Indonesia
NovelToon NovelToon
Lahir Nya Penyihir Terkuat

Lahir Nya Penyihir Terkuat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Anisa Ammoera(_)

Seorang penyihir terkuat nomor satu Lucien yang tidak tertandingi, memasuki raga seorang pria lemah yang ternyata adalah pelayan setia dari Putri Aurelia. Aurelia adalah anak haram dari pimpinan klan Es yang selalu diremehkan oleh Ayahnya.

Apa lagi Aurel terlahir tanpa memiliki inti roh murni.

Namun segalanya berubah saat Lucien memasuki raga Arthur. Rahasia nya terungkap saat nyawa Aurel dalam bahaya. Aurel memohon padanya. Dan sejak saat itu--- Lucien sang penyihir terkuat menjadi guru dari Aurel.

Tujuan Aurel satu--- membalaskan setiap hinaan yang dia Terima dan merampas kepemimpinan klan Es dari Ayah dan Kakak tiri nya. Tentu saja, itu semua hanya bisa terjadi jika Lucien berdiri di sampingnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Ammoera(_), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana Pertunangan

Pagi itu, kabar kembalinya Tetua Frost telah sampai ke telinga Adrian. Tanpa membuang waktu, pemuda itu langsung melangkah menuju istana tertinggi Klan Es. Kedatangannya disambut dengan kehangatan formalitas oleh Tetua Frost dan Madam Elena di ruang tamu yang megah namun sedingin es.

"Aku tidak ingin menundanya lagi, Tetua," kata Adrian dengan suara yang tegas. "Aku ingin pertunanganku dengan Aurelia dipercepat."

Mendengar tuntutan itu, Tetua Frost dan Madam Elena saling pandang. Keheningan seketika mencekik ruangan.

Pikiran kedua penguasa itu sama-sama melayang pada konsekuensi besar di balik keputusan ini. Jika Tetua Frost melepaskan Aurelia sebelum tujuannya berhasil, maka ia akan kehilangan satu-satunya kunci untuk membangkitkan dan mengendalikan kekuatan artefak Klan Es. Kehilangan Aurelia berarti kehilangan jalan terbesarnya.

Namun, sebelum sang Tetua sempat menyusun penolakan yang terdengar seperti alasan, Madam Elena sudah lebih dulu memotong.

"Tentu saja," kata Madam Elena tanpa ragu, senyum tipisnya terkembang penuh intrik. "Jika kau menginginkannya, kau bisa mengambilnya secepat yang kau mau."

Tetua Frost langsung melayangkan tatapan tajam yang seolah bisa membekukan darah ke arah istrinya. Rahangnya mengeras, memberi isyarat kemarahan yang tertahan.

Namun, Madam Elena sama sekali tidak peduli. Bagi wanita ambisius itu, Aurelia hanyalah sampah tak berguna—seorang penyihir cacat yang tidak memiliki aliran mana ataupun kemampuan sihir es apa pun.

Membuangnya dari istana tidak akan mempengaruhi apapun.

Sementara itu, Enzo yang duduk di kursi seberang Adrian berdecak kesal. Ia menyandarkan punggungnya sembari menatap Adrian dengan pandangan merendahkan.

"Apa kau tidak salah memilih, Adrian?" tanya Enzo dengan nada meremehkan yang amat kentara. "Kau tidak lupa siapa dia sebenarnya, kan? Dia hanya anak haram hasil hubungan gelap. Menurutku, sampah seperti dia sama sekali tidak pantas berdiri di sampingmu, apalagi menjadi tunangan resmi mu."

Adrian tidak langsung membalas. Ia menatap tajam Enzo, pancaran matanya sedingin es. Bukannya marah, Adrian justru mengangkat sudut bibirnya sedikit, membentuk seringai tipis yang sarat akan arogansi.

"Aku tidak peduli dengan statusnya yang kotor," kata Adrian, menaikkan satu kakinya ke pangkuan kaki yang lain dengan gerakan yang sangat santai, namun intimidatif.

Ia memajukan tubuhnya, lalu melanjutkan dengan suara lirih yang dipenuhi nafsu gelap yang selama ini ia tahan, "Asalkan aku bisa menikmati wajah cantiknya dan memuaskan diriku di atas tubuhnya setiap hari... itu sudah lebih dari cukup bagi penyihir cacat seperti dia."

Mendengar jawaban yang begitu vulgar dan penuh kepemilikan, Madam Elena justru tersenyum puas. "Kalau begitu, bagaimana jika 7 hari lagi pertunangan itu digelar? Kita tidak perlu mengulur waktu untuk hal seperti ini."

Mata Tetua Frost seketika melotot mendengar usulan gila istrinya. Namun, belum sempat Tetua Frost melayangkan protes kerasnya, Enzo lebih dulu memotong kalimat ayahnya.

"Menggelar pesta pertunangan mewah untuk seorang anak haram?" Enzo berdecih keras, wajahnya memerah karena tidak suka. "Apa itu tidak terlalu berlebihan dan membuang-buang uang kita, Ibu? Dia tidak pantas mendapatkan panggung terhormat di Klan ini."

Madam Elena hanya melirik putranya sekilas, lalu menjawab dengan ketenangan seorang predator. "Bagaimanapun juga, Aurelia adalah anak ayahmu... meskipun dia lahir dari rahim wanita murahan yang entah datang dari mana. Tetap saja, itu tidak merubah kenyataannya." Tatapan tajam Madam Elena beralih, menghujam langsung ke arah Tetua Frost yang kini hanya bisa terpaku di tempat duduknya.

Jelas itu adalah jawaban penuh kebohongan. Karena kenyataan nya--- Aurelia adalah anak dari Damian.

"Itu benar sekali," sahut Adrian dengan nada santai, menyela ketegangan dengan senyum meremehkan. "Meskipun Aurelia memiliki darah rendahan dari wanita jalang yang melahirkannya, akulah yang akan menjadi suaminya. Aku adalah pewaris sah tunggal dari keluarga bangsawan Isward. Jadi, mana mungkin pesta pertunanganku diadakan secara tertutup dan memalukan?"

Adrian kemudian menoleh, menatap Tetua Frost dengan pandangan tegas seolah tidak mau dibantah. "Bagaimana, Tetua? Apa kau setuju?"

Tetua Frost terdiam lama. Atmosfer ruangan terasa semakin berat seiring detak jam dinding yang berdentang.

Dia menatap Adrian, mencoba mencari celah untuk membalikkan keadaan demi melindungi bidak caturnya. "Apa orang tuamu sudah benar-benar setuju, Adrian? Bukankah mereka sangat menentang hubungan ini sejak awal?" tanya Tetua Frost, mencoba mempertahankan Aurelia di bawah kendalinya sampai tujuan utamanya tercapai.

"Masalah mereka, aku sudah mengurusnya dengan caraku sendiri. Ayah dan Ibu tidak akan pernah menentang ku lagi," jawab Adrian dingin, menyiratkan ancaman terselubung bahwa keputusan ini mutlak.

Tetua Frost mengepalkan tangannya di bawah. Dia menatap Madam Elena, yang membalas tatapannya dengan senyum penuh kemenangan yang dingin.

Menghela napas panjang untuk meredakan gemuruh di dadanya, Tetua Frost mencoba berpikir rasional. 'Ini hanya pertunangan... bukan pernikahan,' batin Tetua Frost menghibur diri sendiri.

Bukannya ia takut pada keluarga Isward--- hanya saja ia tau sifat Adrian yang memang keras kepala dan tidak pernah mau menerima penolakan.

Tetua Frost akhirnya bangkit berdiri dari kursi nya. "Baiklah," katanya pelan, sebuah kalimat yang terdengar lebih seperti kepasrahan. "Pertunangan ini akan diadakan tujuh hari lagi dari sekarang."

Ucapan itu seketika membuat seringai lebar terukir di wajah Adrian. Matanya berkilat puas. Keinginannya yang menggebu-gebu untuk mengurung dan memiliki Aurelia seutuhnya kini hanya tinggal menghitung hari.

Namun—mereka semua yang berada di ruangan itu sama sekali tidak pernah menduga, bahwa pada hari pertunangan yang dijanjikan nanti, jalannya takdir akan berputar balik secara halus.

Hari yang disangka sebagai hari pengikatan itu justru akan menjadi panggung awal dari pemberontakan besar Aurelia, serta titik tolak dari perjalanan takdir sang gadis untuk merebut kembali kebebasan dan mencapai segala keinginan tertingginya.

1
utina lee
Jatuhnya aurelia sama emaknya sama² beban ga sih, saling membebani dan memberatkan.... semangat othor 💪
BAITI SYAIRUROH
ceritanya menarik thor..semangat💪
utina lee
semangat thor💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!