Bagi Senja Kala, pernikahan ini adalah jembatan menuju kebebasan. Bagi Alfa, pernikahan ini adalah keterpaksaan saat kekasihnya, Dila, berjuang melawan maut.
Terjebak dalam sangkar baru, Senja memilih mencintai dalam diam dan merawat Dila tanpa dendam. Namun ketika pengorbanan terbesarnya diberikan secara rahasia dan Senja memilih menghilang, Alfa baru menyadari fakta yang menghancurkannya, wanita yang ia abaikan adalah rumah yang selama ini ia cari.
Akankah Alfa bisa menemukan Senja?
Apa Senja bersedia memaafkan dan memberi kesempatan Alfa jika mereka bertemu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecupan di bawah bintang
Malam terakhir di Kepulauan Maladewa datang menyapa dengan keindahan yang begitu menawan. Langit malam terbentang luas bagaikan beludru biru pekat yang bersih dari sapuan awan, dihiasi oleh ribuan, bahkan jutaan, bintang yang berkedip menyilaukan.
Cahaya bulan separuh memantul lembut di atas permukaan air laut yang tenang, menciptakan riak-riak perak yang menari mengikuti irama angin malam.
Di ujung dermaga kayu privat yang membujur ke tengah samudra, Alfa dan Senja duduk berdampingan. Kaki mereka terjuntai santai mendekati permukaan air laut yang jernih.
Kondisi kaki Senja sudah jauh lebih baik malam ini. Bengkak di pergelangan kakinya telah mereda dan luka goresnya mulai mengering, membuat wanita itu sudah bisa berjalan sendiri tanpa ringisan sakit.
Namun, sepanjang melangkah dari villa menuju dermaga tadi, Alfa tetap bertindak posesif. Pria itu terus memegangi pinggang Senja, menggenggam jemarinya erat, dan menawarkan pundaknya setiap kali Senja melangkah, seolah tak membiarkan wanita itu berisiko jatuh untuk kedua kalinya.
Senja menarik napas dalam-dalam, menikmati udara malam Maladewa yang segar dan hangat. Gaun putih berbahan kain katun lembut yang dikenakannya melambai pelan disapa angin laut, menyatu sempurna dengan ketenangan di sekeliling mereka.
Alfa, yang duduk bersandar pada tiang pembatas dermaga dengan satu kaki terlipat santai, memiringkan posisinya sedikit. Pandangan mata pria itu beralih dari garis pantai menuju wajah Senja yang tersinari pendar lembut cahaya bulan.
"Aku lihat, banyak lukisanmu yang menggambarkan langit bertabur bintang" Tutur Alfa memecah keheningan yang syahdu.
"Kamu sangat suka bintang, Senja?"
Senja menoleh pelan ke arah Alfa, mengulas senyum tipis yang amat manis di bibirnya yang kini tak lagi pucat.
"Hmm" Angguk Senja pelan, mengakui hal itu tanpa ragu.
Alfa membetulkan posisi duduknya, makin tertarik untuk mendengar alasan di balik karya-karya seni yang pernah ia lihat secara tidak sengaja di sudut ruang kerja Senja di rumah mereka.
"Kenapa?" Tanya Alfa penasaran.
Senja mengalihkan kembali pandangannya ke atas, menatap hamparan gugusan bintang yang bertaburan di angkasa raya yang luas. Matanya berbinar memantulkan kilau pendar di langit malam.
"Karena... bintang di langit sana tidak pernah benar-benar sendirian Mas" Ucap Senja dengan suara lembut mengalun, bagaikan sebuah simfoni malam yang menenangkan.
"Di ruang angkasa yang teramat luas dan gelap gulita, mereka tidak pernah berdiri sebagai titik tunggal yang terisolasi. Mereka selalu berpasangan, saling mengorbit dalam rasi, atau melebur dalam gugusan galaksi yang saling menyinari."
Senja jeda sejenak, mengamati salah satu rasi bintang yang bersinar paling terang di atas mereka.
"Bahkan bintang yang terlihat paling jauh dan redup sekalipun, pasti memiliki bintang lain di sekitarnya yang memantulkan pendar cahaya yang sama. Mereka saling melengkapi kegelapan satu sama lain. Langit malam yang begitu luas dan menakutkan tidak membuat mereka redup, karena mereka tahu, mereka ada di sana bersama-sama... bersinar untuk saling menemani."
Alfa tertegun membisu mendengar penjelasan itu. Cara Senja mendeskripsikan bintang bukan sekadar pengamatan visual biasa, melainkan sebuah filosofi yang begitu dalam dan sarat akan keindahan.
Alfa menyerap setiap kata yang meluncur dari bibir istrinya, merasakan ada getaran emosi yang tersembunyi di balik ketenangan nada bicara wanita itu.
Namun, yang Alfa tidak ketahui adalah makna tersembunyi di balik penjelasan itu. Apa yang Senja gambarkan dalam setiap goresan lukisannya adalah sebuah ungkapan kerinduan terdalam dari dalam jiwanya, sebuah keinginan besar untuk bisa menjadi seperti bintang-bintang itu.
Memiliki seseorang yang benar-benar ada di sisinya, saling menemani dan membagikan pendar kehangatan di tengah gelapnya dunia. Tapi nyatanya, sepanjang hidupnya di keluarga Anjasmara hingga dalam pernikahan ini, Senja selalu merasa berdiri seorang diri.
Alfa menarik napas pelan, ingatan visualnya kembali berputar pada detail lukisan-lukisan Senja.
"Lalu... gadis kecil yang selalu kamu gambar memandangi langit di lukisanmu itu... apakah itu kamu?" Tanya Alfa lagi, suaranya merendah penuh kehati-hatian.
Senja kembali menoleh pada Alfa. Ia tersenyum kecil, lalu memberikan anggukan pelan.
"Iya Mas" Jawab Senja singkat.
Alfa mengangguk-angguk paham, menyimpulkan sendiri.
"Dia pasti sangat mengagumi bintang-bintang itu, ya?"
Senja tidak menjawab pertanyaan Alfa dengan kata-kata. Ia hanya menyunggingkan senyuman tipis yang misterius dan kembali menatap langit.
Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Senja berbisik lirih menanggapi tebakan suaminya.
"Dia bukan mengagumi, Mas... tapi dia iri pada bintang-bintang itu"
Padahal di dalam setiap canvas lukisan Senja, jelas sekali tergambar atmosfer yang begitu kontras. Sosok gadis kecil bergaun putih itu digambarkan berdiri sendirian di tengah padang ilalang yang amat luas, sepi, dan sunyi di bawah naungan malam pekat.
Gadis kecil itu menengadah menatap bintang-bintang di atasnya bukan dengan binar kagum, melainkan dengan rasa kesepian dan kerinduan yang teramat menyayat hati, rindu akan kehadiran sebuah rasa memiliki yang tak pernah ia dapatkan.
Namun malam ini, Senja memilih untuk menyimpan rahasia itu rapat-rapat. Ia tidak ingin merusak momen indah di malam terakhir mereka di pulau ini.
"Tapi malam ini..." Suara Alfa kembali mengalun, memecah lamunan Senja.
"Langitnya persis seperti yang ada di lukisanmu, kan?"
Senja menoleh.
"Bahkan jauh lebih indah dari lukisanku, Mas. Lukisanku hanya sapuan cat di atas kanvas mati, sementara ini... hidup."
Alfa menatap wajah profil samping Senja dari dekat. Cahaya bulan membuat pahatan wajah wanita itu terlihat teramat sempurna. Hidungnya yang mancung kecil, bulu matanya yang lentik saat memejam menikmati angin laut, dan kenyataan betapa tangguhnya wanita ini melalui hari-hari penuh ketidakpastian bersamanya selama ini.
Di bawah naungan jutaan bintang, obrolan mereka mengalir kian dalam. Mereka tidak lagi membicarakan tentang ancaman Gilang Arghantara, tidak membahas tentang masalah Dila, dan tidak menyentuh urusan bisnis keluarga.
Mereka saling menceritakan kenangan-kenangan kecil masa kecil, tentang Senja yang menghabiskan waktunya belajar piano hingga jarinya kaku, dan Alfa yang dulu harus menyembunyikan mainannya agar tidak disita oleh sang ayah yang serba disiplin.
Untuk pertama kalinya, Alfa menyadari betapa banyak kesamaan di antara luka masa kecil mereka. Mereka berdua sama-sama anak yang dibentuk oleh tuntutan keras orang tua, tumbuh dalam sangkar emas yang dingin.
"Terima kasih ya, Senja" Bisik Alfa mendadak, menghentikan gelak tawa kecil Senja.
"Untuk apa, Mas?"
"Untuk menjadi bagian dari hidupku selama dua bulan ini" Panggil Alfa tulus.
Tatapan matanya yang biasa tajam dan tegas kini melunak sepenuhnya, memancarkan kehangatan yang amat dalam hingga menusuk langsung ke dalam manik mata Senja.
"Untuk tidak pernah mengeluh, untuk selalu ada dan memahami posisiku yang serba salah ini. Aku tidak tahu apa jadinya pernikahan ini kalau wanitanya bukan kamu."
Pandangan mata Alfa malam itu begitu intens, terikat rapat pada manik mata Senja. Keheningan yang tercipta di antara mereka tidak lagi terasa canggung atau menakutkan, melainkan dipenuhi oleh desiran rasa asing yang teramat manis dan hangat.
Entah dorongan dari mana, sebuah impuls emosional yang tak mampu Alfa bendung lagi, pria tegap itu mengulurkan tangan kanannya.
Jemari Alfa yang hangat dan tegap hinggap di pucuk kepala Senja. Ia mengusap lembut rambut hitam mulus istrinya dengan kelembutan yang teramat memanjakan.
Sentuhan itu membuat napas Senja tertahan di tenggorokan.
Sebelum Senja sempat memproses apa yang terjadi, Alfa memajukan tubuhnya. Pria itu mendaratkan bibirnya dengan amat lembut dan hangat tepat di kening Senja.
Cup...
Kecupan tulus itu berlangsung selama beberapa detik di bawah pijaran cahaya bulan Maladewa. Waktu seolah berhenti berputar. Desir angin laut, bisikan ombak, dan gemuruh di dada Senja seakan lebur menjadi satu.
Sentuhan bibir Alfa di keningnya membuat seluruh tubuh Senja membeku seketika. Jantungnya berdebar begitu kencang bagaikan genderang perang, mengirimkan rasa hangat yang menjalar drastis hingga ke ujung jemari kakinya. Senja meremas pelan gaun putih di pangkuannya, tak mampu berkutik dari perlakuan manis sang suami.
Perlahan, Alfa menarik kembali wajahnya.
Tidak ada raut terkejut atau serba salah di wajah pria itu. Alfa sangat sadar akan apa yang baru saja ia lakukan. Pria itu menatap Senja yang masih membeku dengan sebuah senyuman kecil, senyuman paling hangat dan tulus yang pernah Alfa tunjukkan sepanjang hidupnya.
Dengan gerakan yang begitu natural dan penuh kelembutan, Alfa mengangkat tangan kanannya kembali, menyisihkan beberapa helai anak rambut Senja yang tertiup angin dan menyelipkannya ke belakang telinga wanita itu.
"Jangan pernah merasa sendirian lagi, Senja" Bisik Alfa dengan suara serak yang begitu tenang namun merobohkan seluruh benteng pertahanan di dalam hati Senja.
"Selama kita bersama, aku akan selalu ada di sini bersamamu"
Senja masih terpaku, menatap mata Alfa yang bersinar terang memantulkan kilau bintang-bintang di atas dermaga. Di malam terakhir pelarian mereka di Nusa Jauh ini, di bawah saksi bisu samudra dan langit malam, Senja sadar... hatinya mulai jatuh dan kalah pada sosok pria yang menjadi suaminya.
biar dia tau perasaan .yg sesungguhnya ...
Karena bisa jadi nanti pelarian Senja dalam pernikahan ada campur tangan orang tua Senja karena Senja diabaikan oleh Alfa
" Selama kita bersama, aku akan selalu ada disini menemanimu." Jangan terlalu umbar janji Alfa. saat masih bersama sebagai suami istri, dihatimu masih ada Dila.