Indonesia
NovelToon NovelToon
Naga Tersembunyi Di Kota Metropolitan

Naga Tersembunyi Di Kota Metropolitan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Dikelilingi wanita cantik / Epik Petualangan
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Raka Wijaya, mantan komandan unit rahasia Garuda Hitam, dinyatakan tewas dalam misi yang sebenarnya adalah pengkhianatan dari dalam. Untuk melindungi orang-orang yang ia cintai, ia memilih hidup dalam bayang-bayang: menyamar sebagai sopir pribadi yang lemah dan tak berdaya di keluarga mertuanya sendiri — keluarga konglomerat Wijayakusuma yang meremehkannya habis-habisan. Tapi kota metropolitan penuh intrik, dan masa lalunya tidak akan tinggal diam selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 — Sekutu Lama

Ruang tamu sederhana Ridwan Ananta dipenuhi rak buku tua dan foto-foto hitam putih dari masa dinas panjangnya, jauh berbeda dari kemewahan Wijayakusuma Tower yang selama ini mengelilingi hidup baru Raka. Ia duduk di kursi rotan tua, menyerahkan folder tipis berisi foto Setiawan, catatan soal Jenderal Wirawan, dan foto gelas beracun yang sempat ia ambil sebelum diamankan Wulan.

Ridwan membaca semuanya dalam diam, wajahnya semakin keras di setiap halaman, sampai ia sampai pada foto Wirawan yang diam-diam diambil Wulan malam itu.

"Aku selalu curiga," gumamnya akhirnya, meletakkan folder itu perlahan di meja. "Lima tahun lalu, saat kabar kematiannya keluar, aku sempat diminta jadi salah satu perwira senior yang mengesahkan laporan resmi. Peti tertutup, alasan medis yang terlalu rapi, proses pemakaman yang terburu-buru — semuanya terasa janggal, tapi tidak ada satu pun bukti konkret untuk mempertanyakannya secara terbuka waktu itu."

"Anda mengenalnya lebih dekat dari yang aku kira," kata Raka.

"Kami seangkatan," jawab Ridwan, matanya menerawang jauh ke masa lalu. "Wirawan dulu perwira brilian, salah satu yang terbaik di generasinya. Tapi setelah putranya tewas dalam operasi yang gagal karena kebijakan pemerintah yang menurutnya terlalu lembek, sesuatu berubah dalam dirinya. Ia mulai percaya bahwa negara ini terlalu lemah untuk melindungi dirinya sendiri, dan bahwa dialah — bersama orang-orang yang sepaham dengannya — yang seharusnya memegang kendali sesungguhnya, di luar birokrasi yang menurutnya gagal."

"Jadi ini bukan sekadar keserakahan," gumam Raka, mencerna kebenaran yang lebih rumit dari sekadar cerita pengkhianat serakah yang selama ini ia bayangkan. "Ini keyakinan yang salah arah, dibangun di atas dendam pribadi."

"Yang membuatnya jauh lebih berbahaya," Ridwan menambahkan tegas. "Orang serakah bisa dibeli atau ditakut-takuti. Orang yang percaya penuh pada keyakinannya sendiri, tidak bisa dihentikan dengan cara yang sama."

Raka menyandarkan punggungnya, menyerap semua informasi baru itu. "Kami perlu membawa bukti ini ke seseorang yang bisa bertindak secara sah, Pak. Tapi kami tidak tahu siapa yang masih bisa dipercaya di level yang cukup tinggi."

Ridwan berdiri, berjalan menuju rak buku tua, mengeluarkan sebuah kartu nama lusuh dari balik salah satu buku. "Ada satu nama. Komisioner Satya Prawira, salah satu pimpinan lembaga antikorupsi, orang yang pernah bekerja sama denganku membongkar skandal alutsista dulu. Dia keras kepala, sering membuat musuh karena tidak mau berkompromi — kualitas langka yang kita butuhkan sekarang."

"Bagaimana kita bisa yakin dia belum tersentuh jaringan Wirawan?"

"Kita tidak bisa yakin seratus persen," Ridwan mengakui jujur. "Tapi aku akan menghubunginya sendiri, lewat jalur yang tidak bisa dilacak — bukan telepon, bukan email. Aku akan mendatanginya langsung, seperti kau mendatangiku pagi ini."

Raka mengangguk, menghargai kehati-hatian mantan instrukturnya yang tidak pernah luntur meski usianya sudah senja. "Berapa lama waktu yang kita punya sebelum bisa mengatur pertemuan?"

"Dua hari, mungkin tiga." Ridwan menatap Raka serius. "Tapi Raka, kau harus mengerti — bukti yang kau bawa ini kuat, tapi belum cukup untuk membongkar jaringan sebesar yang kau gambarkan. Foto, gelas racun, kecurigaan soal identitas ganda — semuanya bisa dibantah pengacara mahal dalam hitungan jam kalau tidak didukung bukti keuangan dan dokumen yang lebih konkret."

"Cendana Data Nusantara," gumam Raka, mengingat temuan Wulan. "Kita butuh bukti langsung dari sana — kontrak, aliran dana, struktur kepemilikan asli yang menghubungkan semuanya ke Wirawan."

"Tepat." Ridwan kembali duduk, mendekat lebih serius. "Dan itu jauh lebih berbahaya daripada menyelinap ke kantor investigasi swasta biasa. Cendana pasti dijaga jauh lebih ketat, mengingat perannya dalam pusat data keamanan negara."

Raka menatap keluar jendela kecil rumah itu, ke arah kebun kecil yang tenang, jauh dari kekacauan kota yang menunggunya kembali. "Tujuh hari sebelum penandatanganan ulang. Tiga hari untuk mengatur pertemuan dengan Komisioner Satya. Itu menyisakan hanya beberapa hari untuk masuk ke Cendana dan mengumpulkan bukti yang cukup kuat."

"Waktu yang sangat sempit," Ridwan mengakui, "tapi bukan mustahil, bagi seseorang yang pernah kulatih sendiri untuk menyelesaikan misi mustahil dalam waktu lebih singkat dari itu."

Untuk pertama kalinya sejak kedatangannya pagi itu, sedikit senyum muncul di wajah Raka — bukan senyum penuh keyakinan, tapi cukup untuk mengingatkannya bahwa ia tidak sepenuhnya sendirian dalam pertarungan ini.

"Terima kasih, Pak," katanya, berdiri untuk berpamitan. "Untuk kepercayaan Anda, setelah semua yang terjadi."

Ridwan menepuk bahu mantan anak didiknya itu sekali, mantap. "Aku mempercayaimu bukan karena kau pernah jadi anak didikku, Raka. Aku mempercayaimu karena kau datang kepadaku membawa bukti dan kebenaran, bukan sekadar permintaan tolong tanpa alasan. Itu yang membedakan orang sepertimu, dari orang sepertinya."

1
Eka P
c
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!