" aku akan menerima ujian takdirku selagi aku mampu ,namun jika takdir tak menginginkan ku maka aku akan menyerah dan pergii " arabella ayunisa
" lakukanlah apapun yang ingin takdir lakukan,tapi ku mohon tolong jangan hapus arabella dalam garis takdirku " ludwighe staindfol
pernikahan yang diawali dengan perjodohan diantara ludwighe dan arabella membawa perubahan pada garis takdir , kehidupan yang awalnya kacau pada akhirnya menemukan sedikit harapannya ,
namun setiap kehidupan selalu memiliki ujian takdirnya sendiri ,dan itulah yang terjadi pada pernikahan Antara ludwighe dan arabella.
akankah arabella mampu membawa cinta untuk pernikahan nya ataukah pada akhirnya Bella akan menyerah pada cinta itu sendiri.
ayo baca cerita selengkapnya,dan ikuti kisah merubah takdir ludwighe dan bella
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Wangshu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB : 22
Aldo mengerutkan keningnya melihat Sintia hanya mengambil beberapa saja.
" udah ,cuma itu aja yang kamu suka?" tanya Aldo
" iya mas ! Lagipula baju aku udah banyak kemarin juga mommy ngajak aku belanja dan beliin aku banyak barang terutama baju" balas Sintia.
" hmm yaudah tolong di kemas barang - barang yang di pilih istri saya tadi" perintah Aldo.
" baik tuan ,kami akan segera mengemasnya " ucap manajer butik tersebut sembari tersenyum sopan.
Tanpa sepengetahuan Sintia ternyata Aldo menyuruh semua barang di kemas bukan hanya yang di pilih sang istri.
" tolong kemas yang lainnya juga , nanti kirim ke alamat ini " timpal Aldo kemudian memberikan secarik kertas pada menejer butik .
" baik , baik tuan kami akan segera mengemas dan mengirimkannya" balas menejer butik dengan gembira.
Aldo berlalu keluar dari butik menyusul Sintia yang sudah keluar terlebih dahulu tadi.
" udah siang ni , kita makan siang dulu yok.
aku udah lapar banget" timpal Aldo sembari mengusap perutnya dengan dramatis.
" yaudah ,lagian siapa yang nyuruh mas beli barang sebanyak itu ,kan jadi lama urusannya" omel Sintia ia masih tidak habis pikir Dengan suaminya itu.
" ya biar kamu senang lah,aku kan mau minta maaf sama kamu " balas Aldo dengan watados nya ( wajah tanpa dosa ).
Sintia memalingkan wajahnya ke arah luar jendela mobil ,ia tak membalas ungkapan suaminya itu .
Aldo tersenyum miris , ia tau Sintia masih marah padanya dan Sintia pasti membutuhkan waktu untuk memaafkan nya.
siang ini Bella tengah sibuk mengurus taman di belakang rumahnya,hingga ia melupakan waktu makan siang.
" astagfirullah mbok ,ini kan udah siang aku belum buat makan siang loh mbok" panik Bella ia baru ingat kalau belum memasak karna sibuk dengan tamannya.
" loh iya nyonya ,aduh mbok juga lupa" ucap mbok Minah dengan panik .
Bella buru-buru buru membersihkan dirinya yang berantakan lalu masuk ke dalam rumah bertepatan dengan ludwighe yang juga ingin menghampiri nya di taman belakang.
" kamu kenapa, kok kayak terburu - buru gitu" tanya ludwighe sambil mengerutkan keningnya heran.
" anu..hmm maaf ya mas Bella lupa belum masak untuk makan siang" timpalnya dengan suara yang lirih.
" gak apa-apa, justru aku mau bilang sama kamu gak usah masak hari ini" timpal ludwighe
" loh kenapa mas ,kalau aku gak masak nanti kita makan apa " tanya Bella dengan gelisah ia mengira kalau suaminya itu kecewa padanya.
" kita ke rumah ibu" balas ludwighe
Bella mengerutkan keningnya bingung.
" maksudnya gimana mas" tanya Bella yang kebingungan.
" ibu suruh kita datang berkunjung ke rumah kamu ,soalnya ibu rindu katanya" balas ludwighe menjelaskan.
" emangnya gak apa-apa mas , hmm mas gak sibuk" tanya Bella dengan hati hati takut menyinggung suaminya itu.
" ini weekend Bella ,aku gak ada kesibukan apapun." ucap ludwighe.
" udah kamu lebih baik cepat siap- siap gih" lanjut ludwighe.
Bella mengangguk kan kepalanya dan berlalu menuju ke kamar mereka di lantai atas.
sementara ludwighe berlalu keluar rumah guna mencari mang Asep.
" ehh tuan ,ada apa ini sampai repot- repot nyamperin saya atuh jadi gak enak saya ini " ucap mang Asep saat ludwighe menghampiri nya.
" santai aja mang ,ini tolong panasin mobil ya mang soalnya saya sama istri mau ke rumah mertua saya" ucap ludwighe.
" oke siap tuan biar saya panasin dulu mobilnya , ada barang yang harus saya Bawak ke dalam mobil tuan" tanya mang Asep
" gak ada mang , mang Asep di rumah aja biar saya yang nyetir mobil sendiri" timpal ludwighe
" oke siap tuan kalau begitu saya panasin dulu mobilnya " ucap mang Asep yang di angguki ludwighe.
Ceklekk...
" udah siap " tanya ludwighe saatelihat Bella tengah menyisir rambutnya.
" udah mas ,ini juga udah selesai sisiran nya" balas Bella sambil tersenyum.
" yaudah ayok ke bawah ,mobilnya udah di siapin sama mang Asep" timpal ludwighe
Bella mengangguk dan mereka pun berlalu ke bawah bersama - sama.
" udah siap mang" tanya ludwighe saat mereka sudah di luar rumah.
" udah beres tuan" jawab mang Asep dengan senang.
Mang Asep menyerah kna kunci mobil pada ludwighe dan membiarkan tuannya itu menyetir sendiri.
" loh kamu yang nyetir mas" tanya Bella terkejut.
" iya ,kenapa kok kaget gitu" balas ludwighe.
" gak apa-apa cuma takut mas nanti kecapean " jawab Bella jujur
Ludwighe tersenyum sangat tipis ,entah kenapa ada rasa hangat di hatinya saat Bella mengkhawatirkan kondisi nya.
" cuma nyetir kan ,gak akan buat aku capek" balas ludwighe.
Bella pasrah saja , perjalanan hampir 2 jam lebih ,karna rumah Bella termasuk ke desa - desaan gitu.
Sedangkan di desa Bella semua warga geger saat melihat mobil mewah yang datang memasuki desa mereka .
" wah mobil siapa itu ya ,kayaknya orang kaya deh mewah gitu mobilnya" bisik seorang ibuk - ibuk
" iya pastinya sih orang kaya ,mana ada yang punya mobil semahal itu di desa kita ,si Romi mah cuma mobil biasa " timpal ibuk ibuk yang lain.
Akhirnya karna kepo mereka semua mengikuti kemana perginya mobil itu.
Dan betapa terkejutnya mereka saat mengetahui mobil mewah itu berhenti di depan rumah Bu Ani .
" loh itu rumahnya buk ani kan " ucap seorang warga .
" lah iya ,kok mobilnya berhenti di situ .
apa jangan - jangan itu tamunya buk ani ya" timpa seorang warga lain.
Bisik - bisik mulai terdengar bersahut sahutan mereka tak percaya bahwa mobil semewah dan semahal itu beneran tamunya buk ani.