Indonesia
NovelToon NovelToon
Gadis Geng Motor Adalah Istriku

Gadis Geng Motor Adalah Istriku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Balas Dendam
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Viie27

Sinopsis

Clara Evellyn dikenal sebagai gadis cantik yang keras kepala dan berani. Di balik penampilannya yang anggun, Clara ternyata merupakan anggota geng motor yang disegani. Ia terbiasa hidup bebas, penuh tantangan, dan tidak takut menghadapi siapa pun.

Namun, hidupnya berubah ketika sebuah perjanjian keluarga membuat Clara harus menikah dengan Fedro Alexsander, seorang pria tampan, dingin, dan sangat berkuasa.

Fedro sama sekali tidak menyangka bahwa wanita yang menjadi istrinya ternyata adalah gadis geng motor yang sering membuat kekacauan di jalanan.

Awalnya, pernikahan mereka dipenuhi pertengkaran, rahasia, dan saling curiga. Clara ingin mempertahankan kebebasannya, sementara Fedro berusaha membuat istrinya mengikuti aturan yang telah ia tetapkan.

Tetapi semakin mereka dekat, semakin sulit bagi keduanya untuk menyangkal perasaan yang mulai tumbuh.

Ketika masa lalu Clara mulai mengejar dan mengancam keselamatan mereka, Fedro harus memilih: tetap menjaga jarak atau melindungi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viie27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 5

Gadis Geng Motor Adalah Istriku

Bab 5 — Pertama Sebagai Suami Istri

Pagi itu, Clara masih berdiri di dalam garasi.

Tangannya menggenggam kunci motor yang baru saja diberikan Fedro.

Namun senyum di wajahnya sudah menghilang.

Pikirannya kembali tertuju pada ucapan Fedro.

Seseorang baru saja mengambil alih sebagian besar saham perusahaan keluarganya.

“Siapa orangnya?” tanya Clara.

Fedro menatapnya serius.

“Kami belum tahu.”

“Lalu bagaimana bisa orang itu mengambil saham sebanyak itu?”

“Dia menggunakan beberapa perusahaan perantara.”

Clara mengerutkan kening.

“Berarti dia sudah merencanakannya sejak lama.”

“Benar.”

Clara menarik napas panjang.

Ia menatap motor yang berada di hadapannya.

Beberapa menit lalu, benda itu berhasil membuatnya bahagia.

Sekarang pikirannya justru dipenuhi masalah.

Fedro mendekat.

“Jangan terlalu memikirkannya.”

“Bagaimana aku tidak memikirkannya? Ini perusahaan Papi dan Mami.”

“Aku akan membantumu.”

Clara menatapnya.

“Kenapa?”

Fedro terdiam.

“Karena sekarang kita satu keluarga.”

Kalimat sederhana itu membuat Clara terdiam.

Mereka memang baru menikah kemarin.

Hubungan mereka bahkan belum bisa disebut dekat.

Namun pria itu sudah bersedia berdiri di sisinya ketika keluarganya menghadapi masalah.

“Terima kasih,” ucap Clara pelan.

Fedro mengangguk.

“Kita bicarakan semuanya setelah sarapan.”

Clara mengangguk.

“Baik.”

Mereka kemudian meninggalkan garasi.

Namun sebelum masuk ke rumah, Clara menoleh sekali lagi pada motor pemberian Fedro.

“Fedro.”

“Hm?”

“Motor ini benar-benar milikku?”

“Ya.”

“Tidak boleh diambil kembali?”

Fedro tersenyum.

“Tidak.”

Clara langsung tersenyum lebar.

“Kalau begitu, aku suka hadiah pernikahan ini.”

Fedro tertawa kecil.

“Aku kira kamu akan mengatakan suka pada suaminya.”

Clara langsung berhenti berjalan.

Ia menatap Fedro.

“Jangan berharap terlalu banyak.”

Fedro hanya tersenyum.

“Baik, Nyonya Alexsander.”

Wajah Clara seketika memerah.

“Jangan panggil aku begitu!”

“Kenapa?”

“Aneh.”

“Kamu memang sudah menjadi Nyonya Alexsander.”

Clara mengerucutkan bibir.

“Sudah, jangan bahas lagi.”

Fedro tertawa kecil.

Untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, suasana di antara keduanya terasa ringan.

Setelah sarapan, Clara dan Fedro pergi ke kantor keluarga Evellyn.

Papi dan Mami sudah menunggu di ruang rapat.

Ketika melihat Clara datang bersama Fedro, Papi tersenyum tipis.

“Duduklah.”

Clara duduk di samping Fedro.

Papi membuka beberapa dokumen.

“Ini laporan terbaru.”

Clara melihat lembaran-lembaran tersebut.

“Jadi benar. Saham perusahaan kita sudah berpindah?”

Papi mengangguk.

“Sebagian besar.”

“Siapa pembelinya?”

“Belum diketahui secara pasti.”

Clara menghela napas.

“Ini bukan kebetulan.”

Fedro yang sejak tadi diam akhirnya berbicara.

“Benar.”

Papi menatapnya.

“Apa maksudmu?”

“Orang yang melakukan ini tahu kondisi perusahaan. Dia tahu kapan harus membeli saham dan melalui siapa.”

Papi mengangguk.

“Itu juga yang kami pikirkan.”

Clara mengepalkan tangannya.

“Berarti ada seseorang dari dalam.”

Ruangan mendadak sunyi.

Mami menatap Clara.

“Kenapa kamu berpikir begitu?”

“Karena orang luar tidak mungkin mengetahui semua informasi perusahaan sedetail itu.”

Fedro menatap Clara.

“Kemungkinan itu memang ada.”

Clara menatapnya.

“Kamu juga berpikir begitu?”

“Ya.”

Papi menghela napas.

“Karena itu, mulai sekarang kalian harus berhati-hati.”

Clara mengangguk.

“Aku akan berhati-hati.”

Fedro menatap Clara.

“Aku akan memastikan dia aman.”

Clara langsung menoleh.

“Aku bisa menjaga diriku sendiri.”

“Aku tahu.”

“Lalu?”

“Aku hanya mengatakan aku akan berada di dekatmu.”

Clara terdiam.

Papi tersenyum kecil melihat keduanya.

Mungkin pernikahan yang awalnya terpaksa itu perlahan akan membawa sesuatu yang tidak pernah mereka rencanakan.

Sore harinya, Clara dan Fedro kembali ke rumah.

Begitu sampai, Clara langsung naik ke kamar.

Ia merasa lelah setelah seharian memikirkan perusahaan.

Namun ketika membuka pintu, Clara teringat sesuatu.

Hari ini adalah malam pertama mereka sebagai suami istri.

Clara terdiam.

Ia memandang kamar yang sejak kemarin menjadi tempat tidurnya.

Kemudian ia melihat pintu kamar Fedro yang berada di sebelah.

Jantungnya tiba-tiba berdetak lebih cepat.

“Kenapa aku jadi gugup?” gumamnya.

Clara menutup wajah dengan kedua tangan.

“Ini hanya karena situasinya aneh.”

Ia mencoba menenangkan diri.

Selama dua minggu mereka membuat kesepakatan.

Mereka tidak akan saling memaksa.

Tidak akan mencampuri kehidupan masing-masing.

Dan tidak akan berpura-pura memiliki perasaan yang belum ada.

Tetapi sekarang mereka sudah resmi menjadi pasangan.

Ada perasaan asing yang sulit dijelaskan.

Malam tiba.

Clara selesai mandi dan mengenakan pakaian tidur yang sederhana.

Ia duduk di depan cermin sambil menyisir rambut.

Tiba-tiba terdengar ketukan.

Tok.

Tok.

Clara menoleh.

“Siapa?”

“Fedro.”

Clara menarik napas.

“Masuk.”

Pintu terbuka.

Fedro berdiri di sana.

Ia mengenakan kaus hitam sederhana dan celana panjang.

Tidak seperti biasanya yang selalu memakai pakaian formal.

Clara sempat terdiam.

“Kamu mau apa?”

Fedro tersenyum tipis.

“Aku ingin bicara.”

“Lagi?”

“Kenapa? Kamu bosan bicara denganku?”

Clara menggeleng.

“Tidak.”

Fedro masuk beberapa langkah.

Ia tidak mendekati Clara.

“Aku ingin memastikan sesuatu.”

“Apa?”

“Apakah kamu nyaman tinggal di sini?”

Clara mengangguk.

“Cukup nyaman.”

“Kalau ada sesuatu yang tidak kamu sukai, katakan.”

“Baik.”

Fedro kemudian menatapnya.

“Dan tentang malam ini…”

Clara langsung menegang.

“Ya?”

“Kamu tidak perlu merasa tertekan.”

Clara terdiam.

Fedro melanjutkan.

“Aku tahu pernikahan ini terjadi karena keadaan.”

Clara menunduk.

“Aku tidak ingin membuatmu melakukan sesuatu yang tidak kamu inginkan.”

Clara perlahan mengangkat wajahnya.

“Jadi…”

“Kita bisa tetap menjalani kesepakatan kita.”

Clara menatap Fedro cukup lama.

Entah kenapa, ia justru merasa lega.

Pria itu tidak pernah memaksanya.

Bahkan ketika mereka sudah menjadi suami istri.

“Terima kasih,” ucap Clara.

Fedro mengangguk.

“Aku akan tidur di kamar sebelah.”

Fedro hendak pergi.

Namun Clara tiba-tiba berkata,

“Fedro.”

Pria itu berhenti.

“Apa?”

Clara menggigit bibirnya sebentar.

“Kamu tidak perlu tidur di kamar sebelah.”

Fedro menatapnya.

“Yakin?”

Clara mengangguk.

“Kita sudah menikah.”

Fedro masih diam.

Clara berusaha terlihat tenang.

“Aku tidak mengatakan kita harus melakukan sesuatu.”

“Aku mengerti.”

“Aku hanya…”

Clara kesulitan mencari kata-kata.

“Aku tidak ingin merasa seperti orang asing di rumah sendiri.”

Fedro terdiam beberapa saat.

Kemudian ia mengangguk.

“Baik.”

Ia masuk kembali.

Clara bergeser memberi tempat.

Fedro duduk di sisi lain tempat tidur.

Keduanya terdiam.

Suasana menjadi canggung.

Clara menatap langit-langit.

Fedro juga melakukan hal yang sama.

Beberapa menit berlalu.

Tidak ada satu pun yang berbicara.

Akhirnya Clara tertawa kecil.

“Aneh.”

Fedro menoleh.

“Apa?”

“Kita suami istri, tapi rasanya seperti dua orang asing yang sedang berbagi kamar.”

Fedro tersenyum.

“Mungkin karena kita memang baru mengenal satu sama lain.”

Clara mengangguk.

“Benar.”

Hening kembali.

Kemudian Fedro berkata,

“Kita bisa mulai dari hal sederhana.”

“Seperti apa?”

“Menjadi teman.”

Clara menoleh kepadanya.

“Teman?”

“Ya.”

Clara tersenyum.

“Aku setuju.”

Fedro mengulurkan tangannya.

“Kesepakatan baru?”

Clara menatap tangannya.

Kemudian ia menjabatnya.

“Kesepakatan baru.”

Fedro berkata,

“Mulai malam ini, kita saling menghormati.”

Clara mengangguk.

“Dan tidak ada yang memaksa.”

“Setuju.”

“Kalau ada masalah, bicara.”

“Setuju.”

“Kalau aku ingin balapan…”

Fedro langsung menatapnya.

Clara tersenyum.

“Apa?”

“Balapan boleh. Tapi jangan sembarangan.”

Clara mengerutkan hidung.

“Kamu mulai mengatur.”

“Aku hanya khawatir.”

Clara terdiam.

Kemudian tersenyum.

“Baiklah.”

Malam itu tidak ada sesuatu yang berlebihan.

Tidak ada paksaan.

Tidak ada tuntutan.

Hanya dua orang yang perlahan belajar memahami satu sama lain.

Dan bagi Clara, itu jauh lebih berarti daripada apa pun.

Beberapa saat kemudian, Clara berbaring membelakangi Fedro.

Ia mengira akan sulit tidur.

Namun rasa lelah membuat matanya perlahan terpejam.

Fedro masih terjaga.

Ia menatap langit-langit kamar.

Pikirannya dipenuhi berbagai masalah.

Perusahaan.

Saham.

Orang misterius yang mengincar keluarga Evellyn.

Dan Clara.

Ia menoleh.

Clara sudah tertidur.

Wajahnya terlihat jauh lebih tenang dibandingkan saat terjaga.

Fedro tersenyum kecil.

“Selamat tidur, Clara.”

Tanpa sadar, Clara bergerak dalam tidurnya.

Tangannya mencari sesuatu di sampingnya.

Beberapa detik kemudian, tangan Clara menyentuh tangan Fedro.

Fedro terdiam.

Ia tidak menarik tangannya.

Ia membiarkan Clara menggenggamnya.

Entah mengapa, sentuhan sederhana itu membuat dadanya terasa hangat.

Pagi harinya, Clara terbangun lebih dulu.

Ia membuka mata perlahan.

Hal pertama yang dilihatnya adalah tangan Fedro yang masih berada di dekat tangannya.

Clara terkejut.

Ia segera menarik tangannya.

“Ya ampun…”

Ia melihat Fedro.

Pria itu masih tidur.

Clara memandangi wajahnya beberapa saat.

Tanpa jas dan tanpa ekspresi dingin, Fedro terlihat jauh lebih muda.

Clara tersenyum tipis.

“Kalau sedang tidur ternyata tidak menyebalkan.”

Tiba-tiba Fedro membuka mata.

“Siapa yang menyebalkan?”

Clara terkejut.

“Kamu sudah bangun?”

“Sejak kamu berbicara.”

Wajah Clara memerah.

“Aku tidak bilang apa-apa.”

Fedro tersenyum.

“Kamu bilang aku menyebalkan.”

“Aku tidak bilang begitu.”

“Kamu jelas mengatakannya.”

Clara segera turun dari tempat tidur.

“Aku mau sarapan.”

Fedro tertawa kecil.

“Baik.”

Clara berjalan menuju pintu.

Namun sebelum keluar, ia berhenti.

“Fedro.”

“Hm?”

“Terima kasih untuk semalam.”

Fedro menatapnya.

“Untuk apa?”

“Karena membuatku merasa nyaman.”

Fedro tersenyum.

“Sama-sama.”

Clara mengangguk.

Kemudian ia keluar dari kamar.

Namun di balik wajah tenangnya, ada sesuatu yang mulai berubah.

Clara mulai merasa bahwa pernikahan ini mungkin tidak seburuk yang ia bayangkan.

Setelah sarapan, Clara hendak pergi ke garasi.

Ia ingin mencoba motor pemberian Fedro.

Namun sebelum sampai, ponselnya berbunyi.

Inara menelepon.

Clara langsung mengangkat.

“Pagi.”

“Pagi, pengantin baru!”

Clara memutar mata.

“Jangan panggil aku begitu.”

Icha terdengar dari seberang.

“Bagaimana malam pertama?”

Clara langsung membeku.

“ICHAAA!”

Inara tertawa.

“Kami cuma bertanya.”

“Tidak ada apa-apa!”

“Serius?”

“Serius!”

Icha tertawa.

“Berarti kalian benar-benar tidur terpisah?”

Clara terdiam.

Inara langsung menyadari.

“Clara?”

“Kami tidur satu kamar.”

Hening.

Kemudian terdengar teriakan dari kedua sahabatnya.

“APA?!”

Clara buru-buru menjauhkan ponsel.

“Jangan salah paham!”

“Kalian…”

“Tidak terjadi apa-apa!”

Inara tertawa.

“Baiklah, baiklah.”

Clara menghela napas.

“Aku menyesal menelepon kalian.”

Icha masih tertawa.

“Tapi kamu bahagia?”

Pertanyaan itu membuat Clara diam.

Ia menatap cincin di jarinya.

Kemudian tanpa sadar tersenyum.

“Aku… tidak tahu.”

“Kalau kamu tersenyum saat menjawab, berarti ada sesuatu.”

Clara memerah.

“Sudah! Aku tutup!”

Panggilan berakhir.

Clara menggeleng sambil tersenyum.

Namun ketika ia berbalik, Fedro sudah berdiri di belakangnya.

“Kamu sedang membicarakanku?”

Clara terkejut.

“Sejak kapan kamu di situ?”

“Cukup lama.”

“Kamu menguping?”

“Aku hanya lewat.”

Clara memalingkan wajah.

“Lupakan.”

Fedro tersenyum.

“Baik.”

Kemudian ia menyerahkan sebuah helm kepada Clara.

“Kalau mau mencoba motor, aku ikut.”

Clara menatap helm itu.

“Kamu ikut?”

“Ya.”

“Aku bisa sendiri.”

“Aku tahu.”

“Lalu?”

“Aku ingin pergi bersamamu.”

Clara terdiam.

Kalimat itu sederhana.

Tetapi entah mengapa membuat hatinya kembali berdebar.

Akhirnya Clara menerima helm tersebut.

“Baik.”

Mereka berjalan menuju garasi bersama.

Tidak ada yang menyadari bahwa dari kejauhan, sebuah mobil hitam berhenti di depan gerbang.

Seseorang di dalam mobil mengamati Clara dan Fedro.

Ponselnya kemudian berdering.

“Ya?”

Suara di seberang berkata,

“Mereka mulai semakin dekat.”

Pria itu tersenyum dingin.

“Biarkan.”

“Bukankah kita harus segera bertindak?”

“Belum.”

Ia menatap Clara yang sedang menaiki motor.

“Biarkan mereka merasa bahagia terlebih dahulu.”

“Kenapa?”

“Karena ketika waktunya tiba…”

Pria itu menatap Fedro yang berdiri di samping Clara.

“…kebahagiaan mereka akan menjadi hal pertama yang akan kuhancurkan.”

Mobil itu kemudian perlahan meninggalkan tempat tersebut.

Sementara Clara dan Fedro tidak menyadari bahaya yang semakin mendekat.

Mereka hanya tahu bahwa hari itu adalah awal dari sesuatu yang baru.

Bukan hanya sebagai pasangan yang menikah karena keadaan.

Tetapi sebagai dua orang yang perlahan mulai membuka hati.

Dan tanpa mereka sadari, perasaan yang awalnya tidak pernah mereka inginkan mulai tumbuh sedikit demi sedikit.

Bersambung…

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!