensasi gizi yang sepadan!"

Mbak Rina menepuk jidatnya pelan, menghela napas panjang melihat kepolosanku yang sudah berada di tingkat membahayakan.

"Mayang... itu markas militer Batalyon, bukan warung tegal! Prajurit di sana itu disiplinnya tinggi. Kamu jangan bikin rusuh di sana, ya!"

"Tenang Mbak Rina! Misi ini dipastikan aman, tenteram, dan sukses 100 persen!" balasku optimis seraya memasukkan wadah bekal itu ke dalam tas kain berhias renda.

Setengah jam kemudian, dengan mengenakan dress kasual berwarna kuning kunyit yang dipadu dengan kacamata tebal dan sepatu flat yang aman dari jebakan ubin, aku melangkah mantap menuju gerbang markas Batalyon.

Udara pagi masih terasa sejuk, tetapi suasana di sekitar gerbang utama seperti biasa terasa sangat tegang dan kaku.

Dua prajurit piket yang bersiaga di depan pos Sertu Budi dan Pratu Rian seketika menegakkan tubuh saat melihat sosokku berjalan mendekat dari balik tikungan jalan.

"Selamat pagi, Mas-Mas Seragam yang gagah!" sapaku ramah sambil menebarkan senyum paling manis.

Sertu Budi berdeham kaku, membetulkan posisi baret di kepalanya.

"Selamat pagi, Mbak Mayang. Ada keperluan apa ya jalan ke arah gerbang pagi-pagi begini?"

Aku mengangkat tas kain renda berisi kotak bekal berpita merah muda di depan dada mereka.

"Aku mau ketemu Mas Mayor Aris! Mau mengantarkan bekal spesial sebagai permohonan maaf atas insiden gula merah Sabtu kemarin!"

Sertu Budi dan Pratu Rian saling pandang dengan raut wajah yang mendadak pucat.

Mengantarkan bekal berpita merah muda ke ruangan seorang Komandan Batalyon yang terkenal dingin dan galak adalah tindakan yang sama sekali tidak ada di dalam buku petunjuk militer mana pun.

"Anu... Mbak Mayang," ujar Sertu Budi dengan suara sepelan mungkin, seolah takut omongannya didengar tembok markas.

"Komandan sedang memimpin rapat internal bersama para perwira di ruang staf. Beliau sangat benci diganggu kalau sedang fokus rapat. Sebaiknya bekalnya dibawa pulang saja, Mbak..."

"Lho, justru kalau lagi rapat kan butuh asupan gizi biar otaknya tidak kram, Mas Budi!" potongku polos tanpa dosa.

"Tenang saja, aku cuma mau titip bekal ini di mejanya kok. Nanti aku langsung pulang, tidak akan mengajak Mas Mayor main catur!"

Belum sempat kedua prajurit itu memberikan alasan penolakan lebih lanjut, suara derap langkah sepatu boot berat yang teratur terdengar dari arah dalam lorong utama markas.

Barisan beberapa perwira berbadan tegap berjalan keluar dari pintu gedung utama.

Dan di paling depan, melangkah sosok Mayor Aris dengan seragam PDL loreng yang sangat licin dan rapi. Tatapan matanya yang tajam menatap lurus ke depan, memancarkan aura wibawa yang membuat siapa pun ingin langsung berbaris siap.

Deg.

Mataku berbinar-binar.

"Wah, pakai seragam loreng begini kegantengannya meningkat tiga ratus persen!" batinku gembira.

Mayor Aris menghentikan langkahnya saat melihat ada keributan kecil di area pos penjagaan. Matanya memicing tajam ketika mengenali sosok gadis berkacamata tebal yang berdiri memegang tas kain berenda di depan posnya.

"Ada apa ini?" suara bass Mayor Aris terdengar berat, dingin, dan bergema di area gerbang.

Sertu Budi dan Pratu Rian langsung mengambil posisi siap sempurna dan memberikan hormat kaku.

"Lapor, Komandan! Warga atas nama Mbak Mayang ingin menemui Komandan!"

Mayor Aris melangkah mendekat. Setiap jengkal langkah kakinya terasa penuh tekanan.

Beliau berhenti tepat tiga langkah di hadapanku, menatapku dari balik kacamata tebal hingga ke sepatu flat-ku. Alis tebalnya saling bertaut erat, membentuk garis tegas di dahinya.

"Mayang," panggil Aris dengan nada rendah yang penuh penekanan.

"Sudah saya katakan Sabtu kemarin, ini kawasan militer. Jangan berkeliaran di sini tanpa kepentingan resmi."

Aku sama sekali tidak terpancing oleh tatapan mautnya.

Aku justru melangkah maju satu tapak, memangkas jarak di antara kami, lalu menyodorkan kotak bekal tiga tingkat berpita merah muda itu tepat di depan dada bidangnya.

"Pagi, Mas Mayor Aris Ganteng!" sapaku riang.

"Aku ke sini untuk menjalankan tugas mulia! Ini ada bekal spesial tumis ayam bumbu kecap dan telur balado buatan aku dan Mbak Rina. Ini sebagai ganti rugi karena Sabtu kemarin baju Mas Mayor terkena noda gula merah kue lupisku!"

Mayor Aris menatap wadah bekal merah muda itu, lalu beralih menatap wajahku yang tersenyum tanpa dosa. Rahangnya tampak mengeras.

Selama karir militernya, beliau pernah menerima penghargaan, piagam, dan perintah tugas berbahaya, tetapi belum pernah ada seorang pun yang berani menyodorkan kotak bekal berpita merah muda di depan anak buahnya!

Para perwira muda yang berdiri di belakang Mayor Aris tampak menahan napas.

Ada yang pura-pura batuk untuk menyembunyikan senyuman menggelitik melihat sang Komandan "Galak" ditodong bekal merah muda oleh seorang gadis sipil.

"Saya tidak menerima makanan dari luar saat jam dinas," tolak Aris kaku dan dingin, berusaha mempertahankan benteng pertahanannya.

"Eits, tidak boleh menolak rezeki, Mas Mayor!" celotehku cepat.

"Garamnya tadi beli di toko Bu Maya, ayamnya segar, dan yang paling penting... dimasak dengan penuh ketulusan dan doa keselamatan untuk Mas Mayor! Kalau tidak dimakan, nanti kualat lho!"

Mayor Aris memejamkan matanya sejenak.

Aku bisa melihat urat halus di sekitar pelipisnya sedikit berdenyut—tanda bahwa tingkat kesabarannya sedang diuji di level maksimal. Ujung telinganya kembali memerah, kontras dengan wajahnya yang berusaha dibuat sedingin es.

"Mayang..." suara Aris terdengar makin dalam.

"Cobain satu suap saja dulu nanti di ruangan, Mas Mayor. Di dalam kotak bekalnya juga ada surat catatan kecil dariku. Jangan lupa dibaca ya!" potongku mendahului sebelum beliau sempat mengeluarkan kalimat pengusiran yang resmi.

Tanpa menunggu persetujuan lebih lanjut, aku dengan cekatan meraih tangan kanan Mayor Aris, lalu meletakkan tali tas kain bekal itu tepat di genggaman tangannya.

Sentuhan singkat kulit tangannya yang hangat dan kasar membuat dadaku mendadak berdesir aneh, tetapi aku buru-buru menutupinya dengan cengiran lebar.

"Nah, tugas diplomasi kuliner selesai! Aku pulang dulu ya, Mas Mayor! Nanti sore wadah bekalnya jangan lupa dicuci!" seruku riang sambil memberikan lambaian tangan heboh.

Aku berbalik badan dan berlari-lari kecil meninggalkan area gerbang sebelum Mayor Aris sempat mengembalikan bekal tersebut.

"Mayang! Tunggu!" panggil Aris dengan suara tegas.

Namun, aku berpura-pura tidak mendengar panggilan itu dan terus melangkah riang menelusuri trotoar menuju rumah.

Di depan pos penjagaan, suasana mendadak hening seketika.

Mayor Aris berdiri kaku di tempatnya, memegang tas kain berenda berisi bekal merah muda di tangan kirinya. Seluruh prajurit dan perwira di sekitarnya menunduk khidmat, tidak ada satu pun yang berani bersuara atau tertawa secara terbuka.

Mayor Aris menghela napas panjang yang terdengar sangat lelah.

Beliau menatap tas bekal di tangannya, lalu melirik ke arah lorong jalan tempatku menghilang. Ada sedikit pendar aneh yang tak terdefinisikan di balik tatapan matanya yang dingin.

"Pembubaran pasukan. Kembali ke tugas masing-masing," perintah Aris tegas pada para perwira di belakangnya.

"Siap, Komandan!" jawab mereka serentak sebelum membubarkan diri dengan cepat.

Dengan langkah tegap namun terasa serba salah, Mayor Aris membawa tas bekal merah muda itu masuk ke dalam ruang kerjanya yang luas dan rapi.

Ruangan komandan itu didominasi oleh bendera Batalyon, meja kayu jati besar, dan susunan buku-buku strategi militer yang tertata sempurna.

Aris meletakkan kotak bekal itu di atas meja kerjanya.

Beliau duduk di kursi kebesarannya, menyandarkan punggung, lalu menatap wadah makanan itu selama beberapa menit.

"Gadis ceroboh itu benar-benar tidak punya rasa takut," gumam Aris pelan pada dirinya sendiri.

Dengan perlahan, tangan kekarnya membuka ikatan pita merah muda di atas wadah tersebut.

Saat penutup kotak bekal bagian atas dibuka, aroma harum gurih tumis ayam bumbu kecap dan balado langsung memenuhi ruangan kerja yang biasanya hanya berbau kertas dan minyak pembersih senjata.

Di atas tumpukan nasi putih yang hangat, tergeletak selembar kertas memo berwarna kuning terang berbentuk hati.

Aris mengambil kertas kecil itu dan membaca tulisan tangan yang agak cakar ayam namun mudah dibaca.

"Untuk Mas Mayor Aris Ganteng yang Galak,

Diingat ya. Makanan ini wajib dihabiskan sampai butir nasi terakhir! Jangan galak-galak terus sama prajuritnya, nanti gantengnya luntur kayak gula merah kemarin!

Selamat bertugas pahlawanku! — Mayang Si Tetangga Cantik"

Mayor Aris tertegun membaca tulisan konyol tersebut.

Sebuah senyuman sangat tipis yang bahkan tidak pernah terlihat oleh anak buahnya selama bertahun-tahun perlahan terukir di sudut bibirnya yang tegas.

Beliau menggeleng-gelengkan kepala.

Mengambil sendok yang sudah disediakan di dalam kotak, Mayor Aris mencicipi suapan pertama tumis ayam buatan Mayang.

Rasa gurih, manis, dan sedikit pedas meleleh sempurna di dalam mulutnya. Sangat lezat dan terasa begitu hangat di hati.

"Lumayan..." bisik Aris pelan, lalu kembali melanjutkan suapan keduanya dengan lahap tanpa tersisa.

Benteng pertahanan sang Mayor Galak perlahan tapi pasti mulai goyah oleh kehangatan dan kehebohan gadis paling ajaib di kompleks tersebut.

1
pena putih
seru banget ditunggu updatenya ya
pena putih
Yuk mampir👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!