Indonesia
NovelToon NovelToon
The Shadow'S Sanctuary

The Shadow'S Sanctuary

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Iblis / Akademi Sihir
Popularitas:992
Nilai: 5
Nama Author: Lucius Aurelius

Di tengah cemoohan keluarga dan stigma sebagai produk gagal bangsawan Pendragon, Wiliam Pendragon menyembunyikan kenyataan bahwa dirinya adalah seorang jenius Level 12 pencipta Pernapasan Pedang Kegelapan sekaligus pemilik Domain Expansion yang ditakuti. Menjalani kehidupan ganda sebagai murid biasa demi menjaga kedamaian ibunya, Wiliam berubah menjadi "Hantu Topeng" saat malam tiba—sosok vigilante bertopeng bertanduk dan berjubah gelap yang membantai kejahatan tak tersentuh hukum secara dingin tanpa memedulikan pahlawan atau villain. Namun, aksinya yang menyisakan jejak sihir unik mulai mengguncang tatanan politik benua, memicu perburuan massal dan menarik perhatian empat entitas Level 20 terkuat di dunia yang mempertanyakan apakah Hantu Topeng adalah pelindung atau justru bom waktu yang siap membumihanguskan tatanan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lucius Aurelius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 16

Bab 16: Hukuman Petaka Dewa, Kejatuhan Bintang Gelap, dan Perkumpulan Para Penguasa

​Tepat satu tahun telah berlalu sejak Wiliam mengunci fisiknya di dalam Kepompong Darah Penjara Kehampaan.

​Alistair melayang turun di koridor basah lorong bawah tanah, mengibaskan jubah astrologinya yang memancarkan pendar bintang. Mata astrologinya yang bening menembus jeruji besi tebal, menatap lurus ke tengah sel. Kepompong Darah berukuran raksasa itu kini tidak lagi memancarkan denyut biasa. Tekanan mana di dalam sel mendadak menjadi begitu hening—sebuah keheningan yang sangat pekat, seolah seluruh molekul udara di radius sepuluh meter telah disedot masuk ke dalam inti kepompong.

​CRACK!

​Sebuah garis retakan bercahaya keemasan bercampur merah tua mendadak meletus di permukaan kepompong! Pendar cahaya dari retakan itu begitu menyengat hingga mengikis batuan pualam di dinding sel menjadi abu murni.

​Alistair membelalakkan matanya, mengelus janggut putihnya dengan jemari yang sedikit gemetaran. "Luar biasa... Waktu kelahirannya kembali telah tiba!"

​RUMBLEEEEEEEEEEEEEE!

​Di saat yang bersamaan, atmosfer di luar Penjara Kehampaan—di atas seluruh langit ibu kota Kerajaan—mengalami perubahan yang sangat dramatis. Langit siang yang tadinya cerah berawan mendadak gelap gulita dalam hitungan detik. Awan hitam kehitaman bercampur merah darah bergulung-gulung membentuk pusaran raksasa tepat di atas area penjara bawah tanah, diiringi oleh gemuruh petir purba yang menggetarkan fondasi kota.

​Warga masyarakat yang sedang beraktivitas di pasar, para ksatria patroli level rendah, hingga para siswa di Akademi Sihir Kerajaan mendongak ke atas dengan wajah pucat pasi.

​"A-Ada apa dengan langit?!"

"Apakah ini badai sihir tingkat bencana?!"

"Bukan! Rasa-rasanya ini gelombang mana dari Sekte Pemuja Iblis! Apakah para iblis menyerang kita lagi?!"

​Di tengah kepanikan massal dan spekulasi liar penduduk ibu kota, prosesi kelahiran di dasar Penjara Kehampaan mencapai puncaknya.

​BANG-CRASH!

​Kepompong Darah itu meledak hancur menjadi jutaan partikel cahaya! Dari balik kepulan debu dan percikan api hitam, tubuh Wiliam perlahan-lahan melayang ke udara dalam wujud bertelanjang dada.

​Perubahan fisiknya benar-benar fantastis. Rambut hitam bergaris peraknya kini telah berubah total menjadi warna perak murni (pure silver) yang berkilau anggun dan memanjang hingga melewati pinggangnya. Di bawah sepasang matanya, terukir guratan-guratan runik berwarna emas murni yang memancarkan pendar keagungan absolut. Postur tubuhnya bertambah tinggi, dengan bentuk bahu lebar dan pinggang ramping yang membentuk siluet V-taper sempurna. Dari tulang belikatnya, Empat Sayap Iblis Kehampaan berwarna hitam pekat membentang lebar-lebar, memercikkan api merah dan petir biru. Dua tanduk di pelipisnya kini berwarna hitam bertatahkan ukiran emas purba.

​Saat Wiliam perlahan membuka kelopak matanya, bola matanya yang dahulu berwarna merah kini telah bertransformasi menjadi warna kelabu absolut, di dalamnya berpendar pola pupil unik berbentuk bintang yang terbentuk dari susunan beberapa segitiga sihir yang berputar lambat (Eye of the Void - Primordial Form).

​STEP.

​Kaki telanjang Wiliam mendarat mulus di atas tanah granit yang hancur. Ia memindahkan pandangan mata kelabunya, menatap Alistair yang berdiri terpana di balik sel.

​Namun, sebelum Wiliam sempat membuka bibirnya untuk bertanya tentang identitas pria tua di hadapannya—

​CRACKLE-BOOOOOOOOOOOOOOMMMMMMMMMM!

​Sebuah pilar petir raksasa berwarna merah darah menembus ribuan meter lapisan tanah Penjara Kehampaan secara langsung! Pilar petir itu menghantam tubuh Wiliam tanpa peringatan!

​"AKHHHHHHHHHHHHHHH!"

​Raungan kesakitan luar biasa meletus dari tenggorokan Wiliam. Kekuatan petir tersebut bukan sekadar serangan elemen biasa; itu adalah energi penghancur konseptual yang merobek jaringan Tubuh Demigod-nya, membakar serat ototnya, dan meretakkan susunan tulang peraknya secara instan!

​"Wiliam!" jerit Alistair terkejut. Sang Penyihir Terkuat meregangkan tangannya, memicu Pelindung Bintang Absolut untuk mencoba menahan hantaman petir tersebut dan membantu pemuda itu.

​Namun, saat pelindung Alistair menyentuh pilar cahaya—

​BANG!

​Sebuah sambaran petir balasan meledak menghantam dada Alistair, menghempaskan Penyihir Terkuat di dunia itu hingga menghantam dinding sel dan memuntahkan darah segar!

​Alistair membelalakkan matanya dengan raut wajah horor yang sangat amat mendalam. "Gaya gempuran ini... Ini bukan sihir iblis! Ini adalah Petir Petaka Dewa (Divine Wrath Tribulation)! Para Dewa di Dimensi Atas menganggap keberadaan penyatuan Demigod dan Iblis di dalam tubuh Wiliam sebagai ancaman mutlak bagi takdir mereka!"

​Di tengah gulungan petir petaka pertama yang terus membakar fisiknya, Wiliam mengepalkan tangannya kencang-kencang. Dengan wajah yang dipenuhi oleh luka bakar berdarah, Wiliam mendongakkan kepalanya lurus memandang langit-langit yang hancur.

​Mata kelabunya berkilat oleh kebencian dan kehendak pemberontakan yang tak terukur besarnya!

​"Dewa sialan..." desis Wiliam dengan suara berat menggelegar yang memecahkan pembuluh darah di lehernya. "Jika kalian menganggapku sebagai ancaman dan berusaha menghancurkanku hanya karena aku memilih jalanku sendiri... maka aku bersumpah akan meruntuhkan setiap singgasana kalian! Dasar Dewa bajingan!"

​FLAP!

​Dengan empat sayap hitamnya yang mengepak keras, Wiliam melesat menembus lubang hantaman petir, melambung tinggi keluar dari Penjara Kehampaan dan terbang lurus menuju pusat awan petaka di atas langit ibu kota!

​"Lihat ke atas!"

"Dewa Agung... Apa makhluk itu?!"

"Dia punya empat sayap hitam dan rambut perak! Apakah itu sosok yang bertarung di malam tragedi?!"

​Ribuan warga dan para ksatria di jalanan membelalak kaget menyaksikan sesosok humanoid bersayap empat terbang menantang pusaran awan hitam.

​BOOM! BOOM! BOOM!

​Petir petaka kedua, ketiga, dan keempat menyambar bertubi-tubi tanpa henti! Setiap sambaran merobek daging Wiliam, menghancurkan jaringan energi di dalam intinya, dan mengucurkan darah keemasan-merah yang menetes dari langit bagaikan hujan darah. Namun Wiliam terus mengepakkan sayapnya, melayang makin tinggi mendekati pusat awan!

​"Dengar aku baik-baik, wahai Penghuni Singgasana!" teriak Wiliam dengan lantang, suaranya bergema ke seluruh penjuru benua! "Aku akan membuktikan pada kalian bahwa aku akan melampaui batas kalian! Dengar aku baik-baik... Aku adalah Dewa Kehancuran di masa yang akan datang!"

​Namun, jawaban dari Dimensi Atas adalah sebuah tebasan petir puncak berukuran selebar ibu kota yang meluncur dengan kecepatan absolut!

​WUSH-BOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOMMMMMMMMMMM!

​"GUAHHHHHHHHH!"

​Dahsyatnya hantaman petir puncak itu menghancurkan Empat Sayap Iblis di punggung Wiliam hingga tak bersisa, meremukkan seluruh persendian fisiknya, dan memadamkan pendar Eye of the Void di matanya! Tubuh Wiliam yang bersimbah darah dan hancur total kehilangan kesadaran, terlempar jatuh bebas dari ketinggian puluhan ribu meter di udara!

​Bersamaan dengan jatuhnya Wiliam, pusaran awan hitam dan petir petaka di langit perlahan-lahan memudar, mengembalikan langit siang menjadi cerah bagaikan tidak pernah terjadi apa pun.

​SWOOSH!

​Alistair yang baru saja menyembuhkan lukanya melesat melintasi udara dengan kecepatan cahaya, menangkap tubuh terkulai Wiliam sebelum sempat menghantam tanah ibu kota. Ia mendekap pemuda yang tak berdaya itu, lalu merentangkan tangannya.

​"Sihir Pindah Dimensi Absolut: Domain Pengasingan Bintang!"

​FLASH!

​Dalam sekedip mata, keberadaan Alistair dan Wiliam lenyap sepenuhnya dari benua mortal, berpindah menuju sebuah dimensi khusus milik sang Penyihir Terkuat.

​Di dalam Dimensi Pengasingan Bintang...

​Sebuah istana kaca yang melayang di antara lautan bintang buatan berdiri dengan megah. Di dalam salah satu ruang perawatan berpilar kristal pemulih, Wiliam terbaring di atas ranjang pualam. Tubuh telanjang dadanya diselimuti oleh cairan elixir hijau keemasan yang dialirkan oleh ribuan benang sihir Alistair untuk merekonstruksi kembali jaringan otot dan sayapnya yang hancur.

​SWOOSH! SWOOSH! SWOOSH!

​Tiga retakan dimensi terbuka lebar di dalam ruangan tersebut. Tiga sosok penguasa benua melangkah keluar dengan raut wajah penuh kekhawatiran dan ketegangan: Trigger, Solaria, dan Anastasia (Anya).

​Anya melesat paling depan tanpa peduli pada etiket atau keberadaan yang lain. Mata perak-kebiruannya bergetar hebat saat melihat kondisi Wiliam yang dipenuhi oleh luka bakar petaka Dewa.

​"Wiliam...!" bisik Anya penuh rasa sakit, dadanya turun naik menahan napas.

​"Tenanglah, Nona Anastasia," ucap Alistair seraya menarik benang-benang sihirnya. "Fisik pemuda ini benar-benar sebuah keajaiban. Jika manusia biasa yang menerima Petir Petaka Dewa itu, jiwa dan raga mereka sudah musnah tanpa bekas. Namun Tubuh Demigod dan Hati Iblis milik Wiliam justru menyerap sisa-sisa energi petaka tersebut untuk memperkuat kepadatan tulangnya."

​Trigger melangkah mendekati ranjang, menatap luka bakar di dada Wiliam dengan mata harimau emasnya. "Sialan... Jadi para Dewa benar-benar mengintervensi? Mereka takut pada potensi anak ini?"

​"Tentu saja mereka takut," sahut Solaria seraya menyilangkan tangannya di bawah dada, matanya memicing menatap guratan emas di bawah mata Wiliam. "Seorang mortal yang menapaki Jalur Demigod dan Jalur Iblis secara bersamaan adalah anomali yang bisa meruntuhkan tatanan hukum mereka. Pemuda ini adalah ancaman bagi takdir."

​Anya tidak mendengarkan perdebatan ketiga pilar tersebut. Ia duduk di tepi ranjang pualam, menggenggam jemari dingin Wiliam erat-erat, menempelkannya ke pipinya sendiri seraya mengalirkan sihir pemulih es murni tanpa henti.

​Beberapa jam berlalu dalam keheningan dimensi.

​Nnnngh...

​Sebuah erangan pelan keluar dari bibir Wiliam. Kelopak matanya bergetar halus sebelum akhirnya perlahan-lahan terbuka, menampilkan sepasang mata kelabu absolut yang kini berpendip lembut.

​Saat pandangannya yang kabur mulai menyatu kembali, hal pertama yang ditangkap oleh matanya adalah paras cantik Anastasia yang dipenuhi air mata bahagia.

​"Wiliam!"

​Sebelum Wiliam sempat menyadari situasinya, Anya telah melompat memeluk leher Wiliam erat-erat! Anya menyembunyikan wajahnya di dada telanjang pemuda itu, menangis terisak seraya merengkuh tubuh tegap kekasihnya dengan seluruh kekuatan rindunya.

​"Kau kembali... Kau benar-benar kembali padaku, Wiliam..." bisik Anya dengan suara gemetaran.

​Wiliam tertegun sejenak, namun senyuman hangat perlahan terukir di wajah tampannya. Ia merangkul pinggang mulus Anya, mengelus punggung gadis Elf itu dengan kelembutan yang mendalam. "Aku kembali, Anya... Maaf membuatmu menunggu lama."

​Di sudut ruangan, Solaria menyunggingkan senyuman godaan yang sangat lebar, menyilangkan tangannya seraya tertawa halus. "Oho... Lihatlah Nona Suci Elf yang legendaris itu. Di depan kita dia bertindak bagaikan Ratu Es yang bisa membekukan lautan, tapi di depan kekasih kecilnya dia berubah menjadi anak kucing yang manja. Sungguh pemandangan yang sangat manis~"

​Wajah Anya memerah hebat mendengarkan godaan Solaria. Ia melepaskan pelukannya sedikit, menatap Solaria dengan tatapan tajam yang malu-malu, sebelum akhirnya kembali menggenggam tangan Wiliam.

​Wiliam perlahan duduk di atas ranjang, memiringkan kepalanya dengan raut bingung seraya menatap sekeliling ruangan yang melayang di antara bintang-bintang, lalu beralih menatap Alistair, Trigger, dan Solaria.

​"Anya..." tanyai Wiliam dengan suara seraknya. "Di mana kita sekarang? Dan... siapa orang-orang ini? Berapa lama aku mengurung diri di dalam meditasi?"

​Anya memegang pipi Wiliam dengan lembut, tersenyum hangat. "Kau berada di Dimensi Pengasingan Bintang milik Tuan Alistair. Kau telah bermeditasi di dalam Penjara Kehampaan selama... satu tahun penuh, Wiliam."

​"Satu tahun...?" batin Wiliam terkejut. Ia memindai Inti Cadangan Sekunder di dadanya dan mendapati bahwa kekuatannya kini telah berada di Level 15 puncak dengan fondasi Demigod dan Iblis yang menyatu secara harmonis.

​Anya kemudian berbalik, memperkenalkan tiga sosok terkuat di benua kepada Wiliam. "Mereka adalah Empat Pilar Makhluk Terkuat yang menjaga tatanan benua ini. Pria tua berjubah bintang itu adalah Alistair, Penyihir Manusia Terkuat. Raksasa Furry di sampingnya adalah Trigger, Manusia Harimau Terkuat. Dan wanita bersisik emas itu adalah Solaria, Mother of Dragon."

​Wiliam menatap ketiga entitas terkuat itu satu per satu dengan pandangan mata kelabunya yang tenang dan tidak gentar.

​"Terima kasih telah membawaku ke sini, Tuan Alistair," ucap Wiliam santai, memberi anggukan hormat yang tipis. "Dan terima kasih karena tidak menyerahkanku pada para Dewa di atas sana."

​Trigger tertawa membahana, menepuk bahu Alistair kencang. "Hahaha! Anak ini punya nyali yang luar biasa! Menantang para Dewa di depan umum dan masih bisa menyapa kita dengan tenang setelah bangun!"

​Alistair mengelus janggutnya, menatap Wiliam dengan pandangan penuh rasa bangga dan harapan besar. "Wiliam Pendragon... kau telah melewati Petir Petaka Dewa dan menyatukan dua kekuatan terlarang. Mulai hari ini, dunia bukan lagi tempat yang aman bagimu dari mata para Dewa dan Sekte Pemuja Iblis. Pertarungan sejatimu... baru saja dimulai."

​Wiliam menggenggam tangan Anastasia kencang-kencang, matanya memancarkan pendar kehendak absolut. "Biarkan mereka datang. Aku tidak akan pernah lari lagi."

1
Ed Troivan
lnjt👍
Ed Troivan
👍👍👍💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!