Indonesia
NovelToon NovelToon
Where Your Heart Stays

Where Your Heart Stays

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:97
Nilai: 5
Nama Author: Kiara L

Seo Tae-jun telah hidup selama 34 tahun dengan keyakinan bahwa cinta hanya membuat seseorang lemah.
Han Ji-eun justru hidup dengan keyakinan sebaliknya.
Bagi Ji-eun, kehilangan orang yang dicintai memang menyakitkan, tetapi itu bukan alasan untuk berhenti mencintai.
Pertemuan mereka dimulai dari hubungan profesional.
Tae-jun adalah pewaris sekaligus pemegang kendali jaringan hotel Seo Group.
Ji-eun adalah manager hotel yang telah bekerja keras selama lima tahun untuk mendapatkan posisinya.
Tae-jun awalnya hanya tertarik pada keberanian Ji-eun.
Namun perhatian itu berubah menjadi ketertarikan.
Ketertarikan berubah menjadi kebutuhan.
Dan kebutuhan perlahan berubah menjadi cinta yang membuat Tae-jun mempertanyakan seluruh hidupnya.
Masalahnya, keluarga Seo menyimpan rahasia yang berkaitan dengan kematian orang tua Ji-eun.

Semakin dekat mereka, semakin besar kemungkinan cinta mereka menghancurkan keluarga Tae-jun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiara L, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Malam itu, setelah menyelesaikan seluruh pekerjaannya, Seo Tae-jun tidak langsung pulang ke apartemennya. Mobilnya justru berhenti di depan sebuah rumah besar yang sudah terlalu dikenalnya, rumah keluarga Seo. Tempat yang sejak kecil selalu disebut sebagai rumah, tetapi tidak pernah benar-benar terasa hangat baginya.

Tae-jun turun dari mobil dengan ekspresi datar. Ia bahkan tidak perlu bertanya mengapa sang ayah mendadak memintanya datang. Makan malam keluarga, dua kata yang selalu berhasil membuatnya kehilangan selera makan bahkan sebelum duduk di meja makan.

Begitu masuk, seorang pelayan langsung membungkuk hormat. "Tuan Muda."

Tae-jun hanya mengangguk tipis.

"Tuan Seo dan Nyonya sudah menunggu di ruang makan. Nona Seo juga sudah tiba."

Tae-jun menghela napas pelan. Setidaknya ada satu orang yang membuat malam ini sedikit lebih bisa ditoleransi yaitu kakaknya, Seo Soo-yeon.

Perempuan itu usianya hanya dua tahun lebih tua dari Tae-jun. Sejak kecil, Soo-yeon adalah satu-satunya anggota keluarga yang tidak pernah menuntut Tae-jun untuk berpura-pura menjadi orang lain. Bersamanya, Tae-jun bisa berbicara lepas tanpa perlu menimbang tiap kata, menjaga ekspresi, atau membuktikan pencapaian apa pun. Dan yang paling penting, Soo-yeon tidak pernah memandangnya sekadar sebagai penerus keluarga Seo.

Begitu Tae-jun masuk ke ruang makan, Soo-yeon langsung menoleh. "Kau akhirnya datang."

Tae-jun menarik kursi di dekatnya. "Kalau aku tidak datang, Ayah pasti akan mengirim seseorang untuk menjemputku."

Soo-yeon tertawa kecil. "Masih sama, tidak berubah."

"Sayangnya begitu," gumam Tae-jun hampir tersenyum.

Di seberang meja, sang ayah menatapnya tajam. "Kau datang terlambat."

"Aku ada pekerjaan."

"Selalu pekerjaan."

Tae-jun memilih diam. Di samping ayahnya, sang ibu tiri, Kim Mi-sook, meletakkan sendoknya dan mencoba tersenyum. "Sudah lama kita tidak makan bersama seperti ini."

"Ya," sahut Tae-jun datar tanpa kehangatan.

Mi-sook memperhatikannya sejenak. "Kudengar kau akan lebih sering berada di Hanseong Grand Hotel."

"Ya."

"Kenapa?"

"Ada beberapa proyek yang membutuhkan pengawasan langsung dari saya."

Ayahnya langsung menyela, "Seharusnya kau tidak terlalu sering berada di hotel. Kantor pusat masih membutuhkanmu."

"Aku bisa mengatur keduanya."

"Kau selalu berpikir semuanya bisa kau atur sendiri."

Tae-jun meletakkan sumpitnya. "Aku akan pindah ke hotel minggu depan."

"Maksudmu?"

"Aku akan bekerja langsung mengawasi disana. Banyak proyek yang harus ku kerjakan."

"Kenapa tiba-tiba..."

Soo-yeon yang sejak tadi menyimak akhirnya menengahi. "Ayah, Tae-jun baru saja duduk lima menit."

Sang ayah menoleh tegas. "Soo-yeon."

"Apa?" balas Soo-yeon santai. "Ayah selalu memulai percakapan dengan menyalahkannya."

Tae-jun menahan napas seraya menyembunyikan senyum tipis di sudut bibirnya. Hanya Soo-yeon yang berani berbicara seperti itu kepada ayah mereka, dan hanya di hadapan kakaknya itulah Tae-jun tidak perlu bersikap terlalu tangguh.

Makan malam berlanjut, tetapi sebagian besar pembicaraan tetap berputar pada bisnis keluarga, akuisisi, investasi, dan pergerakan pemegang saham. Tidak ada yang bertanya bagaimana kabar Tae-jun, apakah ia lelah, atau apakah ia bahagia. Seolah selama angka-angka perusahaan memuaskan, hidupnya dianggap baik-baik saja.

"Bagaimana dengan rencana pernikahanmu?"

pertanyaan itu meluncur mendadak dari mulut Mi-sook.

Tangan Tae-jun terhenti. Soo-yeon langsung melirik adiknya.

"Aku tidak punya rencana menikah," jawab Tae-jun singkat.

Mi-sook mengerutkan kening. "Usiamu sudah tiga puluh empat tahun."

"Saya tahu."

"Anak-anak dari teman Ayahmu sudah banyak yang menikah."

Tae-jun menatapnya datar. "Selamat untuk mereka."

"Tae-jun."

"Aku tidak tertarik menikah hanya karena dikejar usia."

Sang ayah menyipitkan mata tajam. "Kalau begitu setidaknya temui seseorang."

"Tidak perlu."

"Kau pikir hidupmu akan terus seperti ini?"

Tae-jun bungkam. Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi entah mengapa malam ini terasa berat untuk dijawab.

Tae-jun mengalihkan pandangan. "Aku baik-baik saja seperti ini."

Soo-yeon menatap adiknya lama. Ia tahu betul Tae-jun sedang berbohong, tetapi ia memilih untuk menyimpan argumennya.

Seusai makan malam, Tae-jun melangkah ke balkon belakang untuk menghirup udara dingin. Ia berdiri diam sambil memasukkan kedua tangan ke saku celana. Tak lama kemudian, Soo-yeon menyusul sambil membawa dua cangkir teh hangat.

"Ini," serahnya.

"Terima kasih."

Soo-yeon berdiri bersandar di sampingnya. "Masih membenci makan malam keluarga?"

"Aku tidak pernah menyukai acara makan malam keluarga."

Soo-yeon terkekeh. "Aku juga."

Tae-jun menatap halaman rumah yang luas. "Kenapa kau masih mau pulang ke sini?"

"Aku hanya datang kalau Ayah yang meminta."

"Kenapa tetap penurut?"

Soo-yeon menoleh. "Karena kalau aku tidak datang, kau akan sendirian menghadapi mereka."

Tae-jun tertegun.

Soo-yeon tersenyum kecil. "Jangan terlalu serius. Aku kan kakakmu."

Untuk pertama kalinya malam itu, senyum tulus terukir di wajah Tae-jun.

Soo-yeon mengamati perubahan raut wajah adiknya. "Kau berubah."

"Apa?"

"Kau tersenyum."

"Aku sering tersenyum."

"Pada siapa?"

Tae-jun bungkam. Soo-yeon langsung tertawa penuh arti. "Oh..."

"Apa?"

"Tidak ada," goda Soo-yeon. "Kau sedang menyukai seseorang, ya?"

Tae-jun menghela napas. "Jangan mulai."

"Aku tidak menyebut nama siapa-siapa."

"Karena memang tidak ada."

"Baiklah," kekeh Soo-yeon tanpa memaksa. Namun sebelum beranjak masuk, ia menepuk bahu Tae-jun pelan. "Kalau suatu hari ada seseorang yang membuatmu ingin pulang lebih cepat dari rumah ini... jangan pernah lepaskan dia."

Tae-jun menatap punggung kakaknya yang perlahan menjauh. Kalimat itu terus terngiang di kepalanya.

-----

Han Ji-eun sedang duduk di sebuah kafe kecil yang cukup jauh dari hotel. Sudah hampir dua bulan ia tidak bertemu dengan sahabatnya. Bukan karena berselisih, melainkan karena kesibukan pekerjaan masing-masing yang menyita waktu. Percakapan harian mereka kini bergeser menjadi sekadar pesan singkat seputar jam kerja dan ucapan selamat tidur.

Sebab itulah, ketika berhasil mencocokkan jadwal malam ini, Ji-eun tidak menyia-nyiakannya.

"Han Ji-eun!" panggil sebuah suara.

Ji-eun mendongak dan mendapati sahabatnya berjalan cepat menghampiri. "Seo-ah-a!"

Yoon Seo-ah langsung memeluknya erat. "Astaga, aku benar-benar merindukanmu!"

Ji-eun tertawa. "Aku juga."

Mereka duduk berhadapan. Meski sempat diselingi canggung tipis di awal karena sudah lama tidak bersua, suasana hangat khas masa kuliah dengan cepat kembali tercipta. Mereka tertawa, bertukar cerita pekerjaan, hingga membicarakan teman-teman lama yang sudah berkeluarga.

Di tengah obrolan, Seo-ah mendadak menyipitkan mata menatap Ji-eun. "Tunggu."

"Kenapa?" Ji-eun mendadak waspada.

"Kau terlihat... apa ada hal yang mengganggumu?"

"Sebenarnya... tidak ada apa-apa," sangkal Ji-eun cepat sambil meraih minumannya. "Hanya saja, belakangan ini di tempat kerja ada hal yang cukup memusingkan."

​Tawa Seo-ah mereda, berganti rasa penasaran.

"Pusing kenapa? Masalah pekerjaan atau... orang?"

​"Atasanku," jawab Ji-eun pelan. "Direktur utama di hotel."

​Seo-ah merapatkan posisinya ke meja. "Direktur? Kenapa dengan dia?"

​"Dia aneh," kekeh Ji-eun berusaha tertawa natural.

"Sifatnya benar-benar membingungkan dan sulit ditebak. Kadang dia bersikap sangat dingin dan menjaga jarak, tapi tiba-tiba di kesempatan lain dia melakukan hal-hal di luar dugaan."

​"Hal-hal diluar dugaan seperti apa?"

​Ji-eun memainkan ujung sedotannya, teringat kejadian saat Tae-jun menyela gelas minumannya dan mengirim pesan-pesan singkat di bawah meja.

"Ya... aneh. Sifatnya tidak konsisten. Aku hanya heran kenapa ada orang yang seperti itu."

​Seo-ah memperhatikan ekspresi sahabatnya lekat-lekat. Mulai dari cara mata Ji-eun berbinar saat bercerita hingga gestur tangannya yang gelisah. Sebuah senyum jahil perlahan terukir di wajah Seo-ah.

​"Ji-eun-a..." panggil Seo-ah dengan nada menggoda.

​"Apa?"

​"Sejak kapan kau sampai memikirkan dan mengamati kelakuan atasanmu sejauh itu?"

​Ji-eun tersentak pelan. "Ya... karena dia atasanku? Aku harus memperhatikan situasi kerja."

​"Bohong," goda Seo-ah sambil mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja. "Kalau cuma sekadar atasan, kau pasti hanya mengeluh 'dia galak' atau 'Pekerjaan banyak'. Tapi kau malah sibuk menganalisis sifatnya, bingung karena kelakuannya, dan wajahmu berubah hangat begitu menceritakannya."

​"Tidak!" Ji-eun memalingkan wajah, menyembunyikan rona merah yang mulai muncul di pipinya. "Aku sama sekali tidak memikirkan hal semacam itu. Aku hanya menganggapnya atasan yang aneh."

​"Benarkah?" Seo-ah menyipitkan mata penuh kemenangan. "Kau sedang menyukai atasanmu itu, kan? Mengaku saja!"

​"Sama sekali tidak, Yoon Seo-ah!" tegas Ji-eun, meski suaranya sedikit meninggi karena panik. "Dunia kami berbeda jauh, lagipula kami tidak punya hubungan apa-apa."

​Seo-ah terkekeh puas melihat sahabatnya yang salah tingkah. "Iya, iya, percaya. Untuk sekarang anggap saja kau tidak suka. Tapi ingat ya, batas antara 'kesal karena atasan aneh' dan 'suka' itu tipis sekali, Han Ji-eun."

​Ji-eun menunduk dan meneguk minumannya tanpa membantah lagi, sementara dadanya makin berdebar tak karuan teringat sosok Tae-jun.

...****************...

1
Bintang star_nurul22
Semangat author
Kiara L: terimakasih☺️🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!