Aira Dhea Ananta hanya gadis montir yatim piatu yang hidup sendirian. Namun, satu pertemuan tak terduga dengan keluarga Wirasena mengubah hidupnya selamanya.
Sang kakek memaksa Evan Aryasatya Wirasena, CEO dingin yang menganggap cinta sebagai urusan tak berguna, untuk menikahi Aira. Jika menolak, jabatan dan warisannya akan dicabut.
Masalahnya, Aira justru lebih mudah akrab dengan Sean Danendra Wirasena, adik Evan pembalap tengil, dan sangat sefrekuensi dengannya.
Satu gadis. Dua pewaris. Dan sebuah pernikahan yang seharusnya hanya menjadi kewajiban keluarga.
Mampukah Evan menjaga istrinya, sementara Sean harus memendam cinta pada kakak iparnya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon puput11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hiasan Bengkel
Suara dentuman kunci pas yang menghantam mur roda bersahutan dengan bisingnya kompresor angin.
Di sudut bengkel yang agak panas dan bau bensin Evan berdiri kaku. Penampilannya terlalu rapi.
Kemeja hitamnya masih bersih tanpa noda. Kontras sekali dengan lantai beton bengkel yang berlumuran oli hitam.
Mata elangnya terus mengikuti setiap gerakan Aira. Dia tidak suka menjadi tontonan, tapi kakeknya sudah mengunci mati semua kartunya.
Aira sendiri sedang sibuk membongkar rem cakram sebuah motor matik tua. Tangannya yang cekatan memainkan piston kaliper.
Keringat tipis membasahi pelipis Aira. Dia tanpa fokus, alisnya berkerut saat mencoba memaksa baut berkarat itu agar lepas.
Di meja kerja yang letaknya tepat di sebelah motor tersebut, Jaka dan Ryan sedang sibuk membersihkan komponen karburator yang dipreteli menggunakan kuas dan bensin, sesekali melirik ke arah Evan.
Karena jaraknya yang dekat, Jaka menurunkan kakinya dari bangku, lalu menggeser tubuhnya mendekati posisi Aira yang sedang berlutut.
"Ra," bisik Jaka sambil mencondongkan tubuhnya menyenggol siku Aira pelan. "Itu suami lo? Dari pagi cuma berdiri ngelihatin lo doang kayak patung. Nggak capek apa?"
Rian ikut terkekeh pelan sambil menyeka keringatnya. "Gue kira dia robot yang kehabisan baterai. Mau disuruh pegang obeng, takut tangannya lecet kali, ya."
Aira mendengus geli tanpa mengalihkan pandangannya dari baut. "Biarin aja. Namanya juga turis elite tersesat. Anggap aja hiasan bengkel biar kelihatan mahal."
Telinga Evan yang tajam menangkap bisikan itu. Rahangnya langsung mengeras sempurna.
Pria itu melangkah maju. Langkah kaki tegasnya langsung mendekat ke arah meja kerja, membuat bayangan tubuh jangkungnya memotong sorot cahaya dari lampu neon panjang yang menggantung tepat di atas kepala Jaka dan Rian.
"Ada masalah dengan saya?" suara bariton Evan terdengar rendah dan dingin, penuh ancaman yang tertahan.
Jaka dan Rian langsung bukan, mendadak salah tingkah. Aira akhirnya mendongak, menyeka dahinya dengan punggung tangan yang bersih.
"Nggak ada," jawab Aira datar, menatap langsung mata elang itu tanpa ada rasa takut. "Mereka cuma heran aja. Rahang lo kaku banget dari pagi. Kayak baut yang dipaksa kencang melebihi kapasitasnya. Nanti patah, lho."
"Saya di sini memenuhi syarat Kakek, bukan untuk menghibur teman-temanmu," balas Evan ketus.
Aira langsung berdiri tegak, menatap Evan dengan pandangan menantang.
"Oh, sadar juga lo kalau ke sini karena perintah Kakek? Tapi dari pagi lo cuma berdiri nonton doang, nggak ngapa-ngapain!" cibir Aira sambil menunjuk tumpukan kunci pas di meja.
"Kakek nyuruh lo ke sini buat belajar kerja nyata, Tuan Mantan CEO! Bukan buat jadi mandor magang yang cuma modal tampang."
Evan menyilangkan tangan di dada, menatap Aira dengan tatapan sedingin es. "Saya tidak akan membiarkan tangan saya menyentuh barang-barang kotor itu, Aira. Menontonmu bekerja sudah cukup menjadi bahan laporan saya ke Kakek."
"Cih, dasar keras kepala," gerutu Aira, lalu kembali berlutut di depan roda motor dengan kesal.
Waktu merayap lambat sampai jarum jam menunjukkan angka satu siang. Hawa panas matahari mulai menyengat, bercampur bau oli yang menusuk hidung.
Aira, Jaka, dan Rian akhirnya beristirahat. Mereka duduk bersila di atas tumpukan ban bekas di area belakang bengkel yang agak teduh.
Di depan mereka sudah ada empat nasi bungkus kertas coklat yang masih mengepul hangat. Begitu karet gelangnya dilepas, aroma gurih langsung menguar. Di dalamnya terdapat nasi putih pulen yang diguyur kuah gulai ayam kental, lengkap dengan potongan ayam goreng lengkuas, tempe goreng crispy yang masih garing, dan sesendok besar sambal terasi ulek yang merah berminyak.
Evan sendiri memilih berdiri bersandar di pintu ruang tunggu kaca yang ber-AC tipis-tipis. Jemarinya sibuk mengetuk layar ponsel, berpura-pura memeriksa email bisnis yang sebenarnya tidak penting.
Perutnya mendadak berbunyi pelan. Sebuah protes lapar yang coba diabaikan mati-matian demi gengsi.
"Hei, Robot," panggil Aira, mengangkat sebungkus nasi ke udara. "Makan. Perut lo nggak bisa kenyang cuma dikasih makan gengsi."
Evan tidak menoleh, meski hidungnya secara tidak sadar mencium aroma perpaduan kuah gulai dan sambal yang sedap itu. "Saya tidak makan makanan kaki lima seperti itu. Higienitasnya diragukan."
"Dih, sombong banget," cibir Aira, langsung merobek kertas pembungkus nasinya sendiri, mencampur nasi putih hangat itu dengan cubitan ayam dan sambal menggunakan jari tangannya, lalu menyuapnya dengan nikmat.
"Ya udah. Tapi inget, ya, kalau nanti perut lo bunyi lebih keras dari knalpot motor, jangan minta jatah gue. Gue nggak suka berbagi sama orang manja."
Jaka hampir tersedak tempe crispy-nya, sementara Rian cuma menggelengkan kepala melihat tingkah sepasang suami istri aneh di depannya ini.
Evan bisa merasakan kerongkongannya kering. Lambungnya makin perih, tapi egonya jauh lebih tebal dari dinding bengkel ini. Dia memilih bersedekap, menahan lapar.
***
Sementara itu, jauh dari bau oli dan debu, sebuah restoran privat terasa sangat tenang dan eksklusif.
Lampu kristal berpendar lembut, memantulkan kilau anggur merah di dalam gelas mewah.
Bianca duduk dengan anggun, gaun merah satinnya melekat sempurna di tubuhnya yang mulus. Wajahnya cantik, tapi matanya memancarkan api kemarahan.
Di hadapannya duduk Ferry, kekasih rahasianya yang memakai setelan jas mahal. Pria itu tampan, tapi memiliki senyuman yang licik.
"Kamu kelihatan kesal banget, Bian," ucap Ferry tenang, memotong daging steak di piringnya dengan elegan. "Masih memikirkan berita pernikahan Evan?"
Bianca membanting gelas anggurnya ke meja, membuat isinya bergoyang. Napasnya memburu menahan amarah yang sudah di ubun-ubun.
"Gimana aku nggak kesal, Fer! Seluruh Jakarta tahu kalau Evan Wirasena, pria yang harusnya jadi milikku, sekarang malah nikah sama cewek montir miskin!"
Ferry tersenyum miring, meletakkan garpunya. "Jadi ini soal ego kamu yang terluka? Karena pria incaranmu memilih wanita jalanan?"
Bianca tertawa miris, matanya menyipit tajam. "Siapa yang nggak mau sama Evan, Fer? Dia kaya raya dan punya kuasa penuh di Wirasena Group. Menjadi Nyonya Wirasena itu puncak ambisiku! Dan sekarang, posisi itu direbut oleh cewek bau oli."
Bianca langsung meraih tangan Ferry di atas meja marmer, mencengkeram punggung tangan pria itu dengan erat. Tatapannya menajam, penuh rencana busuk.
"Kamu tenang saja, Sayang. Di hatiku cuma ada kamu. Evan itu cuma alat yang harus aku ambil kekayaannya dan koneksinya. Dan aku butuh kamu untuk bantu aku."
Ferry menatap tangan Bianca, lalu beralih ke mata kekasihnya. Ambisi mereka memang sama: gila harta dan kekuasaan. Pria itu tersenyum licik.
"Terus, apa rencana kamu sekarang? Mau hancurin reputasi dia? Itu susah, kakeknya pasti pasang badan buat melindungi Evan."
"Bukan hancurin dari luar, Fer," desis Bianca dengan senyuman jahat. "Aku mau mempermalukan cewek itu di dunia kita. Di tempat dia paling nggak nyaman."
"Maksud kamu?"
"Minggu depan ada Gala Amal Wirasena," bisik Bianca, matanya berkilat licik. "Aira sebagai istri sah pasti diundang. Aku bakal pastiin dia datang, dan aku sendiri yang bakal bikin semua orang di sana menertawakan kedunguannya."
Ferry mengangguk perlahan langsung menangkap arah permainan kotor ini. "Tekanan sosial. Kamu mau bikin Evan malu punya istri yang nggak tahu tata krama di depan rekan bisnisnya."
"Tepat!" sahut Bianca puas, lalu menyeruput anggurnya. "Begitu Evan mulai merasa malu dan menjauhkan Aira karena gengsi, di situlah kita masuk mengambil alih. Begitu mereka cerai karena tekanan, harta Evan bakal lebih gampang kita kuasai lewat hukum."
Ferry terkekeh, mengangkat gelas anggurnya untuk bersulang. "Rencana yang bagus. Untuk kejatuhan si cewek montir, dan untuk kekayaan kita berdua."